
Tiongkok merupakan powerhouse industri global, termasuk di sektor baja, dengan kemampuan mendominasi perdagangan internasional dalam skala yang sulit ditandingi negara lain. Dominasi ini kerap dipersepsikan dan dianalisis sebagai cerminan keunggulan daya saing. Tidak jarang, pertanyaan publik kemudian mengarah pada mengapa negara lain—termasuk Indonesia—tidak mampu memproduksi baja semurah Tiongkok. Ketertinggalan tersebut sering disederhanakan sebagai persoalan efisiensi yang rendah, produktivitas yang lemah, teknologi yang tertinggal, kualitas produk yang kalah, atau berbagai kelemahan struktural industri domestik lainnya.
Namun, ketika dominasi perdagangan Tiongkok ditelaah lebih dalam dari perspektif profitabilitas industri, muncul sebuah paradoks yang mendasar. Dominasi ekspor justru berlangsung bersamaan dengan rapuhnya profitabilitas dan meluasnya tekanan finansial di tingkat produsen baja Tiongkok. Dengan kata lain, ekspor yang besar tidak selalu mencerminkan industri yang sehat. Dalam konteks Tiongkok, tingginya ekspor justru dapat menjadi sinyal adanya tekanan struktural yang lebih dalam di balik kinerja perdagangan yang tampak impresif.
Dominasi Ekspor Baja Tiongkok dalam Perdagangan Global
Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok mengekspor baja dalam kisaran 90 hingga lebih dari 100 juta ton per tahun, bahkan mencapai rekor sekitar 119 juta ton pada 2025. Volume ini setara dengan sekitar seperlima hingga seperempat dari total perdagangan baja global. Secara absolut, angka tersebut jauh melampaui negara-negara eksportir baja utama lainnya dan menempatkan Tiongkok sebagai aktor dominan dalam pasar internasional.
Jika dilihat dari sisi produksi domestik Tiongkok yang masih berada di atas satu miliar ton per tahun, porsi ekspor terhadap total output memang tampak relatif kecil. Namun, dalam konteks pasar global, skala ekspor tersebut sudah lebih dari cukup untuk membentuk harga internasional dan secara langsung menggeser keseimbangan industri baja lintas negara.
Dampak dari dominasi ekspor ini terlihat nyata di berbagai kawasan. Industri baja di Inggris, sejumlah negara Uni Eropa, Korea Selatan, hingga Jepang dan beberapa kawasan lainnya menghadapi tekanan berupa penurunan utilisasi kapasitas, penyempitan margin, dan dalam sejumlah kasus berujung pada penutupan fasilitas produksi. Tekanan serupa juga tercermin di Indonesia, sebagaimana terlihat pada penutupan Krakatau Osaka Steel yang menyusul berhentinya operasi Ispat Indo sebelumnya. Rangkaian kasus lintas negara ini menunjukkan bahwa arus baja Tiongkok menjadi paling merusak di yurisdiksi yang tidak atau belum memiliki instrumen perlindungan negara yang memadai, sehingga industri domestik terekspos langsung pada tekanan harga impor dalam skala besar tanpa penyangga kebijakan yang efektif.
Tidak mengherankan apabila dalam beberapa tahun terakhir produk baja Tiongkok menjadi sasaran lebih dari 200 instrumen pembatasan perdagangan di lebih dari 60 negara. Langkah-langkah tersebut bukan sekadar respons proteksionisme, melainkan refleksi dari upaya negara-negara tersebut untuk memulihkan fungsi perlindungan industri domestik yang terdistorsi oleh arus impor berharga rendah dalam skala besar. Dominasi ekspor baja Tiongkok dinilai telah menimbulkan distorsi harga dan kerugian material yang berkelanjutan bagi produsen domestik, sehingga memaksa pemerintah mengambil tindakan korektif melalui mekanisme anti-dumping, bea masuk imbalan, maupun tindakan pengamanan perdagangan. Dalam konteks ini, arus ekspor baja Tiongkok tidak lagi dipersepsikan sebagai dinamika perdagangan yang berlangsung secara wajar, melainkan sebagai tekanan struktural yang menuntut kehadiran negara untuk menyeimbangkan kembali persaingan industri.
Menelisik Profitabilitas dan Distorsi Harga Ekspor Industri Baja Tiongkok
Dalam kondisi industri yang sehat, dominasi ekspor umumnya mencerminkan kemampuan produsen menghasilkan surplus laba setelah kebutuhan pasar domestik terpenuhi. Namun pola tersebut tidak berlaku pada industri baja Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir. Ekspor baja justru meningkat ketika permintaan domestik melemah tajam, terutama akibat kontraksi berkepanjangan di sektor properti dan konstruksi yang selama ini menjadi penyerap utama konsumsi baja. Pelemahan permintaan ini memperbesar kelebihan kapasitas yang bersifat struktural, sementara karakter industri baja yang padat modal, berbiaya tetap tinggi, dan beroperasi secara kontinu membuat penyesuaian kapasitas produksi sulit dilakukan. Dalam kondisi demikian, pilihan yang tersedia bagi produsen adalah mempertahankan operasi meskipun pada tingkat profitabilitas yang rendah. Dalam konteks inilah ekspor berfungsi sebagai saluran penyaluran kelebihan pasokan, bahkan ketika harus dilakukan pada harga di bawah kewajaran pasar, bukan sebagai cerminan kinerja profitabilitas domestik yang kuat.
Kondisi tersebut tercermin secara jelas pada dinamika profitabilitas produsen baja di Tiongkok. Survei industri yang dilakukan oleh Mysteel, yang secara rutin memantau sekitar 247 pabrik blast furnace, menunjukkan bahwa sepanjang periode tekanan 2023–2024 hingga awal 2025, hanya sekitar 50–60 persen pabrik yang mampu mencatatkan margin positif, sementara 40–50 persen lainnya beroperasi dalam kondisi rugi. Ketika tekanan permintaan domestik dan margin semakin memburuk—terutama pada paruh akhir 2024—proporsi pabrik yang merugi bahkan meningkat hingga mendekati dua pertiga dari total pabrik yang dipantau. Temuan ini menegaskan bahwa kerugian bukanlah fenomena insidental atau sementara, melainkan mencerminkan tekanan struktural yang luas di dalam industri baja Tiongkok.
Memasuki paruh kedua 2025, sejumlah indikator memang menunjukkan pemulihan profitabilitas yang bersifat parsial, sebagaimana dicatat oleh Mysteel dan dikonfirmasi oleh S&P Global. Lebih dari 60 persen pabrik kembali mencatatkan laba pada pertengahan 2025, terutama didorong oleh pemangkasan output, penurunan biaya bahan baku, serta intervensi kebijakan untuk mengendalikan kelebihan kapasitas, bukan oleh pemulihan permintaan domestik yang kuat. Namun demikian, porsi pabrik yang masih merugi tetap signifikan, berada di kisaran sekitar 40 persen, menunjukkan bahwa perbaikan tersebut belum mengubah kondisi struktural industri secara menyeluruh.
Sejalan dengan temuan tersebut, OECD dalam laporan Global Steel Outlook menegaskan bahwa struktur profitabilitas industri baja Tiongkok tetap rapuh, ditandai oleh margin yang tipis dan volatil serta ketergantungan yang tinggi pada ekspor untuk menyerap kelebihan kapasitas. Dalam konteks ini, fakta bahwa ekspor baja Tiongkok tetap berlangsung dalam volume yang sangat besar, bahkan ketika profitabilitas domestik hanya pulih secara terbatas dan sebagian besar produsen masih berada di ambang kerugian, memperkuat kesimpulan bahwa ekspor tersebut tidak bertumpu pada struktur biaya dan harga yang sepenuhnya wajar. Ekspor dengan demikian berfungsi sebagai mekanisme penyaluran tekanan domestik ke pasar global yang terpaksa harus dilakukan, bukan sebagai refleksi daya saing harga yang sehat dan berkelanjutan.
Tekanan profitabilitas tersebut semakin jelas ketika dibaca melalui struktur margin industri. Data agregat yang dihimpun oleh CREA menunjukkan bahwa rata-rata profitabilitas industri baja Tiongkok memang masih berada di wilayah positif, namun sangat tipis. Dalam beberapa tahun terakhir, margin rata-rata produsen baja Tiongkok—khususnya kelompok produsen “average”—umumnya hanya berada di kisaran 1 hingga 3 persen, dan pada periode tekanan bahkan mendekati titik impas. Dalam industri baja yang menuntut investasi besar, memiliki biaya tetap tinggi, serta membutuhkan belanja modal berkelanjutan untuk pemeliharaan aset dan pemenuhan standar lingkungan, margin setipis ini secara ekonomi tidak dapat dianggap sehat atau berkelanjutan.
Struktur margin yang menumpuk sangat dekat dengan titik nol ini menciptakan distribusi profitabilitas yang sangat rapuh. Perubahan kecil pada harga bijih besi, batu bara kokas, energi, atau penurunan harga jual baja hanya beberapa dolar per ton sudah cukup untuk mendorong perusahaan dari posisi untung tipis ke kondisi rugi. Dengan demikian, meskipun angka rata-rata industri masih terlihat positif, sebagian besar produsen sesungguhnya beroperasi di ambang kerugian atau telah mengalami kerugian. Pola ini selaras dengan temuan Mysteel yang secara konsisten menunjukkan bahwa jumlah produsen baja Tiongkok yang mencatatkan kerugian berada pada level yang sangat besar.
Dalam struktur industri yang mengalami kerugian luas seperti ini, perilaku ekspor harus dibaca sebagai respons defensif, bukan ekspansi berbasis daya saing. Pabrik tetap beroperasi untuk menjaga utilisasi dan arus kas, karena menghentikan produksi justru akan memperbesar kerugian akibat beban biaya tetap. Kelebihan volume yang tidak terserap oleh pasar domestik kemudian dialihkan ke pasar ekspor. Namun karena tujuan utamanya adalah menjaga operasi tetap berjalan, harga ekspor ditekan sedemikian rupa agar volume dapat terserap, bukan untuk menghasilkan margin yang sehat.
Fakta bahwa ekspor baja Tiongkok berlangsung dalam volume sangat besar di tengah kondisi di mana 40–65 persen produsen domestik mencatatkan kerugian memberikan implikasi ekonomi yang tegas. Harga ekspor tersebut tidak dapat dianggap sebagai harga yang wajar secara ekonomi, karena tidak bertumpu pada struktur biaya dan profitabilitas yang sehat di dalam negeri. Dalam banyak kasus, harga ekspor sangat mungkin berada di bawah biaya ekonomi penuh dan hanya mencerminkan upaya menutup sebagian biaya variabel jangka pendek. Dengan demikian, dominasi ekspor baja Tiongkok bukan merupakan indikator keunggulan daya saing yang efisien, melainkan manifestasi dari tekanan domestik yang diekspor ke pasar global melalui harga yang terdistorsi.
Menjawab Kenapa Harga Tiongkok tak Dapat Disaingi
Tekanan profitabilitas yang meluas di industri baja Tiongkok bukanlah satu-satunya faktor yang mendistorsi harga ekspor baja Tiongkok. Berbagai laporan lembaga internasional menunjukkan bahwa industri baja Tiongkok beroperasi dalam kerangka kebijakan negara yang secara aktif menopang keberlangsungan kapasitas, bahkan ketika kondisi pasar tidak lagi mendukung secara ekonomi. Laporan-laporan OECD secara konsisten mencatat keberadaan berbagai instrumen kebijakan yang menciptakan persaingan tidak adil, mulai dari dukungan pembiayaan melalui perbankan negara, restrukturisasi utang yang berulang, keringanan fiskal dan energi, hingga intervensi pemerintah daerah untuk menjaga operasi pabrik demi stabilitas ekonomi dan ketenagakerjaan. Dalam struktur seperti ini, perusahaan baja tidak dipaksa keluar dari pasar meskipun mengalami kerugian berkepanjangan, sehingga tekanan kelebihan kapasitas tidak terselesaikan secara alami.
Kondisi ini menjelaskan mengapa kerugian domestik yang meluas tidak berujung pada penyesuaian kapasitas, melainkan diterjemahkan ke dalam strategi harga dan volume. Ketika industri tetap beroperasi di bawah payung kebijakan negara, penyesuaian dilakukan melalui penurunan harga dan pengalihan volume ke pasar ekspor. Dengan kata lain, dukungan kebijakan memungkinkan ekspor tetap berlangsung meskipun harga jual tidak mencerminkan biaya ekonomi penuh. Tanpa bantalan kebijakan tersebut, industri dengan tingkat kerugian seperti yang tercermin dalam data Mysteel tidak mungkin mempertahankan operasi dan volume ekspor dalam jangka waktu panjang.
Pemahaman ini memperoleh konfirmasi empiris dari respons global terhadap ekspor baja Tiongkok. Hingga kini, produk baja Tiongkok telah menjadi sasaran sekitar 270 instrumen trade remedies di lebih dari 60 negara, mencakup bea anti-dumping, bea imbalan, dan tindakan pengamanan perdagangan. Jumlah dan sebaran geografis tindakan ini tidak dapat dijelaskan sebagai reaksi proteksionisme sporadis. Dalam sistem perdagangan internasional, penerapan instrumen tersebut mensyaratkan pembuktian bahwa harga ekspor berada di bawah nilai wajar dan menimbulkan kerugian material bagi industri domestik. Fakta bahwa puluhan yurisdiksi dengan sistem hukum dan tingkat daya saing industri yang berbeda sampai pada kesimpulan yang sama menunjukkan bahwa harga ekspor baja Tiongkok memang dinilai tidak normal secara sistemik.
Lebih jauh, dampak harga yang tidak wajar ini tidak hanya dirasakan oleh produsen kecil atau industri yang kurang kompetitif. Penutupan fasilitas produksi oleh perusahaan baja yang secara global dikenal efisien dan berdaya saing tinggi, seperti Hyundai Steel dan POSCO, menjadi bukti tambahan bahwa tekanan harga tersebut berada di luar batas persaingan normal. Ketika produsen dengan teknologi mutakhir, skala ekonomi besar, dan dukungan kebijakan domestik yang relatif kuat pun terpaksa menutup atau mengurangi kapasitas, maka argumen bahwa persoalan ini semata-mata disebabkan oleh efisiensi atau daya saing menjadi tidak relevan.
Dengan demikian, rangkaian bukti ini membentuk satu kesimpulan yang konsisten. Industri baja Tiongkok beroperasi dalam struktur yang ditopang oleh kebijakan negara, sehingga mampu mempertahankan kapasitas meskipun merugi. Kerugian domestik tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam strategi ekspor berbasis harga yang ditekan, menghasilkan arus produk baja ke pasar global pada tingkat harga yang tidak wajar secara ekonomi. Respons internasional melalui ratusan tindakan trade remedies, serta dampak nyata terhadap produsen baja yang kompetitif sekalipun, menunjukkan bahwa dominasi ekspor baja Tiongkok bukanlah cerminan keunggulan daya saing, melainkan hasil dari distorsi struktural yang diekspor ke pasar global.
Ketika Dominasi Ekspor Menjadi Distorsi: Implikasi Kebijakan bagi Industri Nasional
Paradoks industri baja Tiongkok memberikan pelajaran penting bagi kebijakan industri kita: dominasi ekspor tidak lagi dapat dijadikan indikator tunggal daya saing. Rekor ekspor Tiongkok tidak mencerminkan keberhasilan industri yang efisien dan sehat, melainkan menjadi sinyal adanya ketidakseimbangan pasar. Semakin besar volume ekspor yang dicapai, semakin jelas kerapuhan struktur profitabilitas yang menopangnya. Membaca ekspor tanpa membedah profitabilitas merupakan kekeliruan mendasar yang berisiko menyesatkan perumusan kebijakan industri ke depan.
Berdasarkan realitas tersebut, persaingan harga baja global saat ini jelas tidak berlangsung dalam kondisi level playing field. Ketika sebuah negara dengan skala produksi raksasa terus melakukan ekspansi ekspor di tengah tren profitabilitas domestik yang negatif—seraya disokong berbagai dukungan dan insentif kebijakan negara—maka mekanisme pasar global sesungguhnya tengah mengalami distorsi sistemik.
Bagi Indonesia, menyikapi fenomena ini memerlukan cara pandang yang lebih tepat, akurat, dan komprehensif, yang tercermin dalam beberapa implikasi kebijakan utama berikut:
- Rekalibrasi definisi daya saing. Sudah saatnya membedakan secara tegas antara daya saing yang lahir dari keunggulan teknologi, produktivitas, dan efisiensi struktural, dengan “daya saing” semu yang muncul dari tekanan finansial dan dukungan kebijakan non-pasar. Ketidakmampuan industri domestik menghadapi harga impor yang tidak wajar tidak seharusnya secara otomatis ditafsirkan sebagai kelemahan internal.
- Optimalisasi instrumen perdagangan. Penerapan trade remedies oleh puluhan yurisdiksi global menunjukkan bahwa tindakan pengamanan perdagangan merupakan respons yang sah dan lazim dalam sistem perdagangan internasional. Indonesia perlu memastikan instrumen ini digunakan secara tepat waktu dan berbasis data, agar industri nasional tidak menjadi penyangga bagi ketidakseimbangan ekonomi negara lain yang ditopang subsidi dan distorsi kebijakan.
- Kepastian investasi jangka panjang. Sebagai tulang punggung pembangunan, perlindungan terhadap praktik perdagangan yang tidak adil merupakan bentuk jaminan bagi investor—termasuk investasi oleh pemerintah sendiri melalui BUMN—bahwa komitmen jangka panjang yang telah ditanamkan tidak akan tergerus oleh anomali pasar global yang dibentuk secara artifisial oleh kebijakan negara mitra.
Pada akhirnya, kebijakan industri yang kuat harus bertumpu pada pemahaman yang jernih atas realitas pasar dan data yang tersedia. Dominasi ekspor baja Tiongkok berlangsung seiring dengan kondisi profitabilitas industri yang sangat tipis, bahkan negatif, sehingga mendorong terbentuknya harga ekspor yang tidak wajar dan terdistorsi secara sistemik. Harga seperti ini, dalam banyak kasus, tidak mampu ditandingi bahkan oleh produsen baja paling kompetitif sekalipun. Fakta tersebut menegaskan bahwa ekspor dalam volume besar tidak selalu lahir dari profitabilitas yang memadai.
Dalam konteks ini, menyederhanakan persoalan impor semata-mata sebagai kelemahan produsen domestik—dengan menuding efisiensi yang rendah, produktivitas yang lemah, teknologi yang tertinggal, kualitas produk yang kalah, atau berbagai kelemahan struktural lainnya—merupakan pemahaman yang tidak utuh dan berisiko mengarah pada perumusan kebijakan yang kurang tepat. Memahami paradoks antara dominasi ekspor dan realitas profitabilitas industri baja Tiongkok menjadi titik awal bagi Indonesia untuk merumuskan strategi pertahanan industri yang lebih tepat sasaran, berdaulat, dan berkelanjutan.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.