
Pada periode 16–28 Februari 2026, pasar baja global masih berada dalam fase konsolidasi awal tahun, namun disparitas harga antar-region tetap sangat lebar dan menjadi karakter paling menonjol, terutama akibat perbedaan tingkat proteksi serta tekanan ekspor dari kawasan dengan kelebihan kapasitas, khususnya Tiongkok. Di tengah kesenjangan tersebut, berbagai negara semakin aktif memperkuat instrumen trade remedies untuk membatasi dampak impor murah, sementara pengumuman investasi baru terus mengarah pada ekspansi kapasitas, modernisasi fasilitas, dan percepatan transisi menuju baja rendah karbon. Kombinasi tekanan ekspor, penguatan perlindungan perdagangan, dan keputusan investasi struktural ini menegaskan bahwa arah industri baja global kini semakin ditentukan oleh kebijakan nasional masing-masing kawasan..
I. Perkembangan Harga Baja Periode 16–28 Februari 2026
Pada paruh kedua Februari 2026, struktur harga baja global menunjukkan diferensiasi yang semakin tegas antar-kawasan, terutama pada produk flat. Perbedaan ini tidak hanya mencerminkan kondisi permintaan, tetapi juga respons kebijakan dan struktur pasar masing-masing wilayah.
Di Tiongkok, harga HRC berada pada kisaran US$470–475 per ton, sementara rebar tercatat US$450–485 per ton. Produk hilir mencatat CRC pada US$545–575 per ton, GI pada US$585–590 per ton, dan wire rod pada US$515 per ton. Rentang yang relatif sempit pada HRC menunjukkan pasar masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan tekanan kenaikan yang terbatas, sejalan dengan lemahnya permintaan domestik pasca libur Tahun Baru Imlek.
Di kawasan ASEAN, HRC tercatat pada US$480 per ton, sangat berdekatan dengan level Tiongkok. Kedekatan harga ini menegaskan bahwa dinamika regional masih mengikuti referensi Asia Timur, dengan ruang premi yang tipis.
India memperlihatkan struktur harga yang lebih tinggi pada produk flat. HRC berada pada US$650 per ton, CRC pada US$800 per ton, dan GI pada US$850–860 per ton. Pada produk long, rebar tercatat US$550–600 per ton, wire rod US$545–560 per ton, dan billet US$500 per ton. Perbedaan yang jelas antara produk hulu dan hilir mencerminkan premi nilai tambah di segmen hilir serta struktur biaya domestik yang lebih tinggi dibandingkan Asia Timur.
Di Turki, HRC tercatat pada kisaran US$560–565 per ton, sedangkan rebar FOB berada pada US$555 per ton. Posisi ini menempatkan Turki di atas Tiongkok dan ASEAN, namun tetap lebih rendah dibanding India pada produk flat, sehingga menjaga daya saing ekspornya di pasar regional.
Eropa mempertahankan premi harga yang signifikan, dengan HRC berada pada kisaran US$700–745 per ton. Level ini mencerminkan keterbatasan impor dan kebijakan perdagangan yang lebih protektif, sehingga harga domestik mampu bertahan pada level lebih tinggi dibanding Asia.
Amerika Serikat kembali mencatat harga tertinggi secara global, dengan HRC berada pada US$1.069 per ton. Selisih yang lebar dibanding kawasan lain menunjukkan struktur pasar domestik yang relatif lebih tertutup dan mampu mempertahankan level harga tinggi.
Secara keseluruhan, peta harga periode ini memperlihatkan fragmentasi pasar global yang konsisten: Asia berada pada level moderat, India mempertahankan premi pada produk hilir, Turki menjaga daya saing ekspor, Eropa mempertahankan premi struktural, dan Amerika Serikat tetap berada pada level tertinggi.
Ringkasan Harga Baja – Periode 16–28 Februari 2026 (USD/ton)
| Region | HRC | Rebar | CRC | GI | Wire Rod | Billet |
| China | 470–475 | 450–485 | 545–575 | 585–590 | 515 | |
| ASEAN | 480 | – | – | – | – | – |
| India | 650 | 550–600 | 800 | 850–860 | 545–560 | 500 |
| Turkey | 560–565 | 555 | – | – | – | – |
| Europe | 700–745 | – | – | – | – | – |
| United States | 1,070 | – | – | – | – | – |
II. Kebijakan & Trade Remedies Periode 16–28 Februari 2026
Periode 16–28 Februari 2026 kembali menunjukkan intensifikasi instrumen trade remedies di berbagai kawasan, dengan fokus utama pada produk flat dan produk hilir berbasis baja karbon maupun galvanis.
Brasil mengambil langkah paling tegas dengan menerapkan bea anti-dumping definitif selama lima tahun terhadap produk baja asal Tiongkok. Untuk cold-rolled coil (CRC), bea ditetapkan dalam kisaran US$322,93–US$670,02 per ton, sedangkan untuk hot-dip galvanized (HDG) berada pada kisaran US$284,98–US$709,63 per ton. Kebijakan ini menegaskan strategi proteksi jangka menengah Brasil terhadap lonjakan impor dan potensi distorsi harga di segmen flat coated.
Uni Eropa melanjutkan kebijakan proteksinya melalui pengenaan bea anti-dumping definitif terhadap steel road wheels asal Tiongkok setelah proses expiry review. Langkah ini menegaskan bahwa mekanisme perpanjangan digunakan secara aktif untuk mempertahankan perlindungan ketika risiko dumping dinilai masih berlanjut.
Korea Selatan memilih pendekatan price undertaking sebagai alternatif tarif langsung. Otoritas perdagangan merekomendasikan penerimaan komitmen kenaikan harga dari eksportir Jepang dan Tiongkok untuk produk hot-rolled carbon dan alloy steel selama lima tahun. Namun, bagi perusahaan yang tidak mengajukan komitmen tersebut, direkomendasikan pengenaan tarif anti-dumping hingga 33,43%. Model ini menunjukkan fleksibilitas instrumen trade remedy, di mana penyesuaian harga ekspor dapat digunakan sebagai substitusi tarif.
Taiwan mencatat perkembangan penting dengan penetapan affirmative preliminary injury determination terhadap impor cold-rolled non-oriented electrical steel dari Korea dan Tiongkok. Temuan awal ini membuka jalan bagi investigasi dumping lanjutan dan potensi pengenaan bea definitif pada tahap berikutnya.
Di Timur Tengah, Mesir mengusulkan pengenaan safeguard definitif terhadap impor hot-rolled flat steel setelah investigasi menemukan lonjakan impor yang menyebabkan cedera serius terhadap industri domestik. Kenaikan volume impor dalam beberapa tahun terakhir menjadi dasar argumentasi injury dan usulan tarif bertahap dalam periode perlindungan.
Sebaliknya, Afrika Selatan memutuskan untuk tidak mengenakan provisional safeguard duty terhadap corrosion-resistant steel coil meskipun terdapat indikasi lonjakan impor. Otoritas menilai belum terdapat kondisi kritis yang memerlukan tindakan segera, mencerminkan pendekatan yang lebih berhati-hati dibanding negara lain pada periode yang sama.
Secara keseluruhan, periode ini memperlihatkan tiga pola kebijakan utama. Pertama, penguatan anti-dumping definitif dengan horizon lima tahun seperti di Brasil dan Uni Eropa dengan tarif tinggi. Kedua, penggunaan price undertaking sebagai alternatif tarif seperti di Korea Selatan. Ketiga, ekspansi penggunaan safeguard berbasis lonjakan impor seperti di Mesir, meskipun tidak semua negara mengambil langkah protektif segera. Konfigurasi ini menunjukkan bahwa instrumen trade remedies semakin menjadi alat utama dalam menjaga stabilitas industri baja domestik di tengah tekanan ekspor global.
Ringkasan Trade Remedies Baja Global – Periode 16–28 Februari 2026
| Negara | Instrumen | Produk | Sumber Impor | Tindakan | Durasi/Status |
| Brasil | Anti-Dumping (Definitif) | CRC | Tiongkok | US$322,93–670,02/ton | 5 tahun |
| Brasil | Anti-Dumping (Definitif) | HDG | Tiongkok | US$284,98–709,63/ton | 5 tahun |
| Uni Eropa | Anti-Dumping (Definitif, expiry review) | Steel road wheels | Tiongkok | Bea definitif (angka tidak disebutkan dalam rilis ringkas) | Berlaku |
| Korea Selatan | Price Undertaking / AD | HRC carbon & alloy | Jepang & Tiongkok | Komitmen kenaikan harga; AD hingga 33,43% bagi non-partisipan | Rekomendasi KTC |
| Taiwan | Anti-Dumping (Preliminary injury) | CR non-oriented electrical steel | Korea & Tiongkok | Affirmative preliminary injury determination | Investigasi lanjut |
| Mesir | Safeguard (Usulan definitif) | HRC | Multi-negara | Tarif safeguard bertahap | Usulan 3 tahun |
| Afrika Selatan | Safeguard (Provisional) | Corrosion-resistant coil | Multi-negara | Tidak dikenakan provisional duty | Investigasi berjalan |
III. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel Periode 16–28 Februari 2026
Pada periode 16–28 Februari 2026, dinamika industri baja global menunjukkan akselerasi investasi lintas kawasan dengan dua kecenderungan utama, yaitu ekspansi kapasitas berbasis Electric Arc Furnace (EAF) serta penguatan struktur industri melalui insentif pemerintah dan lokalisasi rantai pasok. Investasi yang diumumkan tidak lagi semata menambah volume produksi, tetapi diarahkan pada transisi rendah karbon, substitusi impor, dan penguatan posisi di pasar strategis.
Di India, Tata Steel meluncurkan pabrik baru di Ludhiana, Punjab, dengan kapasitas sekitar 0,75 juta ton per tahun berbasis teknologi EAF dan menggunakan scrap sebagai bahan baku utama. Nilai investasi proyek ini diperkirakan melampaui US$350 juta dan difokuskan pada produksi baja tulangan serta penguatan agenda green steel. Ekspansi ini menegaskan pergeseran bertahap India menuju jalur produksi berbasis scrap yang lebih rendah emisi seiring meningkatnya kebutuhan konstruksi domestik.
Masih di India, Avadh Steel mengumumkan rencana investasi sekitar Rs6.000 crore untuk pembangunan pabrik baja modern di Bihar. Proyek ini memperluas distribusi pusat pertumbuhan industri baja India dan memperkuat kapasitas produksi domestik di wilayah timur yang selama ini relatif tertinggal dibanding koridor industri utama.
Di Asia Tenggara, Vietnam menyetujui investasi hampir 80.000 miliar VND untuk proyek pabrik baja Vinmetal di Ha Tinh dengan kapasitas sekitar 5 juta ton per tahun. Fasilitas ini dirancang memproduksi hot-rolled coil dan baja bernilai tambah tinggi, termasuk baja untuk kendaraan listrik dan infrastruktur transportasi. Skala proyek dan segmentasi produknya menunjukkan orientasi hilirisasi serta penetrasi ke segmen baja spesialis.
Di Timur Tengah, Al Jazeera Steel dari Oman membentuk dua entitas anak usaha di Amerika Serikat sebagai bagian dari strategi ekspansi internasional. Langkah ini mencerminkan kecenderungan perusahaan baja eksportir untuk memperkuat kehadiran lokal di pasar tujuan guna mengelola risiko tarif dan hambatan perdagangan.
Di Amerika Serikat, investasi hingga US$875 juta diumumkan untuk pembangunan fasilitas baja spesial di North Carolina dengan rencana penciptaan ratusan lapangan kerja. Proyek ini difokuskan pada produksi baja bernilai tambah bagi sektor energi dan pertahanan, sekaligus memperkuat substitusi impor di tengah kebijakan proteksi perdagangan yang sangat kuat.
Di Eropa, pemerintah Inggris bersama industri meluncurkan dana sekitar £11,78 juta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan investasi di Port Talbot sebagai bagian dari transisi menuju teknologi EAF. Dukungan ini berada dalam kerangka paket yang lebih luas untuk mempercepat dekarbonisasi dan modernisasi industri baja nasional.
Secara keseluruhan, periode ini memperlihatkan tiga arah utama. Pertama, ekspansi kapasitas berbasis EAF dan scrap sebagai jalur dekarbonisasi yang semakin dominan. Kedua, penguatan investasi pada baja spesial dan hot-rolled coil bernilai tambah tinggi yang mengarah pada sektor energi, kendaraan listrik, dan infrastruktur strategis. Ketiga, keterlibatan aktif pemerintah melalui instrumen fiskal dan kebijakan industri untuk memastikan ekspansi kapasitas berjalan selaras dengan agenda nasional.
Konfigurasi ini menegaskan bahwa kompetisi industri baja global semakin ditentukan oleh kombinasi teknologi rendah karbon, kebijakan perdagangan, dan kedalaman integrasi industri domestik.
Ringkasan Investasi Baja Global Periode 16 – 28 Februari 2026
| Negara | Perusahaan / Proyek | Nilai Investasi | Kapasitas / Dampak | Arah Strategis |
| India | Tata Steel – Ludhiana | > US$350 juta | 0,75 juta ton/tahun (EAF) | Green steel & rebar |
| India | Avadh Steel – Bihar | Rs6.000 crore | Pabrik baja modern | Ekspansi kapasitas domestik |
| Vietnam | Vinmetal – Ha Tinh | ~80.000 miliar VND | 5 juta ton/tahun (HRC & baja khusus) | Hilirisasi & baja bernilai tambah |
| Oman / AS | Al Jazeera Steel | – | Pembentukan 2 entitas di AS | Lokalisasi pasar & mitigasi tarif |
| Amerika Serikat | Fasilitas baja spesialis – North Carolina | Hingga US$875 juta | Ratusan lapangan kerja | Substitusi impor & baja bernilai tambah |
| Inggris | Port Talbot Transition Fund | £11,78 juta | Dukungan transisi industri | Dekarbonisasi & modernisasi |
Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.