Profitabilitas Baja Tiongkok Membaik, Tekanan Impor Murah Belum Akan Mereda

Kabar membaiknya profitabilitas pabrik baja di Tiongkok belakangan ini dapat dipahami secara kurang tepat sebagai tanda bahwa tekanan di industri baja global mulai mereda. Bagi industri baja nasional, pemahaman seperti itu terlalu sederhana. Perbaikan margin di Tiongkok memang menunjukkan bahwa sebagian pabrik mulai keluar dari tekanan terburuknya, tetapi belum berarti harga baja Tiongkok telah kembali ke tingkat yang sehat. Di balik perbaikan tersebut, masih terlihat persoalan mendasar: banyak pabrik Tiongkok masih merugi, harga ekspornya masih rendah dan belum sepenuhnya mencerminkan keekonomian produksi yang sehat, sementara kebutuhan untuk menjaga ekspor tetap tinggi. Karena itu, bagi Indonesia, membaiknya profitabilitas baja Tiongkok perlu dipahami dengan hati-hati; kondisi ini belum tentu kabar baik karena tekanan impor murah masih berpotensi berlanjut.

Profitabilitas Membaik, tetapi Industri Belum Sehat

Bloomberg pada 15 Mei 2026 melaporkan bahwa profitabilitas pabrik baja Tiongkok naik ke level tertinggi sejak Agustus. Mengutip survei mingguan Mysteel terhadap 247 pabrik, sekitar 64% pabrik baja Tiongkok sudah mencatat profit. Perbaikan ini didorong oleh konsumsi hilir yang relatif solid, keterbatasan produksi akibat ketentuan lingkungan dan perawatan pabrik, serta penguatan ekspor sejak April setelah berbagai produsen baja global menaikkan harga.

Namun angka 64% tersebut tidak dapat langsung dibaca sebagai tanda bahwa industri baja Tiongkok telah kembali sehat. Angka yang sama berarti masih sekitar 36% pabrik dalam survei Mysteel belum mencatat profit. Bloomberg juga mencatat pandangan analis Mysteel bahwa pemulihan ini berpotensi tidak berlangsung lama karena lebih didorong oleh selisih harga domestik dan luar negeri serta ketidakseimbangan pasokan-permintaan, bukan oleh lonjakan permintaan riil yang kuat. HSBC juga memperkirakan lemahnya permintaan masih akan menahan margin pabrik baja Tiongkok sepanjang 2026.

Dengan demikian, peningkatan profitabilitas produsen baja Tiongkok perlu dipahami secara lebih tepat sebagai sinyal pemulihan margin dari kondisi yang sangat tertekan, bukan sebagai normalisasi penuh industri baja Tiongkok. Dari perspektif risiko industri baja global, data ini justru menunjukkan bahwa tekanan harga belum selesai: profitabilitas memang membaik, tetapi level harga saat ini masih belum cukup untuk membuat seluruh pabrik baja Tiongkok beroperasi secara menguntungkan.

Pemulihan Profitabilitas, Dukungan Negara, dan Realitas Distorsi Harga

Perkembangan terbaru profitabilitas industri baja Tiongkok perlu ditempatkan dalam konteks historisnya. Pada 22 Agustus 2024, Mysteel mencatat profit ratio di antara 247 blast-furnace steelmakers Tiongkok hanya 1,3%. Angka ini turun 3,46 percentage points secara mingguan, melemah selama tujuh minggu berturut-turut, dan menjadi level terendah sejak Mysteel memulai survei tersebut pada Agustus 2012. Mysteel juga mencatat bahwa pemulihan terbatas harga baja jadi pada minggu itu belum cukup untuk membawa pabrik baja Tiongkok kembali mencatat laba karena biaya produksi masih relatif tinggi.

Data 1,3% tersebut menunjukkan kondisi yang sangat ekstrem. Jika dari 247 pabrik blast furnace hanya 1,3% yang mencatat laba, berarti hampir seluruh pabrik baja Tiongkok berada dalam posisi rugi. Pada titik itu, harga baja Tiongkok dapat dikatakan berada pada level yang sangat tidak ekonomis, bahkan bagi industri baja Tiongkok sendiri. Kondisi ini penting karena menunjukkan bahwa tekanan harga baja Tiongkok bukan hanya dirasakan oleh produsen di negara lain, tetapi juga oleh produsen Tiongkok sendiri.

Dari titik ekstrem tersebut, profitabilitas mulai membaik. Pada 12 Maret 2026, Mysteel mencatat sekitar 41% dari 247 BF mills Tiongkok sudah mencatat profit dari penjualan baja jadi. Angka ini naik 3 percentage points dari minggu sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak November 2025. Pada Mei 2026, Bloomberg melaporkan bahwa rasio pabrik yang mencatat profit meningkat lagi menjadi sekitar 64% dari survei 247 plants. Kenaikan dari 1,3% menjadi 41% dan kemudian 64% menunjukkan pemulihan profitabilitas yang besar, tetapi pemulihan dari kondisi sangat buruk tidak sama dengan kondisi yang sepenuhnya sehat.

Fakta bahwa pada Mei 2026 masih sekitar 36% pabrik dalam survei Mysteel belum mencatat profit menunjukkan bahwa harga baja Tiongkok belum dapat disebut ekonomis bagi seluruh struktur industrinya. Harga tersebut mungkin sudah cukup bagi pabrik yang paling efisien, paling besar, atau paling kuat ditopang ekosistem industrinya, tetapi belum cukup untuk menyehatkan seluruh industri baja Tiongkok.

Kesimpulan tersebut menjadi lebih kuat ketika diletakkan dalam konteks dukungan negara yang sangat besar terhadap industri baja Tiongkok. Selama bertahun-tahun, industri baja Tiongkok berkembang dalam ekosistem kebijakan yang ditopang oleh insentif dan dukungan pembiayaan, ketersediaan infrastruktur industri, dukungan energi dan logistik, kebijakan kapasitas, serta dukungan ekspor. Artinya, kerugian sebagian pabrik baja Tiongkok pada level harga saat ini tidak terjadi dalam kondisi pasar biasa, melainkan dalam industri yang memperoleh dukungan negara dan ekosistem kebijakan yang jauh lebih besar dibanding sebagian besar produsen baja di negara lain.

Karena itu, harga baja Tiongkok belum dapat diperlakukan sebagai harga persaingan normal. Jika dengan dukungan negara sebesar itu masih sekitar sepertiga pabrik dalam survei Mysteel belum mencatat profit, maka harga tersebut bukan hanya belum ekonomis bagi sebagian produsen Tiongkok, tetapi juga lebih tidak ekonomis lagi bagi produsen baja di negara lain yang tidak memiliki dukungan kebijakan sebanding. Di sinilah letak realitas distorsi harga: harga baja Tiongkok mencerminkan kombinasi tekanan kelebihan kapasitas domestik, kebutuhan menjaga outlet ekspor, dan dukungan negara yang membuat produsen tetap dapat bertahan meskipun harga belum sepenuhnya sehat secara industri.

Pertanyaan kebijakannya menjadi sangat konkret: jika industri baja Tiongkok yang ditopang dukungan negara masif saja masih menyisakan banyak pabrik rugi, bagaimana produsen baja di negara lain dapat melawan harga Tiongkok tanpa perlindungan pasar dan dukungan kebijakan yang sebanding?

Tekanan Impor Murah Belum Akan Mereda: Indonesia Tetap Harus Waspada

Bagi Indonesia, peningkatan profitabilitas pabrik baja Tiongkok tidak boleh dibaca sebagai tanda bahwa tekanan impor murah akan berkurang. Ancaman arus barang sudah terlihat dalam data perdagangan terbaru. Pada 2025, ekspor baja Tiongkok mencapai rekor 119,02 juta ton, naik 7,5% secara tahunan. Indonesia juga menjadi salah satu tujuan penting, dengan kenaikan impor baja asal Tiongkok sekitar 17% yoy, jauh di atas pertumbuhan permintaan baja domestik yang diperkirakan hanya 5–6%.

Sinyal yang sama terlihat pada awal 2026. Ketika ekspor baja jadi Tiongkok secara global pada Januari–Maret 2026 turun 9,9% yoy, ekspor ke Indonesia justru naik 11,4% menjadi 1,125 juta ton. Dalam kelompok lima besar tujuan ekspor baja jadi Tiongkok, Indonesia menjadi satu-satunya pasar yang masih tumbuh secara tahunan. Data ini menunjukkan bahwa tekanan ekspor Tiongkok ke Indonesia bukan risiko hipotetis, melainkan sudah terlihat dalam arus perdagangan terbaru.

Namun inti persoalannya bukan hanya volume, melainkan harga yang menyertai arus barang tersebut. Seperti dijelaskan sebelumnya, peningkatan profitabilitas pabrik baja Tiongkok belum berarti harga baja Tiongkok telah kembali ke tingkat keekonomian yang sehat. Pada level profitabilitas terbaru, masih sekitar 36% pabrik dalam survei Mysteel belum mencatat profit. Artinya, harga baja Tiongkok memang membaik dari titik ekstrem, tetapi belum cukup untuk menyehatkan seluruh industri baja Tiongkok sendiri. Jika harga seperti ini masuk ke pasar Indonesia, produsen nasional harus bersaing dengan harga yang bahkan belum sepenuhnya ekonomis bagi sebagian produsen Tiongkok.

Risiko ini menjadi lebih serius karena harga tersebut lahir dari industri yang ditopang dukungan negara sangat besar. Produsen baja Tiongkok beroperasi dalam ekosistem yang memiliki dukungan pembiayaan, infrastruktur industri, energi, logistik, kebijakan kapasitas, dan kemampuan ekspor yang jauh lebih kuat dibanding sebagian besar produsen di negara lain. Jika dengan dukungan sebesar itu masih banyak pabrik Tiongkok yang belum mencatat profit, maka harga ekspor Tiongkok pada level yang sama jelas menjadi tekanan lebih berat bagi produsen baja Indonesia.

Dengan demikian, risiko bagi Indonesia terlihat jelas: arus barangnya sudah nyata, sementara harga yang menyertainya masih berada pada level yang menekan keekonomian industri. Kombinasi volume dan harga ini dapat menekan harga domestik, mempersempit margin produsen nasional, dan menghambat pemulihan utilisasi industri baja dalam negeri. Karena itu, peningkatan profitabilitas Tiongkok bukan alasan untuk mengurangi kewaspadaan. Selama overcapacity, lemahnya permintaan domestik Tiongkok, dan kebutuhan menjaga outlet ekspor belum terselesaikan, tekanan harga murah dari Tiongkok belum akan mereda.

Dalam konteks ini, perlindungan pasar domestik perlu dipahami sebagai respons yang sah dan terukur terhadap distorsi harga global. Instrumen seperti BMAD, BMTP, BMI, pengendalian impor berbasis Neraca Komoditas, penegakan SNI, pengawasan circumvention, dan sistem peringatan dini impor diperlukan agar pasar Indonesia tidak menjadi ruang penyerapan bagi baja murah yang harganya belum mencerminkan tingkat keekonomian industri yang sehat.