
Mineral kritis telah menjadi senjata baru dalam perang dagang dan rivalitas geopolitik global. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok meluas hingga penguasaan mineral-mineral ini—yang menjadi fondasi bagi transisi energi, industri pertahanan, dan teknologi masa depan. Pembatasan ekspor, penguasaan cadangan, dan dominasi rantai pasok kini menjadi alat diplomasi sekaligus tekanan ekonomi antarnegara. Dalam konteks inilah, tata kelola rantai pasok mineral kritis menjadi poros baru pertarungan pengaruh global.
Indonesia mengambil langkah strategis di tengah eskalasi global tersebut dengan membentuk Badan Industri Mineral (BIM) melalui Keputusan Presiden Nomor 77/P Tahun 2025. Sebagai lembaga non-struktural di bawah Presiden, BIM ditugaskan untuk mengawal strategi nasional pengelolaan mineral kritis. Kepala BIM, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa BIM akan berfokus pada pengelolaan logam tanah jarang (LTJ) dan mineral radioaktif, dua jenis mineral strategis yang memiliki peran penting dalam transisi energi dan industri pertahanan nasional. Dengan kepemimpinan yang kuat serta mandat langsung dari Presiden, BIM diharapkan mampu menjembatani kebutuhan eksplorasi, riset, hilirisasi, dan strategi kedaulatan mineral dalam satu kerangka pembangunan yang terintegrasi.
Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Widodo Setiadharmaji : Era Baru Tata Kelola Mineral Strategis Indonesia”, pada tautan berikut: https://katadata.co.id/indepth/opini/68c3892f2d644/era-baru-tata-kelola-mineral-strategis-indonesia
Penulis: Widodo Setiadharmaji
Editor: Aria W. Yudhistira
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.