
Sektor konstruksi merupakan salah satu penggerak utama aktivitas ekonomi nasional dan secara historis memiliki keterkaitan yang erat dengan permintaan baja domestik. Setiap peningkatan skala pembangunan fisik—baik pada proyek gedung, infrastruktur sipil, maupun konstruksi khusus—secara langsung mendorong kebutuhan baja sebagai material struktur utama. Pada 2025, aktivitas sektor konstruksi Indonesia kembali menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, mencerminkan keberlanjutan pembangunan fisik dan implikasinya terhadap peningkatan kebutuhan material konstruksi, termasuk baja.
Perkembangan tersebut tercermin dalam publikasi Konstruksi Dalam Angka 2025 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik pada 31 Desember 2025. Publikasi ini menyajikan pembaruan mengenai aktivitas sektor konstruksi, struktur pembentukan output, kontribusinya terhadap perekonomian nasional, serta berbagai informasi penting lainnya terkait sektor konstruksi. Meskipun belum terdapat informasi mengenai konsumsi baja dalam satuan fisik secara langsung, data yang tersedia tetap memberikan dasar struktural untuk menilai arah dan besaran pertumbuhan permintaan baja yang bersumber dari sektor konstruksi.
Perkembangan Sektor Konstruksi 2025
Berdasarkan data BPS, sektor konstruksi Indonesia sepanjang 2025 tetap berada dalam jalur pertumbuhan positif. Hingga Triwulan III-2025, aktivitas konstruksi tercatat terus meningkat secara tahunan, mencerminkan berlanjutnya pembangunan fisik pada proyek gedung, bangunan sipil, dan konstruksi khusus. Secara rinci, produk domestik bruto sektor konstruksi atas dasar harga konstan tumbuh sebesar 2,18 persen pada Triwulan I-2025, meningkat menjadi 4,98 persen pada Triwulan II-2025, dan berada pada 4,21 persen pada Triwulan III-2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pola ini menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor konstruksi pada 2025 berlangsung dalam fase normalisasi setelah pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2024, namun tetap stabil dan berkelanjutan. Dengan menggunakan pendekatan estimasi berbasis rentang, di mana rata-rata pertumbuhan tahunan Triwulan I–III digunakan sebagai batas bawah dan laju pertumbuhan Triwulan III sebagai batas atas, PDB sektor konstruksi tahun 2025 atas dasar harga konstan diperkirakan berada pada kisaran Rp1.311–1.312 triliun. Angka ini meningkat dari realisasi tahun 2024 sebesar Rp1.262,8 triliun, sehingga secara tahunan sektor konstruksi pada 2025 diperkirakan tumbuh sekitar 3,8–3,9 persen.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan perekonomian nasional, kinerja tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pembangunan fisik masih tumbuh secara positif dan sektor konstruksi tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi.
Kebutuhan Baja Sektor Konstruksi 2025
Hingga saat ini, berdasarkan publikasi yang tersedia, belum ditemukan data BPS yang secara langsung mengaitkan kinerja sektor konstruksi dengan kebutuhan baja dalam satuan volume maupun menurut kelompok jenis baja. Statistik yang tersedia terutama disajikan dalam satuan nilai ekonomi dan struktur sektoral, sehingga estimasi kebutuhan baja hanya dapat dilakukan secara indikatif dan berbasis pendekatan struktural, bukan sebagai pengukuran konsumsi fisik secara langsung.
Dalam tulisan ini, estimasi kebutuhan baja dilakukan dengan mengaitkan nilai output sektor konstruksi dengan struktur input material sebagaimana tercermin dalam Tabel Input–Output Indonesia. Berdasarkan Tabel Input–Output Indonesia 2020, nilai input besi dan baja dasar yang digunakan oleh sektor konstruksi tercatat sekitar Rp56,9 triliun pada basis harga dasar, sementara total output sektor konstruksi pada tahun yang sama berada di kisaran Rp1.260 triliun. Dengan demikian, porsi nilai besi dan baja dasar terhadap output konstruksi berada pada kisaran 4–5 persen.
Rasio tersebut mencerminkan karakter sektor konstruksi Indonesia sebagai sektor yang bersifat padat material, di mana baja berperan sebagai salah satu input utama bersama material lain seperti semen dan agregat. Dengan asumsi bahwa struktur biaya konstruksi tidak mengalami perubahan signifikan sejak 2020, rasio ini dapat digunakan sebagai rujukan proporsional untuk mengestimasi kebutuhan baja pada 2025. Dengan output sektor konstruksi yang diperkirakan berada pada kisaran Rp1.311–1.312 triliun, nilai kebutuhan besi dan baja dasar yang terserap secara langsung oleh sektor konstruksi pada 2025 diperkirakan berada pada kisaran Rp59–65 triliun pada basis harga dasar. Dibandingkan dengan estimasi tahun 2024 yang berada pada kisaran Rp57–60 triliun, nilai kebutuhan tersebut diperkirakan meningkat sekitar 3,8–4,0 persen, sejalan dengan pertumbuhan sektor konstruksi itu sendiri.
Untuk memberikan gambaran besaran fisik secara indikatif, nilai kebutuhan besi dan baja dasar tersebut dapat dikonversi menggunakan harga referensi baja pada kisaran USD 500–600 per ton dengan asumsi kurs sekitar Rp15.000 per dolar AS. Dengan asumsi tersebut, nilai Rp59–65 triliun ekuivalen dengan sekitar 7–9 juta ton baja. Angka ini merepresentasikan orde besaran konsumsi besi dan baja dasar yang tercermin secara langsung dalam kerangka Input–Output dan tidak dimaksudkan sebagai ukuran total konsumsi baja sektor konstruksi dalam pengertian fisik yang lebih luas.
Data sektor konstruksi dan Tabel Input–Output menggambarkan keterkaitan ekonomi antar sektor serta pembentukan nilai tambah dalam satuan nilai. Dalam statistik tersebut tidak ditemukan data yang secara langsung merekam konsumsi material fisik. Dalam kaitannya dengan konsumsi baja, perlu dicatat bahwa seiring dengan proses produksi, sebagian baja telah melalui pengolahan lanjutan sebelum digunakan di proyek konstruksi, sehingga pada tahap pemasangan nilainya telah terinkorporasi dalam jasa konstruksi atau produk antara lainnya. Konsekuensinya, konsumsi baja fisik yang terjadi di lapangan tidak seluruhnya tercermin sebagai transaksi besi dan baja dasar dalam statistik sektor konstruksi. Oleh karena itu, estimasi kebutuhan baja dalam tulisan ini bersifat indikatif dan struktural, dimaksudkan untuk menilai arah dan besaran tekanan permintaan baja dari sisi aktivitas ekonomi, bukan sebagai pengukuran konsumsi fisik secara menyeluruh.
Proyeksi Permintaan Baja Sektor Konstruksi ke Depan
Kebutuhan baja sektor konstruksi diperkirakan akan meningkat seiring berlanjutnya kegiatan pembangunan nasional. Peningkatan ini terutama didorong oleh realisasi Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mencakup pembangunan infrastruktur konektivitas, kawasan industri, fasilitas energi, serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya. Dalam kerangka tersebut, PSN tidak hanya menciptakan kebutuhan baja secara langsung melalui pelaksanaan proyek fisik, tetapi juga mendorong perluasan aktivitas konstruksi di luar proyek utama, termasuk pembangunan fasilitas pendukung dan investasi lanjutan oleh sektor swasta.
Tren pertumbuhan sektor konstruksi yang masih terjaga pada 2025 menjadi fondasi bagi peningkatan permintaan baja pada 2026 dan periode berikutnya. Keberlanjutan aktivitas konstruksi menunjukkan bahwa tekanan permintaan baja berpotensi berlanjut seiring meningkatnya intensitas proyek dan keterkaitannya dengan agenda pembangunan jangka menengah.
Pembahasan lebih rinci mengenai peran PSN dalam membentuk lintasan permintaan baja nasional, termasuk proyeksi kebutuhan baja jangka menengah dan panjang, telah diuraikan secara terpisah dalam artikel PSN sebagai Penggerak Permintaan Baja Nasional: Proyeksi 2026–2029 dan Jalan Menuju 2045.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.