
Pekan kedua September 2025 mencerminkan tekanan berlapis dalam perdagangan baja global. Di satu sisi, arus ekspor Tiongkok terus membesar di tengah pasar domestiknya yang stagnan, memperkuat posisi sebagai eksportir dominan dunia. Di sisi lain, negara-negara mitra dagang merespons dengan proteksi agresif: Mesir menerapkan safeguard menyeluruh, Uni Eropa memperluas cakupan investigasi antidumping, sementara Korea Selatan dan Vietnam mempercepat tindakan tarif, mengikuti langkah yang telah ditempuh berbagai negara sebelumnya. Ketegangan ini terjadi ketika harga baja global cenderung stagnan atau melemah, mencerminkan lemahnya permintaan yang belum pulih. Sementara itu, dinamika investasi memperlihatkan polarisasi: sebagian negara seperti India dan Maroko aktif mendorong proyek green steel, sementara di Eropa dan AS mulai muncul tanda perlambatan akibat tekanan biaya. Dalam lanskap yang semakin terfragmentasi ini, pelaku industri baja Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap lonjakan impor, sambil mulai merancang strategi jangka panjang untuk menyesuaikan diri dengan arah transisi global menuju produksi rendah emisi.
I. Perkembangan Harga Baja
Memasuki pekan kedua September 2025, harga baja global umumnya menunjukkan kecenderungan stabil dengan beberapa koreksi turun di produk panjang. Di Tiongkok, hampir seluruh produk utama bergerak datar dibanding pekan sebelumnya. HRC bertahan di kisaran USD 470–475 per ton FOB, CRC stabil di USD 565, galvanis tetap pada USD 590–595, dan coil berwarna di USD 715. Pipa las masih berada di kisaran USD 500–505. Namun, harga rebar melemah tipis ke USD 430–435 dan wire rod ke USD 465–470, mencerminkan tekanan berkelanjutan dari lemahnya permintaan dalam negeri.
Di kawasan ASEAN, tidak terdapat perubahan berarti. Harga HRC impor bertahan pada USD 500–505 per ton, sementara rebar tetap di level USD 475–480. Tidak tersedia pembaruan data untuk CRC, galvanis, coil berwarna, dan pipa las. Harga scrap turun tipis ke USD 350–360 per ton, menunjukkan tekanan margin bagi produsen kawasan.
India masih memperlihatkan stabilitas harga. HRC domestik tetap di kisaran USD 590–595 per ton, CRC di USD 725–735, dan galvanis di USD 690–700. Produk hilir seperti coil berwarna dan pipa las tetap masing-masing di USD 795–805 dan USD 500–510. Rebar tercatat pada rentang USD 470–530 dan wire rod di USD 475–490, seluruhnya tidak mengalami perubahan signifikan. Harga scrap melemah ke USD 365–370 per ton, mempersempit margin produsen.
Di Turki, harga HRC stabil pada USD 545–550 per ton FOB. Namun, rebar mengalami koreksi ke USD 540–545 per ton, dan harga scrap turun menjadi USD 340–345. Kelebihan pasokan dari Asia dan lemahnya permintaan dari Timur Tengah masih membayangi pasar Turki.
Di kawasan Timur Tengah dan Mesir, HRC tercatat pada USD 555–565 per ton CFR, sementara rebar turun ke USD 580–590. Wire rod tetap di kisaran USD 610–615, dan harga scrap tidak berubah di USD 420–425 per ton.
Pasar Eropa menunjukkan tren kenaikan terbatas. Harga HRC domestik di Eropa Utara dan Selatan naik ke USD 645–675 per ton, dan CRC meningkat menjadi USD 675–700. Produk galvanis juga menguat ke USD 675–690, ditopang berkurangnya minat terhadap produk impor akibat rumor investigasi anti-dumping terhadap CRC dari empat negara Asia. Harga rebar naik tipis ke USD 585–590. Sementara itu, harga scrap tetap stabil di USD 300 per ton.
Amerika Serikat mempertahankan kestabilan harga. HRC domestik Midwest berada di kisaran USD 895–910 per ton ex-works, dan rebar tetap pada USD 910–920. Harga scrap juga tidak berubah di USD 425, mencerminkan pasar yang tetap tertutup dari tekanan eksternal akibat kebijakan tarif 50 persen.
Ringkasan Harga Baja (USD/ton) – Minggu II September 2025
| Kawasan | HRC | CRC | Galvanis | Color Coated | Pipa Las | Rebar | Wire Rod | Scrap |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tiongkok | 470–475 → | 565 → | 590–595 → | 715 → | 500–505 → | 430–435 ↓ | 465–470 ↓ | n/a |
| ASEAN | 500–505 → | n/a | n/a | n/a | n/a | 475–480 → | n/a | 350–360 ↓ |
| India | 590–595 → | 725–735 → | 690–700 → | 795–805 → | 500–510 → | 470–530 → | 475–490 → | 365–370 ↓ |
| Turki | 545–550 → | n/a | n/a | n/a | n/a | 540–545 ↓ | n/a | 340–345 ↓ |
| Mesir/ME | 555–565 → | n/a | n/a | n/a | n/a | 580–590 ↓ | 610–615 → | 420–425 → |
| Eropa | 645–675 ↑ | 675–700 ↑ | 675–690 ↑ | n/a | n/a | 585–590 ↑ | n/a | 300 → |
| Amerika Serikat | 895–910 → | n/a | n/a | n/a | n/a | 910–920 → | n/a | 425 → |
Catatan:
↑ = naik dari pekan sebelumnya, ↓ = turun dari pekan sebelumnya, → = stabil (≤ ±0,5%), n/a = data tidak tersedia pekan ini. Kurs: RMB/USD = 7,29; EUR/USD = 1,07; INR/USD = 83,04; TRY/USD = 26,90; EGP/USD = 30,90
II. Perkembangan Perdagangan Baja Global
Pekan kedua September 2025 menegaskan semakin intensifnya fragmentasi perdagangan baja global. Tiongkok mencatat ekspor baja jadi hingga akhir Agustus sebesar 77,49 juta ton, naik 10 persen dibanding tahun lalu. Lonjakan ini memperlihatkan ketergantungan produsen Tiongkok pada pasar luar negeri di tengah lemahnya konsumsi domestik, sehingga Asia Tenggara dan Timur Tengah kembali menjadi sasaran utama ekspor. Arus keluar yang besar ini menambah tekanan persaingan bagi produsen regional, terutama ketika permintaan konstruksi di dalam negeri Tiongkok belum menunjukkan tanda pemulihan.
Eropa diwarnai perkembangan baru berupa rencana penyelidikan anti-dumping terhadap CRC dari India, Turki, Jepang, dan Taiwan. Rumor ini segera menurunkan selera impor, karena pembeli memilih menunggu kepastian regulasi sebelum melakukan kontrak baru. Pada saat yang sama, transaksi impor HRC dari Indonesia ke Italia dengan komitmen pengiriman sebelum CBAM 2026 memperlihatkan bahwa sebagian pemasok Asia masih bisa masuk melalui celah terbatas, meskipun dengan risiko regulasi yang harus ditanggung penjual. Situasi ini menegaskan arah proteksi Eropa yang semakin ketat, sekaligus membuka peluang bagi produsen domestik untuk memperkuat posisi.
India menghadapi dilema ganda. Upaya mempertahankan ekspor ke Eropa masih berlangsung, namun potensi penyelidikan CRC membuat posisi eksportir semakin rapuh. Produsen India kini mulai lebih aktif mencari pasar alternatif di Timur Tengah dan Asia, guna mengimbangi risiko berkurangnya akses ke Eropa.
Turki tetap tertekan oleh lemahnya permintaan scrap dan derasnya arus baja dari Asia yang mencari pasar baru. Produk yang gagal masuk ke Amerika Serikat dan sebagian Eropa kini beralih ke pasar tradisional Turki di Timur Tengah dan Afrika Utara, sehingga kompetisi semakin ketat. Kondisi ini membatasi fleksibilitas eksportir Turki untuk menjaga pangsa pasar.
Di Amerika Serikat, kebijakan tarif 50 persen yang berlaku sejak awal tahun terus membuat pasar tetap tertutup bagi impor. Seluruh kebutuhan domestik dipenuhi produksi dalam negeri, sementara produsen dari Asia maupun Eropa tidak lagi menjadikan AS sebagai tujuan ekspor.
Secara keseluruhan, pekan kedua September menunjukkan pola yang konsisten: Tiongkok tetap menjadi eksportir dominan dengan volume tinggi, Eropa semakin memperketat jalur masuk melalui kombinasi CBAM dan investigasi dagang, India menghadapi risiko pengalihan pasar, Turki terjepit di kawasan tradisionalnya, dan AS tetap menutup diri. Fragmentasi ini menegaskan bahwa tekanan kompetisi global tidak berkurang, melainkan semakin terkonsentrasi di Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara.
III. Kebijakan dan Trade Remedies
Pekan kedua September 2025 kembali memperlihatkan gelombang proteksi yang semakin luas. Mesir mengambil langkah agresif dengan memberlakukan safeguard sementara selama 200 hari mulai 14 September terhadap billet dan produk flat. Tarif diberlakukan secara ad valorem maupun tarif minimum, dengan ketentuan billet 16,2% atau EGP 4.613/ton, HRC 13,6% atau EGP 3.673/ton, CRC 11,11% atau EGP 4.152/ton, galvanis 12,16% atau EGP 4.812/ton, dan PPGI 4,94% atau EGP 2.584/ton. Langkah ini ditempuh setelah lonjakan impor 2024 mencapai 314 ribu ton, terutama dari Rusia dan Ukraina.
Uni Eropa menambah daftar proteksi dengan menerima aplikasi investigasi anti-dumping untuk CRC asal Turki, dengan cakupan diperluas ke India, Jepang, dan Taiwan. Investigasi resmi diperkirakan dimulai bulan September, menambah tekanan setelah kasus HRC dari Mesir, India, Jepang, dan Vietnam yang tarif finalnya juga dijadwalkan keluar bulan ini.
Korea Selatan bergerak cepat dengan menjatuhkan bea masuk anti-dumping sementara atas HRC asal China dan Jepang. Tarif sementara ini berkisar 28,16–33,10 persen untuk China dan 31,58–33,57 persen untuk Jepang, berlaku selama empat bulan sejak awal September, sementara produk India dikecualikan.
Indonesia melalui KADI resmi membuka penyelidikan anti-dumping terhadap HRC asal Wuhan Iron & Steel (China). Penyelidikan ini baru dimulai pada 1 September dan tengah memasuki tahap partisipasi pihak berkepentingan.
Amerika Serikat menambah daftar proteksi dengan dua perkembangan. Pertama, tarif global 50 persen yang diberlakukan sejak awal tahun masih menghadapi ketidakpastian hukum setelah Trump mengajukan banding ke Supreme Court. Kedua, Departemen Perdagangan AS pada 11 September mengumumkan hasil preliminary anti-dumping terhadap carbon & alloy steel cut-to-length plates asal Belgia, dengan margin dumping 5,22 persen untuk Industeel Belgium SA dan NLMK Belgium, sementara eksportir Belgia lain tetap dikenakan tarif 5,40 persen sesuai ketentuan sejak 2017.
Selain itu, Kanada melalui CBSA menjatuhkan provisional AD duties untuk produk steel wire carbon dan alloy asal China, sementara Vietnam mempertegas kebijakan dengan menerapkan tarif final 23,1–27,83 persen atas HRC asal China untuk lima tahun ke depan. Di Australia, Anti-Dumping Commission juga tengah memfinalisasi persiapan safeguard baru, menambah daftar panjang tren proteksi lintas kawasan.
Ringkasan Kebijakan dan Trade Remedies (Update 7–13 September 2025)
| Negara/Kawasan | Instrumen | Produk | Status Per 7–13 September 2025 | Tarif/Angka |
| Mesir | Safeguard sementara | Billet non-alloy | Berlaku 14 Sep, 200 hari | 16,2% / min EGP 4.613/ton |
| Mesir | Safeguard sementara | Flat steel (HRC/CRC/GI/PPGI) | Berlaku 14 Sep, 200 hari | HRC 13,6%; CRC 11,11%; GI 12,16%; PPGI 4,94% (dengan tarif min/ton) |
| Uni Eropa | AD Investigation | CRC (Turki, India, Jepang, Taiwan) | Petisi Eurofer diterima, investigasi resmi segera dimulai | Belum diumumkan |
| Uni Eropa | AD Finalization | HRC (Mesir, India, Jepang, Vietnam) | Tarif final dijadwalkan keluar September 2025 | AD sementara berlaku sejak April |
| Korea Selatan | AD sementara | HRC (China, Jepang) | Tarif sementara berlaku 4 bulan sejak awal Sept | China 28,16–33,10%; Jepang 31,58–33,57% |
| Indonesia | AD Investigation | HRC (China/WISCO) | Penyelidikan resmi dimulai 1 September | Dalam proses |
| AS | AD Preliminary | CTL Plates (Belgia) | Margin dumping awal diumumkan 11 September | 5,22% (Industeel & NLMK); lain 5,40% |
| AS | Tarif global (232) | Semua produk baja | Banding ke Supreme Court, status hukum belum pasti | Tarif 50% tetap berlaku sementara |
| Kanada | AD sementara | Steel wire (China) | CBSA tetapkan provisional duties | Tarif sementara, final menunggu |
| Vietnam | AD Final | HRC (China) | Tarif final diberlakukan (berlaku 5 tahun sejak Juli) | 23,1–27,83% |
| Australia | Safeguard (proses) | Produk domestik (belum diumumkan) | Tahap akhir persiapan aplikasi safeguard | Belum diumumkan |
IV. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel
Pekan kedua September 2025 ditandai sejumlah langkah penting dalam investasi kapasitas dan pengembangan baja hijau. ArcelorMittal melalui XCarb Innovation Fund mengumumkan investasi strategis di Electrified Thermal Solutions (ETS) untuk mendukung pengembangan Joule Hive Thermal Battery (JHTB), teknologi penyimpanan panas listrik yang mampu mencapai suhu hingga 1.700°C untuk menggantikan energi fosil dalam proses baja. Proyek percontohan komersial berkapasitas 1 MW/5 MWh di Texas ditargetkan beroperasi pada paruh kedua 2025, dengan rencana uji validasi tambahan di GasLab Asturias, Spanyol.
Di Maroko, aliansi Sinam/Global Steel bersama mitra Maolong New Materials (Tiongkok) memulai pembangunan fasilitas HiSmelt, teknologi peleburan bijih besi tanpa kokas yang lebih ramah lingkungan dibanding blast furnace. Fasilitas ini akan didukung integrasi rantai pasok domestik, termasuk pasokan fosfat lebih dari 600 ribu ton per tahun.
Dari Amerika Serikat, Boston Metal menegaskan kelanjutan pengembangan teknologi molten oxide electrolysis (MOE) untuk memproduksi baja bebas emisi langsung, sementara Cleveland-Cliffs menunda rencana pembangunan pabrik berbasis hidrogen senilai sekitar USD 500 juta di Ohio. Keputusan ini mencerminkan tantangan pendanaan proyek baja berbasis hidrogen yang masih tinggi.
Di Swedia, Stegra (sebelumnya H2 Green Steel) mengumumkan bergabung ke standar Low Emission Steel Standard (LESS) dan menegaskan proyek Boden tetap sesuai jadwal untuk beroperasi pada paruh kedua 2026, dengan klaim pengurangan emisi hingga 95 persen dibanding metode konvensional.
Ringkasan Investasi & Green Steel (Update 7–13 September 2025)
| Perusahaan/Negara | Teknologi/Fokus | Update Terbaru | Skala/Waktu |
| ArcelorMittal – ETS (AS & Spanyol) | Joule Hive Thermal Battery (electrified heat) | Investasi XCarb; demo 1 MW/5 MWh Texas; MoU validasi Asturias | COD H2/2025 (demo) |
| Maolong & Sinam – Maroko | HiSmelt (tanpa kokas) | Pembangunan dimulai; integrasi pasokan fosfat domestik >600 kt/tahun | Skala industri, konstruksi 2025 |
| Boston Metal – AS | Molten Oxide Electrolysis (MOE) | Lanjutkan ekspansi site pilot/komersial | — |
| Cleveland-Cliffs – AS | H₂-DRI | Penundaan pabrik H₂ senilai USD 500 juta (Ohio) | — |
| Stegra – Swedia (Boden) | H₂-DRI + EAF | Bergabung ke standar LESS; proyek on track beroperasi 2026 | Operasi H2/2026 |
V. Isu Strategis yang Perlu Dicermati
Kekhawatiran banjir impor ke pasar domestik berlanjut. Meningkatnya ekspor baja dari Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir menjadi sinyal kuat akan potensi banjir suplai ke berbagai kawasan, terutama Asia Tenggara. Lonjakan ekspor ini terjadi di tengah tertutupnya pasar Amerika Serikat oleh tarif Section 232dan langkah-langkah proteksi di berbagai negara. Eskalasi proteksionisme ini bukan hanya mempersempit ruang ekspor, tetapi juga mendorong pergeseran arus suplai global ke kawasan yang lebih terbuka—termasuk Indonesia. Jika tidak diantisipasi dengan baik, pelaku industri baja nasional dapat menghadapi tekanan ganda: masuknya produk impor murah dan tersendatnya akses ekspor akibat kompetisi yang makin ketat. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu mencermati dengan saksama dinamika pasar global dan mengambil langkah antisipatif untuk memitigasi risiko sekaligus menangkap peluang yang muncul dari pergeseran arus perdagangan ini.
Dalam konteks perlindungan domestik, penyelidikan anti-dumping oleh Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) terhadap produk CRC asal Tiongkok menjadi langkah awal yang penting. Namun dalam situasi pasar yang terus bergerak cepat, perlindungan yang terlalu lama berproses tidak akan efektif. Pelaku industri baja bersama pemerintah perlu mendorong percepatan penyelidikan serta mempertimbangkan penerapan provisional duties untuk memberikan efek perlindungan yang segera dirasakan industri. Lebih jauh, cakupan perlindungan juga perlu diperluas ke produk lain yang terbukti mengalami lonjakan impor tidak wajar. Instrumen trade remedies bukan instrumen perdagangan, tetapi bagian dari strategi negara untuk menjaga keberlanjutan industri nasional di tengah arus globalisasi dan praktik dagang tidak sehat yang semakin kompleks.
Transisi menuju green steel belum menjadi agenda mendesak bagi mayoritas pelaku industri baja Indonesia saat ini, mengingat tuntutan di pasar domestik maupun global masih relatif rendah. Namun arah kebijakan internasional menunjukkan bahwa green steel akan menjadi standar baru dalam perdagangan global, terutama di Eropa dan sejumlah negara maju lainnya. Oleh karena itu, strategi investasi industri baja nasional perlu mulai mencermati dinamika ini secara serius. Adopsi teknologi rendah emisi yang terlalu cepat dapat menimbulkan beban biaya dan risiko komersial yang belum tertutupi oleh pasar, sementara keterlambatan dapat mengancam daya saing ekspor dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah dan pelaku industri harus mulai merancang jalur transisi yang tepat waktu dan efisien, dengan mempertimbangkan potensi green premium, kesiapan infrastruktur energi rendah karbon, serta skema insentif yang memungkinkan transformasi bertahap tanpa kehilangan daya saing.
Sumber Data:
SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, MSN.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.