
Data China Iron and Steel Industry Association atau CISA untuk Maret 2026 memberi sinyal kuat bahwa Indonesia semakin menjadi pasar penting bagi ekspor baja jadi China. Ketika ekspor baja jadi China secara global pada Januari–Maret 2026 masih turun 9,9 persen secara tahunan, ekspor ke Indonesia justru naik 11,4 persen menjadi 1,125 juta ton. Dalam kelompok lima besar negara tujuan ekspor baja jadi China, Indonesia bahkan menjadi satu-satunya negara yang masih mencatat pertumbuhan positif, sementara Vietnam, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Thailand seluruhnya menurun. Kenaikan ini juga berlanjut secara bulanan, dengan ekspor ke Indonesia pada Maret mencapai 454 ribu ton atau naik 10,5 persen dibanding Februari. Pola ini menjadi alarm nyata bagi industri baja nasional karena tekanan ekspor China ke Indonesia tidak hanya besar dari sisi volume, tetapi juga bergerak naik ketika harga rata-rata ekspor baja China sedang melemah.
Ekspor Global China Turun Tahunan, tetapi Mulai Rebound pada Maret
Data China Iron and Steel Industry Association atau CISA untuk Maret 2026 menunjukkan bahwa tekanan ekspor baja China belum mereda. Secara kumulatif Januari–Maret 2026, ekspor baja jadi China mencapai 24,717 juta ton, turun 9,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, pada Maret 2026 ekspor kembali naik menjadi 9,135 juta ton, atau tumbuh 16,6 persen dibanding Februari. Kenaikan volume ini terjadi bersamaan dengan penurunan harga rata-rata ekspor menjadi USD 684,7 per ton, turun 6,1 persen secara bulanan. Secara kumulatif Januari–Maret, harga rata-rata ekspor juga turun 4,2 persen menjadi USD 752,8 per ton. Kombinasi volume yang kembali naik dan harga yang melemah menunjukkan bahwa tekanan ekspor China kembali menguat setelah pelemahan pada awal tahun.
| Indikator ekspor baja jadi China | Maret 2026 | Perubahan MoM | Jan–Mar 2026 | Perubahan YoY |
| Volume ekspor global | 9,135 juta ton | +16,6% | 24,717 juta ton | -9,9% |
| Nilai ekspor global | USD 6,254 miliar | +9,5% | USD 18,606 miliar | -13,7% |
| Harga rata-rata ekspor | USD 684,7/ton | -6,1% | USD 752,8/ton | -4,2% |
Indonesia Menjadi Satu-satunya Pasar yang Tumbuh dalam Lima Besar Tujuan Ekspor China
Di tengah penurunan ekspor baja jadi China secara kumulatif, Indonesia justru menunjukkan pola yang berbeda. Pada Januari–Maret 2026, ekspor baja jadi China ke Indonesia mencapai 1,125 juta ton, naik 11,4 persen secara tahunan. Pada Maret 2026 saja, volumenya mencapai 454 ribu ton, naik 10,5 persen dibanding Februari. Artinya, tekanan ekspor China ke Indonesia bukan hanya besar dari sisi volume, tetapi juga sedang bergerak naik secara bulanan dan tahunan.
Dalam kelompok lima besar negara tujuan ekspor baja jadi China pada Januari–Maret 2026, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang masih tumbuh secara YoY. Vietnam, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Thailand seluruhnya mencatat penurunan. Posisi ini penting karena Indonesia bukan sekadar salah satu pasar utama China, tetapi menjadi satu-satunya pasar besar yang masih menyerap peningkatan ekspor baja jadi China ketika pasar besar lainnya melemah.
| Peringkat volume | Negara tujuan | Ekspor baja jadi China Jan–Mar 2026 | Pertumbuhan YoY |
| 1 | Vietnam | 1,505 juta ton | -33,3% |
| 2 | Korea Selatan | 1,465 juta ton | -15,9% |
| 3 | Arab Saudi | 1,182 juta ton | -12,8% |
| 4 | Thailand | 1,159 juta ton | -22,5% |
| 5 | Indonesia | 1,125 juta ton | +11,4% |
Jika cakupan diperluas ke 10 negara tujuan utama, pertumbuhan Indonesia tetap menonjol. Indonesia berada di urutan ketiga pertumbuhan YoY, setelah India dan Singapura. Namun, volume ekspor China ke Indonesia jauh lebih besar dibanding kedua negara tersebut. India menerima 588 ribu ton, Singapura 628 ribu ton, sedangkan Indonesia menerima 1,125 juta ton. Dengan demikian, Indonesia merupakan pasar yang lebih substansial karena pertumbuhan positifnya terjadi pada basis volume yang jauh lebih besar.
| Negara tujuan yang tumbuh positif dalam top 10 | Ekspor baja jadi China Jan–Mar 2026 | Pertumbuhan YoY |
| India | 588 ribu ton | +37,4% |
| Singapura | 628 ribu ton | +31,9% |
| Indonesia | 1,125 juta ton | +11,4% |
| Malaysia | 661 ribu ton | +0,6% |
Berdasarkan data bulanan, Indonesia bukan negara dengan kenaikan MoM tertinggi. Kenaikan ekspor baja jadi China ke Indonesia pada Maret 2026 sebesar 10,5 persen masih berada di bawah Singapura, India, Korea Selatan, Turki, Malaysia, dan Vietnam. Dari sisi volume bulanan, Indonesia juga berada di posisi keempat setelah Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand. Namun, posisi Indonesia tetap menonjol karena kenaikan tersebut terjadi pada volume yang besar, yaitu 454 ribu ton, dan disertai pertumbuhan kumulatif sebesar 11,4 persen YoY pada Januari–Maret 2026. Berbeda dengan Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand yang mencatat volume Maret lebih besar tetapi masih mengalami penurunan secara kumulatif tahunan, Indonesia menjadi pasar besar yang tumbuh baik secara bulanan maupun tahunan.
| Negara tujuan | Ekspor Maret 2026 | Perubahan MoM | Jan–Mar 2026 | Perubahan YoY |
| Korea Selatan | 755 ribu ton | +89,4% | 1,465 juta ton | -15,9% |
| Vietnam | 629 ribu ton | +35,9% | 1,505 juta ton | -33,3% |
| Thailand | 493 ribu ton | +7,6% | 1,159 juta ton | -22,5% |
| Indonesia | 454 ribu ton | +10,5% | 1,125 juta ton | +11,4% |
| Filipina | 359 ribu ton | -8,3% | 1,104 juta ton | -13,3% |
| Arab Saudi | 340 ribu ton | +0,9% | 1,182 juta ton | -12,8% |
| Turki | 310 ribu ton | +81,9% | 738 ribu ton | -17,4% |
| Singapura | 291 ribu ton | +124,0% | 628 ribu ton | +31,9% |
| Malaysia | 289 ribu ton | +77,0% | 661 ribu ton | +0,6% |
| India | 255 ribu ton | +95,3% | 588 ribu ton | +37,4% |
Kenaikan ekspor baja jadi China ke Indonesia juga perlu dibaca bersama pelemahan harga ekspor China. Pada Maret 2026, volume ekspor baja jadi China secara global naik 16,6 persen menjadi 9,135 juta ton, tetapi harga rata-rata ekspornya turun 6,1 persen menjadi USD 684,7 per ton. Secara kumulatif Januari–Maret, harga rata-rata ekspor juga turun 4,2 persen menjadi USD 752,8 per ton. Dengan demikian, tekanan ke Indonesia tidak hanya berasal dari kenaikan volume langsung, tetapi juga dari konteks harga ekspor China yang sedang melemah.
| Indikator | Maret 2026 | Perubahan MoM | Jan–Mar 2026 | Perubahan YoY |
| Ekspor baja jadi China global | 9,135 juta ton | +16,6% | 24,717 juta ton | -9,9% |
| Nilai ekspor baja jadi China global | USD 6,254 miliar | +9,5% | USD 18,606 miliar | -13,7% |
| Harga rata-rata ekspor baja jadi China | USD 684,7/ton | -6,1% | USD 752,8/ton | -4,2% |
| Ekspor baja jadi China ke Indonesia | 454 ribu ton | +10,5% | 1,125 juta ton | +11,4% |
Di luar baja jadi, CISA juga mencatat kenaikan bulanan ekspor semi-finished China ke Indonesia. Volumenya mencapai 306 ribu ton pada Maret 2026, naik 57,0 persen dibanding Februari. Namun, secara kumulatif Januari–Maret 2026, ekspor semi-finished ke Indonesia masih turun 13,7 persen menjadi 557 ribu ton. Berbeda dengan itu, ekspor baja jadi ke Indonesia menunjukkan sinyal yang lebih konsisten karena meningkat baik secara bulanan maupun tahunan.
| Kategori ekspor China ke Indonesia | Maret 2026 | Perubahan MoM | Jan–Mar 2026 | Perubahan YoY |
| Baja jadi | 454 ribu ton | +10,5% | 1,125 juta ton | +11,4% |
| Semi-finished | 306 ribu ton | +57,0% | 557 ribu ton | -13,7% |
Tekanan Harga Menjadi Pengganda Dampak Ekspor ke Pasar Indonesia
Kenaikan ekspor baja jadi China ke Indonesia juga perlu dibaca bersama pelemahan harga ekspor China. Pada Maret 2026, volume ekspor baja jadi China secara global naik 16,6 persen menjadi 9,135 juta ton, tetapi harga rata-rata ekspornya turun 6,1 persen menjadi USD 684,7 per ton. Secara kumulatif Januari–Maret, harga rata-rata ekspor juga turun 4,2 persen menjadi USD 752,8 per ton. Dengan demikian, tekanan ke Indonesia tidak hanya berasal dari kenaikan volume langsung, tetapi juga dari konteks harga ekspor China yang sedang melemah.
| Indikator | Maret 2026 | Perubahan MoM | Jan–Mar 2026 | Perubahan YoY |
| Ekspor baja jadi China global | 9,135 juta ton | +16,6% | 24,717 juta ton | -9,9% |
| Nilai ekspor baja jadi China global | USD 6,254 miliar | +9,5% | USD 18,606 miliar | -13,7% |
| Harga rata-rata ekspor baja jadi China | USD 684,7/ton | -6,1% | USD 752,8/ton | -4,2% |
| Ekspor baja jadi China ke Indonesia | 454 ribu ton | +10,5% | 1,125 juta ton | +11,4% |
Alarm bagi Perlindungan Pasar Baja Nasional
Data CISA menunjukkan tren yang perlu menjadi perhatian serius bagi pelaku industri baja nasional dan pemerintah, terutama di tengah tekanan utilisasi kapasitas yang rendah dan harga pasar yang melemah. Indonesia bukan hanya salah satu tujuan ekspor baja China, tetapi menjadi satu-satunya pasar dalam lima besar tujuan ekspor baja jadi China yang masih tumbuh secara tahunan. Ketika Vietnam, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Thailand mencatat penurunan, ekspor baja jadi China ke Indonesia justru meningkat 11,4 persen YoY menjadi 1,125 juta ton pada Januari–Maret 2026. Pola ini menunjukkan bahwa tekanan ekspor baja China ke Indonesia bersifat nyata, langsung, dan terjadi pada basis volume yang besar.
Perkembangan ini memperkuat pentingnya antisipasi terhadap potensi pengalihan perdagangan atau trade diversion ke pasar Indonesia. Ketika banyak negara memperkuat instrumen perlindungan terhadap impor baja, arus ekspor China cenderung mencari pasar yang masih memiliki ruang serap. Data CISA sampai Maret 2026 memberi sinyal yang jelas: ekspor baja jadi China ke sejumlah pasar besar menurun, sementara ekspor ke Indonesia justru meningkat secara bulanan dan tahunan. Kondisi ini menjadi alarm bagi industri baja nasional karena tekanan impor berpotensi berlanjut. Karena itu, pengawasan impor, trade remedies, dan perlindungan pasar dalam negeri perlu terus diperkuat secara terarah agar pasar domestik tetap mampu mendukung keberlanjutan industri baja nasional.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.