
Pada periode 1–14 Maret 2026, pasar baja global terus menunjukkan disparitas harga yang cukup lebar antar-kawasan, dengan level harga di Asia Timur, India, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Utara bergerak pada kisaran yang berbeda seiring langkah perlindungan perdagangan serta kondisi pasar domestik masing-masing. Sejumlah negara juga semakin aktif menggunakan instrumen trade remedies untuk menahan tekanan impor. Pada saat yang sama, berbagai pengumuman investasi industri baja terus bermunculan, baik dalam bentuk ekspansi kapasitas maupun pengembangan teknologi produksi baja rendah karbon. Dinamika ini menunjukkan bahwa arah industri baja global semakin dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan perdagangan dan keputusan investasi jangka panjang pemerintah serta pelaku industri di berbagai kawasan.
I. Perkembangan Harga Baja Periode 1–14 Maret 2026
Pada periode 1–14 Maret 2026, pasar baja global terus menunjukkan pola pergerakan yang semakin terfragmentasi antar kawasan. Harga baja di Amerika Serikat dan Eropa tetap berada pada tingkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan lain, sementara pasar Asia relatif bergerak dalam rentang yang lebih sempit. Perbedaan tingkat harga ini mencerminkan struktur pasar yang berbeda antara wilayah dengan perlindungan perdagangan yang kuat dan wilayah yang lebih terbuka terhadap arus ekspor baja global.
Di Amerika Serikat, harga hot-rolled coil (HRC) berada pada kisaran USD 1.005–1.020 per ton, mempertahankan posisi sebagai pasar dengan harga tertinggi secara global. Kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir didukung oleh kombinasi permintaan domestik yang relatif stabil, tingkat persediaan yang terkendali di service center, serta volume impor yang masih terbatas. Pada saat yang sama, margin metalurgi produsen baja dilaporkan mencapai tingkat tertinggi sejak awal 2024, menunjukkan kondisi profitabilitas yang kuat bagi pabrik baja domestik, khususnya produsen berbasis electric arc furnace (EAF). Harga rebar di pasar Amerika Serikat juga tercatat pada kisaran USD 930–940 per ton.
Pasar Eropa juga menunjukkan tren harga yang relatif tinggi dibandingkan kawasan lain. Harga HRC berada pada kisaran USD 790–815 per ton, sementara produk hilir seperti CRC berada pada kisaran USD 900–940 per ton dan GI pada kisaran USD 900–955 per ton. Untuk produk panjang, harga rebar tercatat pada kisaran USD 690–745 per ton. Namun demikian, aktivitas pasar dilaporkan masih relatif terbatas karena permintaan yang lemah di sektor manufaktur dan konstruksi. Sejumlah pembeli masih menahan pembelian sambil menunggu kejelasan perkembangan biaya energi serta dampak kebijakan perdagangan seperti mekanisme CBAM dan pengaturan kuota safeguard.
Berbeda dengan Amerika Serikat dan Eropa, pasar Asia menunjukkan dinamika harga yang lebih moderat. Di Tiongkok, harga HRC bergerak pada kisaran USD 470–485 per ton, sementara rebar berada pada kisaran USD 460–480 per ton. Untuk produk hilir, CRC berada pada kisaran USD 520–545 per ton dan GI sekitar USD 530–555 per ton, sedangkan wire rod tercatat pada kisaran USD 510–525 per ton. Pergerakan harga yang relatif terbatas mencerminkan kondisi permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih, sehingga tekanan kelebihan kapasitas masih menjadi faktor yang membayangi pasar.
Di kawasan Asia Selatan, harga baja di India berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan Tiongkok, dengan HRC berada pada kisaran USD 540–565 per ton dan rebar sekitar USD 500–530 per ton. Produk hilir juga berada pada tingkat yang lebih tinggi, dengan CRC pada kisaran USD 600–630 per ton dan GI pada kisaran USD 610–635 per ton. Selain itu, wire rod tercatat pada kisaran USD 540–560 per ton, sementara billet berada pada sekitar USD 500 per ton.
Sementara itu, pasar di Turki menunjukkan harga HRC pada kisaran USD 580–605 per ton dan rebar pada kisaran USD 550–575 per ton. Pergerakan harga di kawasan ini dipengaruhi oleh fluktuasi biaya bahan baku, khususnya scrap, serta dinamika permintaan di pasar ekspor tradisional Turki di kawasan Eropa dan Timur Tengah.
Secara keseluruhan, perkembangan harga pada awal Maret menunjukkan bahwa pasar baja global masih ditandai oleh disparitas harga yang lebar antar kawasan. Amerika Serikat dan Eropa berada pada tingkat harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan Asia, sementara kawasan Asia tetap menjadi pusat produksi dengan harga yang lebih kompetitif. Perbedaan tingkat harga antar kawasan ini berpotensi terus mempengaruhi arus perdagangan baja global, terutama ketika selisih harga antar kawasan semakin membuka peluang arbitrase perdagangan dan pergeseran aliran ekspor ke pasar yang lebih terbuka.
Ringkasan Harga Baja – Periode 1–14 Maret 2026 (USD/ton)
| Region | HRC | Rebar | CRC | GI | Wire Rod | Billet |
| China | 470–485 | 460–480 | 520–545 | 530–555 | 510–525 | – |
| ASEAN | 490–515 | 470–495 | – | – | – | – |
| India | 540–565 | 500–530 | 600–630 | 610–635 | 540–560 | 500 |
| Turkey | 580–605 | 550–575 | – | – | – | – |
| Europe | 790–815 | 690–745 | 900–940 | 900–955 | – | – |
| United States | 1005–1020 | 930–940 | – | – | – | – |
II. Kebijakan & Trade Remedies Periode 1–14 Maret 2026
Perkembangan kebijakan perdagangan baja global pada awal Maret 2026 menunjukkan kecenderungan semakin luasnya penggunaan instrumen trade remedies oleh berbagai negara. Instrumen seperti anti-dumping, safeguard, maupun investigasi perdagangan kembali menjadi alat utama pemerintah untuk merespons tekanan impor di sektor baja.
Di Inggris, pemerintah secara resmi menerima rekomendasi Trade Remedies Authority (TRA) untuk mengenakan bea anti-dumping terhadap impor tin mill products asal Tiongkok. Dalam keputusan final tersebut ditetapkan tarif individual sebesar 27,85 persen bagi Shougang Group dan 49,98 persen bagi eksportir Tiongkok lainnya, yang mulai berlaku pada 13 Maret 2026. Investigasi menemukan bahwa produk tinplate asal Tiongkok dijual 28–50 persen lebih rendah dibanding harga domestik, sehingga dinilai menyebabkan kerugian bagi industri baja Inggris.
Di Amerika Serikat, Departemen Perdagangan juga mengumumkan penetapan sementara (preliminary determination) dalam investigasi anti-dumping terhadap reinforcing steel bars (rebar) asal Vietnam. Tarif sementara ditetapkan pada tingkat yang sangat tinggi, yaitu 121,97 persen bagi perusahaan responden utama dan hingga 130,77 persen bagi eksportir lainnya, menjadikannya salah satu kasus anti-dumping dengan tarif tertinggi yang dikenakan terhadap produk baja Vietnam. Keputusan final diperkirakan akan diumumkan pada pertengahan 2026 setelah proses verifikasi dan evaluasi lanjutan.
Selain pengenaan tarif, sejumlah negara juga memulai investigasi safeguard terhadap produk baja tertentu. Federasi Rusia melalui mekanisme Eurasian Economic Union telah memberitahukan kepada WTO mengenai dimulainya investigasi safeguard terhadap impor tinplate, yang bertujuan menilai apakah lonjakan impor telah menyebabkan atau mengancam kerugian serius bagi industri domestik.
Di India, Directorate General of Trade Remedies (DGTR) juga tengah menjalankan investigasi safeguard terhadap impor produk baja lembaran non-alloy dan alloy, serta investigasi anti-dumping terhadap cold-rolled stainless steel flat products seri 300 dan 400 yang berasal dari Tiongkok, Indonesia, dan Vietnam. Proses investigasi tersebut masih berlangsung dan mencakup tahap pengumpulan data serta partisipasi para pemangku kepentingan industri.
Secara keseluruhan, rangkaian tindakan tersebut memperlihatkan bahwa sektor baja global tetap menjadi salah satu industri yang paling intensif menggunakan instrumen trade remedies. Kelebihan kapasitas produksi global serta tekanan ekspor dari negara produsen utama terus mendorong pemerintah di berbagai kawasan untuk memperkuat perlindungan terhadap industri baja domestik melalui kebijakan perdagangan yang lebih aktif.
Ringkasan Trade Remedies Baja Global – Periode 1–14 Maret 2026
| Negara | Instrumen | Produk | Negara Terdampak | Status | Besaran Tarif | Catatan |
| Inggris | Anti-Dumping (AD) | Tin mill products (tinplate / tin-coated steel) | China | Definitive measure | 27,85% (Shougang); 49,98% (eksportir lainnya) | Berlaku mulai 13 Maret 2026 |
| Amerika Serikat | Anti-Dumping (AD) | Reinforcing steel bars (rebar) | Vietnam | Preliminary determination | 121,97% (mandatory respondent); hingga 130,77% (lainnya) | Final decision diperkirakan Juli 2026 |
| Rusia / Eurasian Economic Union | Safeguard investigation | Tinplate | Global imports | Investigation initiated | Tahap investigasi | Investigasi dimulai 4 Maret 2026 |
| India | Safeguard investigation | Non-alloy and alloy steel flat products | Global imports | Investigation ongoing | Tahap investigasi | Kasus safeguard dimulai oleh DGTR |
| India | Anti-Dumping investigation | Stainless steel cold-rolled flat products (series 300 & 400) | China, Indonesia, Vietnam | Investigation ongoing | Tahap investigasi | Kasus AD yang sedang berjalan |
III. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel Periode 1–14 Maret 2026
Gelombang investasi baru di industri baja global menunjukkan bahwa transformasi sektor ini tidak hanya didorong oleh dinamika pasar, tetapi juga oleh agenda strategis pemerintah dan korporasi dalam memperkuat kapasitas industri jangka panjang. Sejumlah proyek investasi yang diumumkan dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan fokus yang semakin kuat pada pengembangan teknologi produksi rendah karbon, ekspansi kapasitas industri, serta penguatan ekosistem tenaga kerja yang mendukung sektor manufaktur berat.
Di Eropa, proyek baja hijau di Swedia kembali menarik perhatian setelah perusahaan Stegra memperoleh tambahan pendanaan melalui penerbitan sekitar 850 juta saham baru untuk mendukung pembangunan fasilitas produksi baja rendah karbon di Boden. Dalam skema ini, konglomerat Turki Koç Holding turut menjadi investor baru dengan mengambil sekitar dua persen dari saham yang diterbitkan, menandai langkah awal grup industri tersebut untuk memasuki sektor baja global sekaligus mendukung transformasi menuju produksi baja rendah emisi.
Di Asia Selatan, India juga menunjukkan dinamika investasi yang kuat melalui rencana Tata Steel yang akan menanamkan investasi sekitar ₹11.000 crore untuk pengembangan teknologi baja hijau di negara bagian Jharkhand. Selain itu, Steel Exchange India memperoleh tambahan pendanaan sebesar ₹350 crore untuk memperkuat operasional perusahaan, sementara IMR Group mengumumkan rencana investasi hingga USD 3 miliar guna memperluas kapasitas dan memperkuat rantai pasok perusahaan tersebut.
Sementara itu di Afrika, pemerintah Nigeria tengah berupaya menarik investor internasional untuk mengembangkan industri baja domestik dengan potensi nilai pasar mencapai sekitar USD 10 miliar. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor baja sekaligus mendorong industrialisasi berbasis sumber daya mineral domestik.
Di Amerika Utara, pemerintah Kanada juga mengumumkan program investasi hingga USD 94,5 juta selama lima tahun untuk memperkuat pengembangan tenaga kerja di berbagai sektor strategis, termasuk manufaktur maju dan industri berat. Program ini diarahkan untuk menghasilkan data pasar tenaga kerja yang lebih terintegrasi serta meningkatkan kesiapan tenaga kerja dalam menghadapi transformasi industri dan perubahan struktur ekonomi global.
Secara keseluruhan, rangkaian investasi ini menunjukkan bahwa industri baja global sedang memasuki fase transformasi yang ditandai oleh dua arah utama. Di satu sisi, sejumlah negara dan perusahaan berupaya memperluas kapasitas industri untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok global. Di sisi lain, tekanan terhadap dekarbonisasi dan transisi energi mendorong percepatan investasi pada teknologi produksi baja rendah karbon yang diperkirakan akan menjadi salah satu pilar utama perkembangan industri baja dalam dekade mendatang.
Ringkasan Investasi Baja Global Periode 1 – 14 Maret 2026
| Negara | Perusahaan | Jenis Proyek | Nilai Investasi | Keterangan |
| Nigeria | Pemerintah Nigeria | Pengembangan industri baja nasional | ± USD 10 miliar | Pemerintah mencari investor untuk mengembangkan pasar baja domestik dan mengurangi ketergantungan impor. |
| Swedia | Stegra (Green Steel Project) | Pembangunan fasilitas baja rendah karbon | pendanaan melalui penerbitan saham baru | Koç Holding Turki menjadi investor baru melalui partisipasi dalam penerbitan ±850 juta saham untuk mendukung pembangunan pabrik baja hijau di Boden. |
| Swedia / Turki | Koç Holding | Investasi ekuitas di perusahaan baja hijau | kepemilikan sekitar 2% saham baru | Menandai masuknya konglomerat Turki ke industri baja global sekaligus mendukung produksi baja rendah karbon. |
| India | Tata Steel | Pengembangan teknologi green steel | ₹11.000 crore (≈ USD 1,3 miliar) | Investasi diarahkan untuk pengembangan teknologi baja rendah emisi di Jharkhand. |
| India | Steel Exchange India | Ekspansi operasi dan kapasitas | ₹350 crore | Pendanaan digunakan untuk memperkuat operasi dan pengembangan fasilitas produksi. |
| India | IMR Group | Investasi pada Steel Exchange India | USD 3 miliar | Investasi untuk ekspansi bisnis dan penguatan rantai pasok baja. |
| Kanada | Pemerintah Kanada | Program penguatan tenaga kerja sektor industri | hingga USD 94,5 juta | Program lima tahun untuk meningkatkan kesiapan tenaga kerja di berbagai sektor strategis termasuk industri manufaktur dan industri berat. |
Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.