
Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang meletus sejak 28 Februari 2026 telah berkembang dari konflik militer terbatas menjadi gangguan langsung terhadap sistem perdagangan global. Eskalasi di kawasan Teluk tidak hanya terjadi di darat dan udara, tetapi juga merambat ke jalur maritim strategis. Dalam beberapa pekan terakhir, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam seiring meningkatnya risiko keamanan, pembatasan pergerakan kapal, serta penguatan kontrol Iran terhadap lalu lintas maritim. Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik yang berlangsung tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga mulai mengganggu arus barang yang menjadi tulang punggung perdagangan internasional.
Dalam perkembangan tersebut, Selat Hormuz berubah dari sekadar jalur energi menjadi instrumen tekanan strategis dalam konflik. Akses yang semakin terbatas dan tidak pasti—ditandai dengan selektivitas kapal yang dapat melintas serta meningkatnya biaya asuransi dan risiko pelayaran—membuat aliran komoditas global terganggu. Dampaknya tidak berhenti pada minyak dan gas, tetapi juga menjalar ke berbagai komoditas industri, termasuk baja dan bahan bakunya. Ketika jalur ini tidak lagi berfungsi normal, maka mekanisme distribusi global yang selama ini mengandalkan efisiensi logistik langsung mengalami tekanan.
Bagi industri baja global, situasi ini menciptakan gangguan yang bersifat simultan. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi, sementara hambatan logistik mengganggu distribusi bahan baku dan produk antar kawasan. Pada saat yang sama, sebagian produsen menghadapi keterbatasan akses pasar ekspor sehingga pasokan tertahan, sementara di kawasan lain justru terjadi kekurangan pasokan. Ketidakseimbangan ini mendorong perubahan arus perdagangan baja secara cepat, dengan implikasi langsung terhadap harga dan struktur pasar di berbagai negara.
Sementara itu, bagi Indonesia, dampaknya menjadi lebih kompleks karena tidak hanya dipengaruhi oleh dinamika harga global, tetapi juga oleh ketergantungan terhadap rantai pasok internasional. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi langsung menghambat pasokan bahan baku semi-finished seperti billet dan slab yang selama ini diimpor dari kawasan Timur Tengah, termasuk Iran. Beberapa pelaku industri bahkan telah menghadapi kondisi di mana pengiriman tidak dapat dilakukan karena kapal tidak bisa melintas. Pada saat yang sama, perubahan arus perdagangan global membuka peluang masuknya produk baja impor ke pasar domestik dalam jumlah lebih besar. Kombinasi antara gangguan pasokan bahan baku dan tekanan impor ini menjadi tantangan utama yang harus dihadapi industri baja nasional dalam situasi geopolitik yang semakin tidak pasti.
Status Terkini: Dari Gangguan Logistik ke Disrupsi Sistemik
Perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa gangguan di Selat Hormuz telah memasuki fase disrupsi nyata terhadap rantai pasok global. Aktivitas pelayaran di kawasan Teluk menurun tajam seiring meningkatnya risiko keamanan, sementara sejumlah kapal memilih menunda keberangkatan, berbalik arah, atau menunggu di luar zona konflik. Sejumlah pelaku logistik dan perdagangan bahkan melaporkan pembatalan pengiriman serta penghentian sementara transaksi untuk rute yang melewati kawasan tersebut. Pada saat yang sama, biaya asuransi risiko perang meningkat signifikan, dan akses pelayaran menjadi lebih selektif serta tidak pasti. Kondisi ini menyebabkan arus barang global yang sebelumnya berjalan relatif lancar kini mengalami hambatan baik dari sisi waktu maupun biaya.
Gangguan tersebut tidak hanya berdampak pada volume perdagangan, tetapi juga pada mekanisme transaksi itu sendiri. Ketidakpastian pengiriman membuat pelaku usaha menahan kontrak baru, karena risiko keterlambatan atau kegagalan pengiriman menjadi sulit diprediksi. Dalam beberapa kasus, kontrak yang telah disepakati tidak dapat dieksekusi sesuai jadwal karena keterbatasan akses pengiriman. Akibatnya, aktivitas perdagangan internasional dalam jangka pendek mengalami perlambatan, bukan karena turunnya permintaan semata, tetapi karena meningkatnya risiko operasional dalam distribusi barang.
Dalam situasi ini, tekanan biaya mulai terbentuk melalui dua jalur utama. Pertama, kenaikan harga energi sebagai respons terhadap terganggunya jalur distribusi minyak dan gas global. Kedua, kenaikan biaya logistik akibat perubahan rute pelayaran, peningkatan premi asuransi, serta keterbatasan akses ke pelabuhan tertentu. Selain itu, waktu pengiriman (lead time) juga meningkat karena kapal harus menunggu atau menghindari jalur berisiko, yang pada akhirnya menambah biaya tidak langsung dalam rantai pasok. Kombinasi kedua faktor ini menciptakan tekanan biaya yang bersifat luas dan cepat, serta meningkatkan ketidakpastian dalam perencanaan produksi dan perdagangan lintas negara.
Dampak terhadap industri baja mulai terlihat bukan hanya dalam bentuk kenaikan biaya dan gangguan distribusi, tetapi juga dalam perubahan pola perdagangan global. Tertahannya arus ekspor dari kawasan Timur Tengah, termasuk produk semi-finished, mengurangi pasokan ke pasar tertentu sekaligus menciptakan tekanan redistribusi ke kawasan lain. Dalam kondisi ini, industri baja global tidak lagi hanya menghadapi gangguan operasional, tetapi mulai memasuki fase penyesuaian struktur pasar yang ditandai dengan perubahan arah perdagangan, pergeseran sumber pasokan, serta meningkatnya ketidakseimbangan antara wilayah surplus dan defisit.
Dampak dan Pergeseran Dinamika Industri Baja Global
Gangguan di Selat Hormuz tidak berhenti pada hambatan logistik, tetapi segera ditransmisikan ke industri baja global melalui beberapa jalur yang saling berkaitan. Jalur pertama adalah energi. Kenaikan harga minyak dan gas sebagai respons terhadap terganggunya distribusi dari kawasan Teluk langsung meningkatkan biaya produksi baja, terutama bagi produsen yang bergantung pada gas alam dan listrik sebagai input utama. Dalam kondisi ini, struktur biaya industri berubah dengan cepat, dan produsen menghadapi tekanan untuk menyesuaikan harga jual di tengah ketidakpastian permintaan.
Jalur kedua adalah perdagangan bahan baku dan produk baja. Kawasan Timur Tengah, khususnya Iran, merupakan salah satu pemasok penting produk semi-finished seperti billet dan slab ke pasar Asia. Data perdagangan menunjukkan bahwa ekspor semi-finished Iran berada pada kisaran sekitar 6–7 juta ton per tahun, dengan produk ini mencakup lebih dari 50% total ekspor baja Iran (SMM dan berbagai laporan perdagangan regional). Ketika jalur pelayaran terganggu, ekspor dari kawasan ini tidak dapat mengalir secara normal, sehingga pasokan ke negara-negara pengimpor mulai tertekan.
Pada saat yang sama, kawasan Timur Tengah juga merupakan pasar ekspor utama bagi baja China. Data Fastmarkets menunjukkan bahwa pada 2025 kawasan ini menyerap sekitar 14% dari total volume ekspor baja jadi China dan 14,7% dari nilainya, sementara untuk produk HRC porsinya bahkan mencapai sekitar 19% baik dari sisi volume maupun nilai ekspor. Ketika Selat Hormuz terganggu, pengiriman baja China ke kawasan Teluk juga ikut terhambat. Dengan demikian, gangguan di jalur ini tidak hanya mengurangi pasokan bahan baku dari Iran, tetapi juga menahan arus ekspor dari produsen terbesar dunia, sehingga memperbesar ketidakseimbangan pasar global.
Jalur ketiga adalah logistik dan pembiayaan perdagangan. Kenaikan premi asuransi risiko perang dan ketidakpastian waktu pengiriman membuat biaya perdagangan meningkat secara signifikan. Sejumlah laporan pasar, termasuk analisis SMM dan laporan dampak ekonomi, menunjukkan bahwa premi asuransi risiko perang di kawasan Teluk meningkat tajam selama eskalasi konflik, mencerminkan lonjakan risiko pelayaran di jalur tersebut. Dalam situasi ini, perdagangan baja tetap dapat berlangsung, tetapi dengan biaya yang lebih tinggi dan risiko yang lebih besar. Akibatnya, sebagian pelaku pasar memilih menunda transaksi, sementara yang tetap bertransaksi harus menanggung biaya tambahan yang pada akhirnya memengaruhi harga di pasar.
Ketiga jalur tersebut kemudian membentuk dinamika pasar yang berkembang secara bertahap. Pada tahap awal, produsen yang kehilangan akses ke pasar ekspor mengalami kelebihan pasokan di pasar domestik karena pengiriman tidak dapat dilakukan, sehingga harga di negara eksportir cenderung tertekan. Dalam fase ini, penurunan harga tidak mencerminkan lemahnya permintaan, melainkan terganggunya akses distribusi.
Dalam tahap berikutnya, dampak mulai berbalik arah di negara-negara pengimpor. Ketika pasokan dari kawasan Timur Tengah tidak dapat mengalir secara normal, negara yang bergantung pada impor bahan baku dan produk antara menghadapi keterbatasan suplai. Laporan Fastmarkets dan SMM mencatat bahwa pengiriman billet dan slab dari kawasan Teluk ke pasar Asia mengalami gangguan langsung, sehingga mulai menekan ketersediaan bahan baku bagi industri hilir di negara tujuan. Kondisi ini mendorong kenaikan harga di pasar lokal karena pasokan tidak mampu memenuhi kebutuhan industri.
Dalam tahap lanjutan, muncul potensi distorsi perdagangan yang lebih luas. Pasokan yang tertahan selama periode gangguan berpotensi dilepas ke pasar global ketika kondisi logistik mulai membaik. Pelepasan stok dalam jumlah besar ini dapat menciptakan tekanan harga baru, terutama jika dilakukan untuk mengkompensasi kerugian selama periode gangguan. Dengan demikian, dampak penutupan Selat Hormuz terhadap industri baja global tidak hanya menciptakan volatilitas jangka pendek, tetapi juga berpotensi membentuk tekanan harga lanjutan melalui perubahan arus perdagangan yang bersifat sementara namun signifikan.
Implikasi bagi Indonesia: Tekanan Ganda yang Kian Berat
Bagi Indonesia, dampak gangguan di Selat Hormuz tidak muncul dalam satu bentuk yang sederhana, melainkan dalam dua tekanan yang kini semakin nyata dan terjadi secara bersamaan. Di satu sisi, industri menghadapi risiko gangguan pasokan bahan baku, sementara di sisi lain pasar domestik berpotensi menerima tekanan dari masuknya produk impor akibat pergeseran arus perdagangan global.
Dampak yang paling langsung terlihat pada sisi pasokan bahan baku semi-finished. Industri baja nasional, khususnya pabrik rolling, masih bergantung pada impor billet dan slab dari kawasan Timur Tengah, termasuk Iran. Dalam struktur perdagangan global, Iran merupakan salah satu pemasok utama produk semi-finished ke pasar Asia, sehingga gangguan di Selat Hormuz secara langsung memutus salah satu sumber pasokan bahan baku tersebut (SMM, Fastmarkets). Ketika jalur pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu, pengiriman bahan baku tersebut tidak dapat berjalan normal. Dalam kondisi aktual, beberapa pelaku industri bahkan telah menghadapi situasi di mana kapal pengangkut tidak dapat melintas, sehingga pasokan tertunda tanpa kepastian waktu. Gangguan ini tidak hanya meningkatkan biaya melalui kebutuhan mencari sumber alternatif, tetapi juga secara langsung menekan utilisasi pabrik dan memperbesar risiko gangguan produksi.
Namun pada saat yang sama, tekanan lain justru datang dari sisi pasar. Gangguan ekspor di sejumlah negara produsen besar mendorong mereka mencari tujuan pasar alternatif untuk menyerap kelebihan pasokan. Data Fastmarkets menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah menyerap sekitar 14% total ekspor baja jadi China dan hingga sekitar 19% untuk produk HRC, sehingga gangguan di jalur Hormuz berpotensi menahan volume ekspor dalam skala besar yang kemudian mencari pasar alternatif. Dalam kondisi ini, Indonesia menjadi salah satu tujuan potensial karena struktur pasarnya relatif terbuka dibandingkan negara lain yang memiliki instrumen proteksi lebih kuat. Masuknya produk baja impor dengan harga yang lebih rendah tidak hanya menekan harga domestik, tetapi juga mempercepat erosi pangsa pasar produsen dalam negeri.
Kombinasi kedua tekanan ini menciptakan situasi yang semakin berat dan menekan secara simultan bagi industri nasional. Di satu sisi, pelaku industri menghadapi risiko kekurangan bahan baku yang dapat mengganggu produksi bahkan berpotensi menghentikan sebagian operasi ketika pasokan tidak dapat dipenuhi. Di sisi lain, produsen baja nasional juga harus berhadapan dengan tekanan harga dan penurunan pangsa pasar akibat potensi masuknya produk impor dalam jumlah lebih besar yang terjadi pada saat yang sama. Artinya, industri baja nasional tidak hanya menghadapi tekanan biaya, tetapi juga tekanan pasar secara bersamaan, dalam kondisi di mana ruang penyesuaian semakin sempit dan tekanan berlangsung secara simultan dari hulu hingga hilir.
Mitigasi dan Arah Kebijakan: Menjaga Ketahanan Industri Baja Nasional di Tengah Gejolak Geopolitik
Perkembangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menunjukkan bahwa gangguan di Selat Hormuz bukan sekadar risiko jangka pendek, melainkan bagian dari ketidakpastian yang semakin sering muncul dalam sistem perdagangan global. Dalam kondisi ini, industri baja tidak hanya menghadapi tekanan biaya akibat kenaikan energi dan logistik, tetapi juga perubahan arus perdagangan yang dapat berlangsung cepat dan tidak terduga. Oleh karena itu, respons tidak dapat bersifat parsial, melainkan harus mampu menjawab dua tekanan yang muncul secara bersamaan: gangguan pasokan dan tekanan pasar.
Pada sisi pasokan, langkah paling mendesak berada pada level pelaku industri, khususnya perusahaan yang bergantung pada impor semi-finished. Diversifikasi pemasok menjadi kebutuhan operasional yang tidak dapat ditunda untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur berisiko tinggi seperti Selat Hormuz. Pengalihan pasokan dapat diarahkan ke negara produsen lain seperti Brazil sebagai eksportir utama slab global, serta negara dengan kapasitas produksi besar seperti China dan India yang dalam kondisi tertentu dapat menjadi sumber alternatif. Rusia juga dapat menjadi opsi tambahan, meskipun pemanfaatannya cenderung lebih terbatas karena dipengaruhi oleh faktor sanksi dan dinamika perdagangan internasional. Dengan demikian, strategi pasokan perlu bergeser dari ketergantungan pada satu kawasan menuju struktur yang lebih terdiversifikasi dan resilien.
Namun, kemampuan pelaku industri untuk melakukan penyesuaian tersebut sangat dipengaruhi oleh dukungan kebijakan. Pemerintah perlu memastikan bahwa kerangka pengaturan memungkinkan fleksibilitas dalam pengadaan bahan baku, termasuk melalui percepatan proses perizinan dan penyesuaian aturan impor untuk bahan baku strategis. Tanpa dukungan ini, upaya diversifikasi berpotensi terhambat oleh rigiditas administratif pada saat respons cepat justru dibutuhkan. Selain itu, penguatan sistem monitoring pasokan juga menjadi penting agar potensi gangguan dapat diidentifikasi lebih dini dan direspons secara terkoordinasi.
Pada sisi pasar, perubahan arus perdagangan global menuntut respons yang tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari pelaku industri. Produsen domestik perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika harga dan volume impor, termasuk dengan menyesuaikan strategi pemasaran dan menjaga efisiensi biaya untuk tetap kompetitif di tengah tekanan harga. Di saat yang sama, pemerintah perlu memperkuat sistem monitoring arus perdagangan sebagai dasar bagi respons kebijakan yang lebih cepat dan terarah. Sistem peringatan dini yang efektif memungkinkan deteksi lonjakan impor sebelum dampaknya meluas ke harga domestik.
Instrumen perdagangan seperti trade remedies dan pengawasan impor perlu dioptimalkan agar perlindungan pasar tetap berjalan tanpa mengganggu kebutuhan bahan baku industri. Dalam konteks ini, kecepatan respons menjadi faktor kunci, mengingat pergeseran arus perdagangan global dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat ketika eksportir besar seperti China mengalihkan tujuan pasarnya.
Kedua pendekatan tersebut harus dijalankan secara seimbang. Upaya pelaku industri dalam menjaga kelangsungan pasokan tanpa dukungan pengendalian impor berisiko membuka tekanan terhadap pasar domestik, sementara kebijakan proteksi tanpa memastikan kelancaran pasokan dapat mengganggu produksi industri hilir. Oleh karena itu, keterpaduan antara strategi perusahaan dan kebijakan pemerintah menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas sektor baja nasional.
Dalam situasi ketidakpastian global yang meningkat, kemampuan untuk merespons secara cepat, terarah, dan terkoordinasi menjadi kunci. Industri dan pemerintah perlu bergerak dalam kerangka yang saling melengkapi—pelaku industri memastikan ketahanan operasional melalui adaptasi strategi pasokan dan efisiensi, sementara pemerintah menjaga stabilitas pasar melalui instrumen kebijakan yang responsif. Dengan pendekatan tersebut, tekanan eksternal tidak hanya dapat dikelola, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat struktur industri baja nasional.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.