
Pekan keempat November 2025 menunjukkan fragmentasi yang terus berlanjut pada pasar baja global, dengan harga HRC ASEAN yang stabil di tengah kuatnya arus pasokan Tiongkok, sementara proteksionisme yang meningkat di berbagai negara mempersempit ruang ekspor dan menambah risiko pengalihan surplus ke Asia Tenggara. Di sisi investasi, ekspansi kapasitas masih didorong oleh proyek-proyek di India, Afrika Timur, dan sebagian Asia Tenggara, sementara inisiatif green steel di negara maju berjalan lebih selektif akibat tingginya biaya dan ketidakpastian kebijakan pendukung. Dalam situasi ini, Indonesia perlu menjaga konsistensi perlindungan pasar domestik, memanfaatkan peluang ekspor ke pasar yang masih terbuka, serta menyiapkan roadmap transisi industri baja yang adaptif agar adopsi teknologi rendah karbon tidak melemahkan daya saing nasional..
I. Perkembangan Harga Baja Minggu IV November 2025
Harga baja global pada minggu ini kembali menunjukkan pola yang tidak seragam antar wilayah, dengan beberapa pasar bergerak stabil akibat minimnya aktivitas perdagangan, sementara kawasan lain mengalami koreksi tajam karena pelemahan permintaan atau tekanan pasokan. Secara keseluruhan, kondisi pasar memasuki fase penyesuaian menjelang akhir tahun, ketika sebagian produsen menahan kenaikan harga dan pembeli mengambil posisi hati-hati.
Di Tiongkok, harga baja domestik cenderung stabil. Harga HRC bertahan pada kisaran 465–470 USD, relatif tidak berubah dibandingkan minggu sebelumnya karena keseimbangan tipis antara penurunan produksi dan lemahnya permintaan hilir. Produk turunan seperti GI/HDG juga bergerak mendatar di 585–590 USD, mencerminkan aktivitas pasar yang tidak menunjukkan dorongan baru. Sebaliknya, penurunan muncul pada CRC yang turun ke 555 USD akibat lemahnya pembelian di sektor manufaktur ringan. Untuk rebar, harga bergerak stabil di 445–475 USD, sementara wire rod justru naik ke 505 USD karena pasokan yang sedikit lebih ketat pada segmen ini. Pada pasar ekspor, harga HRC Tiongkok berada di 445 USD, sepenuhnya stabil dibandingkan minggu lalu, sejalan dengan penawaran ekspor yang tidak berubah signifikan dalam kondisi permintaan global yang tetap tenang.
Di kawasan ASEAN, harga HRC impor tercatat stabil di 465 USD. Ketiadaan perubahan mencerminkan kondisi pasar yang relatif stabil, di mana pembeli masih menahan restocking dan memilih menunggu arahan lebih jelas dari pasar ekspor Tiongkok.
Di India, pergerakan harga lebih dinamis dan menunjukkan tekanan menuju penurunan pada sebagian besar produk. HRC naik tipis ke 590–620 USD karena penguatan harga dari sisi produsen besar yang menyesuaikan penawaran domestik. Namun, CRC turun signifikan ke 660 USD dan GI/HDG melemah ke 705–720 USD, yang menggambarkan normalisasi harga setelah periode penyesuaian tinggi pada minggu-minggu sebelumnya. Di segmen panjang, harga rebar turun ke 440–485 USD, sementara wire rod stabil pada 450–460 USD, menunjukkan bahwa pasar panjang India relatif terjaga meskipun ada koreksi pada permintaan konstruksi di beberapa wilayah. Untuk scrap domestik yang dibutuhkan pabrik-pabrik sekunder, harga stabil di 315 USD, menandakan tidak adanya perubahan kondisi pasokan yang berarti.
Di Turki, tidak ada data pada periode ini sehingga harga ditetapkan n/a, menggambarkan tidak adanya publikasi resmi yang dapat dijadikan dasar harmonisasi.
Di Timur Tengah (Mesir), harga rebar turun sangat tajam ke 665–760 USD, jauh lebih rendah dibanding minggu sebelumnya yang berada di atas 1.000 USD. Koreksi besar ini mencerminkan normalisasi harga setelah beberapa pabrik melakukan penyesuaian agresif terhadap penawaran domestik, di tengah permintaan yang masih rapuh serta tekanan biaya yang mulai menurun.
Di Eropa, dinamika berbeda terlihat antara pasar domestik dan impor. Harga HRC domestik naik ke 670–750 USD, mencerminkan ekspektasi kenaikan biaya produksi serta kehati-hatian distributor dalam menambah stok menjelang pergantian tahun. Sementara itu, harga impor HRC yang berada pada rentang 550–695 USD belum memberikan sinyal yang dapat dibandingkan dengan minggu sebelumnya karena tidak tersedia data pembanding, tetapi posisi harga ini tetap menunjukkan bahwa beban biaya masuk (CFR/DDP) masih relatif kompetitif dibandingkan penawaran domestik.
Di Amerika Serikat, harga HRC turun cukup signifikan ke 890–950 USD, dari level minggu lalu yang masih berada pada kisaran 970–1.000 USD. Penurunan ini terjadi setelah periode rally berbulan-bulan sebelumnya, ketika pasar memasuki fase penyeimbangan antara pembelian kontrak dan spot. Keterbatasan impor serta preferensi produsen domestik untuk mempertahankan harga tinggi masih menopang pasar, tetapi koreksi ini menunjukkan bahwa sebagian pembeli mulai mengurangi volume pembelian menjelang libur akhir tahun.
Ringkasan Harga Baja – Minggu IV November 2025 (USD/ton)
| Kawasan | HRC | CRC | GI/HDG | Color Coated | Rebar | Wire Rod | Scrap |
| Tiongkok (Dom) | 465–470 → | 555 ↓ | 585–590 → | 705–900 → | 445–475 → | 505 ↑ | |
| Tiongkok (Eks) | 445 → | ||||||
| ASEAN | 465 → | ||||||
| India | 590–620 ↑ | 660 ↓ | 705–720 ↓ | 440–485 ↓ | 450–460 → | 315 → | |
| Turki | |||||||
| Middle East (Mesir) | 665–760 ↓ | ||||||
| Eropa (Dom) | 670–750 ↑ | ||||||
| Eropa (Impor) | 550–695 | ||||||
| Amerika Serikat | 890–950 ↓ |
Keterangan: ↑ naik w/w; ↓ turun w/w; → stabil (≤ ±0,5%)
II. Perkembangan Perdagangan Baja Global – Minggu IV November 2025
Perdagangan baja global pada minggu ini memperlihatkan pola yang berhati-hati di berbagai kawasan, dengan pasokan dari Tiongkok ke pasar Asia tetap besar dan terus menjadi faktor dominan dalam pergerakan perdagangan regional. Di Asia Tenggara, kondisi pasar yang masih lemah dan minimnya aktivitas restocking membuat harga HRC impor tetap stabil, sehingga aliran pasokan dari Tiongkok tidak menghasilkan tekanan harga baru pada minggu ini. Kawasan ASEAN tetap menjadi salah satu tujuan utama distribusi produk baja Tiongkok, antara lain karena hambatan perdagangan yang relatif rendah dibandingkan wilayah seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat.
Di India, pemerintah kembali meninjau langkah-langkah perlindungan terhadap impor di tengah tekanan harga domestik pada sejumlah produk. Pengetatan kebijakan impor berpotensi mengurangi masuknya baja asing dan mengalihkan sebagian arus perdagangan regional, terutama dari negara-negara yang selama ini memasok pasar India.
Di Eropa, pembahasan mengenai penyesuaian hubungan dagang dengan Amerika Serikat terus berlangsung, khususnya terkait tarif baja dan aluminium. Upaya ini membuka kemungkinan perbaikan akses ekspor produsen Eropa ke pasar Amerika Serikat, terutama dalam menghadapi kondisi pasar domestik yang masih bergerak dalam fase penyesuaian.
Secara keseluruhan, dinamika perdagangan baja minggu ini menunjukkan tiga kecenderungan utama: pasokan Tiongkok ke Asia yang tetap mempengaruhi struktur pasar, langkah India untuk memperkuat perlindungan domestik, dan upaya Eropa untuk memperluas kembali akses ekspor ke Amerika Serikat. Ketiganya memperlihatkan bahwa pergerakan perdagangan baja global saat ini lebih banyak dibentuk oleh kebijakan dan distribusi pasokan dibanding perubahan permintaan jangka pendek.
III. Kebijakan & Trade Remedies – Minggu IV November 2025
Pada minggu laporan ini, dinamika proteksi perdagangan baja meningkat di berbagai kawasan, dengan fokus utama pada pengetatan arus impor berbiaya rendah dari Tiongkok dan negara-negara Asia lain. Sejumlah yurisdiksi mengumumkan investigasi baru, tinjauan ulang, tarif permanen, serta perubahan kerangka kuota dan remediasi.
India sedang mempertimbangkan penerapan kembali structured safeguard duty untuk impor baja dalam kisaran 11–12 persen untuk periode tiga tahun, setelah langkah pengamanan sementara yang diberlakukan pada April 2025 berakhir di awal November. Pemerintah menilai perluasan tindakan ini sebagai respons terhadap masuknya produk berharga murah yang berpotensi melemahkan daya saing produsen domestik. Kebijakan ini selaras dengan rekomendasi sebelumnya dari otoritas trade remedies India.
Vietnam memulai midterm review anti-dumping terhadap H-beam asal Tiongkok setelah menerima permintaan evaluasi dari salah satu produsen Tiongkok. Tinjauan ini mencakup beberapa HS code terkait H-beam, dan dilakukan untuk menilai kembali tingkat bea masuk yang sebelumnya telah ditetapkan. Saat ini, sebagian eksportir Tiongkok dikenakan tarif sekitar 13 persen, sementara eksportir lainnya berada pada kisaran lebih tinggi. Pemeriksaan berlangsung hingga September 2025 dan pendaftaran pihak terkait dibuka hingga Februari 2026.
Kanada mengumumkan paket kebijakan proteksi yang lebih luas untuk industri baja dan produk turunannya. Langkah utama mencakup penerapan tarif global 25 persen untuk kelompok produk turunan baja tertentu, pengurangan jatah impor dari negara non-FTA ke 20 persen dari tingkat kuota saat ini, serta penghentian bertahap fasilitas tariff remission bagi industri yang sebelumnya mendapat pengecualian tarif. Kanada juga menyiapkan dukungan logistik berupa potongan biaya pengiriman antarprovinsi mulai awal 2026 guna mengurangi beban biaya distribusi bagi pelaku industri.
Taiwan menetapkan bea anti-dumping final untuk produk bir dan baja asal Tiongkok, termasuk hot-rolled flat steel. Tarif untuk produk baja berada pada kisaran sekitar 16–20 persen, dengan beberapa produsen besar Tiongkok dikenakan tarif seragam, sementara eksportir lain berada pada tingkat yang lebih tinggi. Kebijakan ini berlaku surut sejak Juli dan akan berlaku selama lima tahun ke depan setelah penyelidikan menemukan bahwa impor tersebut menyebabkan kerugian nyata terhadap produsen lokal.
Di Australia, otoritas anti-dumping memulai penyelidikan atas welded steel mesh sheets dari Tiongkok dan Malaysia, dengan periode investigasi hingga September 2025. Australia juga mempertahankan kebijakan anti-dumping untuk besi beton dari Korea Selatan dan Spanyol, memperpanjang tindakan sebelumnya untuk menjaga stabilitas sektor konstruksi domestik.
Brasil, melalui otoritas perdagangan (DECOM), membuka investigasi anti-dumping terhadap pipa baja karbon tanpa sambungan (seamless line pipes) dari Malaysia, India, dan Thailand. Investigasi didorong oleh permintaan industri domestik yang melaporkan indikasi margin dumping signifikan dan dampak kerugian yang berkelanjutan.
Di Uni Eropa, Komisi Eropa memperkenalkan tindakan pengamanan (definitive safeguard) untuk ferroalloys melalui mekanisme kuota dan tarif tambahan bagi impor yang berada di bawah harga acuan. Selain itu, Uni Eropa menyelesaikan penetapan bea anti-dumping final untuk hardwood plywood asal Tiongkok dan membuka investigasi baru pada produk robot pemotong rumput buatan Tiongkok. Meskipun bukan produk baja, langkah ini menunjukkan orientasi proteksionis yang semakin kuat terhadap barang manufaktur yang dinilai berisiko merusak persaingan domestik.
Di luar langkah-langkah produk baja langsung, pembaruan kebijakan dari Amerika Serikat yang dicatat dalam pemantauan MACMAP menunjukkan perpanjangan pengecualian tarif Section 301 untuk sejumlah produk Tiongkok hingga November 2026, yang secara tidak langsung memengaruhi arus perdagangan bahan baku dan barang antara yang digunakan dalam industri manufaktur dan konstruksi.
Secara keseluruhan, minggu ini ditandai oleh peningkatan kewaspadaan global terhadap risiko dumping dan lonjakan impor murah, serta semakin banyak negara yang memperkuat instrumen trade remedies mereka menjelang tahun 2026.
Ringkasan Trade Remedies Baja Global – Minggu IV November 2025
| Negara | Kebijakan | Produk | Keterangan Singkat |
| India | Rencana safeguard baru | Produk baja tertentu (rolled steel) | Pemerintah mempertimbangkan safeguard 11–12% selama tiga tahun setelah tindakan sementara berakhir November. |
| Vietnam | Midterm review anti-dumping | H-beam asal Tiongkok | Tinjauan ketiga terhadap tarif AD untuk eksportir Tiongkok; pemeriksaan hingga Sep 2025, pendaftaran pihak terkait dibuka hingga Feb 2026. |
| Kanada | Tarif baru & pembatasan kuota | Produk turunan baja | Tarif global 25% dan penurunan kuota impor non-FTA ke 20%; penghentian bertahap tariff remission dan dukungan logistik 2026. |
| Taiwan | Penetapan AD final | Hot-rolled flat steel asal Tiongkok | Bea AD final 16–20% berlaku surut sejak Juli; masa berlaku lima tahun setelah ditemukan kerugian terhadap industri lokal. |
| Australia | Investigasi anti-dumping baru | Welded steel mesh sheets (CN & MY) | Penyidikan dimulai 25 Nov 2025, mencakup periode hingga Sep 2025. |
| Australia | Perpanjangan AD | Rebar asal Korea Selatan & Spanyol | Tindakan AD untuk besi beton diperpanjang efektif 20 Nov 2025. |
| Brasil | Investigasi anti-dumping | Seamless carbon steel line pipe (MY/IN/TH) | Investigasi dibuka setelah petisi industri domestik terkait dumping dan kerugian. |
| Uni Eropa | Safeguard definitif | Ferroalloys | Kuota tarif-rate berdasarkan negara; impor di bawah harga acuan dikenakan tarif tambahan. |
| Uni Eropa | AD final | Hardwood plywood asal Tiongkok | Keputusan final untuk bea AD; tindakan diberlakukan secara permanen. |
| Uni Eropa | Investigasi anti-dumping baru | Robot lawn mowers (CN) | Investigasi baru untuk produk robot pemotong rumput asal Tiongkok. |
| Amerika Serikat | Perpanjangan tarif-exclusions | Produk terkait Section 301 (CN) | Pengecualian tarif 301 untuk sejumlah produk Tiongkok diperpanjang hingga Nov 2026. |
IV. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel – Minggu IV November 2025
Investasi global dalam kapasitas baja dan teknologi hijau pada periode laporan ini menunjukkan kecenderungan yang tetap kuat, terutama pada proyek-proyek yang berorientasi pada elektrifikasi proses, pengurangan emisi, dan perluasan kapasitas untuk sektor otomotif serta infrastruktur.
Di Eropa, Inggris dan Swedia menonjol melalui proyek berbasis EAF dan hidrogen hijau. Inggris mengalokasikan investasi untuk meng-upgrade fasilitas riset EAF, sementara Swedia memperoleh dukungan pendanaan publik untuk tahap awal pembangunan pabrik baja bebas fosil. Keduanya memperlihatkan arah konsisten menuju produksi baja rendah karbon.
Asia menunjukkan dinamika investasi yang jauh lebih besar dalam nilai maupun kapasitas. India menjadi pusat ekspansi regional, baik melalui proyek ESL senilai USD 672 juta yang meningkatkan kapasitas menjadi 3,5 juta ton, maupun investasi pemerintah untuk memperkuat operasi pabrik stainless steel milik SAIL. Jepang juga menegaskan komitmen dekarbonisasi melalui pembangunan fasilitas EAF besar oleh JFE.
Di Afrika Timur, Uganda dan Kenya mendorong industrialisasi regional lewat pembangunan Devki Mega Steel senilai USD 500 juta yang akan menghasilkan 1 juta ton baja per tahun dan berpotensi mengurangi ketergantungan kawasan pada impor.
Di Amerika Serikat, US Steel dan Nippon Steel menyiapkan paket investasi jangka panjang hingga 2028 yang mencapai USD 11 miliar, mencerminkan keyakinan terhadap perbaikan jangka panjang permintaan baja domestik serta transisi teknologi perusahaan.
Secara keseluruhan, pola investasi dalam periode ini memperlihatkan dorongan simultan: perluasan kapasitas untuk memenuhi permintaan sektor otomotif, konstruksi, dan manufaktur; serta percepatan proyek green steel berbasis EAF dan hidrogen untuk menurunkan intensitas karbon industri baja global.
Ringkasan Investasi & Proyek Baja – Minggu IV November 2025
| Negara | Proyek | Nilai | Jenis Investasi | Catatan |
| Inggris (UK) | MPI | GBP 2.9 juta | Modernisasi EAF untuk riset green steel | Peningkatan efisiensi, digitalisasi, dan fasilitas uji produksi skala pilot |
| India | ESL (Evonith Steel Ltd.) | USD 672 juta | Ekspansi kapasitas crude steel (fase 2) | Naik dari 1.1 jt ton ke 3.5 jt ton per tahun; fokus otomotif & white goods |
| India | Pemerintah India – SAIL Salem | USD 45 juta | Revitalisasi fasilitas stainless steel | Peningkatan efisiensi dan kapasitas produk bernilai tambah |
| Jepang | JFE Steel | USD ~2.2 miliar | Pembangunan pabrik EAF besar (dekarbonisasi) | Target operasi 2028; kapasitas 2 jt ton/tahun |
| Uganda & Kenya | Devki Mega Steel | USD 500 juta | Pembangunan pabrik baja baru | Kapasitas 1 jt ton/tahun; 15.000 pekerjaan awal |
| Kenya → Uganda | Devki Group | USD 500 juta (Sh65 miliar) | Ekspansi produksi regional | Mendorong substitusi impor dan ekspor potensial |
| Amerika Serikat | US Steel – Nippon Steel | USD 11 miliar | Program investasi multi-tahun | Bagian dari paket USD 14 miliar hingga 2028 |
| Swedia (EU) | Stegra AB | USD 41 juta (hibah) | Proyek green hydrogen steel | Tahap awal dari kebutuhan pendanaan EUR 1 miliar |
| Inggris (UK) | Revamp Pasar Bilston | GBP 8 juta | Penggunaan rangka baja untuk revitalisasi infrastruktur | Proyek konstruksi publik |
V. Isu Strategis yang Perlu Dicermati
Periode laporan minggu ini menunjukkan bahwa industri baja global sedang berada pada titik penyeimbangan baru menjelang akhir tahun, ditandai oleh stabilnya harga di sebagian besar wilayah Asia, pelemahan di Amerika Serikat, tekanan koreksi besar di Timur Tengah, serta kebangkitan kembali tindakan perdagangan di sejumlah negara. Di saat yang sama, arus ekspor Tiongkok tetap besar dan terus mengalir ke Asia Tenggara yang proteksinya relatif rendah, sementara investasi global pada teknologi EAF dan green steel menunjukkan arah jangka panjang yang perlu dicermati oleh Indonesia.
1. Stabilnya Harga Asia Menyembunyikan Tekanan Arus Pasokan dari Tiongkok
HRC di Tiongkok dan ASEAN bergerak stabil, namun kestabilan ini tidak mencerminkan perbaikan permintaan, melainkan lebih merupakan hasil dari penyeimbangan antara pengurangan produksi domestik Tiongkok dan tetap besarnya aliran ekspor mereka ke kawasan. Data terbaru menunjukkan bahwa Tiongkok masih mempertahankan level ekspor tinggi ke Asia Tenggara, bahkan ketika beberapa produk seperti hot-rolled coil mencatat penurunan pada basis bulanan. Kondisi ini menandakan bahwa Asia Tenggara akan tetap menjadi tujuan utama surplus baja Tiongkok. Bagi Indonesia, implikasinya jelas: risiko peningkatan tekanan impor tidak hilang hanya karena harga terlihat stabil, sehingga penguatan instrumen pengawasan dan respons cepat menjadi krusial.
2. Terus Meningkatnya Tindakan Trade Remedies Global Berpotensi Memberikan Tekanan Perdagangan yang Lebih Kuat ke Wilayah dengan Proteksi Rendah
Vietnam memulai kembali midterm review anti-dumping untuk H-beam Tiongkok, Taiwan memberlakukan bea anti-dumping untuk hot-rolled steel, dan Kanada memperketat tarif serta kuota impor baja derivatif. Amerika Serikat juga memperpanjang pengecualian tarif dalam rangkaian kebijakan Section 301, sementara India mempertimbangkan perpanjangan safeguard. Fragmentasi kebijakan ini mempersempit ruang gerak ekspor Tiongkok ke pasar maju. Sebagai konsekuensinya, negara-negara dengan proteksi lebih rendah di Asia menjadi sasaran penyaluran kembali (diversion) arus ekspor. Indonesia berada dalam zona paling berisiko sehingga diperlukan sinkronisasi kebijakan pengamanan dagang dan tindakan cepat KADI agar tidak menjadi penampung surplus global.
3. Investasi Global Terus Menunjukkan Arah Dual Track: Ekspansi Kapasitas dan Transisi Hijau
Pekan ini memperlihatkan dua tren besar: ekspansi kapasitas di India, Afrika Timur, dan Amerika Serikat; serta investasi teknologi rendah emisi di Eropa, Jepang, dan Inggris. India kembali mengumumkan ekspansi besar dan alokasi anggaran pemerintah untuk memperkuat fasilitas stainless steel. Jepang menegaskan komitmen menuju dekarbonisasi dengan proyek EAF berskala besar, sementara Swedia memperoleh pendanaan publik untuk lanjutan proyek hydrogen steel. Dinamika ini menunjukkan bahwa daya saing industri baja ke depan akan ditentukan oleh kemampuan negara untuk menyeimbangkan ekspansi kapasitas dengan investasi teknologi rendah emisi. Indonesia perlu memastikan roadmap industri yang mampu mengantisipasi dua arah sekaligus: peningkatan kapasitas nasional dan kesiapan masuk ke era transisi karbon rendah dengan pendekatan bertahap.
4. Risiko Fragmentasi Pasar Global Meningkat dan Menuntut Penyesuaian Strategi serta Perencanaan Industri Nasional
Tarif, kuota, persyaratan asal barang, hingga CBAM membuat pasar baja global bergerak menuju segmentasi yang semakin tajam. Negara produsen dituntut untuk mampu memenuhi standar domestik di masing-masing pasar tujuan. Dalam kondisi ini, eksportir Indonesia berpotensi menghadapi hambatan administrasi dan biaya kepatuhan yang meningkat, terutama pada produk bernilai tambah yang diarahkan ke pasar negara maju. Dibutuhkan upaya harmonisasi kebijakan lintas kementerian agar industri memiliki arah yang jelas dalam memilih pasar ekspor dan menentukan prioritas investasi.
5. Kebutuhan Mendesak Merumuskan Strategi Nasional Menghadapi Arus Perdagangan, Teknologi Baru, dan Ketentuan Emisi Global
Kombinasi tekanan harga, arus ekspor Tiongkok, tingginya aktivitas remedial global, serta investasi kapasitas dan teknologi hijau yang terus dilakukan menegaskan bahwa Indonesia perlu memperkuat fondasi kebijakan industrialisasi baja. Strategi perdagangan, kebijakan investasi, serta roadmap transisi hijau harus dipadukan dalam satu kerangka yang terintegrasi. Tanpa langkah terkoordinasi, risiko terbesar adalah tergesernya industri baja nasional oleh produk impor bernilai rendah pada saat yang sama ketika pasar global mulai menaikkan standar keberlanjutan dan teknis.
Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.