SMInsights: Berita Baja Mingguan – Minggu II Desember 2025
Pekan kedua Desember 2025 memperlihatkan fragmentasi pasar baja global yang semakin tegas, di mana penguatan harga domestik di Amerika Serikat dan bertahannya harga tinggi di Eropa lebih mencerminkan dampak pembatasan impor dan kebijakan proteksi dibandingkan pemulihan permintaan global, sementara Tiongkok, India, dan Turki tetap mempertahankan peran sebagai pemasok utama dunia. Arus perdagangan global menunjukkan kecenderungan pengalihan seiring semakin tertutupnya pasar negara maju melalui eskalasi trade remedies dan instrumen non-tarif, sehingga kawasan dengan hambatan lebih rendah, termasuk Asia Tenggara, tetap menghadapi risiko limpahan surplus. Pada saat yang sama, ekspansi kapasitas dan modernisasi industri baja terus berlanjut di berbagai kawasan melalui konsolidasi, penguatan fasilitas hilir, serta investasi pada bahan baku dan teknologi yang lebih efisien, meskipun arah kebijakan iklim dan implikasi biaya jangka panjang masih beragam dan belum seragam secara global. Bagi Indonesia, dinamika ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengamanan pasar domestik, antisipasi pengalihan arus impor akibat proteksi global, serta penyusunan arah pengembangan industri baja yang realistis dan bertahap dengan mempertimbangkan daya saing biaya, ketahanan industri, dan perkembangan standar internasional tanpa mengambil risiko kebijakan yang prematur.
I. Perkembangan Harga Baja Minggu II Desember 2025
Pada minggu kedua Desember 2025, pergerakan harga baja global masih menunjukkan pola yang terfragmentasi antar-kawasan, dengan tekanan penurunan tetap dominan di Asia, sementara pasar Eropa dan Amerika Serikat memperlihatkan dinamika yang lebih ditentukan oleh faktor kebijakan dan kondisi pasokan domestik.
Di Tiongkok, harga baja domestik cenderung melemah, terutama pada produk flat dan long, seiring berlanjutnya lemahnya permintaan sektor properti dan konstruksi menjelang akhir tahun, meskipun sisi pasokan relatif terkendali. Harga HRC domestik Tiongkok turun ke kisaran USD 465–480 per ton, diikuti CRC dan wire rod yang juga bergerak turun, sementara produk hilir seperti color coated relatif stabil karena dukungan kontrak dan spesifikasi proyek tertentu.
Di kawasan ASEAN, harga HRC regional bergerak stabil di kisaran USD 460–465 per ton, mencerminkan kondisi pasar yang cenderung wait-and-see dengan aktivitas perdagangan yang terbatas. Tidak adanya tekanan impor agresif dari Tiongkok dan Jepang dalam minggu berjalan ikut menahan fluktuasi harga di kawasan ini. Di India, tren pelemahan masih berlanjut pada produk flat dan sebagian long products, dengan HRC dan CRC kembali turun akibat lemahnya permintaan domestik dan koreksi harga bahan baku. Namun, harga scrap di India justru meningkat, mencerminkan pengetatan pasokan domestik serta ketergantungan yang lebih besar pada scrap impor menjelang penutupan tahun fiskal.
Pasar Turki menunjukkan pergerakan yang relatif beragam antar produk. Harga rebar Turki kembali terkoreksi ke kisaran USD 565–575 per ton FOB, sejalan dengan lemahnya permintaan ekspor dan tekanan kompetisi dari CIS, sementara wire rod relatif stabil. Di sisi hulu, harga scrap impor ke Turki cenderung menguat, yang membatasi ruang penurunan harga produk jadi meskipun permintaan akhir masih lesu. Di kawasan Timur Tengah, khususnya Mesir, harga rebar domestik bergerak stabil dalam kisaran yang relatif lebar setelah dikonversi ke dolar AS, mencerminkan kebijakan harga produsen domestik yang cenderung menahan perubahan di tengah volatilitas nilai tukar dan biaya energi.
Di Eropa, harga baja domestik masih berada pada level tinggi namun mulai menunjukkan tekanan penurunan pada HRC, yang bergerak dalam kisaran USD 610–650 per ton ex-works. Ketidakpastian terkait implementasi CBAM, tingginya stok, serta lemahnya permintaan akhir membuat aktivitas transaksi tetap terbatas. Sebaliknya, pada produk long seperti rebar, harga justru menunjukkan kecenderungan naik di beberapa negara Eropa Timur dan Selatan, didorong oleh ekspektasi biaya tambahan terkait CBAM dan penyesuaian harga oleh produsen domestik.
Di Amerika Serikat, pasar HRC menunjukkan kecenderungan menguat, dengan harga bergerak naik ke kisaran USD 940–950 per ton. Penguatan ini terutama didorong oleh kombinasi pasokan domestik yang ketat, jadwal maintenance pabrik, serta rendahnya volume impor, sehingga produsen memiliki ruang untuk menaikkan harga meskipun permintaan akhir belum sepenuhnya pulih. Kenaikan harga scrap domestik AS turut memperkuat tren ini, sekaligus menjadi faktor biaya yang menopang harga baja jadi.
Secara keseluruhan, perkembangan harga baja global pada minggu ini memperlihatkan bahwa pelemahan permintaan masih menjadi faktor dominan di Asia, sementara di Eropa dan Amerika Serikat harga semakin dipengaruhi oleh faktor struktural seperti kebijakan lingkungan, biaya kepatuhan, dan keterbatasan pasokan domestik. Kondisi ini menunjukkan bahwa divergensi harga antar-kawasan berpotensi berlanjut memasuki awal 2026, dengan implikasi penting bagi arus perdagangan dan daya saing industri baja di negara-negara importir, termasuk Indonesia.
Ringkasan Harga Baja – Minggu II Desember 2025 (USD/ton)
| Kawasan | HRC | CRC | GI/HDG | Color Coated | Rebar | Wire Rod | Scrap |
| Tiongkok (Dom) | 465–480 ↓ | 565–585 ↓ | 585–590 → | 705–900 → | 455–470 ↓ | 500–510 ↓ | — |
| Tiongkok (Ekspor) | 465–475 → | — | — | — | — | — | — |
| ASEAN | 460–465 → | — | — | — | — | — | — |
| India | 505–510 ↓ | 615–620 ↓ | 710–715 ↓ | — | 435–470 → | 450–460 ↓ | 360–365 ↑ |
| Turkey | 415–420 → | 515–525 → | — | — | 565–575 ↓ | 580–590 → | 365–370 ↑ |
| Middle East / Egypt | — | — | — | — | 656–720 → | — | — |
| Eropa (UE) | 610–650 ↓ | — | — | — | 620–645 ↑ | 610–620 → | — |
| US (Domestic) | 940–950 ↑ | 1,145–1,160 → | — | — | — | — | 360–380 ↑ |
Keterangan: ↑ naik w/w; ↓ turun w/w; → stabil (≤ ±0,5%)
II. Perkembangan Perdagangan Baja Global – Minggu II Desember 2025
Pada minggu kedua Desember 2025, perdagangan baja global menunjukkan pola penyesuaian akhir tahun yang semakin jelas, ditandai oleh menurunnya aktivitas transaksi spot lintas kawasan dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar dalam mengambil posisi baru. Secara umum, arus perdagangan internasional melemah bukan karena gangguan pasokan global, melainkan akibat kombinasi permintaan akhir yang melambat, ketidakpastian kebijakan, serta penyesuaian strategi pembelian menjelang pergantian tahun fiskal di banyak negara.
Dari sisi Asia, ekspor baja Tiongkok tetap berlangsung tetapi dengan dinamika yang lebih selektif. Harga ekspor HRC dan produk flat lainnya relatif stabil hingga melemah tipis, namun volume transaksi tidak menunjukkan percepatan signifikan. Kondisi ini mencerminkan bahwa keunggulan harga Tiongkok belum cukup kuat untuk mendorong lonjakan ekspor baru, terutama ke kawasan Asia Tenggara, karena negara-negara importir masih menahan pembelian sambil mengelola stok yang relatif memadai. Dengan demikian, tekanan perdagangan dari Tiongkok pada minggu ini lebih bersifat laten, bukan agresif.
India, sebagai eksportir sekaligus pasar domestik besar, juga menunjukkan kecenderungan serupa. Pelemahan harga domestik mendorong sebagian produsen mempertimbangkan ekspor, namun ruang ekspor India tetap terbatas oleh persaingan harga dari Asia Timur dan oleh hambatan kebijakan di pasar tujuan, terutama di Eropa. Akibatnya, perdagangan baja India pada periode ini lebih bersifat defensif, dengan fokus menjaga utilisasi pabrik daripada memperluas pangsa pasar global.
Di kawasan Eropa, perdagangan baja internasional semakin tertekan oleh faktor kebijakan. Ketidakpastian terkait implementasi penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) membuat aktivitas impor baja ke Uni Eropa cenderung tertahan. Banyak importir memilih menunda pengambilan keputusan, terutama untuk produk flat, karena belum adanya kejelasan final mengenai benchmark emisi dan beban biaya aktual yang akan berlaku mulai 2026. Situasi ini menyebabkan arus perdagangan menuju Eropa melemah, meskipun secara harga beberapa penawaran impor masih kompetitif. Dengan kata lain, penurunan perdagangan di Eropa pada minggu ini lebih disebabkan oleh risiko kebijakan dibandingkan oleh faktor harga semata.
Perdagangan baja dari dan menuju Turki memperlihatkan pola yang semakin tertekan. Sebagai hub perdagangan regional, Turki menghadapi lemahnya permintaan ekspor ke Eropa dan kawasan sekitarnya, sementara di sisi hulu harga scrap impor cenderung menguat. Kombinasi ini mempersempit margin eksportir Turki dan membatasi agresivitas penawaran di pasar internasional. Akibatnya, volume perdagangan cenderung stagnan meskipun harga produk jadi telah mengalami koreksi.
Di Amerika Serikat, perdagangan baja internasional tetap berada pada level rendah. Impor baja, khususnya produk flat, masih tertahan oleh kebijakan perdagangan yang ketat dan oleh preferensi pembeli terhadap pasokan domestik di tengah rendahnya ketersediaan impor. Dengan demikian, pasar AS pada periode ini relatif terisolasi dari dinamika perdagangan global, dan perubahan harga domestik lebih ditentukan oleh kondisi internal dibandingkan arus perdagangan lintas negara.
Secara keseluruhan, perdagangan baja global pada Minggu II Desember 2025 memasuki fase konsolidasi akhir tahun, di mana volume transaksi cenderung menurun dan pelaku pasar lebih fokus pada pengelolaan risiko dibandingkan ekspansi perdagangan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pemulihan arus perdagangan internasional baru berpotensi terjadi setelah kejelasan kebijakan, khususnya di Eropa, serta setelah penyesuaian stok dan permintaan di awal 2026.
III. Kebijakan & Trade Remedies – Minggu II Desember 2025
Pada Minggu II Desember 2025, lanskap kebijakan dan trade remedies baja global semakin memperlihatkan pergeseran dari instrumen proteksi konvensional menuju rezim penegakan yang lebih ketat, bersifat lintas yurisdiksi, dan berfokus pada penutupan celah (circumvention) dalam rantai pasok global. Perkembangan kebijakan pada periode ini menegaskan bahwa negara-negara importir utama tidak lagi hanya merespons harga murah, tetapi secara aktif menargetkan struktur produksi dan asal bahan baku.
Di Amerika Serikat, eskalasi kebijakan terlihat dari diluncurkannya penyelidikan anti-circumvention terhadap steel wheels asal Vietnam, dengan dugaan bahwa produk tersebut diselesaikan di Vietnam menggunakan hot-rolled steel asal Tiongkok untuk menghindari bea masuk anti-dumping dan imbalan yang telah dikenakan pada produk sejenis dari Tiongkok. Langkah ini menegaskan pendekatan AS yang semakin agresif dalam menelusuri asal input hulu, bukan hanya negara ekspor akhir. Fakta bahwa penyelidikan ini didasarkan pada lonjakan impor HRC asal Tiongkok ke Vietnam serta peningkatan signifikan ekspor steel wheels Vietnam ke AS menunjukkan bahwa otoritas AS kini secara sistematis mengaitkan arus bahan baku dengan pola ekspor produk hilir. Secara kebijakan, ini mempersempit ruang bagi strategi country hopping dan meningkatkan risiko bagi negara yang berperan sebagai basis pemrosesan antara.
Di Eropa, tekanan kebijakan semakin terinstitusionalisasi melalui kombinasi CBAM dan instrumen trade remedies klasik. Pada awal Desember 2025, Komisi Eropa secara resmi mewajibkan registrasi impor cold-rolled flat steel dari Vietnam, India, Jepang, Taiwan, dan Turki sebagai bagian dari penyelidikan anti-dumping yang sedang berjalan. Kewajiban registrasi ini bukan sekadar langkah administratif, melainkan fondasi hukum untuk penerapan bea masuk retroaktif apabila dumping terbukti. Dengan demikian, risiko perdagangan bagi eksportir meningkat bahkan sebelum keputusan final diambil, karena setiap pengapalan selama periode registrasi berpotensi dikenai bea masuk tambahan di kemudian hari. Langkah ini memperkuat sinyal bahwa Uni Eropa menggunakan waktu penyelidikan sebagai alat pengendalian perdagangan, bukan hanya sebagai proses penilaian pasif.
Secara paralel, Inggris juga bergerak memperketat rezim kebijakan perdagangannya. Pemerintah Inggris menyiapkan penguatan kewenangan Trade Remedies Authority agar dapat lebih cepat meluncurkan investigasi dan menetapkan tingkat bea masuk yang lebih tinggi, khususnya untuk melindungi industri domestik dari limpahan baja Tiongkok. Tekanan dari Uni Eropa dan Amerika Serikat membuat Inggris semakin menyelaraskan kebijakannya dengan rezim proteksi Barat yang lebih luas. Hal ini mengindikasikan bahwa setelah Brexit, Inggris tidak bergerak menuju liberalisasi baja, melainkan justru mengadopsi pendekatan proteksionis yang lebih tegas.
Di Kanada, kebijakan trade remedies menunjukkan dimensi yang lebih teknis namun tidak kalah signifikan. Otoritas perbatasan Kanada (CBSA) menurunkan dumping margin untuk salah satu produsen kawat baja Vietnam menjadi 5,7 persen, jauh lebih rendah dari margin awal, sementara eksportir lain tetap dikenakan margin yang sangat tinggi. Meskipun terlihat sebagai pelonggaran parsial, keputusan ini justru menegaskan prinsip penegakan berbasis diferensiasi perusahaan (company-specific treatment). Pada saat yang sama, CBSA tetap menyimpulkan adanya praktik dumping secara umum, dan keputusan final masih bergantung pada penilaian cedera industri oleh CITT. Dengan demikian, pasar Kanada tetap tertutup secara struktural, dan ketidakpastian kebijakan masih membayangi eksportir hingga keputusan final diumumkan pada awal 2026.
Secara keseluruhan, perkembangan kebijakan dan trade remedies pada Minggu II Desember 2025 memperlihatkan konsistensi arah proteksi global yang semakin berlapis, preventif, dan berbasis rantai nilai. Negara-negara importir utama tidak hanya menutup pasar melalui tarif, tetapi juga melalui penyelidikan asal bahan baku, registrasi impor, dan instrumen lingkungan seperti CBAM. Bagi negara eksportir dan basis produksi regional, termasuk Indonesia, dinamika ini mengindikasikan bahwa risiko perdagangan tidak lagi dapat dikelola hanya melalui daya saing harga, melainkan membutuhkan ketertelusuran bahan baku, kepatuhan regulasi, dan kesiapan menghadapi rezim penegakan yang semakin agresif.
Ringkasan Trade Remedies Baja Global – Minggu II Desember 2025
| Negara | Tindakan | Produk Terdampak | Status |
| Amerika Serikat (DOC) | Investigasi anti-circumvention terkait penghindaran AD/CVD | Steel wheels 22.5–24.5 inch (HS 8708 series), menggunakan HRC asal Tiongkok | Dimulai (Aktif, 9 Desember 2025) |
| Amerika Serikat (ITC & DOC) | Investigasi dumping & subsidi lanjutan pada produk jadi berbasis baja | Steel trailer wheels / truck trailers (produk mengandung baja) | Aktif |
| Kanada (CBSA) | Final conclusion anti-dumping | Carbon steel wire & alloy steel wire dari Vietnam dan negara lain | Dumping dikonfirmasi; margin Vietnam 5,7%; menunggu putusan injury CITT |
| Kanada (CITT) | Penilaian injury industri domestik | Carbon & alloy steel wire | Dalam proses (putusan Januari 2026) |
| Uni Eropa (European Commission) | Registrasi impor sebagai bagian investigasi anti-dumping | Cold-rolled flat steel (CRC) dari Vietnam, India, Jepang, Taiwan, Turki | Diberlakukan sejak 4 Desember 2025 (berpotensi retroaktif) |
| Uni Eropa | Implementasi CBAM (fase transisi) | Produk baja intensif karbon (multi-produk) | Berjalan; meningkatkan risiko biaya impor |
| Inggris (TRA & UK Government) | Penguatan kewenangan trade remedies dan percepatan investigasi | Produk baja, fokus impor asal Tiongkok | Dalam proses regulasi |
| India (DGTR / Ministry of Finance) | Pengenaan bea anti-dumping definitif (5 tahun) | Hot-rolled flat steel asal Vietnam | Ditetapkan & berlaku |
| India (DGTR) | Investigasi anti-dumping lanjutan | Cold-rolled stainless steel & flat steel dari China, Indonesia, Vietnam | Aktif |
| Taiwan (Customs & MOEA) | Bea anti-dumping final (5 tahun) | Hot-rolled flat steel asal Tiongkok | Ditetapkan |
IV. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel – Minggu II Desember 2025
Pada Minggu II Desember 2025, arus investasi global di industri baja menunjukkan akselerasi yang jelas, baik pada peningkatan kapasitas konvensional maupun pada penguatan rantai pasok bahan baku dan teknologi yang mendukung transisi menuju baja rendah karbon. Di Jepang dan global, Nippon Steel mengumumkan rencana investasi sekitar ¥6 triliun atau setara sekitar USD 39 miliar hingga 2030 untuk memperluas kapasitas produksi globalnya hingga sedikitnya 100 juta ton per tahun, dengan porsi signifikan dialokasikan untuk ekspansi dan modernisasi fasilitas di Amerika Serikat, India, dan Asia Tenggara. Investasi ini secara eksplisit dikaitkan dengan strategi pertumbuhan global, penguatan daya saing internasional, serta respons terhadap stagnasi permintaan domestik Jepang dan tekanan persaingan dari kelebihan kapasitas baja Tiongkok.
Di Korea Selatan, Hyundai Steel mengumumkan program investasi senilai KRW 170 miliar atau sekitar USD 116 juta hingga 2032 yang difokuskan pada pembangunan fasilitas pengolahan scrap berkualitas tinggi, termasuk penambahan shredder dan lini sortir serta refining di Pohang dan Dangjin. Investasi ini bertujuan meningkatkan rasio kemurnian scrap untuk mendukung ekspansi Electric Arc Furnace (EAF), sekaligus mengurangi ketergantungan pada scrap impor dan menurunkan intensitas karbon produksi baja. Langkah Hyundai Steel mencerminkan pergeseran strategis produsen baja utama dari sekadar ekspansi kapasitas baja jadi ke pengamanan bahan baku rendah karbon sebagai prasyarat utama transisi teknologi.
Di Eropa dan Amerika Utara, aktivitas investasi juga terlihat pada segmen hilir dan distribusi baja. Triple-S Steel Holdings dari Amerika Serikat melakukan investasi strategis pada distributor baja Eropa Zimmer Staal di Belgia, memperkuat jaringan distribusi baja pelat berat dan produk bernilai tambah di Eropa Utara. Sementara itu, Worthington Steel dilaporkan menjajaki aksi korporasi di sektor pemrosesan baja Eropa melalui pendekatan akuisisi terhadap Kloeckner & Co di Jerman, yang menandai meningkatnya konsolidasi lintas kawasan di sektor steel processing sebagai respons terhadap tekanan margin dan ketidakpastian perdagangan global.
Di Asia Tenggara, investasi green steel mulai menunjukkan dimensi finansial yang lebih konkret. OCBC melalui unit investasinya menanamkan modal pada proyek pabrik hot briquetted iron (HBI) rendah karbon di Sabah, Malaysia, dengan nilai proyek sekitar USD 1,5 miliar dan kapasitas produksi sekitar 2,5 juta ton per tahun. Proyek ini diposisikan sebagai bagian dari rantai pasok baja rendah karbon regional, dengan HBI digunakan sebagai bahan baku utama untuk produksi baja rendah emisi di kawasan Asia Tenggara. Masuknya lembaga keuangan regional ke proyek baja rendah karbon menandai perubahan penting, di mana green steel tidak lagi semata agenda teknologi, tetapi mulai diperlakukan sebagai kelas aset investasi jangka panjang.
Pada saat yang sama, Asia Tengah mulai muncul sebagai titik baru ekspansi kapasitas baja regional, tercermin dari langkah Uzbekistan melalui Uzmetkombinat yang mengamankan pendanaan sebesar €132,5 juta untuk pembangunan kompleks casting dan rolling mill berbasis EAF di Bekabad. Proyek ini ditujukan untuk memproduksi hot-rolled coil hingga sekitar 1 juta ton per tahun, menggantikan ketergantungan impor HRC yang selama ini sepenuhnya berasal dari luar negeri, serta memperkuat rantai pasok industri konstruksi dan manufaktur domestik. Masuknya pendanaan internasional dan penggunaan teknologi modern menunjukkan bahwa ekspansi kapasitas di negara berkembang tidak lagi semata berorientasi volume, tetapi mulai mengintegrasikan efisiensi energi dan daya saing jangka menengah sejak tahap awal pembangunan.
Secara keseluruhan, pola investasi Minggu II Desember 2025 menunjukkan bahwa industri baja global bergerak dalam dua arah yang saling terkait. Di satu sisi, produsen besar seperti Nippon Steel tetap mendorong ekspansi kapasitas global untuk mempertahankan skala ekonomi dan posisi pasar di tengah tekanan kelebihan pasokan global. Di sisi lain, investasi pada scrap berkualitas tinggi, EAF, HBI, dan fasilitas hilir bernilai tambah menunjukkan bahwa daya saing ke depan semakin ditentukan oleh penguasaan bahan baku rendah karbon, efisiensi rantai pasok, serta kemampuan memenuhi standar lingkungan dan kebijakan iklim lintas negara. Bagi negara berkembang dan produsen regional, dinamika ini mengindikasikan bahwa ketertinggalan dalam penguasaan bahan baku, teknologi EAF, dan akses pembiayaan hijau berpotensi menjadi sumber kerentanan struktural baru dalam persaingan industri baja global.
Ringkasan Investasi & Proyek Baja – Minggu II Desember 2025
| Perusahaan | Jenis Investasi | Nilai Investasi | Status |
| Nippon Steel | Ekspansi kapasitas & modernisasi global | ¥6 triliun (± USD 39 miliar) | Diumumkan (hingga 2030) |
| Nippon Steel / US Steel | Modernisasi & ekspansi fasilitas | Termasuk dalam paket ¥6 triliun | Diumumkan |
| Hyundai Steel | Investasi pengolahan scrap & EAF enabler | KRW 170 miliar (± USD 116 juta) | Diumumkan (hingga 2032) |
| Triple-S Steel / Zimmer Staal | Investasi ekuitas & distribusi baja | Tidak dipublikasikan | Diumumkan |
| Worthington Steel / Kloeckner | Penjajakan M&A & ekspansi processing | Dalam kajian | Dalam pembahasan |
| Green Steel / OCBC | Pembangunan pabrik HBI rendah karbon | ± USD 1,5 miliar | Dalam pengembangan |
| Uzmetkombinat | Pembangunan casting & rolling mill (EAF-based) | €132,5 juta | Pendanaan diamankan |
| Shandong Aipurui Steel Plate | Pabrik pengolahan baja | ± USD 120 juta | Rencana pembangunan |
V. Isu Strategis yang Perlu Dicermati
Perkembangan industri baja global pada Minggu II Desember 2025 menunjukkan fragmentasi pasar yang semakin tajam, baik dari sisi harga, arus perdagangan, kebijakan proteksi, maupun arah investasi. Penguatan harga di pasar tertentu tidak selalu mencerminkan perbaikan fundamental permintaan, sementara tekanan kelebihan pasokan global tetap berlanjut dan mencari saluran baru. Dalam konteks tersebut, terdapat beberapa isu strategis yang perlu dicermati Indonesia secara serius.
1. Penguatan harga di Amerika Serikat dan Eropa lebih mencerminkan efek proteksi kebijakan daripada pemulihan permintaan global.
Kenaikan harga domestik di Amerika Serikat dan bertahannya harga tinggi di Eropa terjadi di tengah permintaan yang relatif lemah, dan terutama dipengaruhi oleh pembatasan impor, kebijakan perdagangan yang ketat, serta instrumen non-tarif seperti CBAM. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan kelebihan pasokan global tidak berkurang, melainkan dialihkan keluar dari pasar maju. Bagi Indonesia, hal ini penting karena stabilitas atau kenaikan harga di pasar besar tidak otomatis mengurangi risiko limpahan pasokan ke kawasan lain.
2. ASEAN, termasuk Indonesia, tetap menjadi tujuan surplus baja global.
Produsen dari Tiongkok, India, dan Turki masih mempertahankan orientasi ekspor di tengah menyempitnya akses ke pasar Amerika Serikat dan Eropa. Asia Tenggara menjadi kawasan yang relatif lebih terbuka, dan Indonesia berada pada posisi paling rentan karena ukuran pasar besar serta utilisasi industri domestik yang belum pulih sepenuhnya. Stabilitas harga regional tidak boleh ditafsirkan sebagai menurunnya tekanan impor, karena risiko limpahan pasokan justru dapat meningkat ketika pasar utama semakin tertutup.
3. Eskalasi trade remedies di negara maju meningkatkan risiko pengalihan arus dumping dan circumvention ke Indonesia.
Investigasi anti-circumvention di Amerika Serikat, registrasi impor dan penyelidikan anti-dumping di Uni Eropa, pengetatan kebijakan di Inggris, serta penyesuaian bea masuk di Kanada dan Asia Timur menunjukkan bahwa pasar besar semakin agresif menutup celah perdagangan. Ketika jalur tersebut menyempit, produk berbiaya rendah akan mencari pasar alternatif. Tanpa respons kebijakan yang cepat dan terukur, Indonesia berisiko menjadi tujuan utama pengalihan arus dumping maupun praktik penghindaran asal barang.
4. Ekspansi kapasitas dan modernisasi global tetap berlanjut meskipun permintaan belum pulih.
Investasi besar oleh produsen utama, penguatan fasilitas hilir dan distribusi di Eropa dan Amerika Utara, serta pembangunan kapasitas baru di negara berkembang seperti Asia Tengah menunjukkan bahwa persaingan jangka menengah akan semakin ditentukan oleh skala, efisiensi, dan penguasaan rantai pasok. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan kelebihan kapasitas global berpotensi bersifat struktural dan berkepanjangan, bukan fenomena siklis jangka pendek.
5. Arah investasi menuju teknologi rendah emisi membawa peluang sekaligus risiko biaya yang signifikan.
Meningkatnya investasi pada scrap berkualitas tinggi, EAF, dan HBI rendah karbon mencerminkan menguatnya tuntutan standar lingkungan global, terutama di Eropa, meskipun arah kebijakan tidak seragam dan Amerika Serikat sendiri telah menarik diri dari Paris Agreement. Di sisi lain, investasi tersebut membutuhkan belanja modal besar dan berpotensi menaikkan biaya produksi. Bagi Indonesia, isu ini perlu disikapi secara hati-hati dan pragmatis, agar penyesuaian terhadap tren global tidak justru melemahkan daya saing industri domestik.
6. Indonesia memerlukan pendekatan terpadu yang seimbang antara pengamanan pasar dan keberlanjutan daya saing.
Kombinasi tekanan surplus global, pengetatan trade remedies di pasar utama, serta perubahan struktur kompetisi akibat kebijakan dan investasi global menuntut respons yang terintegrasi. Indonesia perlu menjaga ruang perlindungan industri domestik, menata investasi, serta mencermati tuntutan lingkungan global tanpa tergesa-gesa mengambil langkah yang berisiko meningkatkan biaya secara signifikan. Dalam lanskap global yang semakin terfragmentasi, kemampuan mengelola transisi secara bertahap dan kontekstual menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar penyerapan surplus, tetapi tetap mampu mempertahankan dan memperkuat basis industri bajanya.
Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.