
Kabar gembira? Produksi baja global dan Tiongkok pada Januari 2026 turun. Itu mungkin menjadi respons spontan saat membaca laporan World Steel Association mengenai produksi baja awal tahun ini. Namun realitasnya tidak sesederhana itu. Pada awal 2026, industri baja global menunjukkan paradoks yang tidak bisa diabaikan: produksi menurun, tetapi arus perdagangan justru meningkat. Dalam struktur industri yang masih dibayangi kelebihan kapasitas—terutama di Tiongkok—pelemahan permintaan domestik sering kali justru meningkatkan tekanan global dengan mengalihkan pasokan ke pasar ekspor. Dalam konteks ini, pertanyaan bagi Indonesia bukan sekadar apakah produksi global turun, melainkan apakah pasar domestik siap menghadapi pergeseran arus baja dunia.
Produksi Baja Global Januari 2026
World Steel Association (worldsteel) mencatat produksi baja kasar global pada Januari 2026 sebesar 147,3 juta ton, turun 6,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kontraksi ini terutama dipicu oleh kawasan Asia dan Oceania yang menyusut 8,6% yoy, dengan Tiongkok memproduksi 75,3 juta ton atau turun 13,9% yoy.
Namun dinamika antar-wilayah tidak seragam. India justru tumbuh 10,5%, Amerika Serikat naik 3,3%, Jerman melonjak 15,0%, dan Iran meningkat 15,1%. Di tingkat regional, Timur Tengah mencatat kenaikan 12,6% dan Afrika 5,8%.
Laporan WSA ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, penurunan global sangat terkonsentrasi pada Tiongkok, sehingga angka dunia lebih merefleksikan koreksi di satu negara dominan daripada pelemahan serentak di seluruh kawasan. Kedua, terdapat fragmentasi pertumbuhan yang mencerminkan perbedaan struktur permintaan domestik, kebijakan industri, serta tingkat dukungan pemerintah di masing-masing negara. Dengan demikian, penurunan produksi global tidak dapat dibaca sebagai krisis menyeluruh, melainkan sebagai proses penyesuaian struktural yang berlangsung tidak merata antar-wilayah.
Produksi Melemah, Ekspor Menguat: Dinamika Arus Baja Global 2025–Januari 2026
Jika produksi global turun, apakah arus perdagangan ikut melemah? Data justru menunjukkan arah yang berlawanan. Pada 2025, arus baja global mencapai 283 juta ton, naik lebih dari 5%, dan kenaikan tersebut sepenuhnya didorong oleh Tiongkok yang meningkatkan ekspor 15% menjadi 119 juta ton. Pangsa Tiongkok dalam asal arus baja dunia pun naik dari 38% menjadi 42%, sementara arus keluar di luar Tiongkok justru turun 1%.
Hubungan strukturalnya konsisten: ketika produksi dan permintaan domestik Tiongkok melemah, ekspor meningkat sebagai mekanisme penyesuaian. Januari 2026 bahkan menunjukkan arus baja Tiongkok masih tumbuh 12% yoy. Dengan demikian, penurunan produksi global tidak identik dengan berkurangnya tekanan eksternal. Baja yang tidak terserap di pasar domestik dialihkan ke pasar internasional, menjadikan ekspor sebagai katup pengaman bagi kapasitas yang berlebih.
Implikasi bagi Industri Baja Nasional: Peluang dan Tantangan
Bagi produsen baja nasional, konfigurasi global ini menghadirkan dua konsekuensi yang berjalan bersamaan.
Dari sisi ancaman, meningkatnya arus ekspor Tiongkok di tengah pelemahan produksi domestiknya berarti kompetisi harga global berpotensi semakin agresif. Negara dengan pasar relatif terbuka dan pengawasan impor yang longgar akan menjadi tujuan alami bagi pengalihan pasokan tersebut. Jika disparitas harga signifikan dan penegakan standar tidak konsisten, tekanan terhadap utilisasi kapasitas dan margin produsen domestik akan meningkat.
Namun dari sisi peluang, fragmentasi pertumbuhan antar-kawasan membuka ruang reposisi strategis. Pertumbuhan di India, Timur Tengah, dan sebagian Eropa menunjukkan munculnya pusat permintaan baru. Apabila Indonesia mampu menjaga disiplin pasar domestik sekaligus memperkuat efisiensi biaya dan kualitas produk, fase penyesuaian global ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pangsa pasar dalam negeri, mendorong konsolidasi kapasitas nasional, serta melakukan reorientasi pasar ekspor.
Pada akhirnya, apakah situasi ini menjadi ancaman atau momentum peluang tidak ditentukan oleh penurunan produksi global dan Tiongkok semata, melainkan oleh arah arus perdagangan serta kesiapan struktur pasar domestik dalam meresponsnya.
Menata Langkah, Menata Kebijakan
Penurunan produksi baja global dan Tiongkok perlu disikapi secara hati-hati, terutama karena pada saat yang sama arus ekspor Tiongkok berpotensi meningkat dengan harga yang berada jauh di bawah tingkat keekonomian wajar. Dalam situasi seperti ini, penguatan instrumen pengamanan perdagangan bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak. Pemerintah perlu mempercepat investigasi anti-dumping, memperketat pengawasan circumvention, serta mengoptimalkan seluruh instrumen perlindungan yang tersedia dalam kerangka WTO.
Pendekatan yang terlalu konservatif dalam penggunaan trade remedies perlu ditinjau ulang. Tarif pada kisaran 10–20% sering kali tidak lagi memadai untuk menutup disparitas harga yang sangat dalam. Jika selisih harga mencapai puluhan hingga ratusan dolar per ton, maka tarif harus dirancang untuk benar-benar menetralkan selisih tersebut agar tercipta level playing field. Tarif yang bersifat simbolik tidak akan efektif menghadapi distorsi harga yang sistemik.
Pengalaman berbagai negara menunjukkan pola yang konsisten. Amerika Serikat membangun proteksi berlapis melalui Section 232 yang kini berada pada level 50%, ditambah Section 301 serta bea anti-dumping dan countervailing duties, yang dalam kombinasi tertentu menghasilkan beban tarif kumulatif mendekati atau bahkan melampaui 100%. Brasil menetapkan bea anti-dumping hingga US$670 per ton—secara nominal melampaui harga referensi baja itu sendiri—untuk menutup celah harga akibat dumping. Korea Selatan, meski memiliki salah satu industri baja paling kompetitif di dunia, tetap mengenakan bea hingga 33,43% ketika harga impor dinilai berada 15–20% di bawah harga domestik yang wajar.
Polanya jelas: ketika distorsi harga ekstrem, koreksi tarif juga harus sebanding. Tarif ditentukan oleh besarnya gap harga, bukan oleh preferensi angka moderat.
Kebijakan impor juga harus terintegrasi dengan kebutuhan industri hilir dan proyek strategis nasional. Baja untuk infrastruktur dan hilirisasi perlu diprioritaskan dari produksi dalam negeri sepanjang tersedia secara teknis dan ekonomis, agar pasar domestik tidak menjadi outlet otomatis bagi kelebihan kapasitas global. Berbagai negara secara konsisten menerapkan kebijakan preferensi produk domestik untuk memastikan belanja strategis memperkuat basis industrinya sendiri.
Di sisi industri, produsen nasional perlu menjaga efisiensi operasional dan fleksibilitas produk. Tekanan harga global menuntut disiplin pengendalian biaya, peningkatan yield, optimalisasi utilisasi kapasitas, serta diversifikasi pasar agar ketahanan perusahaan tidak bergantung pada satu segmen semata.
Koordinasi antara pelaku industri dan pemerintah juga harus diperkuat melalui sistem early-warning berbasis data perdagangan dan harga internasional. Dalam industri yang sangat sensitif terhadap arus global, deteksi dini jauh lebih efektif dibanding respons yang terlambat dan reaktif.
Pada akhirnya, penurunan produksi baja global dan Tiongkok bukanlah sinyal otomatis perbaikan kondisi pasar. Dalam konfigurasi arus perdagangan saat ini, risiko tekanan impor tetap tinggi. Situasi ini akan menjadi ancaman apabila pasar domestik dibiarkan tanpa koreksi kebijakan yang memadai, namun dapat berubah menjadi momentum konsolidasi apabila instrumen perdagangan dan strategi industri dirancang secara terukur, tegas, dan tepat waktu.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.