SMInsights: Berita Baja Mingguan – Minggu I November 2025

Pekan pertama November 2025 memperlihatkan dinamika pasar baja global yang semakin dinamis dan kompleks, dengan pergerakan harga yang beragam di berbagai kawasan dan arah kebijakan yang kian protektif. Ancaman ekspor Tiongkok dan lemahnya permintaan di sejumlah pasar utama meningkatkan intensitas persaingan global. Kebijakan proteksi terus menguat dan meluas di berbagai kawasan, sementara investasi peningkatan kapasitas tetap berlanjut di tengah ketidakpastian transisi menuju industri rendah emisi. Kondisi ini menuntut Indonesia untuk memperkuat mekanisme pengawasan dan monitoring impor, mempercepat serta memperkuat kebijakan trade remedies, dan menyiapkan strategi transisi industri yang realistis agar ketahanan sektor baja nasional tetap terjaga di tengah fragmentasi pasar global yang semakin tajam.

I. Perkembangan Harga Baja Minggu I November 2025

Harga baja global pada awal November 2025 menunjukkan kecenderungan yang beragam, dengan dinamika berbeda antar-wilayah. Sebagian besar pasar Asia mulai bergerak mendatar, sementara Eropa menunjukkan koreksi pada flat dan long dengan kecenderungan yang berlawanan, sedangkan Amerika Serikat mencatat kenaikan tajam pada produk lembaran panas. Pergerakan harga ini mencerminkan kombinasi antara dinamika pasokan, pelemahan pesanan di beberapa kawasan, dan antisipasi terhadap perubahan kebijakan perdagangan di awal 2026.

Harga baja domestik Tiongkok cenderung stabil di seluruh segmen utama. HRC bertahan di USD 465–470 per ton, CRC di USD 565–570, dan GI di sekitar USD 590. Produk color coated mengalami koreksi ke USD 705–905 per ton dari USD 920 sepekan sebelumnya, sejalan dengan melemahnya aktivitas pembelian di sektor properti dan manufaktur.
Indeks harga berbagai rujukan memperlihatkan fluktuasi sempit dalam sepekan, dengan sedikit tekanan turun pada hari-hari terakhir karena produsen mulai menyesuaikan volume produksi menghadapi musim dingin. Di sisi ekspor, hampir tidak ada transaksi besar yang tercatat; penawaran baru dari Baosteel dan HBIS Group ditunda karena pembeli Asia Tenggara masih menunggu arah harga bulan November.

Tidak banyak transaksi baru yang dilaporkan di Asia Tenggara pada awal November. Importir utama seperti Vietnam dan Thailand masih menunda pembelian karena menilai harga ekspor Tiongkok belum mencapai titik terendah. Beberapa sumber Fastmarkets menyebutkan bahwa harga indikatif HRC CFR Vietnam berkisar USD 480–495 per ton, mendekati dasar kisaran akhir Oktober. Aktivitas proyek konstruksi di Filipina dan Malaysia tetap rendah akibat cuaca dan pelemahan belanja publik. Dengan demikian, pasar ASEAN tetap pasif tanpa perubahan harga berarti.

Harga baja India secara umum bertahan stabil rendah meski tekanan biaya masih tinggi. HRC domestik berada di USD 570–645 per ton, CRC USD 700–730, dan GI USD 780–790. Rebar tetap di kisaran USD 455–510 per ton. Beberapa sumber menunjukkan sebagian besar pabrikan mempertahankan harga ex-mill karena permintaan sektor konstruksi masih kuat di beberapa wilayah, sementara biaya logistik meningkat. Namun, harga global yang lebih rendah mulai menekan margin eksportirdan meningkatkan risiko kelebihan pasokan domestik.

Pasar Turki mencatat kenaikan moderatuntuk long product. Harga rebar ekspor naik menjadi USD 540–560 per ton FOB, mengikuti pergerakan harga scrap impor yang stabil di sekitar USD 455–460 per ton CFR. Aktivitas ekspor dilaporkan mulai pulih ke Eropa Selatan dan Afrika Utara, meskipun volume masih terbatas. Produsen menilai harga saat ini sudah cukup untuk menutupi kenaikan biaya energi musim dingin, sehingga pasar menunjukkan kecenderungan stabil ke atas.

Harga rebar di kawasan Timur Tengah/Mesir turun ke sekitar USD 705 per ton EXW, lebih rendah dari kisaran USD 675–780 pada akhir Oktober. Beberapa sumber menyampaikan bahwa pelemahan ini terutama dipicu oleh penurunan nilai tukar dan biaya energi, terutama di Mesir dan Arab Saudi. Namun, proyek-proyek infrastruktur besar masih menahan penurunan lebih lanjut, dan permintaan konstruksi publik diharapkan kembali meningkat pada Desember 2025.

Pasar Eropa menampilkan arah yang beragam. Harga HRC menguat tipis ke USD 650–680 per ton EXW setelah beberapa kontrak baru muncul di Italia dan Eropa Utara. Harga CRC tetap di sekitar USD 760, namun rebar turun tajam ke USD 575–585 per ton dari sekitar USD 700 sebelumnya. Penurunan ini terjadi setelah permintaan konstruksi melemah dan distributor berusaha menurunkan stok sebelum akhir tahun. Aktivitas pembelian di Eropa mulai menurun menjelang pergantian kuota CBAM dan reformasi safeguard impor Uni Eropa, sementara pabrikan mempertahankan harga tinggi untuk mengimbangi kenaikan biaya energi.

Amerika Serikat menjadi satu-satunya wilayah dengan kenaikan harga mencolok. HRC domestik naik ke USD 920 per ton EXW Midwest, naik sekitar USD 60–70 dibanding akhir Oktober. Kenaikan ini didorong oleh keterbatasan pasokan dari produsen utama seperti Nucor dan Cleveland-Cliffs serta ekspektasi permintaan konstruksi dan otomotif yang membaik. Kontrak futures HRC Midwest ditutup di USD 847 per ton, menandakan bahwa sentimen pasar fisik lebih kuat daripada harga berjangka. Kenaikan harga ini juga dikaitkan dengan upaya pabrikan untuk mempertahankan margin di tengah biaya tenaga kerja dan energi yang naik menjelang musim dingin.

Ringkasan Harga Baja – Minggu I November 2025 (USD/ton)

KawasanHRCCRCGI / HDGColor Coated Pipa LasRebarWire RodScrap
Tiongkok 465–470 →565–570 ▲590 →705–905 ▼500 →440–465 →490 →n/a
ASEANn/an/an/an/an/an/an/an/a
India570–645 →700–730 →780–790 →n/an/a455–510 →445–460 →321 →
Turkin/an/an/an/an/a540–560 ▲n/an/a
Middle Eastn/an/an/an/an/a705 ▼n/an/a
Eropa650–680 ▲760 →n/an/an/a575–585 ▼600–625 →n/a
AS920 ▲n/an/an/an/an/an/an/a

Keterangan: ↑ naik w/w; ↓ turun w/w; → stabil (≤ ±0,5%); n/a tidak tersedia. Kurs: RMB/USD = 7.11 | INR/USD = 83.30 | EGP/USD = 49.25 | EUR/USD = 1.09.

II. Perkembangan Perdagangan Baja Global – Minggu I November 2025

Secara umum, ekspor baja global tetap tinggi pada minggu pertama November 2025, namun momentum pertumbuhannya mulai melambat karena permintaan melemah dan beberapa negara mulai memperketat kebijakan impor. Tren ini menandai pergeseran dari fase ekspansi perdagangan yang dominan pada kuartal III menuju periode penyesuaian menjelang akhir tahun.

Menurut data World Steel Association, produksi baja mentah dunia sepanjang 2024 mencapai sekitar 1,885 miliar ton, sedikit lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Penurunan tipis ini terjadi di tengah tambahan kapasitas baru di Asia yang masih terus bertambah hingga 2027. Laporan OECD menyebutkan bahwa dalam dua tahun ke depan, terdapat rencana ekspansi kapasitas sekitar 165 juta ton—mayoritas berlokasi di Tiongkok, India, dan Asia Tenggara. Ekspansi ini berpotensi memperburuk kelebihan kapasitas yang sudah kronis dan menimbulkan tekanan lebih lanjut terhadap harga ekspor. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa pada minggu ini, sebagian besar produsen Asia berusaha mempertahankan harga meskipun permintaan ekspor belum membaik.

Dari sisi ekspor, Tiongkok tetap menjadi pemain utama dengan volume tahunan yang diperkirakan bertahan di atas 100 juta ton. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ekspor Tiongkok tidak akan turun secara signifikan tahun ini meski permintaan dari Asia Tenggara melemah. Namun, kenaikan ekspor ini mulai menimbulkan ketegangan di pasar global karena harga ekspor Tiongkok yang rendah dinilai menekan margin produsen di kawasan lain. Negara-negara seperti India dan Korea Selatan menghadapi tantangan serupa, di mana oversupply domestik menyebabkan pabrikan berorientasi ekspor menurunkan harga untuk menjaga volume penjualan.

Sementara itu, Amerika Serikat menunjukkan arah sebaliknya. Berdasarkan data AISI, impor baja jadi (finished steel) ke AS pada pertengahan 2025 sempat naik 10 persen dibanding bulan sebelumnya, tetapi sejak Oktober pemerintah kembali memperketat izin impor di bawah skema Section 232. Langkah ini, bersamaan dengan kenaikan tarif tambahan atas baja dari beberapa negara Eropa, menyebabkan pasokan domestik menjadi terbatas dan mendukung kenaikan harga HRC. Perdagangan baja di pasar Amerika kini lebih dikendalikan oleh kebijakan industri dalam negeri ketimbang dinamika global.

Di Eropa, situasi perdagangan semakin tertekan oleh kebijakan baru Uni Eropa yang memperketat mekanisme safeguard dan implementasi CBAM (Carbon Border Adjustment Mechanism). Pada awal November, Komisi Eropa sedang meninjau ulang kuota bebas tarif untuk impor baja dari luar blok. Langkah tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan importir dan produsen hilir karena dapat membatasi suplai bahan baku lembaran dan menaikkan harga domestik. Akibatnya, aktivitas impor menurun, sementara negara-negara eksportir seperti Turki, Mesir, dan Ukraina mulai mengalihkan pengiriman ke pasar Afrika Utara dan Asia.

Dinamika ini memiliki implikasi penting bagi pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Melimpahnya pasokan dari Tiongkok dan India membuat kawasan ASEAN berpotensi menjadi tujuan limpahan ekspor baru, terutama jika Eropa dan Amerika memperketat pintu masuk. Kondisi tersebut berarti tekanan harga di pasar regional akan tetap tinggi, dan industri baja ASEAN perlu memperkuat proteksi domestik agar tidak dibanjiri produk berbiaya rendah. Dengan tambahan kapasitas yang besar di Asia dan permintaan global yang belum pulih, perdagangan baja dunia pada awal November 2025 mencerminkan fase penyeimbangan baru—antara kelebihan pasokan di Timur dan hambatan pasar di Barat—yang akan terus menekan harga global pada akhir tahun, bahkan beberapa tahun ke depan.

III. Kebijakan & Trade Remedies – Minggu I November 2025

Pekan pertama November 2025 menunjukkan peningkatan signifikan aktivitas proteksi dagang di sektor baja. Berbagai negara memperluas cakupan instrumen anti-dumping dan countervailing duty sebagai respons terhadap tekanan kelebihan pasokan global yang terus berlanjut. Kecenderungan ini paling kuat terlihat di kawasan Asia dan Eropa, di mana kebijakan yang bersifat defensif kini menjadi instrumen utama stabilisasi pasar.

India menjadi salah satu negara yang paling aktif pada minggu ini dengan pembukaan investigasi anti-dumping baru terhadap produk stainless steel cold-rolled seri 300–400 dari Tiongkok, Indonesia, dan Vietnam. Pemerintah India menyatakan bahwa harga impor dari ketiga negara tersebut 10–20 persen lebih rendah dibandingkan harga domestik, sehingga merugikan produsen lokal. Langkah ini memperkuat posisi India sebagai salah satu pasar dengan sistem proteksi paling ketat di Asia setelah sebelumnya memberlakukan safeguard terhadap beberapa produk datar dan panjang.

Di kawasan Asia Tenggara, aktivitas penegakan trade remedies juga meningkat. Malaysia secara resmi mengumumkan keputusan akhir atas investigasi anti-dumping terhadap produk galvanized steel dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Vietnam. Keputusan yang dikeluarkan pada 31 Oktober 2025 menetapkan bea anti-dumping final dalam rentang 7,72 hingga 57,9 persen yang berlaku selama lima tahun. Kebijakan ini sejalan dengan kerangka National Industrial Master Plan 2030 yang menempatkan sektor baja sebagai industri strategis nasional. Sementara itu, Thailand menetapkan dua tindakan berbeda pada periode yang sama, yakni penerapan bea final atas cold-rolled stainless steel dari Vietnam dengan tarif hingga 29,8 persen, serta pembukaan investigasi baru terhadap hot-rolled steel plate asal Tiongkok pada 3 November 2025. Langkah ini dilakukan setelah produsen lokal melaporkan adanya modifikasi spesifikasi produk oleh eksportir Tiongkok untuk menghindari bea yang sudah berlaku.

Korea Selatan turut memperketat kebijakannya melalui rancangan kebijakan anti-dumping sebesar 34,1 persen terhadap hot-rolled steel plate asal Tiongkok, yang diumumkan pada 31 Oktober 2025. Kebijakan ini masih dalam tahap konsultasi publik hingga 14 November. Pengenaan tarif dirancang untuk berlaku selama lima tahun dan difokuskan pada produk pelat karbon dan paduan dengan ketebalan di atas 4,75 mm. Beberapa jenis pelat khusus seperti pelat tahan abrasi dan pelat high-tensile dikecualikan dari pengenaan bea untuk menjaga ketersediaan bahan baku bagi sektor industri berat domestik. Sejumlah produsen besar Tiongkok seperti Baoshan Iron & Steel, Shagang Group, dan Valin Xiangtan telah menandatangani perjanjian price commitment untuk menghindari pengenaan tarif penuh.

Gelombang proteksi juga terlihat di Australia, Afrika dan Amerika Selatan. Pemerintah Australia melalui Anti-Dumping Commission (ADC) resmi membuka investigasi ganda anti-dumping dan countervailing duty terhadap flat-rolled steel products asal Tiongkok dan Korea Selatan, dengan periode investigasi 1 Juli 2024 – 30 Juni 2025. Kasus ini diajukan oleh BlueScope Steel dan menjadi bagian dari strategi nasional menjaga keberlanjutan kapasitas peleburan domestik. Di Afrika Selatan, International Trade Administration Commission (ITAC) mengumumkan amandemen bea anti-dumping terhadap stainless steel sinks asal Tiongkok dan Malaysia, mencabut pengecualian untuk Foshan Taijing Chuanger Metal Products Co., Ltd., sehingga seluruh eksportir Tiongkok kini dikenai bea 221 persen ad valorem. Sementara itu, Meksiko membuka investigasi anti-dumping terhadap steel cables asal Malaysia dan Vietnam setelah produsen lokal Deacero melaporkan praktik diskriminasi harga yang merugikan pasar domestik. Ketiga kebijakan ini, meskipun berasal dari kawasan berbeda, menunjukkan arah yang sama: mempersempit ruang bagi baja murah Asia dan menstabilkan pasar domestik masing-masing negara.

Sementara itu, di kawasan Uni Eropa, tren proteksi berjalan dalam skala yang jauh lebih sistematis. Berdasarkan data terbaru Directorate-General for Trade (DG Trade), hingga awal November 2025 Uni Eropa tengah menjalankan lebih dari 40 investigasi aktif, termasuk puluhan expiry review dan new exporter reviews yang sebagian besar menargetkan produk asal Tiongkok. Di antara daftar tersebut terdapat satu kasus penting yang langsung terkait sektor baja, yakni Case R843 – Expiry Review untuk produk stainless steel hot-rolled flat (HRC) yang berasal dari Indonesia, Tiongkok, dan Taiwan, yang diumumkan pada 3 Oktober 2025. Review ini merupakan peninjauan ulang atas bea anti-dumping yang telah berlaku sejak 2018 untuk menentukan apakah perlindungan tersebut akan diperpanjang setelah berakhir pada 2026. Meskipun bukan investigasi baru, langkah ini menegaskan bahwa Uni Eropa sedang memperkuat arsitektur proteksi industrinya melalui mekanisme berlapis yang mencakup revisi kuota, safeguard umum, hingga CBAM (Carbon Border Adjustment Mechanism) yang akan berlaku penuh mulai 2026.

Amerika Serikat tetap menjadi kampiun proteksi baja global. Pemerintah AS mempertahankan kebijakan Section 232 Tariffs sebesar 50 persen yang berlaku penuh sepanjang 2025, mencakup seluruh produk baja — dari HRC, CRC, dan long product hingga produk hilir turunannya. Selain tarif permanen tersebut, Departemen Perdagangan (US DOC) dan US International Trade Commission (USITC) tercatat menjalankan lebih dari 120 instrumen aktif, meliputi anti-dumping, countervailing duty, dan safeguard. Langkah-langkah ini menjadikan AS sebagai negara dengan arsenal perlindungan terlengkap di dunia baja. Bagi Indonesia, dampaknya langsung masih terbatas karena porsi ekspor ke AS kurang dari dua persen dari total HS 72-73, namun potensinya menjadi strategis apabila Indonesia mendapat perlakuan preferensial tarif yang lebih ringan dibanding Vietnam, India, atau Turki. Dalam konteks ini, tarif yang lebih rendah namun masih feasible secara komersial dapat menjadi peluang penetrasi pasar baru tanpa mengorbankan daya saing harga.

Secara keseluruhan, minggu ini memperlihatkan bahwa sistem perdagangan baja global terus menunjukkan penguatan proteksi. Uni Eropa tampil sebagai kawasan paling agresif, di luar AS, melalui penambahan lapisan perlindungan non-tarif dan administratif, sementara Asia menegaskan langkah pertahanannya terhadap praktik dumping Tiongkok. Bagi Indonesia, situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra. Peningkatan investigasi global berarti risiko limpahan ekspor semakin besar. Penguatan koordinasi antar-lembaga, percepatan respons terhadap notifikasi WTO, serta optimalisasi sistem trade remedies nasional menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas industri baja domestik di tengah eskalasi proteksi global yang semakin kompleks.

Tabel Ringkasan Kebijakan dan Trade Remedies – Minggu I November 2025

Negara / KawasanInstrumenKomoditasNegara DikenaiStatus
IndiaInvestigasi Anti-DumpingStainless steel cold-rolled series 300–400Tiongkok, Indonesia, VietnamDiumumkan 5 Nov 2025 – tahap investigasi
MalaysiaBea Anti-Dumping FinalGalvanized steel (zinc-plated hot-dip)Tiongkok, Korea Selatan, VietnamFinal 31 Okt 2025 – berlaku 1 Nov 2025–31 Okt 2030
ThailandBea Anti-Dumping FinalCold-rolled stainless steel (coil/sheet 0,3–3 mm)VietnamFinal 17 Okt 2025 – berlaku 11 Okt 2025–10 Okt 2030
ThailandInvestigasi Anti-Dumping BaruHot-rolled steel plate (alloy & non-alloy >1.600 mm)TiongkokDiumumkan 3 Nov 2025 – tahap investigasi
Korea SelatanRancangan Bea Anti-Dumping (34,1%)Carbon & alloy hot-rolled plate (non-coil ≥4,75 mm)TiongkokKonsultasi publik hingga 14 Nov 2025
AustraliaInvestigasi Anti-Dumping & Countervailing Duty (AD + CVD)Flat-rolled steel (non-alloy & alloy ≥4,75 mm)Tiongkok, Korea SelatanDiumumkan 30 Okt 2025 – tahap investigasi
Afrika SelatanAmandemen Bea Anti-Dumping FinalStainless steel sink (HS 7324.10)Tiongkok, MalaysiaDiumumkan 7 Nov 2025 – amandemen bea final
MeksikoInvestigasi Anti-DumpingSteel cable (diameter 3,18–79,38 mm, black/galvanized)Malaysia, VietnamDiumumkan 2 Okt 2025 – tahap investigasi
Uni Eropa (EU)Expiry Review (Article 11(2))Stainless steel hot-rolled flat products (HRC)Indonesia, Tiongkok, TaiwanDiumumkan 3 Okt 2025 – review berjalan
Uni Eropa (EU)Kuota Impor & Kenaikan TarifSeluruh kategori baja non-UESemua negara non-UEDiumumkan sejak Okt 2025 – masih berlaku
Amerika SerikatSection 232 Tariffs (50%)HRC, CRC, long product & hilirSemua negara non-FTABerlaku penuh sepanjang 2025

IV. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel – Minggu I November 2025

Kegiatan investasi baja global pada awal November 2025 memperlihatkan dua arah besar yang berjalan beriringan: ekspansi kapasitas produksi di Asia dan transisi hijau di Eropa, Amerika, serta Timur Tengah. Pola ini mencerminkan pergeseran strategi industri dari sekadar peningkatan volume menjadi kompetisi berbasis efisiensi energi dan intensitas karbon. Di satu sisi, proyek-proyek konvensional di Tiongkok dan India menegaskan ambisi mempertahankan dominasi pasokan baja dunia; di sisi lain, investasi “green steel” di Jerman, Swedia, Amerika Serikat, dan UEA menandai konsolidasi blok industri rendah emisi yang mulai terbentuk di lintas benua.

Di Tiongkok, Baosteel memulai pembangunan fasilitas hot-rolled coil baru berkapasitas tiga juta ton per tahun di Guangxi. Meskipun masih menggunakan sistem blast furnace, proyek ini mengadopsi teknologi pemanfaatan panas buangan (waste-heat recovery) dan sistem efisiensi energi yang diklaim dapat menurunkan konsumsi energi hingga 15 persen per ton baja. Pembangunan ini merupakan bagian dari strategi Baowu Group memperkuat pasokan di wilayah selatan yang tumbuh pesat. Namun, secara struktural proyek ini tetap tergolong ekspansi kapasitas, sehingga berpotensi memperbesar kelebihan pasokan domestik Tiongkok, terutama ketika permintaan ekspor sedang melemah.

Di India, JSW Steel mengumumkan investasi sekitar USD 7 miliar dalam penambahan kapasitas flat steel sebesar lima juta ton per tahun. Proyek ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang JSW untuk mencapai total kapasitas 38 juta ton pada 2030. Peningkatan kapasitas tersebut ditujukan bagi kebutuhan infrastruktur nasional dan pasar ekspor Afrika–Asia Tenggara. Walaupun sebagian pabrik baru menggunakan kombinasi blast furnace dan electric arc furnace demi efisiensi energi, fokus utamanya masih pada peningkatan volume. Dari perspektif pasar, langkah ini menambah tekanan pasokan di Asia pada saat harga internasional justru bergerak datar.

Sementara kawasan Eropa memperlihatkan arah investasi menuju green steel. Thyssenkrupp Steel di Jerman secara resmi memulai proyek Direct Reduced Iron (DRI) berbasis hidrogen senilai USD 3 miliar pada 4 November 2025. Proyek ini menggantikan sebagian besar fasilitas blast furnace di Duisburg dan menjadi tonggak dekarbonisasi industri baja Eropa. Pabrikan lain di Swedia, yaitu konsorsium HYBRIT (SSAB–LKAB–Vattenfall), memulai tahap kedua pembangunan pabrik hydrogen-based DRI berkapasitas 2,7 juta ton per tahun. Kedua proyek ini menandai bahwa dekarbonisasi bukan lagi tahap pilot, melainkan sudah memasuki skala industri, dengan dukungan penuh Uni Eropa melalui Innovation Fund. Hasilnya, Eropa kini bergerak menjadi pusat produksi baja hijau global, sekaligus mengantisipasi kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang akan berlaku penuh 2026.

Di Amerika Serikat, proyek baru Cleveland-Cliffs di Ohio menegaskan arah serupa tetapi dengan pendekatan berbeda. Pabrik Electric Arc Furnace (EAF) berkapasitas 1,2 juta ton per tahun yang sedang dibangun berorientasi pada daur ulang scrap domestik. Model ini mencerminkan fokus AS terhadap recycling-based capacity—bukan menambah volume baru, melainkan memaksimalkan ekonomi sirkular dan menurunkan emisi Scope 2. Langkah ini sekaligus memperkuat ketahanan bahan baku domestik dan mengurangi ketergantungan impor billet atau slab.

Di kawasan Timur Tengah, Emirates Steel Arkan menandatangani nota kesepahaman dengan Masdar Energy pada 5 November 2025 untuk membangun smelter baja bertenaga surya berkapasitas satu juta ton per tahun di Uni Emirat Arab. Proyek senilai sekitar USD 1 miliar ini merupakan fasilitas pertama di kawasan MENA yang mengandalkan lebih dari 50 persen listrik dari PLTS. Dengan ketersediaan energi surya berlimpah, proyek ini diharapkan menjadi model integrasi antara transisi energi dan industri berat di Timur Tengah.

Bila seluruh proyek minggu ini dikategorikan, sekitar dua-pertiga dari total nilai investasi global (lebih dari USD 10 miliar) diarahkan ke proyek green steel atau rendah emisi, sedangkan sepertiganya masih berbasis ekspansi kapasitas konvensional di Asia. Komposisi ini menunjukkan perubahan keseimbangan strategis: blok Asia masih mendorong output untuk mempertahankan pangsa pasar, sementara blok Eropa–Amerika–MENA mulai membangun keunggulan teknologi dan reputasi karbon-rendah.

Bagi Indonesia, peta investasi global ini memiliki dua konsekuensi langsung. Pertama, ekspansi kapasitas di Tiongkok dan India menandakan tekanan kompetitif yang semakin berat bagi produsen baja karbon domestik. Ketika pasokan regional terus bertambah sementara harga global cenderung datar, produsen Indonesia berisiko kehilangan margin di pasar ekspor tradisional. Kedua, percepatan proyek green steel di beberapa negara mengindikasikan bahwa permintaan masa depan akan bergeser ke produk berjejak karbon rendah. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa beberapa proyek green steel mengalami penangguhan dan penghentian karena ketidakpastian kebijakan pemerintah, khususnya posisi AS. Hal ini menimbulkan ketidakpastian masa depan green steel yang perlu disikapi hati-hati.

Dengan demikian, keseluruhan tren investasi minggu ini menegaskan bahwa industri baja dunia tengah berada di persimpangan antara ekspansi kapasitas dan transformasi hijau. Arah global bergerak menuju kondisi yang semakin kompleks: kelebihan pasokan dari Asia yang menekan harga, dan ketidakpastian green steel di berbagai kawasan.

Tabel Ringkasan Investasi dan Green Steel – Minggu I November 2025

Negara ProyekJenis Kapasitas Status Keterangan
TiongkokBaosteel Guangxi ProjectKapasitas3 juta ton/tahunKonstruksi dimulai 4 Nov 2025Ekspansi pabrik HRC baru di Guangxi;.
IndiaJSW Steel ExpansionKapasitas5 juta ton/tahun (± USD 7 miliar)Persetujuan 6 Nov 2025Penambahan kapasitas flat steel.
Jerman (UE)Thyssenkrupp Steel Hydrogen DRIGreen Steel± USD 3 miliarGroundbreaking 4 Nov 2025Fasilitas DRI + EAF berbasis hidrogen; didukung EU Innovation Fund.
SwediaHYBRIT Phase II (SSAB–LKAB–Vattenfall)Green Steel2,7 juta ton DRI/tahunDimulai 5 Nov 2025Ekspansi produksi DRI hidrogen tahap II.
Amerika SerikatCleveland-Cliffs EAF OhioGreen Steel1,2 juta ton/tahunTarget selesai 2026Fasilitas EAF berbasis scrap domestik;.
Uni Emirat ArabEmirates Steel Arkan Solar ProjectGreen Steel1 juta ton/tahunMoU ditandatangani 5 Nov 2025Smelter baja hijau bertenaga surya; > 50 % energi PLTS.

V. Isu Strategis yang Perlu Dicermati – Minggu I November 2025

Harga baja dunia pada awal November 2025 bergerak tidak seragam di berbagai kawasan. Sebagian produk flat di Eropa dan Amerika Serikat mencatat kenaikan, sementara long product di Eropa masih melemah dan pasar Asia menunjukkan kecenderungan datar. Arah harga yang beragam ini mencerminkan bahwa industri baja global belum sepenuhnya stabil dan masih berada dalam fase penyesuaian terhadap dinamika permintaan, kebijakan perdagangan, dan arah investasi. Kondisi ini perlu menjadi perhatian pelaku industri baja nasional karena perubahan harga di satu kawasan kini dapat berdampak cepat terhadap pasar lainnya.

Pergerakan Harga yang Beragam dan Risiko Tekanan Impor

Arah harga yang tidak seragam di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa pasar baja global belum menemukan keseimbangan baru.
Bagi Indonesia, arah harga yang beragam ini perlu diwaspadai karena potensi ekspor Tiongkok yang kembali meningkat dapat menekan harga di pasar ASEAN. Dengan tingginya impor pada periode sebelumnya, setiap gelombang pasokan baru akan langsung memengaruhi utilisasi industri nasional. Penguatan sistem pengawasan impor dan efektivitas instrumen trade remedies menjadi penting agar tekanan global tidak mengganggu stabilitas pasar dalam negeri.

Gelombang Proteksi Baru dan Terbatasnya Akses Pasar Ekspor

Kebijakan proteksi terus menguat di berbagai kawasan. Bagi Indonesia, situasi ini memiliki dua implikasi utama. Pertama, risiko trade diversion dari Tiongkok, Vietnam, Jepang dan Korea Selatan meningkat karena produk-produk yang tertahan di pasar Eropa dan Amerika akan mencari tujuan baru di Asia Tenggara. Kedua, intensifikasi kebijakan Eropa terhadap stainless berpotensi memperpanjang hambatan bagi produk ekspor Indonesia. Dalam konteks ini, Indonesia perlu memperkuat mekanisme early warning system untuk mendeteksi potensi limpahan impor dini, mempercepat koordinasi lintas kementerian dalam penanganan trade remedies, serta menyiapkan argumentasi hukum yang kuat apabila diperlukan intervensi di forum WTO.

Green Steel: Ketidakpastian Global dan Risiko Daya Saing

Arah kebijakan green steel global masih beragam dan penuh ketidakpastian. Setelah perubahan politik di Amerika Serikat dan peninjauan kembali subsidi energi bersih, sejumlah proyek baja hijau di Barat mulai tertunda atau direvisi karena biaya yang tinggi dan rendahnya kelayakan pasar. Indonesia perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam transisi yang belum matang secara komersial. Strategi dekarbonisasi harus dilakukan bertahap sesuai perkembangan dan tuntutan pasar, bukan melalui proyek berbiaya tinggi yang justru dapat menggerus daya saing industri nasional.

Tantangan Menjaga Daya Saing di Tengah Pasar yang Terfragmentasi

Arah harga yang beragam, kebijakan proteksi yang meluas, serta ketidakpastian transisi hijau menunjukkan bahwa pasar baja global terus mengalami fragmentasi struktural yang semakin dalam. Bagi Indonesia, tantangan ke depan semakin kompleks—menjaga utilisasi kapasitas industri sekaligus memastikan daya saing tetap terpelihara di tengah sistem perdagangan yang semakin tertutup. Kebijakan industri nasional perlu diselaraskan dengan dinamika global, terutama menghadapi potensi banjir impor baja murah asal Tiongkok yang terus menekan pasar domestik. Langkah cepat dan terkoordinasi diperlukan agar Indonesia tidak menjadi tujuan limpahan ekspor baja dari negara lain di tengah gelombang proteksi global yang kian menguat.

Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM, Yieh, Mysteel Global, Reuters, GMK Centre, Steel Orbits, Yieh News.