Perkembangan Ekspor-Impor Baja: Tekanan China Masih Membayang hingga Mei

Memasuki akhir Mei 2026, tekanan terhadap pasar baja nasional masih belum menunjukkan tanda mereda. Data perdagangan Indonesia terbaru yang tersedia untuk periode Januari–Maret 2026 menunjukkan bahwa neraca HS 72 (besi dan baja) masih mencatat surplus, tetapi volume impor meningkat ketika volume ekspor menurun. Perkembangan tersebut perlu dianalisis secara lebih komprehensif dengan memperhatikan perkembangan dari China sebagai barometer perdagangan baja dunia, baik karena skala produksi dan konsumsinya maupun dominasi ekspornya.

Dalam konteks tersebut, data China Iron and Steel Association atau CISA sampai April 2026 menjadi indikator penting untuk melihat apakah tekanan pasokan dari China mulai mereda atau justru berlanjut. Pada saat yang sama, indikator harga domestik dan ekspor China sampai Mei 2026 memberi gambaran mengenai daya tekan harga di pasar tujuan ekspor. Rangkaian data Januari–Mei 2026 menunjukkan pola yang perlu diwaspadai: impor baja Indonesia meningkat secara volume, ekspor baja China kembali naik secara bulanan, dan harga China masih berada pada level rendah serta cenderung di bawah keekonomian pasar global.

Perkembangan Ekspor-Impor Baja Indonesia Periode Januari–Maret 2026

Data perdagangan Indonesia untuk Januari–Maret 2026 menunjukkan bahwa neraca HS 72 atau besi dan baja masih mencatat surplus secara agregat. Dari sisi nilai, ekspor HS 72 mencapai sekitar USD 6,531 miliar, sedangkan impor mencapai sekitar USD 2,236 miliar, sehingga Indonesia membukukan surplus sekitar USD 4,295 miliar. Surplus ini terutama ditopang oleh kinerja ekspor stainless steel yang menjadi salah satu kontributor utama ekspor baja Indonesia.

Namun, surplus nilai tersebut perlu dibaca bersama perkembangan volume dan struktur produk impor. Pada periode yang sama, ekspor HS 72 Indonesia mencapai sekitar 5,255 juta ton, turun 2,22 persen secara tahunan, sementara impor mencapai sekitar 3,548 juta ton, naik 4,94 persen. Akibatnya, surplus volume HS 72 turun 14,36 persen menjadi sekitar 1,707 juta ton. Perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan impor tetap meningkat meskipun neraca nilai masih surplus.

Perbedaan antara neraca nilai dan neraca volume menjadi penting karena ekspor HS 72 banyak ditopang oleh stainless steel, sedangkan impor lebih banyak masuk pada produk yang bersaing langsung dengan produksi dalam negeri. Dengan demikian, kenaikan volume impor berpotensi menambah tekanan pasokan di pasar domestik, menahan ruang pemulihan harga, dan memperberat peningkatan utilisasi produsen nasional.

Tekanan tersebut juga terlihat pada HS 73 atau barang dari besi dan baja. Pada Januari–Maret 2026, Indonesia mencatat ekspor HS 73 sebesar sekitar USD 452 juta, sementara impornya mencapai sekitar USD 848 juta, sehingga terjadi defisit nilai sekitar USD 396 juta. Dari sisi volume, ekspor HS 73 hanya sekitar 136 ribu ton, sedangkan impor mencapai sekitar 418 ribu ton, sehingga defisit volume mencapai sekitar 282 ribu ton. Defisit ini menunjukkan bahwa tekanan impor tidak hanya terjadi pada baja dasar, tetapi juga pada barang hilir berbasis besi dan baja. Posisi China sebagai sumber defisit terbesar, sekitar USD 515 juta atau 340 ribu ton, memperkuat bahwa tekanan dari China perlu dibaca dalam struktur produk yang lebih luas.

Dengan demikian, data Indonesia sampai Maret 2026 menunjukkan bahwa pasar baja nasional masih menghadapi tekanan impor. Kinerja ekspor HS 72 tetap kuat karena ditopang stainless steel, tetapi volume impor meningkat pada produk yang lebih langsung berkompetisi dengan industri dalam negeri. Kenaikan impor HS 72 dan defisit HS 73 menjadi catatan penting bahwa surplus agregat belum sepenuhnya menggambarkan tekanan riil yang dihadapi industri baja nasional.

Perkembangan Ekspor Baja China Januari–April 2026

Tekanan China ke pasar baja domestik dan global juga belum menunjukkan tanda mereda. Artikel sebelumnya, Alarm Nyata bagi Industri Baja Nasional: Ekspor Baja China ke Indonesia Naik saat Pasar Besar Lain Turun, telah menunjukkan bahwa ekspor baja jadi China ke Indonesia meningkat pada Januari–Maret 2026. Pada periode tersebut, ekspor baja jadi China ke Indonesia mencapai 1,125 juta ton, naik 11,4 persen secara tahunan. Indonesia bahkan menjadi satu-satunya negara dalam lima besar tujuan ekspor baja jadi China yang masih mencatat pertumbuhan positif, ketika Vietnam, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Thailand mengalami penurunan.

Perkembangan sampai April 2026 memperkuat kewaspadaan tersebut. CISA mencatat ekspor baja China secara global mencapai 9,498 juta ton pada April 2026, naik 4,0 persen dibanding Maret yang sebesar 9,135 juta ton. Kenaikan ini melanjutkan rebound bulanan yang sudah terjadi pada Maret. Dengan demikian, meskipun ekspor baja China secara kumulatif Januari–April 2026 masih turun 9,7 persen secara tahunan, arah bulanan dalam dua bulan terakhir menunjukkan bahwa tekanan pasokan dari China belum mereda.

Kondisi ini perlu diwaspadai karena ekspor China yang tinggi dapat memperbesar risiko tekanan ke pasar-pasar yang masih memiliki ruang serap. Ketika sejumlah negara memperkuat instrumen perlindungan terhadap impor baja, arus ekspor dari negara produsen besar cenderung mencari pasar alternatif yang masih terbuka. Dalam konteks Indonesia, perkembangan ini perlu ditempatkan dalam kaitannya dengan kenaikan volume impor HS 72 dan defisit HS 73, yang menunjukkan bahwa pasar domestik masih menghadapi tekanan dari produk luar, termasuk dari China.

Perkembangan Harga Domestik dan Ekspor China Mei 2026

Kenaikan ekspor baja China pada level harga yang masih rendah perlu terus menjadi perhatian. Sampai Mei 2026, harga baja China masih berada pada level rendah dan cenderung di bawah keekonomian pasar global. CISA mencatat harga rata-rata ekspor baja China naik dari USD 684,7 per ton pada Maret menjadi USD 702,0 per ton pada April. Kenaikan ini menunjukkan adanya perbaikan harga secara agregat, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tekanan harga telah mereda, terutama karena harga ekspor HRC pada Mei hanya bergerak naik secara terbatas.

Indikator harga ekspor pada Mei 2026 juga menunjukkan kenaikan yang sangat terbatas. Laporan analis pasar mencatat harga ekspor HRC China berada di sekitar USD 504 per ton FOB Tianjin, naik sekitar USD 3 per ton dibanding periode sebelumnya. Kenaikan kecil ini terjadi di tengah ekspektasi pasokan bahan baku yang ketat, reli cepat di pasar berjangka domestik, dan sedikit perbaikan permintaan. Namun, transaksi aktual belum menunjukkan peningkatan signifikan, sehingga kenaikan harga ekspor tersebut belum mencerminkan pemulihan permintaan yang kuat.

Data harga domestik CISA sepanjang Mei memberi gambaran yang lebih jelas mengenai lemahnya pasar dalam negeri China. Untuk HRC Q235 2,75 mm, harga domestik di 14 pasar utama China pada minggu pertama Mei berada di kisaran RMB 3.420–3.700 per ton, dengan rata-rata sekitar RMB 3.521 per ton. Pada minggu keempat Mei, kisaran harga turun menjadi sekitar RMB 3.350–3.700 per ton, dengan rata-rata sekitar RMB 3.474 per ton. Artinya, meskipun terdapat kenaikan terbatas pada harga ekspor HRC, harga domestik HRC China secara rata-rata justru turun sekitar RMB 47 per ton sepanjang Mei.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perbaikan harga China masih sangat terbatas dan belum merata. Harga rata-rata ekspor naik pada April, harga ekspor HRC naik tipis pada Mei, tetapi harga domestik HRC China masih melemah secara rata-rata. Dalam konteks Indonesia, kondisi ini penting karena kenaikan volume ekspor China akan memberi tekanan lebih besar apabila berlangsung bersama harga ekspor yang tetap rendah dan pasar domestik China yang masih lemah. Dampaknya dapat menahan ruang pemulihan harga domestik Indonesia, mempersempit margin produsen nasional, dan menghambat peningkatan utilisasi industri baja.

Potensi Dampak pada Perkembangan Industri Baja Domestik

Rangkaian data Januari–Mei 2026 menunjukkan bahwa industri baja nasional masih dijaga secara serius. Data Indonesia sampai Maret memperlihatkan bahwa HS 72 masih mencatat surplus, namun pada saat yang sama volume impor meningkat ketika volume ekspor menurun. Dari sisi eksternal, ekspor baja China kembali naik secara bulanan pada Maret dan April. Perkembangan harga sampai Mei juga menunjukkan bahwa kenaikan harga ekspor China masih terbatas, sementara harga domestik HRC China secara rata-rata masih melemah sepanjang Mei.

Kombinasi tersebut penting karena daya saing industri baja nasional tidak hanya ditentukan oleh neraca perdagangan, tetapi juga oleh tekanan volume dan harga di pasar domestik. Ketika ekspor China kembali meningkat dalam kondisi harga yang tetap rendah, pasar tujuan ekspor berpotensi menghadapi tekanan harga yang lebih kuat. Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi alasan untuk memperkuat pemantauan pasar, menjaga ruang pemulihan harga domestik, mendukung perbaikan margin produsen nasional, dan mendorong peningkatan utilisasi industri baja.

Surplus HS 72 perlu terus mendapatkan apresiasi karena menunjukkan kekuatan ekspor Indonesia, terutama dari produk stainless steel. Namun, penguatan industri baja nasional juga memerlukan perhatian terhadap segmen yang menghadapi tekanan impor lebih langsung. Kenaikan impor pada produk yang bersaing dengan produksi dalam negeri serta defisit HS 73 pada produk hilir berbasis besi dan baja menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih rinci dalam membaca struktur perdagangan baja.

Karena itu, pemantauan impor perlu diperkuat dengan melihat struktur produk, volume, harga satuan, negara asal, dan tren bulanan, tidak hanya neraca agregat. Instrumen trade remedies, pengawasan impor, dan validasi kebutuhan impor perlu diarahkan pada produk yang mengalami tekanan nyata. Dengan perlindungan yang terarah dan berbasis data, pasar baja nasional dapat tetap mendukung pemulihan utilisasi, keberlanjutan industri, dan penguatan rantai manufaktur domestik.