SMInsights: Berita Baja Mingguan – Minggu I Desember 2025

Pekan pertama Desember 2025 memperlihatkan fragmentasi pasar baja global yang semakin jelas, dengan Tiongkok menjadi satu-satunya kawasan besar yang mencatat kenaikan harga serentak, sementara India dan Eropa mengalami tekanan korektif, dan Amerika Serikat menunjukkan perbedaan arah yang tegas antara harga spot yang menguat dan harga berjangka yang melemah. Arus perdagangan tetap didominasi oleh ekspor Tiongkok dan meningkatnya posisi India sebagai eksportir bersih, sementara semakin banyak negara menerapkan investigasi dan bea pengamanan yang mempersempit akses pasar. Di tengah kondisi ini, ekspansi kapasitas dan investasi green steel tetap berlanjut di berbagai kawasan, menandakan perubahan struktur kompetisi jangka menengah. Bagi Indonesia, dinamika ini menuntut konsistensi dalam menjaga proteksi pasar domestik, kesiapan menghadapi potensi lonjakan impor sebagai akibat pengalihan surplus global, serta penyusunan roadmap transisi industri baja yang mampu menyeimbangkan kebutuhan daya saing biaya dan arah dekarbonisasi internasional.

I. Perkembangan Harga Baja Minggu I Desember 2025

Pasar baja global pada awal Desember kembali menunjukkan dinamika yang terfragmentasi antar kawasan, dengan pergerakan harga yang tidak seragam akibat perbedaan kondisi permintaan, kebijakan, serta kecenderungan pasar spot dan pasar berjangka yang berjalan tidak selalu searah. Memasuki akhir tahun, produsen dan pembeli cenderung bersikap lebih berhati-hati; sebagian menahan volume penjualan untuk menjaga harga, sementara pembeli menunda restocking sambil menunggu sinyal pasar yang lebih jelas.

Di Tiongkok, harga baja domestik menunjukkan penguatan yang lebih nyata dibandingkan minggu sebelumnya. Harga HRC naik ke 470–485 USD, terdorong oleh kombinasi penurunan produksi di beberapa wilayah, restocking terbatas menjelang akhir tahun, serta kebijakan pemerintah yang memperkuat sentimen sektor properti. Produk turunan seperti CRC dan GI/HDG juga meningkat masing-masing ke 573–592 USD dan 590–592 USD, menandakan bahwa sisi penawaran yang lebih ketat memberikan ruang kenaikan meskipun permintaan hilir belum pulih sepenuhnya. Pada segmen long products, rebar dan wire rod naik ke 460–480 USD dan 505–515 USD, diperkuat oleh tren kenaikan pada rebar berjangka yang memberikan dukungan harga di pasar fisik. Untuk pasar ekspor, HRC FOB Tiongkok naik ke 475 USD, menunjukkan bahwa kenaikan harga domestik turut tercermin pada penawaran ekspor, meskipun permintaan global belum menunjukkan akselerasi yang kuat.

Di kawasan ASEAN, harga HRC impor tetap stabil di 466 USD. Meskipun terdapat kenaikan harga Tiongko, lemahnya pembelian spot membuat pasar ASEAN bergerak mendatar. Pembeli cenderung menunggu konfirmasi yang lebih jelas mengenai tren harga Tiongkok lebih lanjut sebelum melakukan restocking baru.

Di India, hampir seluruh produk mengalami koreksi. HRC turun ke 510–515 USD, mencerminkan resistensi pembeli terhadap kenaikan harga sebelumnya serta lemahnya aktivitas di sektor hilir setelah musim festival. CRC dan GI/HDG turun ke 620–625 USD dan 715 USD, menunjukkan normalisasi harga setelah periode penyesuaian yang relatif tinggi pada November. Pada long products, rebar bertahan di 440–485 USD, sementara wire rod melemah ke 455–465 USD, dipengaruhi oleh aktivitas konstruksi yang berkurang menjelang akhir tahun. Sementara itu, harga scrap naik ke 355 USD, namun kenaikan ini belum cukup kuat untuk mengangkat harga produk jadi.

Di Eropa, harga HRC domestik bergerak melemah ke 625–670 USD, mencerminkan lemahnya permintaan dari sektor otomotif dan manufaktur, serta tingginya persediaan di distributor yang menghambat potensi kenaikan harga menjelang akhir tahun. Sebaliknya, CRC naik ke 755–820 USD, karena pasokan material cold-rolled lebih ketat dan pengaruh biaya produksi yang lebih tinggi pada segmen ini.

Di Amerika Serikat, pasar menunjukkan perbedaan yang jelas antara harga spot dan harga berjangka. Harga spot domestik terus meningkat ke kisaran 1.015–1.070 USD, sejalan dengan strategi produsen yang menjaga disiplin pasokan dan menaikkan harga secara bertahap untuk mempertahankan margin. Namun harga berjangka HRC, yang mencerminkan ekspektasi pasar terhadap permintaan ke depan, justru melemah ke 905–924 USD, lebih rendah dibandingkan batas atas minggu lalu yang mencapai 950 USD. Perbedaan arah ini menandakan bahwa kenaikan harga resmi produsen belum sepenuhnya diikuti oleh pasar fisik, sementara pelaku pasar menilai bahwa permintaan akhir belum cukup kuat untuk menopang kenaikan harga yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, konfigurasi harga minggu ini menunjukkan bahwa Tiongkok menjadi satu-satunya kawasan besar yang mencatat penguatan serentak pada hampir seluruh produk, sementara India dan Eropa cenderung melemah, dan Amerika Serikat berada pada fase divergensi antara harga spot yang naik dan futures yang turun. Kondisi ini menegaskan bahwa pergerakan harga pasar baja global sangat bergantung pada faktor regional dan belum menunjukkan arah yang seragam secara global.

Ringkasan Harga Baja – Minggu I Desember 2025 (USD/ton)

KawasanHRCCRCGI/HDGColor CoatedRebarWire RodScrap
Tiongkok (Dom)470–485 ↑573–592 ↑590–592 ↑705–900 →460–480 ↑505–515 ↑
Tiongkok (Ekspor)475 ↑
ASEAN466 →
India510–515 ↓620–625 ↓715 ↓440–485 →455–465 ↓355 ↑
Eropa 625–670 ↓755–820 ↑
US (Spot)1.015–1.070 ↑
US905–924 ↓

Keterangan: ↑ naik w/w; ↓ turun w/w; → stabil (≤ ±0,5%)

II. Perkembangan Perdagangan Baja Global – Minggu I Desember 2025

Minggu pertama Desember diwarnai oleh sejumlah rilis data perdagangan baja dari berbagai kawasan yang memberikan gambaran jelas mengenai arah pergerakan arus ekspor dan impor global sepanjang 2025. Data terbaru dari Uni Eropa menunjukkan bahwa ekspor baja jadi negara-negara anggota mengalami pelemahan berkelanjutan. EUROFER melaporkan bahwa ekspor baja Uni Eropa pada periode Januari hingga Agustus 2025 turun delapan persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi pada hampir seluruh kelompok produk, dengan ekspor produk flat dan finished masing-masing turun sembilan dan enam persen, sementara ekspor produk panjang jatuh lebih tajam hingga lima belas persen. Pasar-pasar tujuan utama seperti Amerika Serikat, Inggris, Turki, Swiss, dan India tetap menyerap sebagian besar ekspor Uni Eropa, namun sebagian besar destinasi tersebut menunjukkan koreksi permintaan yang mengurangi dukungan terhadap kinerja ekspor kawasan ini.

Perkembangan berbeda terlihat di Turki, di mana data yang dirilis minggu ini menunjukkan bahwa ekspor baja jadi negara tersebut mencapai 12,55 juta ton pada periode Januari hingga Oktober 2025, meningkat lebih dari dua belas persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini menandakan bahwa produsen Turki berhasil mempertahankan daya saingnya di pasar ekspor dan terus memperluas penetrasi ke kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang permintaannya masih relatif stabil. Pencapaian ini juga menempatkan Turki sebagai salah satu eksportir long products yang semakin berpengaruh dalam perdagangan baja regional.

Di Asia, Tiongkok tetap menjadi aktor utama dalam arus perdagangan baja internasional. Data yang dirilis minggu ini oleh GMK Center menunjukkan bahwa ekspor baja Tiongkok pada periode Januari–Oktober 2025 mencapai 97,74 juta ton, meningkat 6,6 persen secara tahunan, sementara impor baja turun tajam 19,2 persen YoY. Kombinasi kenaikan ekspor dan penurunan impor ini menegaskan semakin lebarnya surplus perdagangan baja Tiongkok dan kuatnya tekanan pasokan negara tersebut ke pasar global. Dampaknya sangat terasa di Asia Tenggara, terutama Thailand, yang pada Oktober melaporkan impor hampir 1 juta ton, di mana sekitar 46 persen berasal dari Tiongkok. Kondisi ini memperkuat posisi ASEAN sebagai target utama aliran surplus baja Tiongkok..

India menunjukkan dinamika perdagangan yang sama kuatnya. Data pemerintah yang dipublikasikan pada minggu ini mengonfirmasi bahwa pada Oktober 2025 India kembali berada pada posisi eksportir bersih baja. Ekspor naik menjadi sekitar 640 ribu ton atau meningkat hampir empat puluh lima persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara impor turun lebih dari separuh. Dalam periode April hingga Oktober, total ekspor meningkat lebih dari dua puluh lima persen dan mencapai 3,45 juta ton, dengan proporsi terbesar berasal dari produk panjang yang ditujukan ke Uni Eropa, kawasan Teluk, dan sebagian Asia Tenggara. Pada saat yang sama, impor bijih besi India selama Januari hingga Oktober meningkat tajam hingga melampaui sepuluh juta ton, level tertinggi dalam enam tahun. Lonjakan ini terutama berasal dari Brasil dan Oman, dan menunjukkan bahwa industri baja India tengah memperkuat fondasi pasokan bahan baku untuk mempertahankan kapasitas produksi dan ekspornya.

Secara keseluruhan, rilis data yang muncul pada minggu pertama Desember menggambarkan peta perdagangan baja global yang semakin bergeser. Uni Eropa menghadapi tekanan ekspor yang berlarut, Turki memperlihatkan perluasan perdagangan ke pasar berkembang, Tiongkok terus memperlebar surplus perdagangan baja dengan penetrasi kuat di ASEAN, dan India semakin menegaskan diri sebagai eksportir struktural yang mengambil porsi lebih besar dalam arus distribusi baja dunia. Bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, dinamika ini mengindikasikan ketatnya kompetisi suplai di kawasan dan meningkatnya peran dua pemain utama Asia—Tiongkok dan India—dalam menentukan karakter perdagangan baja regional.

III. Kebijakan & Trade Remedies – Minggu I Desember 2025

Minggu pertama Desember 2025 ditandai oleh penguatan instrumen pengamanan perdagangan di sejumlah negara, dengan pola yang menunjukkan bahwa tekanan oversupply baja global semakin mendorong negara-negara produsen untuk memperketat arus impor. Amerika Serikat menjadi salah satu yurisdiksi yang paling aktif, dimulai dengan inisiasi investigasi anti-circumvention atas impor steel wheels berukuran 22,5–24,5 inci yang dikategorikan memanfaatkan proses finishing di Vietnam sebagai cara menghindari bea anti-dumping dan countervailing yang telah lama dikenakan pada roda baja asal Tiongkok. Otoritas perdagangan AS menilai bahwa peningkatan ekstrem impor hot-rolled steel dari China ke Vietnam digunakan sebagai input utama untuk produksi roda tersebut, dan bahwa pola aliran bahan baku serta penyelesaian produk menunjukkan indikasi kuat adanya pengalihan asal barang untuk menghindari rezim trade remedies yang berlaku di AS. Investigasi ini memperkuat tren bahwa AS tidak hanya menerapkan langkah-langkah tarif pada baja primer, tetapi juga berfokus pada potensi penghindaran bea melalui negara ketiga.

Pada saat yang sama, AS juga memulai investigasi dumping yang lebih luas terhadap produk jadi yang mengandung baja, yaitu truk trailer yang diimpor dari China, Mexico, dan Kanada. Meskipun produk ini bukan baja primer, struktur trailer mengandung komponen baja dalam proporsi besar dan berada dalam kategori “steel-containing downstream products” yang semakin menjadi target tindakan anti-dumping. Petisi industri domestik menyebut margin dumping setinggi 300 hingga 1.400 persen, sekaligus menunjukkan bagaimana oversupply baja global mendorong distorsi harga yang kemudian termanifestasi dalam barang jadi. Perluasan cakupan trade remedies ini merupakan bagian dari pendekatan AS yang sejak beberapa tahun terakhir telah memperluas yurisdiksinya hingga ke produk hilir yang memanfaatkan baja sebagai input utama, sehingga implikasinya terhadap arus perdagangan global semakin luas.

Kanada pada minggu yang sama menginisiasi sebuah sunset review atas bea anti-dumping dan countervailing untuk produk OCTG yang berasal dari sejumlah negara, termasuk Vietnam, India, Indonesia, Korea Selatan, Turki, Thailand, dan Ukraina. Sunset review ini penting karena menentukan apakah dumping akan berlanjut jika bea yang berlaku saat ini dihentikan. Langkah ini mencerminkan tingginya sensitivitas Kanada terhadap perubahan dinamika pasokan energi dan industri ekstraktif, di mana OCTG menjadi komponen strategis yang sangat dipengaruhi volatilitas harga baja global.

India juga tercatat melakukan sejumlah tindakan penting dalam periode yang sama. Pemerintah India secara resmi memberlakukan bea anti-dumping selama lima tahun pada produk hot-rolled flat steel dari Vietnam, setelah otoritas DGTR menyimpulkan bahwa impor tersebut menyebabkan injuri material terhadap produsen domestik. Selain kebijakan final yang bersifat mengikat ini, India tetap aktif dengan melanjutkan penyelidikan anti-dumping terhadap berbagai produk baja datar, termasuk cold-rolled stainless steel dari Tiongkok, Indonesia, dan Vietnam. Pemerintah India juga sedang mengevaluasi kemungkinan mengembalikan tarif safeguard di kisaran 11–12 persen, yang sebelumnya diberlakukan sementara pada awal 2025. Evaluasi ini menunjukkan bahwa tekanan impor ke pasar India kembali meningkat setelah periode penyesuaian sementara berakhir.

Di Taiwan, otoritas bea cukai mengumumkan keputusan final mengenai pengenaan bea anti-dumping untuk sejumlah produk baja Cina, terutama hot-rolled flat steel, dengan tarif yang berada antara 16,1 hingga 20,15 persen. Pemerintah Taiwan menegaskan bahwa investigasi menunjukkan adanya injuri yang nyata terhadap industri domestik dan bahwa peningkatan impor dari Tiongkok telah menciptakan tekanan harga yang signifikan. Kebijakan ini berlaku surut sejak pertengahan tahun dan mencerminkan upaya Taiwan menjaga kestabilan industrinya di tengah arus ekspor baja murah dari Tiongkok.

Rangkaian tindakan pada minggu ini menggambarkan bahwa ketegangan perdagangan baja global belum mereda. Negara-negara besar semakin agresif memperkuat perlindungan pasar domestik untuk menahan dampak oversupply dan dumping harga, baik melalui instrumen anti-dumping, investigasi circumvention, sunset review, maupun perluasan pengawasan terhadap produk hilir yang mengandung baja. Pola ini penting untuk dicermati oleh Indonesia, karena pengetatan kebijakan di pasar besar seperti AS, Kanada, India, dan Taiwan berpotensi mengalihkan kelebihan pasokan baja ke kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, sehingga meningkatkan risiko limpahan impor murah yang dapat mengganggu stabilitas industri baja nasional.

Ringkasan Trade Remedies Baja Global – Minggu I Desember 2025

NegaraTindakanProduk TerdampakStatus
Amerika Serikat (DOC)Investigasi anti-circumvention dan anti-dumping/anti-subsidiSteel wheels 22.5–24.5 inch (HS 8708 series)Dimulai (Aktif)
Amerika Serikat (ITC & DOC)Investigasi dumping pada produk jadi mengandung bajaTruck trailers (produk mengandung baja)Aktif (diumumkan 4 Desember 2025)
Kanada (CITT & CBSA)Sunset review anti-dumping & CVDOCTG (casing, tubing, green tubes)Dimulai 2 Desember 2025
India (DGTR / Ministry of Finance)Penetapan bea anti-dumping 5 tahunHot-rolled flat steel dari VietnamDitetapkan & berlaku
India (DGTR)Investigasi anti-dumping lanjutanCold-rolled stainless steel; flat steel dari China, Indonesia, VietnamAktif
India (Kementerian Perdagangan)Evaluasi kebijakan safeguard 11–12%Beberapa produk flat steelDalam evaluasi
Taiwan (Customs & MOEA)Final anti-dumping duties 5 tahunHot-rolled flat steel asal ChinaDitetapkan

IV. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel – Minggu I Desember 2025

Informasi pada pekan pertama Desember 2025 memperlihatkan penguatan agenda ekspansi kapasitas baja di berbagai kawasan, dengan realisasi investasi besar terjadi di Afrika, India, Amerika Serikat, dan Eropa. Satu pola utama yang menonjol adalah bergesernya investasi ke arah integrasi rantai pasok dan peningkatan kapasitas baja bernilai tambah tinggi, khususnya electrical steel dan green steel. Di sisi lain, negara-negara berkembang seperti Uganda mulai memasuki fase industrialisasi berat melalui pembangunan fasilitas baja terintegrasi.

Di Afrika Timur, Uganda dan Kenya meresmikan pembangunan Devki Mega Steel Plant senilai USD 500 juta. Proyek ini memperkuat industrialisasi kawasan dan menjadi fasilitas baja terintegrasi pertama di wilayah tersebut, dengan rantai produksi dari iron ore hingga baja jadi. Investasi ini menandai langkah strategis negara-negara Afrika untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan mulai masuk ke produksi bernilai tambah.

Di Eropa, ArcelorMittal menyelesaikan fase pertama investasi USD 500 juta untuk unit produksi electrical steel baru di Mardyck, Prancis. Fasilitas ini akan meningkatkan kapasitas electrical steel Eropa menjadi 295.000 ton per tahun dan menjadi bagian penting dalam elektrifikasi sektor otomotif dan energi. Proyek ini juga didukung pendanaan EUR 25 juta dari program France 2030, mencerminkan aliran investasi hijau yang semakin kuat di kawasan tersebut.

Di Amerika Serikat, Nippon Steel dan U.S. Steel mempercepat program modernisasi industri, termasuk rencana pembangunan new steelworks dengan nilai investasi sekitar USD 11 miliar hingga 2028. Lokasi pabrik baru direncanakan ditetapkan pada Juni 2026, sementara investasi diarahkan untuk membangun fasilitas baja modern beremisi lebih rendah dan memperluas produksi grain-oriented electrical steel.

Di India, JFE Steel dan JSW Steel meresmikan joint venture sebesar USD 1.7 miliar untuk mengakuisisi dan mengembangkan fasilitas Bhushan Power & Steel di Odisha. Ekspansi ini akan menaikkan kapasitas pabrik dari 4.5 juta ton menjadi 10 juta ton pada 2030, dengan rencana eskalasi hingga 15 juta ton dalam tahap berikutnya. India kembali menunjukkan pola percepatan kapasitas akibat lonjakan permintaan domestik dari infrastruktur dan konstruksi.

Di Tiongkok, investasi pada rantai pasokan green steel terus berlanjut melalui proyek Hainan Green Mine dengan nilai RMB 2.78 miliar (sekitar USD 390 juta). Tambang ini mendukung suplai bahan baku bagi proyek-proyek green steel nasional, memperkuat integrasi industri dari hulu ke hilir dalam kerangka dekarbonisasi baja.

Konsistensi aliran investasi Q4 2025 menunjukkan bahwa industri baja global tetap berada pada jalur ekspansi struktural, meskipun terdapat kelebihan kapasitas global yang signifikan. Peningkatan kapasitas, investasi pada baja bernilai tambah, serta penguatan rantai pasok green steel tetap menjadi agenda utama pelaku industri utama dunia.

Ringkasan Investasi & Proyek Baja – Minggu I Desember 2025

NegaraPerusahaanNilai InvestasiJenis FasilitasPeningkatan Kapasitas
UgandaDevki Group – Devki Mega Steel PlantUSD 500 jutaVertically integrated steel plantKapasitas terintegrasi baja baru
Prancis (UE)ArcelorMittal – Mardyck Electrical Steel UnitUSD 500 jutaElectrical steel production unitKapasitas electrical steel Eropa menjadi 295.000 ton/tahun
Amerika SerikatNippon Steel & U.S. Steel – Multi-year growth planUSD 11 miliar (dari total program USD 14 miliar)Steelworks baru + modernisasiPabrik baru + ekspansi kapasitas electrical steel
IndiaJFE Steel & JSW Steel JV – Bhushan Power & SteelUSD 1.7 miliarIntegrated steel plant expansionKapasitas naik dari 4.5 → 10 juta ton/tahun (target 2030; potensi 15 juta ton)
TiongkokHainan Green MineRMB 2.78 miliar (≈ USD 390 juta)Green iron ore mineKapasitas bahan baku untuk proyek green steel nasional

V. Isu Strategis yang Perlu Dicermati

Perkembangan industri baja global pada minggu pertama Desember 2025 memperlihatkan penajaman disparitas antar kawasan, dengan Tiongkok menjadi satu-satunya pasar besar yang menunjukkan penguatan harga, sementara India dan Eropa mengalami tekanan korektif, dan Amerika Serikat berada dalam fase divergensi tajam antara harga spot dan berjangka. Di tengah situasi yang tidak seragam ini, arus perdagangan tetap menunjukkan keberlanjutan surplus ekspor dari Tiongkok dan peningkatan posisi India sebagai eksportir struktural. Pada saat yang sama, berbagai tindakan pengamanan perdagangan terus diperkuat di negara besar, sementara investasi kapasitas baru dan teknologi rendah emisi di berbagai kawasan memberi sinyal kuat bahwa struktur industri baja global sedang bergeser. Seluruh dinamika ini membawa lima isu utama yang perlu dicermati Indonesia.

1. Kenaikan Harga Tiongkok dan Stabilitas Semu ASEAN Menandakan Risiko Impor yang Tetap Tinggi bagi Indonesia
Penguatan harga Tiongkok pada hampir seluruh produk tidak didorong oleh pemulihan permintaan hilir, melainkan oleh penurunan produksi dan restocking jangka pendek menjelang akhir tahun. Kondisi ini membuat harga ASEAN terlihat stabil, padahal realitas pasar menunjukkan bahwa kawasan masih sangat terpapar suplai Tiongkok. Ketika harga Tiongkok naik tetapi permintaan global belum pulih, produsen Tiongkok cenderung tetap mempertahankan ekspor tinggi ke Asia Tenggara. Hal ini berarti Indonesia tetap menghadapi risiko tekanan impor dalam beberapa minggu ke depan, dan stabilnya harga di ASEAN tidak boleh ditafsirkan sebagai berkurangnya ancaman dumping atau oversupply. Penguatan instrumen pengawasan perbatasan menjadi semakin penting, terutama ketika pasar memasuki fase akhir tahun yang biasanya pelik bagi industri domestik.

2. Pergeseran Arus Perdagangan Memperkuat ASEAN sebagai Tujuan Surplus Global, Meningkatkan Risiko Distorsi Harga di Indonesia
Data perdagangan minggu ini memperlihatkan bahwa Uni Eropa mengalami penurunan ekspor signifikan, Turki memperluas ekspornya ke pasar berkembang, dan Tiongkok tetap memperlebar surplus dagangnya. Di sisi lain, India secara tegas kembali menjadi eksportir bersih dengan pertumbuhan ekspor yang tinggi dan peningkatan impor bahan baku yang menandai ekspansi kapasitas jangka panjang. Kombinasi ini menciptakan tekanan ganda pada ASEAN, yang menjadi satu-satunya kawasan besar dengan proteksi relatif rendah. Indonesia berada pada posisi paling rentan karena merupakan pasar besar dengan utilisasi domestik yang belum pulih sepenuhnya, sehingga limpahan produk dari Tiongkok, India, dan Turki sangat mungkin meningkat. Pelaku industri harus bersiap menghadapi potensi penurunan harga domestik akibat kenaikan impor, terutama pada HRC dan CRC.

3. Lonjakan Trade Remedies di Negara Besar Berisiko Mengalihkan Arus Dumping ke Indonesia Jika Tidak Diantisipasi
Investigasi anti-circumvention dan anti-dumping baru yang dilakukan Amerika Serikat terhadap steel wheels dan trailer, sunset review Kanada terhadap OCTG, serta finalisasi bea anti-dumping Taiwan terhadap hot-rolled Tiongkok memperkuat tren bahwa pasar besar semakin tertutup bagi produk berbiaya rendah. India juga memperketat kebijakan dengan bea anti-dumping baru dan evaluasi safeguard. Ketika pintu pasar besar menyempit, arus dumping dan ekspor bernilai rendah akan mencari pasar alternatif—dan Indonesia merupakan target paling rasional karena volume konsumsi besar dan proteksi yang belum seketat negara lain. Jika tidak direspon dengan kebijakan secara cepat, risiko masuknya produk dumping dalam jumlah signifikan meningkat, terlebih dalam konteks harga domestik yang relatif tinggi dibandingkan produk impor.

4. Ekspansi Kapasitas Global dan Investasi Green Steel Menandakan Perubahan Struktur Kompetisi Jangka Menengah
Investasi besar seperti Devki Mega Steel Plant di Afrika Timur, ekspansi Bhushan Power & Steel di India, proyek elektrifikasi dan electrical steel ArcelorMittal di Prancis, hingga modernisasi U.S. Steel menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas global tidak melambat meskipun permintaan masih berfluktuasi dan terdapat kelebihan kapasitas global. Pada saat yang sama, investasi hijau seperti Hainan Green Mine memperlihatkan bahwa negara-negara besar sedang menyiapkan fondasi dekarbonisasi industri baja mereka. Struktur kompetisi jangka menengah akan semakin ditentukan oleh kemampuan negara untuk menggabungkan kapasitas produksi dengan penurunan intensitas emisi. Tanpa roadmap transisi industri yang jelas, Indonesia berisiko tertinggal ketika negara produsen besar mulai menawarkan baja rendah emisi sebagai standar baru perdagangan global. Di sisi lain, jika transisi dilakukan secara cepat tanpa memperhatikan perkembangan global dan tanpa penguatan instrumen pendukung maka industri baja akan kehilangan daya saing akibat peningkatan biaya.

5. Indonesia Perlu Merumuskan Strategi Terpadu untuk Menghadapi Tekanan Harga, Arus Perdagangan, Trade Remedies Global, dan Transformasi Hijau
Seluruh dinamika minggu ini memperjelas bahwa industri baja Indonesia harus bersiap menghadapi empat tekanan sekaligus: harga yang tidak seragam antar kawasan, surplus ekspor Tiongkok, pengetatan trade remedies di pasar maju yang mengalihkan arus dumping ke Asia Tenggara, serta percepatan investasi global pada kapasitas dan green steel yang dapat mengubah peta perdagangan internasional. Tanpa kerangka kebijakan industri baja yang terintegrasi—mulai dari pengamanan perdagangan, fasilitasi investasi, peningkatan kapasitas nasional, hingga peta jalan dekarbonisasi yang tepat—Indonesia berisiko menjadi pasar penyerapan surplus global, tertinggal dalam transformasi teknologi dan berisiko kehilangan daya saing. Pelaku industri dan pemerintah perlu memperkuat koordinasi agar Indonesia tidak sekadar merespons dinamika global, tetapi mampu mengubah tekanan yang ada menjadi fondasi bagi pembangunan basis industri baja yang lebih kuat, efisien, dan berdaya saing jangka panjang..

Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM.