
Pada periode 19–31 Januari 2026, dinamika industri baja global ditandai oleh stabilitas harga dalam rentang terbatas di berbagai kawasan, seiring berlanjutnya fase konsolidasi awal tahun. Di luar pergerakan harga, perhatian utama pasar tertuju pada penguatan kebijakan trade remedies serta gelombang investasi yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan inisiatif green steel. Perkembangan ini menegaskan bahwa arah industri baja global semakin ditentukan oleh kebijakan dan strategi investasi jangka menengah, dengan respons antar-kawasan yang mencerminkan perbedaan prioritas nasional dalam menghadapi tekanan perdagangan dan transisi industri.
I. Perkembangan Harga Baja Periode 19-31 Januari 2026
Periode 19–31 Januari 2026 memperlihatkan pasar baja global berada dalam fase konsolidasi dengan segmentasi yang semakin jelas antar-kawasan, di mana pembentukan harga lebih ditentukan oleh struktur biaya, rezim perdagangan, dan kebijakan regional dibandingkan dorongan permintaan yang seragam.
Di China, harga baja domestik bergerak dalam rentang terbatas setelah dikonversi dari RMB ke USD. Harga HRC berada di kisaran USD 470–475 per ton, mencerminkan stabilitas pasar flat steel di tengah permintaan hilir yang belum kuat. Produk panjang menunjukkan rentang yang lebih lebar, dengan rebar berada di kisaran USD 455–485 per ton, akibat perbedaan level harga antar sumber domestik. Wire rod dan produk hilir lain juga bergerak relatif sempit, menandakan pasar masih berhati-hati dan belum menemukan katalis baru.
Di ASEAN, indikator HRC impor-ekspor Asia Pasifik bertahan pada level sekitar USD 475 per ton. Rentang yang sangat sempit ini menunjukkan kawasan masih mengikuti dinamika harga Asia secara umum, tanpa tekanan tambahan baik dari sisi pasokan maupun permintaan regional.
Di India, harga baja domestik dalam denominasi USD berada pada level yang relatif tinggi akibat konversi dari INR. Harga HRC berada di sekitar USD 585 per ton, sementara rebar bergerak pada kisaran USD 485–535 per ton, mencerminkan perbedaan harga antar-lokasi domestik. Harga wire rod dan billet juga berada pada level yang sebanding, sedangkan harga scrap impor CFR berada lebih rendah di sekitar USD 335 per ton, menegaskan jarak biaya bahan baku terhadap harga produk jadi domestik.
Di Turkey, harga produk baja mencerminkan struktur biaya berbasis impor. Scrap CFR Turkey berada di kisaran USD 375–380 per ton, sementara billet impor berada pada USD 460–465 per ton. Harga produk jadi untuk ekspor menunjukkan rebar di kisaran USD 560–570 per ton dan wire rod di kisaran USD 565–600 per ton, menandakan margin yang masih dijaga di tengah biaya input yang relatif stabil.
Di Middle East/Egypt, harga baja menunjukkan stabilitas kebijakan produsen. Harga rebar domestik UEA berada di sekitar USD 720 per ton ex-works, mencerminkan pendekatan harga yang lebih administratif dan tidak sepenuhnya mengikuti fluktuasi regional jangka pendek. Produk lain di kawasan ini cenderung mengikuti referensi impor tanpa pergerakan berarti.
Di Eropa, harga flat steel domestik berada pada level tinggi setelah dikonversi dari EUR ke USD. HRC domestik berada pada kisaran USD 740–805 per ton, sementara CRC dan HDG berada pada kisaran USD 880–900 per ton. Rentang ini mencerminkan pasar yang semakin dibentuk oleh pembatasan impor, CBAM, dan safeguard, di mana harga lebih merefleksikan kelangkaan alternatif pasokan daripada kekuatan permintaan.
Di Amerika Serikat, harga baja domestik tetap berada pada level tinggi. HRC berada di kisaran USD 950–980 per ton, sementara harga scrap domestik berada pada kisaran USD 365–415 per ton tergantung jenis. Struktur harga ini menunjukkan pasar AS masih ditopang oleh keterbatasan pasokan dan rendahnya tekanan impor, meskipun permintaan belum sepenuhnya pulih.
Secara keseluruhan, periode ini menegaskan bahwa harga baja global tidak bergerak dalam satu arah yang seragam, melainkan semakin ditentukan oleh rezim kebijakan dan struktur biaya regional. Konversi mata uang menunjukkan disparitas level harga antar-kawasan yang signifikan, menandakan bahwa dinamika pasar baja global kini semakin terfragmentasi dan tidak lagi dapat dibaca hanya melalui satu referensi harga global.
Ringkasan Harga Baja: Periode 19-31 Januari 2026 (USD/ton)
| Region | Rebar | Wire Rod | HRC | CRC | HDG/GI | Color Coated | Welded Pipe | Plate |
| China | 455–485 | 510–515 | 470–475 | 420–570 | 580–590 | 705–905 | 500–505 | – |
| ASEAN | n/a | n/a | 475–475 | – | – | – | – | – |
| India | 485–535 | 485–490 | 585–585 | – | – | – | – | – |
| Turkey | 560–570 | 565–600 | – | – | – | – | – | |
| Middle East/Egypt | 720–720 | – | – | – | – | – | – | – |
| Europe | – | – | 740–805 | 880–900 | 880–900 | – | – | – |
| US | – | – | 950–980 | 1175–1175 | – | – | – | 1160–1160 |
II. Kebijakan & Trade Remedies: Periode 12–18 Januari 2026
Periode akhir Januari 2026 menegaskan bahwa rezim perdagangan baja global semakin bergerak menuju perlindungan struktural yang bersifat jangka menengah–panjang, bukan respons sementara terhadap lonjakan impor. Serangkaian keputusan dan proses review di Inggris, Eropa, Asia Tenggara, hingga Australia menunjukkan bahwa instrumen trade remedies kini digunakan untuk mengunci struktur pasar, bukan sekadar mengoreksi distorsi sesaat.
Di Inggris, pemerintah memutuskan untuk memperpanjang bea masuk antidumping atas produk flat-rolled asal Tiongkok, dengan masa berlaku lima tahun sejak 30 Januari 2021. Keputusan ini mempertahankan struktur tarif diferensial, di mana produk dari Valin Group dikenakan bea 7,9 persen, sementara eksportir Tiongkok lainnya tetap dikenakan tarif hingga 24 persen. Langkah ini diperkuat oleh dimulainya expiry review antidumping atas wire rod asal Tiongkok serta review tarif kuota safeguard untuk produk baja tertentu. Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Inggris tidak hanya mempertahankan perlindungan yang ada, tetapi juga secara aktif mengevaluasi ulang instrumen safeguard untuk menyesuaikannya dengan struktur impor pasca-Brexit.
Di Uni Eropa, penguatan rezim perdagangan berlangsung paralel dengan implementasi Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM). Keterbatasan pasokan impor akibat safeguard dan CBAM mendorong harga flat steel domestik naik secara bertahap, sementara perdebatan politik dan hukum atas CBAM mulai mengemuka. Persetujuan awal parlemen Eropa terhadap rancangan kebijakan tarif dan kuota baja baru menegaskan arah kebijakan yang semakin protektif, meskipun menghadapi resistensi dari industri pengguna baja yang menilai kombinasi tarif, kuota, dan CBAM berpotensi meningkatkan biaya secara signifikan.
Di Asia Tenggara, dinamika trade remedies menunjukkan arah yang lebih selektif namun tetap restriktif. Vietnam mengumumkan bahwa bea antidumping atas H-beam asal Tiongkok tidak akan otomatis diperpanjang setelah September 2027 kecuali dilakukan sunset review, sekaligus membuka ruang bagi evaluasi lanjutan melalui mid-term review. Pada saat yang sama, Vietnam juga memulai review pertama atas bea antidumping produk pre-stressed steel strand yang mencakup impor dari Tiongkok, Thailand, dan Malaysia, dengan tarif yang sebelumnya berada pada kisaran 9,79–28 persen. Langkah ini menunjukkan bahwa trade remedies di kawasan ASEAN mulai bergerak dari fase penetapan menuju fase penyempurnaan dan penyesuaian cakupan.
Di kawasan Eurasia, Komisi Ekonomi Eurasia memutuskan untuk memperpanjang bea antidumping atas pipa baja las stainless steel asal Tiongkok hingga November 2026, dengan tarif tetap pada kisaran 14,62–17,28 persen. Keputusan ini mempertegas bahwa pembatasan terhadap produk baja Tiongkok tidak hanya berlangsung di pasar maju, tetapi juga di kawasan regional yang sebelumnya relatif lebih terbuka.
Sementara itu, di Australia, otoritas antidumping memulai new exporter review terhadap produk baja lapis aluminium-seng asal Tiongkok. Proses ini memungkinkan eksportir tertentu untuk memperoleh margin individual, namun pada saat yang sama mengonfirmasi bahwa rezim antidumping tetap dipertahankan dan tidak dilonggarkan secara umum. Review ini mencerminkan kehati-hatian regulator dalam membuka akses pasar tanpa mengorbankan kerangka perlindungan yang telah dibangun.
Secara keseluruhan, rangkaian kebijakan ini menunjukkan bahwa perdagangan baja global memasuki fase di mana trade remedies menjadi instrumen permanen pengelolaan pasar, bukan pengecualian. Perpanjangan bea, expiry review, mid-term review, serta integrasi kebijakan iklim seperti CBAM secara simultan mempersempit ruang ekspor berbasis harga murah. Konsekuensinya, arus perdagangan baja semakin terfragmentasi, dengan akses pasar ditentukan oleh kepatuhan kebijakan dan struktur biaya, bukan semata daya saing harga.
Ringkasan Trade Remedies Baja Global: Periode 19 – 31 Januari 2026
| Negara / Kawasan | Produk Terdampak | Instrumen Kebijakan | Status / Keputusan |
| Inggris | Flat-rolled steel asal China | Anti-Dumping Duty (ADD) | Diperpanjang; tarif 7,9% (Valin) dan 24% (eksportir lain); berlaku 5 tahun sejak 30 Jan 2021 |
| Inggris | Wire rod asal China | Expiry review ADD | Review dimulai (Jan 2026) |
| Inggris | Produk baja tertentu | Safeguard (TRQ) | Review Tarif-Rate Quota dimulai |
| Uni Eropa | Flat steel (HRC, CRC, HDG) | Safeguard + CBAM | CBAM efektif; safeguard berlanjut |
| Uni Eropa | Baja impor | Tarif & kuota | Draft kebijakan disetujui Parlemen (INTA) |
| Vietnam | H-beam asal China | Anti-Dumping Duty | Tidak otomatis diperpanjang pasca Sept 2027 kecuali sunset review |
| Vietnam | Pre-stressed steel strand (China, Thailand, Malaysia) | ADD – First review | Review pertama dimulai; tarif historis 9,79–28% |
| Eurasian Economic Union | Stainless steel welded pipes asal China | Anti-Dumping Duty | Diperpanjang hingga Nov 2026; tarif 14,62–17,28% |
| Australia | Aluminium-zinc coated steel asal China | New exporter review (ADD/CVD) | Review dimulai |
III. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel Periode 19–31 Januari 2026
Pada periode 19–31 Januari 2026, arus investasi industri baja global memperlihatkan dua pola yang berjalan paralel. Di satu sisi, peningkatan kapasitas produksi tetap menjadi agenda utama di negara dengan pasar domestik besar atau rezim perdagangan yang semakin protektif. Di sisi lain, investasi green steel mulai terkonsentrasi di yurisdiksi yang secara eksplisit menautkan transisi rendah karbon dengan kebijakan industri dan dukungan negara.
Dari sisi investasi peningkatan kapasitas, keputusan ekspansi terutama didorong oleh kebutuhan mengamankan pasar domestik di tengah menyempitnya akses ekspor. Di Mesir, Ezz Steel mengumumkan rencana investasi sekitar USD 1,16 miliar dalam dua tahun ke depan untuk memperluas kapasitas produksi, dengan penekanan pada pemenuhan permintaan dalam negeri dan regional. Langkah ini secara langsung berkaitan dengan meningkatnya hambatan perdagangan di pasar maju yang menekan prospek ekspor baja Mesir, sehingga ekspansi kapasitas diposisikan sebagai strategi substitusi pasar, bukan ekspansi berbasis ekspor global. Pendekatan serupa terlihat dalam pembahasan proyek baja terintegrasi senilai sekitar USD 10 miliar antara pemerintah Mesir dan XinFeng Steel dari Tiongkok, yang menargetkan kapasitas hingga 10 juta ton per tahun dan fokus pada produk bernilai tambah seperti baja otomotif, pipa, dan pelat berat untuk kebutuhan industri domestik.
Di Amerika Serikat, peningkatan kapasitas juga berlangsung dalam konteks perlindungan pasar yang kuat. Hyundai Steel meningkatkan komitmen modal untuk proyek pabrik baja di Louisiana hingga total USD 5,8 miliar, yang secara eksplisit ditujukan untuk memasok pasar otomotif Amerika Utara. Investasi ini mencerminkan respons korporasi terhadap rezim tarif dan kebijakan industri AS, di mana kehadiran fisik di dalam negeri menjadi prasyarat untuk mempertahankan akses pasar. Pola investasi berbasis pasar domestik ini juga tercermin pada ekspansi pabrik rebar berbasis EAF oleh Vinton Steel di Texas, yang menaikkan kapasitas produksi sebagai respons terhadap permintaan konstruksi regional dan stabilitas pasar domestik AS.
Di India, ekspansi kapasitas tetap menjadi pilar utama strategi industri baja nasional. Rashmi Group merencanakan pembangunan pabrik baja baru di Telangana dengan nilai investasi sekitar INR 12.500 crore, sementara JSW Steel menegaskan rencana investasi jangka menengah hingga INR 2 lakh crore untuk meningkatkan kapasitas nasional secara signifikan. Investasi ini didorong oleh kombinasi pertumbuhan permintaan domestik yang berkelanjutan dan kebijakan industri yang relatif terbuka terhadap ekspansi kapasitas, meskipun tekanan impor murah tetap membayangi profitabilitas sektor.
Sementara itu, investasi green steel pada periode ini menunjukkan karakter yang lebih selektif dan terkonsentrasi secara geografis. Di Eropa, SSAB memperoleh pengakuan strategis untuk proyek pabrik baja listrik di Luleå, Swedia, di bawah kerangka Net-Zero Industry Act Uni Eropa, dengan total investasi sekitar EUR 4,5 miliar. Proyek ini menandai bahwa investasi baja rendah karbon di Eropa tidak berdiri sendiri sebagai keputusan korporasi, melainkan terintegrasi dengan kebijakan industri, dukungan pembiayaan publik, dan prioritas perizinan negara. Dalam konteks ini, transisi menuju green steel menjadi bagian dari strategi mempertahankan basis industri baja Eropa di tengah tekanan biaya dan kompetisi global.
Kontras antara kedua pola tersebut menegaskan bahwa investasi peningkatan kapasitas dan investasi green steel bergerak dengan logika yang berbeda. Peningkatan kapasitas terutama berfungsi sebagai instrumen pengamanan pasar domestik dan regional di tengah fragmentasi perdagangan global, sedangkan investasi green steel muncul di lingkungan kebijakan yang secara aktif membagi risiko transisi teknologi antara negara dan pelaku industri. Pada akhir Januari 2026, dinamika ini memperlihatkan bahwa arah investasi industri baja global semakin ditentukan oleh kebijakan nasional dan regional, bukan oleh sinyal harga atau permintaan global semata..
Ringkasan Investasi Baja Global: Periode 19 – 31 Januari 2026
| Negara | Perusahaan / Proyek | Jenis Investasi | Nilai Investasi | Fokus Utama |
| Mesir | Ezz Steel | Peningkatan kapasitas | ± USD 1,16 miliar | Ekspansi produksi baja long & flat untuk pasar domestik |
| Mesir | XinFeng Steel (rencana kompleks terintegrasi) | Peningkatan kapasitas | ± USD 10 miliar | Baja otomotif, plate, pipa, dan baja teknik |
| Amerika Serikat | Hyundai Steel (Hyundai-POSCO Louisiana) | Peningkatan kapasitas | Total ± USD 5,8 miliar | Baja lembaran otomotif untuk pasar AS |
| Amerika Serikat | Vinton Steel (Texas) | Peningkatan kapasitas | ± USD 327 juta | Ekspansi EAF rebar mill |
| India | Rashmi Group (Telangana) | Peningkatan kapasitas | ± INR 12.500 crore | Pabrik baja baru berbasis pasar domestik |
| India | JSW Steel | Peningkatan kapasitas | Hingga ± INR 2 lakh crore (5–6 tahun) | Ekspansi nasional kapasitas produksi |
| Swedia / Uni Eropa | SSAB (Luleå) | Green steel | ± EUR 4,5 miliar | Pabrik baja listrik rendah emisi |
| Amerika Serikat | Hyundai Steel (tahap lanjutan) | Green / advanced steel | Termasuk dalam USD 5,8 miliar | Baja otomotif beremisi lebih rendah |
Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.