
Pada 4 Juni 2026, Komisi Eropa mengambil langkah penting yang turut mengubah lanskap perlindungan perdagangan baja global dengan mulai menyusun standar pembuktian asal baja berbasis ketentuan country of melt and pour. Langkah ini memperkuat lahirnya paradigma baru: instrumen proteksi tradisional seperti trade remedies tidak lagi memadai apabila hanya melacak negara ekspor terakhir atau klasifikasi administratif produk akhir. Di tengah rantai pasok global yang semakin berlapis, efektivitas perlindungan industri kini juga bergantung pada kemampuan mendeteksi titik awal proses pembuatan baja, yaitu di mana baja pertama kali dilebur (melt) dan dituangkan (pour).
Arah serupa juga terlihat di beberapa negara lain. Kanada telah menerapkan surtax 25 persen terhadap barang baja tertentu yang mengandung baja yang dilebur dan dituangkan di China. Amerika Serikat menggunakan konsep melted and poured dalam rezim Section 232, sementara Inggris menyatakan akan mengeksplorasi kewajiban untuk mengidentifikasi di mana baja impor dilebur dan dituangkan. Perkembangan ini menegaskan bahwa melt and pour telah berkembang dari konsep teknis ketelusuran asal baja menjadi instrumen penting dalam kebijakan perdagangan baja global.
Melt and Pour dan Titik Awal Distorsi
Secara sederhana, melt adalah tahap ketika bahan baku logam dilebur untuk menghasilkan baja cair. Pour adalah tahap ketika baja cair tersebut dituangkan atau dicetak menjadi bentuk padat awal, seperti slab, billet, bloom, atau bentuk semi-finished lainnya. Dengan demikian, country of melt and pour merujuk pada negara tempat baja pertama kali dilebur dan dituangkan menjadi bentuk padat awal.
Definisi ini penting karena baja dapat mengalami rantai proses yang panjang setelah tahap lebur dan tuang/cetak. Slab dapat dipanaskan, ditipiskan, dan digulung menjadi hot-rolled coil, lalu diproses lebih lanjut menjadi cold-rolled coil, hingga dilapisi menjadi coated steel. Billet dapat dipanaskan ulang, kemudian dibentuk dan digulung melalui rolling mill menjadi rebar atau wire rod sebelum masuk ke tahap pemotongan, fabrikasi, atau perakitan menjadi produk turunan. Seluruh proses lanjutan tersebut dapat terjadi di negara yang berbeda dari negara tempat baja pertama kali dilebur dan dituangkan.
Namun, relevansi melt and pour tidak hanya terletak pada fakta bahwa baja dapat berpindah negara atau berubah bentuk. Yang lebih mendasar, dalam industri baja, porsi biaya terbesar berada pada tahap lebur dan tuang/cetak. Pada tahap inilah bahan baku utama dan energi menjadi penentu utama biaya baja. Karena itu, ketika intervensi atau dukungan non-pasar diberikan melalui bahan baku murah, subsidi energi, listrik murah, pembiayaan murah, modal kerja, insentif pajak, atau fasilitas produksi lainnya, dukungan tersebut bekerja pada bagian biaya yang paling dominan dalam produksi baja.
Akibatnya, distorsi terbesar juga melekat pada tahap melt and pour. Jika baja dilebur dan dituangkan di negara A, lalu diproses lebih lanjut dan diekspor dari negara B, maka negara B dapat menjadi negara pemrosesan atau negara ekspor. Namun, distorsi biaya terbesar tetap melekat pada baja yang pertama kali terbentuk di negara A. Proses hilir di negara B dapat menambah nilai dan mengubah bentuk produk, tetapi tidak menghapus distorsi biaya terbesar yang sudah melekat sejak baja pertama kali terbentuk.
Keterbatasan Rules of Origin Konvensional
Aturan asal barang atau rules of origin pada umumnya menentukan asal suatu produk berdasarkan kriteria administratif perdagangan, seperti perubahan kode tarif, besarnya nilai tambah di suatu negara, atau apakah proses di negara tersebut dianggap cukup mengubah bentuk dan karakter produk. Pendekatan ini lazim dalam perdagangan internasional. Namun, dalam perdagangan baja, pendekatan tersebut tidak selalu cukup untuk menangkap sumber awal distorsi biaya, karena baja dapat diproses lebih lanjut di negara lain setelah pertama kali dilebur dan dituangkan.
Dalam rezim asal barang konvensional, transformasi bentuk atau penambahan nilai di negara pemrosesan dapat mengubah asal administratif produk secara sah. Namun, dari sudut pandang melt and pour, titik yang harus ditelusuri tetap negara tempat baja pertama kali dilebur dan dituangkan. Alasannya bukan semata-mata prosedural, melainkan ekonomis: di titik itulah porsi biaya terbesar dan distorsi terbesar pertama kali melekat pada baja.
Di sinilah melt and pour hadir sebagai lapisan tambahan yang lebih spesifik. Jika rules of origin menjawab asal barang menurut ketentuan perdagangan, melt and pour menjawab pertanyaan yang lebih menentukan dalam perdagangan baja: di negara mana biaya terbesar dan distorsi terbesar pertama kali melekat pada baja. Dalam industri yang rentan terhadap subsidi, overcapacity, trade diversion, dan circumvention, pembedaan ini penting agar pelacakan asal baja tidak berhenti pada proses akhir atau negara ekspor terakhir.
Celah Trade Remedies dalam Rantai Pasok Baja Global
Kebutuhan untuk melengkapi trade remedies dengan ketelusuran melt and pour semakin terlihat dari tekanan struktural pasar baja global. OECD Steel Outlook 2026 menunjukkan bahwa industri baja global menghadapi kombinasi excess capacity, subsidi, dan dukungan kebijakan yang mendistorsi pasar. OECD memperkirakan kelebihan kapasitas baja global mencapai 640 juta ton pada 2025 dan dapat meningkat menjadi 745 juta ton pada 2028. Pada saat yang sama, permintaan baja global hingga 2030 hanya diproyeksikan tumbuh rata-rata sekitar 0,9 persen per tahun. Kombinasi kapasitas berlebih dan pertumbuhan permintaan yang lemah inilah yang memperbesar tekanan terhadap harga, utilisasi, dan arus perdagangan baja global.
Kesenjangan struktural tersebut tercermin dalam ekspor baja China. OECD mencatat ekspor baja China mencapai rekor 131,2 juta ton pada 2025, naik 13,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2019. Pangsa China dalam ekspor baja dunia meningkat dari 19 persen pada 2019 menjadi 40,8 persen pada 2025. Tekanan ini juga diperkuat oleh dukungan non-pasar. OECD mencatat bahwa pada 2024, median perusahaan baja China menerima subsidi relatif terhadap aset sekitar 15 kali lebih besar dibandingkan median produsen lainnya.
Trade remedies konvensional seperti antidumping, countervailing duty atau bea imbalan, dan safeguard tetap penting. Instrumen tersebut masih menjadi bagian utama dari respons kebijakan terhadap dumping, subsidi, lonjakan impor, dan kerugian industri domestik. Namun, efektivitasnya dapat berkurang ketika rantai pasok baja mampu mengalihkan produk melalui negara ketiga, mengubah bentuk produk, atau memindahkan sebagian proses agar tidak lagi secara langsung masuk dalam cakupan tindakan perdagangan.
OECD mencatat bahwa jumlah tindakan antidumping dan countervailing duty aktif yang dimulai sejak 2016 mencapai 395 pada 2025. Pada tahun yang sama, terdapat 75 investigasi baru, dengan China menjadi target terbesar sebanyak 27 kasus. Namun, peningkatan tindakan perdagangan tidak otomatis menutup seluruh celah. Pelaku perdagangan dapat menyesuaikan jalur, bentuk, klasifikasi, dan negara ekspor produk.
OECD juga mencatat pola yang menunjukkan risiko circumvention. Setelah tindakan AD/CVD oleh negara-negara OECD terhadap baja China pada 2023 dan 2024, impor langsung dari China atas produk yang dikenakan tindakan memang turun. Namun, dalam 88 kasus, ekspor China atas produk yang sama ke negara-negara ASEAN meningkat. Dalam 51 kasus, ekspor produk yang sama dari ASEAN ke pasar OECD juga meningkat. OECD juga mencatat lonjakan 300 persen ekspor baja semi-finished China ke Asia Tenggara. Pola ini menunjukkan bagaimana baja dapat bergerak melalui negara ketiga, diproses lebih lanjut, lalu masuk kembali ke pasar tujuan dalam bentuk yang lebih sulit dikaitkan dengan sumber awal distorsinya.
Celah tersebut menjelaskan mengapa trade remedies tidak lagi memadai apabila hanya bertumpu pada negara ekspor terakhir dan klasifikasi produk akhir. Antidumping dan countervailing duty dapat membatasi produk tertentu dari negara tertentu, tetapi efektivitasnya dapat berkurang ketika produk menggunakan baja dasar yang sudah mengandung distorsi biaya terbesar sejak tahap melt and pour, lalu diproses ulang atau diekspor dari negara lain. Melt and pour menjadi relevan karena menelusuri titik awal ketika baja pertama kali dilebur dan dituangkan, yaitu titik ketika porsi biaya terbesar dan distorsi terbesar melekat pada baja.
Contoh Kanada memperjelas logika tersebut. Kanada mengenakan surtax 25 persen terhadap barang baja tertentu yang mengandung baja yang melted and poured in China. Dengan kata lain, fokus kebijakannya bukan hanya apakah produk diekspor dari China, tetapi apakah baja yang terkandung dalam produk tersebut pertama kali dilebur dan dituangkan di China. Jika suatu produk mengandung baja yang dilebur dan dituangkan di China, maka produk tersebut dapat terkena surtax meskipun rantai pasoknya melewati negara lain. Ini menunjukkan bahwa distorsi biaya tidak dianggap hilang hanya karena produk diproses atau diekspor dari negara lain.
Uni Eropa bergerak dalam arah yang sama. Dalam EU Steel Regulation yang berlaku mulai 1 Juli 2026, Uni Eropa menetapkan kuota bebas bea sebesar 18,3 juta ton, mengenakan bea 50 persen untuk impor di luar kuota, dan memasukkan rezim melt and pour untuk meningkatkan transparansi asal baja. Komisi Eropa menargetkan Implementing Act terkait bukti country of melt and pour diadopsi pada 31 Agustus 2026 dan berlaku pada 1 Oktober 2026. Dengan demikian, importir tidak cukup menunjukkan dari mana produk dikirim, tetapi juga harus membuktikan asal lebur dan tuang/cetak baja yang terkandung dalam produk tersebut.
Amerika Serikat juga menggunakan konsep melted and poured dalam rezim Section 232. Dalam kebijakan yang berlaku pada 2026, Amerika Serikat membedakan perlakuan tarif terhadap produk baja dan produk turunan berdasarkan apakah kandungan bajanya berasal dari baja yang melted and poured di Amerika Serikat, Inggris, atau negara mitra tertentu. Inggris belum menerapkan rezim melt and pour sedalam Uni Eropa atau Kanada, tetapi dalam UK Steel Strategy 2026 pemerintah Inggris menyatakan akan mengeksplorasi kemungkinan penerapan kewajiban untuk mengidentifikasi di mana impor baja dilebur dan dituangkan.
Dengan demikian, melt and pour tidak lagi dapat dilihat sebagai konsep terbatas pada satu yurisdiksi. Ia mulai menjadi bagian dari tren kebijakan baja global, terutama di negara-negara yang menghadapi tekanan overcapacity, subsidi, trade diversion, dan circumvention. Titik tekannya bukan lagi hanya negara ekspor terakhir, tetapi tempat baja pertama kali dilebur dan dituangkan, karena di titik itulah porsi biaya terbesar dan distorsi terbesar melekat pada produk baja.
Melengkapi Trade Remedies, Menutup Celah Distorsi
Perkembangan kebijakan di Uni Eropa, Kanada, Amerika Serikat, dan Inggris menunjukkan bahwa perlindungan perdagangan baja sedang bergerak ke arah yang lebih komprehensif dan presisi. Trade remedies seperti antidumping, countervailing duty (bea imbalan), dan safeguard tetap penting sebagai instrumen untuk merespons dumping, subsidi, lonjakan impor, dan kerugian industri domestik. Namun, instrumen tersebut tidak lagi memadai apabila berdiri sendiri di tengah rantai pasok baja yang semakin berlapis.
Celah utamanya terletak pada sumber awal distorsi. Ketika baja pertama kali dilebur dan dituangkan dalam sistem produksi yang memperoleh dukungan non-pasar, distorsi biaya sudah melekat sejak produk awal seperti slab, billet, atau bloom terbentuk. Pemrosesan lanjutan di negara lain dapat mengubah bentuk, klasifikasi, dan nilai tambah produk, tetapi tidak menghapus distorsi biaya terbesar yang telah melekat pada baja dasarnya.
Di sinilah melt and pour menjadi pelengkap penting bagi trade remedies. Instrumen ini tidak menggantikan antidumping, bea imbalan, atau safeguard, tetapi memperkuatnya dengan menelusuri negara tempat baja pertama kali dilebur dan dituangkan. Dalam pasar baja yang tertekan oleh overcapacity, subsidi, trade diversion, dan circumvention, pertanyaan kunci tidak lagi cukup berhenti pada dari mana produk dikirim. Pertanyaan yang semakin menentukan adalah di mana baja pertama kali dilebur dan dituangkan, karena di titik itulah biaya terbesar dan distorsi terbesar melekat pada produk baja.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.