
Pada 8 April 2026, Iran dan blok AS/Israel menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu untuk membuka ruang negosiasi lanjutan. Kesepakatan ini segera meredakan tekanan di Selat Hormuz—jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak global sekaligus menjadi arteri utama distribusi energi dan bahan baku industri, termasuk iron ore, pellet/DRI, serta berbagai komoditas penunjang produksi baja. Respons pasar terjadi secara cepat dan terukur. Harga minyak Brent yang pada 7 April masih berada di atas USD 109–111 per barel turun tajam ke kisaran USD 92 per barel dalam hitungan jam setelah pengumuman, sebelum kembali naik di sekitar USD 97 per barel pada 8 April. Pergerakan ini mencerminkan koreksi cepat atas premi risiko geopolitik yang terakumulasi selama eskalasi konflik, sekaligus menunjukkan bahwa volatilitas masih akan berlanjut mengikuti perkembangan negosiasi.
Namun, bagi industri baja, implikasi perkembangan ini tidak berhenti pada penurunan harga energi. Konflik sebelumnya telah menekan secara simultan logistik global, biaya energi, serta ketersediaan bahan baku dan produk antara. Gangguan di Selat Hormuz meningkatkan biaya pengiriman dan memperpanjang waktu tempuh, sekaligus mengganggu arus pasokan energi dan bahan baku yang menjadi input utama produksi baja di berbagai kawasan. Pada saat yang sama, peran Iran tidak hanya sebagai produsen iron ore serta pemasok pellet dan DRI, tetapi juga sebagai eksportir penting semi-finished steel seperti billet dan slab, sehingga gangguan produksi di negara tersebut langsung berdampak pada ketersediaan input bagi industri baja global, khususnya pada segmen hilir yang bergantung pada pasokan tersebut. Di sisi lain, lonjakan harga minyak juga mendorong kenaikan harga coal, tidak hanya melalui mekanisme substitusi energi akibat gangguan LNG, tetapi juga melalui peningkatan biaya logistik, premi risiko pasokan, serta penguatan perilaku pengamanan pasokan oleh pelaku industri, sehingga tekanan biaya tidak hanya berasal dari energi, tetapi juga dari bahan baku utama produksi.
Di luar tekanan pada sisi pasokan, konflik juga menciptakan implikasi pada sisi permintaan. Kerusakan terhadap infrastruktur, fasilitas industri, serta jaringan energi di kawasan Timur Tengah akan mendorong kebutuhan rekonstruksi dalam skala besar pasca konflik. Proses ini berpotensi meningkatkan permintaan baja, baik untuk pembangunan kembali infrastruktur dasar maupun pemulihan kapasitas industri, sehingga dinamika pasar tidak hanya ditentukan oleh keterbatasan pasokan, tetapi juga oleh peningkatan kebutuhan konsumsi.
Dengan demikian, gencatan senjata memberikan ruang pemulihan pada sisi logistik dan sebagian tekanan energi, tetapi tidak secara otomatis mengembalikan keseimbangan pasar baja secara keseluruhan. Pemulihan yang terjadi bersifat parsial, karena distribusi dapat membaik lebih cepat dibandingkan kapasitas produksi dan pasokan bahan baku yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk pulih.
Pada saat yang sama, dinamika ini berlangsung di atas permasalahan struktural industri baja global. Kelebihan kapasitas yang persisten—yang menurut OECD telah mencapai sekitar 640 juta ton pada 2025—serta menguatnya berbagai instrumen proteksionisme tetap menjadi faktor dominan yang membentuk keseimbangan pasar. Dalam kondisi tersebut, guncangan akibat konflik tidak menghilangkan tekanan global, tetapi mendorong pergeseran arus perdagangan ke kawasan yang lebih terbuka. Kelebihan pasokan yang tidak terserap di kawasan terdampak cenderung mengalir ke pasar lain, termasuk Asia Tenggara.
Oleh karena itu, gencatan senjata ini lebih tepat dipahami sebagai fase transisi yang masih volatil. Pemulihan yang terjadi baru menyentuh aspek distribusi, sementara sisi produksi dan struktur pasar belum sepenuhnya pulih. Industri baja global tidak bergerak menuju keseimbangan baru yang stabil, melainkan memasuki fase dislokasi yang mengubah arah arus perdagangan, meningkatkan tekanan pada pasar yang lebih terbuka, sekaligus membuka peluang bagi produsen yang mampu merespons pergeseran tersebut secara cepat dan adaptif.
Dampak Langsung Gencatan Senjata Iran–AS/Israel terhadap Rantai Pasok dan Perdagangan Baja
Dampak langsung gencatan senjata Iran–AS/Israel terhadap industri baja tidak dapat dibaca semata sebagai penurunan risiko logistik, karena kawasan Timur Tengah dalam struktur industri baja global berfungsi ganda: sebagai koridor energi dan bahan baku, sekaligus sebagai salah satu pasar tujuan terpenting bagi perdagangan baja dunia. Selama konflik, tekanan terhadap Selat Hormuz segera menular ke pasar energi dan ongkos logistik. Dalam konteks baja, transmisi paling cepat terjadi melalui energi, karena proses produksi baja—baik pada jalur blast furnace maupun electric arc furnace—sangat sensitif terhadap perubahan harga minyak, gas, listrik, dan batubara. Ketika harga Brent melonjak ke sekitar USD 110 per barel pada Maret 2026, biaya pengiriman dan biaya energi langsung terdorong naik, dan MEPS mencatat bahwa kenaikan harga minyak itu berkontribusi signifikan pada mahalnya pengiriman baja dari Asia ke Eropa, sementara Drewry World Container Index untuk rute Shanghai–Rotterdam naik hampir 21% hanya dalam dua minggu. BigMint juga mencatat bahwa dari rata-rata sekitar USD 70 per barel sebelum perang, harga minyak telah naik ke sekitar USD 90 per barel, sementara freight melonjak hampir 40%, sehingga tekanan biaya pada pasar baja ditransmisikan sekaligus melalui energi dan logistik.
Dari sisi energi primer untuk industri baja, batubara harus dibaca sebagai kanal yang sangat penting, bukan sekadar turunan umum dari harga minyak. Selama konflik, kenaikan harga minyak ikut mendorong harga coal karena coal kembali berfungsi sebagai substitusi energi ketika pasar gas dan LNG terganggu. NDTV mencatat bahwa sejak perang dimulai, Brent naik dari sekitar USD 72,5 per barel menjadi USD 94,4 per barel, atau sekitar 30%, sementara coal futures naik dari USD 115,8 per ton menjadi USD 136,5 per ton, atau sekitar 18%. Kenaikan ini juga tercermin pada benchmark lain, di mana API2 Rotterdam coal futures meningkat dari kisaran pertengahan USD 90-an per ton menjadi sekitar USD 119 per ton pada awal April, atau naik sekitar 20–25%, sementara data SunSirs menunjukkan harga thermal coal 5.500 kcal/kg naik dari sekitar RMB 707 per ton pada awal Januari menjadi RMB 761,25 per ton pada 9 April 2026, atau meningkat sekitar 7–8%. Pada saat yang sama, gangguan LNG global memicu pergeseran konsumsi energi dari gas ke coal. SunSirs, mengutip Bloomberg Intelligence, menyebut bahwa apabila disrupsi LNG berlanjut, tambahan permintaan thermal coal global dapat mencapai 40–60 juta ton, atau sekitar 4–6% dari perdagangan batubara termal dunia, cukup untuk memperketat pasar dan menopang harga lebih tinggi dari kondisi normal. Bagi industri baja, ini berarti tekanan biaya tidak hanya datang dari minyak dan gas, tetapi juga dari batubara sebagai komponen energi dan reduktan utama, khususnya bagi produsen berbasis blast furnace. Karena itu, gencatan senjata memang langsung menurunkan premi risiko minyak, tetapi efeknya terhadap batubara tidak serta-merta hilang, sebab pasar coal masih dipengaruhi lag kontrak, pergeseran konsumsi dari gas ke coal, dan persepsi risiko pasokan energi yang belum sepenuhnya pulih.
Pada lapisan bahan baku hulu, iron ore global tidak mengalami guncangan sebesar yang terjadi pada energi atau semi-finished steel, tetapi Iran tetap relevan. News.com.au mencatat bahwa Iran memproduksi sekitar 68 juta ton iron ore pada 2025, atau sekitar 3% pasokan dunia, dan mengekspor sekitar 22 juta ton iron ore. MEPS juga menekankan bahwa Iran merupakan produsen iron ore terbesar keenam di dunia dengan output sekitar 90 juta ton, sekaligus pemasok penting high-grade concentrate dan pellet, terutama ke China. Namun, secara global, pasar iron ore tetap berada di bawah bayang-bayang oversupply. Rujukan yang sama menunjukkan bahwa stok iron ore di pelabuhan China telah mencapai sekitar 180 juta ton dan prospek tambahan pasokan global masih besar, sehingga konflik Iran tidak cukup untuk membalikkan arah fundamental pasar iron ore dunia yang tetap cenderung longgar. Artinya, untuk iron ore, gencatan senjata lebih berpengaruh pada kelancaran distribusi regional dan persepsi risiko, bukan pada perubahan struktural keseimbangan global.
Posisi Iran dan Timur Tengah menjadi jauh lebih strategis pada produk bijih/besi, khususnya pellet, DRI, dan HBI, yang menjadi penghubung antara bahan baku dan produksi baja. News.com.au mencatat bahwa Iran memproduksi sekitar 37 juta ton DRI pada 2025, setara sekitar 25% produksi global, sementara ekspor DRI Iran memang lebih kecil, sekitar 0,8 juta ton atau sekitar 7% ekspor global. Yang penting bukan hanya volume ekspor langsungnya, tetapi fakta bahwa Iran dan kawasan Timur Tengah merupakan basis produksi berbasis gas yang dominan secara global. Artinya, serangan terhadap Iran dan gangguan terhadap pasokan gas dan pellet tidak hanya mengganggu ekspor Iran sendiri, tetapi juga mengganggu rantai pasok regional untuk pabrik-pabrik DRI/HBI dan EAF di kawasan. Karena produksi DRI/HBI sangat bergantung pada kestabilan gas, kualitas pellet, dan operasi plant yang kontinyu, gencatan senjata tidak otomatis memulihkan kapasitas. Distribusi bisa membaik lebih cepat, tetapi pellet, DRI, dan HBI tetap membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali normal karena bottleneck-nya berada pada fasilitas produksi dan feedstock, bukan semata pada kapal dan pelabuhan.
Pada lapisan berikutnya, yaitu semi-finished steel—slab dan billet—dampaknya menjadi lebih langsung ke perdagangan baja regional dan global, termasuk Indonesia. Iran merupakan eksportir penting billet dan slab ke pasar regional, dan selama eskalasi konflik, kenaikan biaya energi dan freight mentransmisikan inflasi biaya langsung ke pasar steel-related commodities, termasuk bahan baku dan semi-finished products. Ketika pasokan dari Iran terganggu, pasar kawasan tidak hanya kehilangan sumber produksi, tetapi juga kehilangan salah satu pemasok semi-finished yang selama ini menjadi input rolling mills di berbagai negara. Dalam fase gencatan senjata, memang ada kemungkinan sebagian material yang sebelumnya tertahan mulai kembali mengalir, tetapi gelombang berikutnya akan tetap melemah selama kapasitas produksi Iran belum pulih penuh. Jalur distribusi dapat terbuka kembali, tetapi volume slab dan billet yang tersedia tetap bergantung pada pemulihan produksi di hulu.
Pada saat yang sama, Timur Tengah juga harus dipahami sebagai pasar baja yang besar, bukan hanya sebagai sumber pasokan. News.com.au menampilkan bahwa konsumsi baja Timur Tengah telah meningkat dalam dua dekade terakhir, dan prospek rekonstruksi pascaperang berpotensi memperpanjang tren pertumbuhan konsumsi tersebut. Peran kawasan ini sebagai pasar menjadi semakin penting karena proteksionisme di Eropa dan Amerika Utara telah mendorong eksportir besar—terutama China—semakin mengandalkan Timur Tengah sebagai tujuan ekspor alternatif. MEPS mencatat bahwa pada 2025 produsen China mengekspor lebih dari 14 juta ton baja ke negara-negara Timur Tengah, setara hampir 11% dari rekor ekspor baja China sebesar 119 juta ton. Artinya, gangguan di Timur Tengah tidak hanya mengurangi pasokan regional, tetapi juga menutup atau mempersempit salah satu outlet paling penting bagi surplus baja China. Ketika akses ke pasar ini terganggu, tekanan oversupply di pasar lain dapat meningkat; sebaliknya, ketika distribusi kembali terbuka, arus ekspor ke Timur Tengah dapat pulih dan kembali mempengaruhi keseimbangan perdagangan regional.
Karena itu, dampak langsung gencatan senjata terhadap rantai pasok baja bersifat parsial dan tidak simetris. Minyak merespons paling cepat, batubara mulai mereda tetapi tetap tertahan oleh efek pergeseran konsumsi dari LNG, iron ore global tidak banyak berubah karena masalah utamanya tetap oversupply, sementara pellet, DRI, dan HBI masih dibatasi oleh kapasitas produksi dan stabilitas feedstock. Pada saat yang sama, pasar slab dan billet regional tetap ketat selama Iran belum pulih penuh, dan pasar finished steel Timur Tengah tetap penting karena menjadi outlet utama ekspor bagi produsen global, khususnya China. Dengan demikian, gencatan senjata memang memperbaiki distribusi dan menurunkan sebagian tekanan energi, tetapi belum memulihkan keseluruhan rantai pasok baja. Yang terjadi adalah penurunan intensitas guncangan, bukan pemulihan penuh, sehingga pasar masih berada dalam fase transisi yang rapuh dan sangat dipengaruhi oleh arah negosiasi berikutnya.
Dampak Terhadap Kapasitas Produksi dan Supply Shock Baja dari Iran dan Kawasan Timur Tengah
Berbeda dengan pemulihan logistik yang relatif cepat pasca gencatan senjata, gangguan terhadap kapasitas produksi baja—khususnya di Iran—bersifat lebih persisten karena menyangkut integritas fasilitas industri, stabilitas energi, serta kesinambungan rantai bahan baku. Dalam industri baja, kapasitas produksi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan fasilitas fisik, tetapi juga oleh kemampuan sistem untuk beroperasi secara kontinyu dengan pasokan energi dan bahan baku yang stabil. Oleh karena itu, meskipun distribusi mulai pulih, sisi produksi tetap menghadapi keterbatasan.
Iran merupakan salah satu produsen utama di kawasan dengan produksi sekitar 31–32 juta ton per tahun, serta memiliki peran strategis pada dua titik penting dalam rantai pasok, yaitu produk bijih/besi (pellet, DRI, HBI) dan semi-finished steel (billet dan slab). Gangguan terhadap fasilitas utama tidak hanya mengurangi output baja akhir, tetapi juga memutus aliran intermediate input yang menjadi fondasi bagi produksi di kawasan. Dalam konteks ini, dampak konflik tidak berhenti pada satu level, melainkan menjalar dari hulu ke hilir.
Pada lapisan produk bijih/besi, Iran dan kawasan Timur Tengah merupakan pusat produksi global berbasis gas, dengan kontribusi signifikan terhadap pasokan DRI dunia. Ketergantungan pada gas menjadikan fasilitas ini sangat sensitif terhadap gangguan energi. Selama konflik, tekanan terhadap infrastruktur energi dan distribusi gas secara langsung menurunkan utilisasi kapasitas, bahkan tanpa kerusakan fisik yang signifikan. Karena pellet, DRI, dan HBI merupakan input utama bagi proses EAF, gangguan pada tahap ini secara langsung membatasi kemampuan produksi baja di tahap berikutnya. Dalam kondisi gencatan senjata, stabilitas energi memang mulai membaik, tetapi pemulihan kapasitas tidak terjadi secara instan karena membutuhkan waktu untuk normalisasi pasokan gas, feedstock, dan operasi plant.
Gangguan pada produk bijih/besi ini kemudian berdampak langsung pada semi-finished steel, khususnya billet dan slab. Iran selama ini merupakan salah satu pemasok penting produk tersebut ke pasar regional. Ketika produksi di hulu terganggu, output semi-finished juga menurun, sehingga pasokan untuk rolling mills di kawasan ikut tertekan. Dalam jangka pendek, sebagian material yang sebelumnya tertahan dapat kembali mengalir seiring membaiknya logistik, tetapi dalam periode berikutnya pasokan tetap terbatas karena kapasitas produksi belum pulih. Kondisi ini menciptakan kekosongan pasokan yang tidak mudah digantikan dalam waktu singkat.
Dampak tersebut semakin signifikan karena struktur industri di kawasan Timur Tengah tidak sepenuhnya terintegrasi. Beberapa negara memiliki kapasitas hilir yang bergantung pada pasokan semi-finished dari negara lain di kawasan, termasuk Iran. Dengan demikian, gangguan produksi di Iran tidak hanya berdampak domestik, tetapi menciptakan efek berantai pada kapasitas produksi regional. Pada saat yang sama, kawasan ini juga merupakan pasar besar baja global, sehingga penurunan kapasitas produksi lokal berpotensi meningkatkan kebutuhan impor pada saat yang bersamaan.
Namun demikian, penting untuk menempatkan supply shock ini dalam konteks struktur industri baja global yang lebih luas. OECD mencatat bahwa kelebihan kapasitas baja global telah mencapai sekitar 640 juta ton pada 2025, dengan total kapasitas produksi dunia sekitar 2,45 miliar ton, sementara permintaan global justru mengalami kontraksi lebih dari 2% pada tahun yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan dalam industri baja tidak bersifat sementara, melainkan mencerminkan surplus kapasitas yang bersifat struktural akibat ekspansi produksi yang tidak diimbangi oleh pertumbuhan permintaan.
Dalam konteks tersebut, gangguan kapasitas produksi di Iran tidak menghilangkan surplus global, tetapi hanya memindahkan tekanan antar kawasan. Kekurangan pasokan di Timur Tengah dan pasar yang bergantung pada Iran terjadi secara bersamaan dengan keberadaan kapasitas berlebih di kawasan lain, terutama di negara dengan skala produksi besar. Namun, proses penyesuaian ini tidak berlangsung mulus karena perdagangan baja dibatasi oleh faktor biaya logistik, spesifikasi produk, serta berbagai kebijakan proteksi yang semakin menguat.
Akibatnya, yang terbentuk adalah dislokasi regional dalam kapasitas dan pasokan, bukan kekurangan global. Dalam jangka pendek, pasar Timur Tengah mengalami tekanan kekurangan pasokan akibat gangguan produksi, sementara produsen global menghadapi tantangan untuk mengalihkan kelebihan kapasitasnya ke pasar yang tepat. Dalam fase gencatan senjata, distribusi mulai pulih, tetapi kapasitas produksi tetap tertinggal, sehingga ketidaksinkronan antara flow dan capacity masih berlanjut.
Dengan demikian, dampak utama terhadap kapasitas produksi bukan hanya pada penurunan output, tetapi pada terganggunya keseimbangan antar lapisan rantai pasok. Selama kapasitas produk bijih/besi, semi-finished, dan finished di Iran dan kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya pulih, supply shock akan tetap terasa di tingkat regional. Di sisi lain, keberadaan overcapacity global memastikan bahwa tekanan tidak hilang, melainkan berubah bentuk menjadi fragmentasi pasar yang semakin tajam antara kawasan yang mengalami kekurangan pasokan dan kawasan yang menghadapi kelebihan produksi.
Redistribusi Perdagangan Global dan Implikasi bagi Asia Tenggara serta Indonesia
Dalam kondisi kelebihan kapasitas yang bersifat struktural, arah perdagangan baja global tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh keseimbangan supply–demand semata, tetapi semakin dipengaruhi oleh konfigurasi kebijakan perdagangan dan akses pasar. Negara-negara dengan kapasitas besar, terutama China, secara konsisten mencari outlet ekspor untuk menyerap surplus produksi, sementara negara maju seperti Amerika Serikat dan kawasan Eropa semakin mempersempit akses melalui kombinasi tarif tinggi, kuota impor, serta kebijakan berbasis karbon. Akibatnya, arus perdagangan global menjadi semakin terkonsentrasi pada kawasan yang relatif lebih terbuka.
Dalam struktur tersebut, Timur Tengah memiliki posisi yang sangat strategis sebagai salah satu pasar utama yang menyerap ekspor baja global, sekaligus sebagai bagian dari rantai pasok untuk produk antara seperti produk bijih/besi, semi-finished dan finished steel. Kawasan ini selama beberapa tahun terakhir menjadi tujuan penting ekspor, khususnya bagi China, seiring dengan pertumbuhan sektor konstruksi dan infrastruktur yang tinggi. Namun, konflik yang terjadi mengganggu fungsi ganda tersebut secara simultan, baik sebagai pasar maupun sebagai sumber pasokan.
Gangguan terhadap produksi baja di Iran serta disrupsi logistik di kawasan Teluk menyebabkan berkurangnya kemampuan Timur Tengah untuk menyerap pasokan global dalam jangka pendek. Ketika akses terhadap pasar ini terganggu, kelebihan pasokan global tidak lagi terserap secara optimal, sehingga tekanan overcapacity menyebar ke kawasan lain. Dalam situasi seperti ini, eksportir besar cenderung mengalihkan volume ke pasar alternatif yang masih terbuka, yang pada akhirnya menciptakan tekanan harga dan intensitas persaingan di kawasan tujuan baru.
Pergeseran arus perdagangan tersebut menempatkan Asia Tenggara—termasuk Indonesia—dalam posisi yang semakin strategis sekaligus rentan. Di satu sisi, kawasan ini masih mencatat pertumbuhan permintaan yang relatif stabil, terutama didorong oleh pembangunan infrastruktur dan ekspansi sektor manufaktur. Namun di sisi lain, tingkat proteksi yang relatif lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat dan Eropa menjadikan kawasan ini sebagai target utama pengalihan ekspor dari negara dengan kelebihan kapasitas. Kondisi ini menciptakan tekanan langsung terhadap industri baja domestik, baik melalui penurunan harga akibat masuknya produk impor dalam jumlah besar maupun melalui peningkatan persaingan pada segmen produk yang selama ini telah diproduksi di dalam negeri.
Dalam konteks Indonesia, tekanan ini menjadi lebih signifikan mengingat struktur pasar yang masih terbuka serta ketergantungan pada impor untuk beberapa jenis bahan baku dan produk antara. Ketika arus impor meningkat akibat redistribusi global, ruang bagi produsen domestik untuk mempertahankan utilisasi dan margin menjadi semakin terbatas. Hal ini pada akhirnya berimplikasi pada kinerja industri secara keseluruhan, termasuk tekanan terhadap arus kas dan kemampuan investasi jangka panjang.
Di sisi lain, perkembangan menuju gencatan senjata mulai membuka kembali akses ke pasar Timur Tengah, yang secara bertahap mengembalikan fungsi kawasan ini sebagai outlet perdagangan global. Namun, pemulihan tersebut tidak berlangsung secara penuh karena kapasitas produksi di beberapa negara, khususnya Iran, belum sepenuhnya pulih. Keterbatasan pasokan semi-finished seperti billet dan slab, serta gangguan pada rantai pasok iron units, menciptakan kekosongan supply di pasar regional.
Kondisi ini membuka peluang bagi produsen dari luar kawasan untuk masuk dan mengisi gap tersebut. Bagi Indonesia, peluang ini dapat dimanfaatkan terutama pada segmen tertentu di mana kapasitas domestik telah tersedia dan memiliki daya saing, baik untuk produk antara maupun produk akhir. Selain itu, potensi peningkatan permintaan akibat rekonstruksi pasca konflik juga dapat menciptakan tambahan ruang pasar dalam jangka menengah, terutama untuk pembangunan kembali infrastruktur dasar seperti pelabuhan, jaringan energi, fasilitas industri, serta proyek konstruksi dan perumahan yang terdampak konflik. Kebutuhan ini akan mendorong permintaan terhadap berbagai produk baja, mulai dari semi-finished seperti billet dan slab untuk kebutuhan rolling mills, hingga produk jadi seperti HRC, baja konstruksi, pipa, dan produk turunannya, sehingga menciptakan kombinasi peluang yang bersifat langsung maupun bertahap seiring proses pemulihan kawasan.
Namun demikian, peluang tersebut tidak datang tanpa tantangan. Akses ke pasar Timur Tengah juga akan dihadapi oleh produsen global lain yang memiliki skala dan efisiensi lebih tinggi. Selain itu, volatilitas geopolitik yang masih tinggi serta kemungkinan perubahan kebijakan perdagangan di berbagai negara tetap menjadi faktor risiko yang dapat membatasi realisasi peluang tersebut. Oleh karena itu, dalam konteks ini, posisi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kondisi eksternal, tetapi juga oleh kesiapan kebijakan domestik dalam menjaga keseimbangan antara perlindungan pasar dalam negeri dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang ekspor yang muncul.
Implikasi Strategis dan Kebijakan: Respons Industri dan Negara di Tengah Dislokasi Global
Dinamika global yang berkembang menunjukkan bahwa tekanan terhadap industri baja nasional merupakan hasil interaksi antara kelebihan kapasitas global yang bersifat struktural, fragmentasi perdagangan akibat kebijakan proteksi, serta disrupsi rantai pasok yang dipicu oleh konflik geopolitik. Dalam kondisi seperti ini, perubahan pasar tidak hanya mempengaruhi harga, tetapi juga mengubah arah arus perdagangan dan tingkat utilisasi kapasitas secara langsung. Oleh karena itu, respons terhadap tekanan ini tidak hanya menuntut penyesuaian strategi pada level pelaku industri, tetapi juga memerlukan respons kebijakan yang terintegrasi.
Bagi pelaku industri, tekanan paling nyata muncul dari meningkatnya impor sebagai dampak redistribusi perdagangan baja, khususnya pada produk yang secara langsung bersaing dengan produksi dalam negeri. Ketika produk impor terus mengisi pasar domestik, ruang bagi produksi nasional semakin menyempit, sehingga kapasitas tidak terserap secara optimal dan margin industri tertekan. Dalam kondisi ini, isu utama tidak lagi semata pada kapasitas terpasang, tetapi pada kemampuan menjaga keberlanjutan operasi secara ekonomis di tengah tekanan harga.
Pada saat yang sama, ketergantungan terhadap bahan baku impor seperti bijih besi, coking coal, serta semi-finished steel menciptakan tekanan tambahan dari sisi biaya. Perubahan harga global dan gangguan pasokan dapat meningkatkan biaya produksi secara signifikan, sehingga industri menghadapi tekanan simultan berupa kenaikan biaya input dan penurunan harga jual. Dalam konteks konflik di Timur Tengah, gangguan tidak hanya terjadi pada harga, tetapi juga pada kelancaran pasokan fisik, termasuk tertahannya pengiriman semi-finished seperti billet dan slab yang telah dikontrak oleh pelaku industri domestik akibat penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini menegaskan bahwa risiko dalam rantai pasok tidak hanya bersifat harga, tetapi juga menyangkut ketersediaan dan ketepatan waktu pasokan, sehingga diperlukan pengelolaan sumber pasokan yang lebih terdiversifikasi untuk meminimalkan risiko disrupsi.
Seiring konflik Iran dan dinamika di Timur Tengah, pelaku industri tidak hanya perlu memperhatikan tekanan yang dihadapi, tetapi juga secara aktif membaca dan memanfaatkan peluang yang muncul. Kapasitas yang tidak terserap di pasar domestik perlu dioptimalkan sebagai potensi yang dapat diarahkan ke pasar eksternal. Dislokasi pasokan di kawasan Timur Tengah membuka ruang bagi masuknya produk dari luar kawasan, baik pada segmen semi-finished maupun produk akhir, untuk memenuhi gap pasokan sekaligus mengantisipasi peningkatan permintaan akibat rekonstruksi pasca konflik. Di saat yang sama, kenaikan biaya energi yang disertai disrupsi pasokan di sejumlah negara yang terdampak signifikan oleh konflik, seperti Filipina, berpotensi mengganggu kontinuitas operasi industri baja domestik mereka serta melemahkan daya saing produksinya, sehingga membuka ruang tambahan bagi produk impor. Karena itu, pelaku industri perlu melakukan analisa yang lebih komprehensif terhadap negara dan pasar yang terdampak, agar peluang ekspor tidak hanya dibaca dari sisi kekosongan pasokan di Timur Tengah, tetapi juga dari pelemahan daya saing dan gangguan operasi industri di pasar regional lainnya.
Dalam kondisi pasar global yang terdisrupsi dan tekanan persisten akibat kelebihan kapasitas, respons kebijakan menjadi sangat menentukan dalam membentuk ruang gerak industri. Kelebihan kapasitas baja global yang menurut OECD telah mencapai sekitar 640 juta ton pada 2025, disertai menguatnya trade war dan berbagai instrumen proteksionisme di berbagai kawasan, menyebabkan arus perdagangan tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar, tetapi oleh akses dan pembatasan yang semakin ketat. Dalam situasi ini, setiap disrupsi regional tidak mengurangi tekanan global, melainkan mendorong realokasi arus perdagangan ke pasar yang lebih terbuka, termasuk Indonesia.
Oleh karena itu, pengelolaan arus impor—khususnya pada produk jadi yang secara langsung bersaing dengan produksi domestik—menjadi krusial untuk mencegah pasar domestik menjadi outlet kelebihan pasokan global. Instrumen perlindungan perdagangan perlu diperkuat secara adaptif dan responsif terhadap dinamika praktik perdagangan global yang semakin kompleks. Tanpa langkah yang memadai, tekanan terhadap harga domestik dan keberlanjutan industri akan terus meningkat.
Pada saat yang sama, penguatan daya saing industri harus dilakukan secara struktural melalui kebijakan biaya input yang kompetitif, terutama energi, termasuk keberlanjutan kebijakan seperti HGBT serta kepastian pasokan. Selain itu, optimalisasi pasar domestik perlu diarahkan melalui penguatan preferensi penggunaan produk dalam negeri, termasuk melalui instrumen TKDN yang memastikan alokasi permintaan nasional tidak terdisrupsi oleh impor. Penerapan standardisasi yang konsisten juga menjadi penting untuk menjaga kualitas sekaligus menciptakan level playing field yang adil, sementara kebijakan lingkungan perlu dirancang secara terukur agar tidak menambah beban biaya yang melemahkan daya saing industri.
Di sisi lain, kebijakan industri perlu secara aktif mendorong ekspor ke kawasan yang mengalami disrupsi pasokan maupun pelemahan daya saing akibat tekanan energi, melalui insentif yang tepat serta penguatan promosi dan akses pasar. Dalam kondisi perdagangan global yang semakin terfragmentasi, kemampuan untuk mengakses pasar alternatif menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan antara pasar domestik dan eksternal.
Dinamika konflik Iran dengan AS/Israel menegaskan bahwa disrupsi geopolitik tidak mengubah permasalahan struktural industri baja global, tetapi mengubah arah perdagangan dan karakter tekanan yang dihadapi. Oleh karena itu, kebijakan industri tidak cukup hanya bersifat reaktif, tetapi harus dirancang secara konsisten sekaligus adaptif, mencakup perlindungan pasar domestik, penguatan daya saing biaya, pengamanan pasar dalam negeri, serta ekspansi pasar eksternal, agar industri baja nasional mampu bertahan dan berkembang dalam lanskap global yang terus berubah.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.