
Ketika rolling mill di Cilegon berhenti, blast furnace di Scunthorpe terancam padam, dan pabrik baja bersejarah di Zenica memasuki krisis, dunia seolah menyaksikan babak akhir dari sebuah era industri. Namun, di balik angka-angka kerugian dan deretan pabrik yang tutup, muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah ini senjakala yang tak terelakkan, atau awal dari gelombang perlawanan negara terhadap arus deindustrialisasi? Sebab, penutupan pabrik baja tidak hanya terjadi di Indonesia. Dari Asia, Eropa hingga Afrika, produsen baja domestik menghadapi tekanan yang relatif sama: impor murah, kelebihan kapasitas global, biaya energi tinggi, dan pelemahan permintaan. Yang membedakan adalah bagaimana negara merespons agar basis industri strategis tidak hilang.
Gelombang Penutupan Pabrik Baja Lintas Negara
Penutupan Krakatau Osaka Steel di Cilegon perlu ditempatkan dalam peta tekanan global industri baja. Peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Dalam dua tahun terakhir, gejala serupa terlihat di Scunthorpe, Pohang, Zenica, Newcastle, Vereeniging, dan sejumlah pusat industri baja lain. Polanya relatif sama: baja impor murah menekan harga domestik, utilisasi turun, margin melemah, biaya energi dan logistik tetap tinggi, lalu pabrik masuk ke fase idling, restrukturisasi, atau penutupan.
Di Indonesia, Krakatau Osaka Steel menghentikan produksi pada akhir April 2026 dan operasinya ditargetkan berhenti penuh pada Juni 2026. Pemerintah menyebut tekanan yang dihadapi perusahaan tidak hanya berasal dari pelemahan permintaan konstruksi, tetapi juga dari meningkatnya kompetisi baja impor berharga rendah di tengah oversupply global. Sebelumnya, Ispat Indo juga telah menutup operasi wire rod, sehingga penutupan di Cilegon memperlihatkan bahwa tekanan terhadap segmen long products tidak lagi bersifat individual, tetapi mulai menunjukkan pola yang lebih luas.
Di Inggris, ancaman penutupan British Steel di Scunthorpe menunjukkan bahwa tekanan terhadap industri baja tidak hanya terjadi di negara berkembang. Scunthorpe merupakan salah satu basis penting produksi baja primer Inggris. Ketika blast furnace dan operasi steelmaking terancam berhenti, risiko yang muncul tidak hanya terkait satu perusahaan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan kapasitas baja primer nasional, ribuan pekerjaan, dan rantai pasok industri. Karena itu, kasus Scunthorpe menjadi contoh awal bahwa tekanan terhadap industri baja domestik telah masuk ke wilayah strategis: ketika pabrik baja berhenti, negara dapat kehilangan kemampuan produksi yang sulit dibangun kembali.
Di Korea Selatan, tekanan serupa terlihat di Pohang. POSCO menutup Unit 1 wire rod mill setelah lebih dari 45 tahun beroperasi. Keputusan itu dikaitkan dengan persaingan ketat dan oversupply global wire rod dari produk baja murah China, selain faktor fasilitas yang sudah tua. Masuknya produk wire rod murah ke pasar domestik menekan harga, sehingga perusahaan memilih mengurangi pasokan produk bernilai rendah dan memperkuat efisiensi operasional. Pohang menjadi penting karena kota ini bukan hanya lokasi pabrik, tetapi ekosistem industri baja yang melibatkan pemasok, pekerja, logistik, dan ekonomi kota.
Di Bosnia-Herzegovina, penutupan pabrik baja Zenica memperlihatkan dimensi sosial dari krisis baja. Pabrik berusia 130 tahun itu berhenti beroperasi dan memicu demonstrasi pekerja karena dipandang sebagai bagian penting dari identitas industri kota. Dokumen yang Bapak unggah mencatat bahwa pekerja memprotes penutupan pabrik baja terakhir Bosnia dan menyebut ribuan pekerjaan terancam. Penyebab yang disebut mencakup masalah logistik, baja impor murah, dan tidak adanya langkah proteksi pemerintah yang cukup untuk menjaga industri.
Di Afrika Selatan, tekanan muncul pada operasi long steel ArcelorMittal South Africa yang terkait dengan Newcastle dan Vereeniging. Fasilitas ini menghadapi kombinasi permintaan domestik yang lemah, biaya listrik dan logistik tinggi, kompetisi mini-mill berbasis scrap, serta impor China. Penghentian operasi long steel membawa risiko besar karena produk ini terkait dengan konstruksi, pertambangan, manufaktur, dan infrastruktur, serta berpotensi menghilangkan ribuan pekerjaan langsung dan tidak langsung.
Kasus-kasus tersebut hanya sebagian contoh dari gelombang tekanan yang lebih luas. Di luar Scunthorpe, Pohang, Zenica, Newcastle, Vereeniging, dan Cilegon, berbagai negara juga mencatat penutupan, idling, ancaman penutupan, atau restrukturisasi fasilitas baja akibat kombinasi tekanan impor murah, kelebihan kapasitas global, pelemahan permintaan, dan biaya produksi yang tidak lagi kompetitif. Artinya, contoh yang disebutkan bukan pengecualian, melainkan bagian dari pola global yang lebih besar: industri baja domestik di banyak negara sedang menghadapi tekanan harga dan kapasitas yang sama.
China, Harga Murah, dan Kerusakan Struktur Pasar Domestik
Dalam beberapa tahun terakhir, sumber tekanan utama berasal dari membesarnya surplus domestik China. Produksi baja China tetap berada di sekitar 1 miliar ton per tahun, tetapi demand domestiknya turun dari sekitar 1.020 juta ton pada 2020 menjadi 857 juta ton pada 2024. Selisih antara produksi dan kebutuhan domestik itu membuat surplus China tetap besar dan semakin melebar, dari 45 juta ton pada 2020 menjadi 148 juta ton pada 2024. Dampaknya langsung terlihat pada ekspor. Ekspor baja China naik dari 53 juta ton pada 2020 menjadi 66 juta ton pada 2021, 67 juta ton pada 2022, 90 juta ton pada 2023, dan 110 juta ton pada 2024. Surplus yang membesar inilah yang menjadi sumber tekanan harga global, karena baja yang tidak terserap di pasar domestik China dialihkan ke pasar ekspor dan menjadi acuan harga baru di banyak negara.
Namun tekanan harga itu tidak hanya bersumber dari volume. Harga ekspor China yang rendah juga terbentuk dalam ekosistem dukungan negara yang bekerja di hampir seluruh rantai biaya produksi, mulai dari pengamanan bahan baku, subsidi energi, dukungan fiskal, pembiayaan murah, hingga dukungan logistik. Beberapa laporan dan analisis menunjukkan bahwa margin industri baja China berada dalam tekanan berat. Margin produk seperti rebar dan HRC masuk ke area negatif dalam beberapa periode. Dengan kata lain, produsen China tetap mempertahankan produksi dan ekspor meskipun margin industri tidak sehat. Karena itu, harga ekspor China yang masuk ke pasar global tidak sepenuhnya mencerminkan keekonomian produksi yang berkelanjutan, melainkan harga yang terbentuk dari kombinasi kapasitas berlebih, margin negatif, dan dukungan kebijakan negara. Ketika harga tersebut menjadi acuan di negara tujuan, produsen domestik tidak hanya kehilangan pasar, tetapi juga kehilangan ruang harga untuk menutup biaya produksi secara layak.
OECD menempatkan tekanan tersebut dalam kerangka yang lebih luas. Kelebihan kapasitas baja global diperkirakan dapat meningkat menjadi 721 juta ton pada 2027, jauh melampaui total produksi baja seluruh negara OECD. Artinya, tekanan harga yang berasal dari surplus China tidak berdiri sendiri, tetapi berlangsung di tengah pasar global yang memang kelebihan kapasitas. Dalam kondisi seperti ini, ekspor dari negara berkapasitas besar semakin mudah menekan harga di negara tujuan, terutama ketika didukung oleh subsidi, pembiayaan murah, dukungan energi, dan berbagai kebijakan yang menurunkan biaya produksi. OECD bahkan mencatat bahwa tingkat subsidi baja China sebagai persentase pendapatan perusahaan sekitar sepuluh kali lebih tinggi dibanding negara-negara OECD. Dengan demikian, tekanan terhadap produsen baja domestik di berbagai negara bukan hanya akibat persaingan dagang biasa, tetapi akibat kombinasi kapasitas berlebih, harga ekspor yang terdistorsi, dan dukungan kebijakan yang membuat struktur harga global bergerak di bawah keekonomian banyak produsen lokal.
Dampaknya kemudian muncul di pasar domestik berbagai negara. Ketika baja murah China masuk, baik langsung maupun melalui jalur perdagangan lain, harga impor itu menjadi pembanding baru bagi pembeli. Produsen lokal yang memiliki struktur biaya domestik harus memilih antara mempertahankan harga sesuai keekonomian pabrik atau mengikuti harga impor agar tidak kehilangan pasar. Dalam banyak kasus, pilihan kedua membuat margin semakin tipis, utilisasi menurun, arus kas melemah, dan investasi tertunda. Bila tekanan berlangsung cukup lama, fasilitas produksi masuk ke fase idling, restrukturisasi, atau penutupan. Karena itu, masalah baja murah China tidak hanya terletak pada besarnya volume ekspor, tetapi pada kemampuannya merusak struktur harga domestik di banyak negara.
Intervensi Negara: Dari Penyelamatan Pabrik hingga Perlindungan Pasar
Yang membuat fenomena penutupan pabrik baja ini penting bukan hanya banyaknya fasilitas yang tertekan, tetapi bagaimana negara merespons risiko hilangnya kapasitas industri baja. Di berbagai negara, tekanan terhadap pabrik baja tidak diperlakukan semata-mata sebagai persoalan korporasi. Respons yang muncul masuk ke ranah kebijakan nasional: intervensi langsung, strategi industri, dukungan pembiayaan, perlindungan dari impor tidak adil, penguatan daya saing, penataan rantai pasok, dukungan kawasan industri, dan perlindungan pasar domestik. Rangkaian respons ini menjadi rujukan penting untuk melihat bahwa perlindungan industri baja membutuhkan instrumen yang lebih luas dan saling melengkapi.
Inggris menjadi contoh paling tegas dalam menjaga kapasitas strategis. Ketika British Steel di Scunthorpe terancam menghentikan blast furnace dan operasi steelmaking, isu tersebut diperlakukan sebagai risiko terhadap kapasitas baja primer nasional. Pemerintah Inggris tidak hanya mengambil langkah darurat melalui Steel Industry Special Measures Act 2025, tetapi juga menempatkannya dalam kerangka UK Steel Strategy. Dalam strategi tersebut, Inggris menyiapkan dukungan langsung sekitar £2,5 miliar atau sekitar Rp70–75 triliun untuk mendukung, membangun kembali, dan memodernisasi industri baja Inggris. Di dalamnya termasuk £500 juta grant untuk transformasi Tata Steel Port Talbot, lebih dari £420 juta tambahan investasi pemerintah untuk Sheffield Forgemasters, £11 juta untuk program EPSRC/IGNITE R&D, serta lebih dari £600 juta untuk pengembangan kawasan industri dan infrastruktur pendukung. Dukungan ini diperkuat dengan akses pembiayaan yang jauh lebih besar, termasuk kapasitas UK Export Finance sekitar £80 miliar dan modal National Wealth Fund sekitar £5,8 miliar untuk menarik investasi swasta dan mendukung proyek strategis. Dari Inggris terlihat bahwa perlindungan industri baja tidak hanya dilakukan melalui penyelamatan darurat, tetapi juga melalui strategi industri, pembiayaan, dukungan investasi, penguatan permintaan domestik, dan perlindungan pasar.
Korea Selatan menunjukkan benchmark lain: menjaga industri baja melalui paket nasional yang menggabungkan pembiayaan, restrukturisasi, perlindungan impor, dan dukungan kawasan industri. Tekanan terhadap POSCO, Hyundai Steel, dan ekosistem industri di Pohang tidak diperlakukan sebagai persoalan satu kota atau satu perusahaan, tetapi sebagai bagian dari tekanan terhadap industri baja nasional. Pemerintah Korea Selatan menyiapkan paket dukungan sekitar 80 triliun won atau lebih dari Rp850 triliun, setara sekitar USD54 miliar. Paket ini mencakup 25 triliun won pembiayaan dari pemerintah dan lebih dari 51 triliun won dari dukungan sektor swasta serta pembiayaan terkait rantai pasok. Sebelumnya, pemerintah juga telah menyiapkan paket 570 miliar won pada 2025, termasuk 400 miliar won jaminan ekspor dan rantai pasok serta 170 miliar won pembiayaan kebijakan untuk modernisasi dan penyesuaian kapasitas. Selain itu, paket Korea mencakup stabilisasi keuangan dan likuiditas, refinancing, dukungan P-CBO melalui Korea Credit Guarantee Fund, pembiayaan untuk obligasi yang jatuh tempo, restrukturisasi kapasitas, perlindungan dari impor tidak adil melalui anti-dumping duty, investasi sekitar 20 miliar won sampai 2030 untuk pengembangan baja khusus dan rendah karbon, serta penguatan ekspor dan rantai pasok. Dalam kerangka ini, penetapan Pohang sebagai special zone for preemptive response to industrial crisis menjadi instrumen teritorial untuk memperkuat dukungan kepada kawasan industri baja yang terdampak. Dari Korea Selatan terlihat bahwa perlindungan industri baja tidak cukup dilakukan melalui pengendalian impor saja, tetapi perlu disertai pembiayaan, stabilisasi likuiditas, modernisasi, penyesuaian kapasitas, dan dukungan kawasan industri.
Bosnia-Herzegovina menunjukkan bahwa ketika pabrik baja menjadi pusat ekonomi kota, respons negara dapat bergerak sampai ke opsi pengambilalihan dan restrukturisasi. Setelah produksi Nova Željezara Zenica dihentikan, penutupan pabrik baja terakhir Bosnia segera berubah menjadi isu sosial dan politik. Sekitar 3.000 orang turun dalam demonstrasi, termasuk pekerja metal, serikat buruh, dan warga Zenica. Pemerintah Federation of Bosnia and Herzegovina kemudian mempertimbangkan mengambil kembali kendali atas pabrik untuk mencegah kebangkrutan, menjaga pekerjaan, dan menstabilkan operasi. Dalam kasus ini, pemerintah membaca penutupan pabrik bukan hanya sebagai masalah pemilik perusahaan, tetapi sebagai risiko terhadap kota industri dan rantai ekonomi yang bergantung pada pabrik tersebut. Dari Bosnia-Herzegovina terlihat bahwa ketika pabrik baja menjadi aset strategis bagi kota dan ekonomi lokal, opsi kebijakan dapat mencakup restrukturisasi kepemilikan, stabilisasi operasi, dan perlindungan terhadap basis industri daerah.
Afrika Selatan memperlihatkan pentingnya instrumen biaya dan pembiayaan. Tekanan terhadap ArcelorMittal South Africa di Newcastle dan Vereeniging muncul karena kombinasi permintaan domestik lemah, biaya listrik dan logistik tinggi, kompetisi mini-mill berbasis scrap, serta impor China. Pemerintah dan lembaga terkait kemudian membahas dukungan bagi perusahaan, termasuk kemungkinan tarif listrik khusus melalui negotiated pricing agreement. Regulator listrik Afrika Selatan, NERSA, mendukung permintaan ArcelorMittal South Africa untuk memperoleh tarif listrik diskon, meskipun implementasinya tetap harus dinegosiasikan dengan Eskom. Dari Afrika Selatan terlihat bahwa perlindungan industri baja tidak hanya terkait tarif impor, tetapi juga struktur biaya domestik, terutama energi, logistik, dan pembiayaan yang menentukan keekonomian operasi pabrik.
Uni Eropa memberi benchmark perlindungan pasar di tingkat kawasan. Tekanan yang dihadapi produsen baja Eropa tidak hanya berasal dari pelemahan permintaan, tetapi juga dari overcapacity global dan trade diversion. Karena itu, Uni Eropa menyiapkan kerangka perlindungan baru untuk menggantikan safeguard yang berakhir pada Juni 2026, dengan membatasi kuota impor baja bebas tarif menjadi sekitar 18,3 juta ton per tahun, turun sekitar 47 persen dari kuota 2024, serta menaikkan bea out-of-quota menjadi 50 persen. Kebijakan ini menunjukkan bahwa perlindungan pasar tidak dipandang sebagai langkah terpisah dari strategi industri, tetapi sebagai instrumen untuk menjaga kapasitas produksi, pekerjaan, dan daya saing baja Eropa. Dari Uni Eropa terlihat bahwa ketika tekanan global berlangsung melalui volume dan harga, respons kebijakan perlu menyasar keduanya: membatasi limpahan volume impor dan mengoreksi tekanan harga melalui tarif serta instrumen perdagangan.
Dalam konteks Indonesia, sejumlah langkah telah ditempuh untuk merespons tekanan impor dan praktik perdagangan tidak adil, antara lain melalui pengendalian impor, penguatan instrumen trade remedies, penerapan SNI wajib, serta pengawasan terhadap penyelundupan dan impor ilegal. Namun, dinamika global yang semakin berat membuat efektivitas berbagai instrumen tersebut perlu terus dievaluasi dan diperkuat agar risiko penutupan pabrik seperti Krakatau Osaka Steel dan Ispat Indo tidak semakin meluas. Penutupan keduanya menunjukkan bahwa tekanan global terhadap industri baja masih memerlukan respons kebijakan yang berkelanjutan dan lebih terkoordinasi. Dalam konteks itu, Kemenperin menegaskan perlunya penguatan kebijakan perlindungan industri baja nasional, termasuk melalui penguatan SNI wajib dan pengendalian impor.
Dari berbagai benchmark tersebut, arah penguatan instrumen bagi Indonesia menjadi lebih jelas. Inggris menunjukkan pentingnya strategi industri dan dukungan investasi. Korea Selatan menunjukkan pentingnya pembiayaan, restrukturisasi, perlindungan impor, dan dukungan kawasan industri. Bosnia-Herzegovina menunjukkan pentingnya menjaga aset industri yang menjadi tulang punggung kota. Afrika Selatan menunjukkan pentingnya dukungan energi dan pembiayaan untuk menurunkan beban biaya struktural. Uni Eropa menunjukkan pentingnya perlindungan pasar melalui kuota, tarif, dan trade defense. Dengan demikian, penguatan instrumen perlindungan industri baja Indonesia tidak cukup bertumpu pada satu kebijakan, tetapi perlu dirancang sebagai paket yang lebih komprehensif untuk menjawab tekanan volume impor, distorsi harga, biaya produksi, dan risiko hilangnya kapasitas industri strategis.
Menata Langkah di Tengah Badai Industri Baja Global
Penutupan Krakatau Osaka Steel harus menjadi alarm penting bagi Indonesia untuk menjaga industri baja sebagai industri strategis nasional, sekaligus momentum untuk mengembangkan instrumen kebijakan perlindungan yang lebih komprehensif sebagaimana dilakukan berbagai negara. Tekanan yang dihadapi industri baja tidak lagi dapat dibaca sebagai tekanan pasar biasa, karena banyak negara telah memperlakukan baja sebagai sektor yang harus dijaga melalui kombinasi strategi industri, pembiayaan, perlindungan perdagangan, dukungan biaya, dan koordinasi kebijakan.
Tanpa perlindungan yang komprehensif, industri baja nasional akan terus ditempatkan dalam persaingan global yang semakin tidak adil dan mengancam keberlangsungan industri secara keseluruhan. Penguatan kebijakan industri baja hari ini harus dipandang sebagai investasi untuk membangun kemandirian industri menuju Visi Indonesia 2045.
Dalam kondisi global saat ini, kemampuan Indonesia menjaga industri baja bukan hanya menentukan keberlangsungan satu sektor, tetapi juga menentukan kekuatan fondasi industrialisasi nasional. Karena itu, penutupan pabrik baja perlu dibaca sebagai sinyal untuk memperkuat arah kebijakan, sebelum tekanan global berkembang menjadi pelemahan permanen basis industri nasional.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.