
Pekan keempat September 2025 menegaskan konsistensi dinamika industri baja global yang terbentuk sejak awal bulan. Ekspor Tiongkok diperkirakan menembus rekor baru lebih dari 115 juta ton di tengah pasar domestik yang lesu, sementara negara-negara mitra dagang semakin memperluas proteksi, mulai dari Uni Eropa yang menjatuhkan bea anti-dumping definitif hingga Korea Selatan dan Mesir yang mempercepat safeguard lintas produk. Harga internasional tetap bergerak dalam rentang sempit. Di sisi lain, arah investasi global menunjukkan kontras: Eropa mendorong kontrak green steel baru meski proyek besar seperti SALCOS ditunda, Amerika Serikat menghadapi ketidakpastian akuisisi U.S. Steel dengan tambahan penolakan Trump terhadap agenda energi terbarukan di PBB, sementara Asia Tenggara melanjutkan ekspansi kapasitas besar. Di tengah arus ini, ancaman banjir impor murah ke Indonesia semakin nyata, bersamaan dengan kebutuhan mendesak menyusun roadmap green steel yang tepat waktu agar transisi tidak menggerus daya saing industri nasional.
I. Perkembangan Harga Baja (21–27 September 2025)
Di Tiongkok, harga baja menunjukkan penguatan terbatas setelah beberapa minggu bergerak datar. Harga HRC ekspor naik tipis ke kisaran USD 470–475 per ton FOB, didorong oleh penyesuaian harga domestik yang lebih tinggi di Custeel dan SunSirs. Produk CRC, galvanis, dan coil berwarna relatif stabil masing-masing di USD 535–540, USD 565–570, dan USD 685–690 per ton. Segmen long product mencatat perbaikan ringan, dengan rebar menguat menjadi USD 410–415 dan wire rod di USD 465–470 per ton, menunjukkan bahwa pasar mulai menyeimbangkan pasokan menjelang kuartal terakhir. Harga scrap juga bertahan di kisaran USD 335–340, menandakan stabilnya biaya bahan baku domestik.
Di kawasan Asia Tenggara, pasar baja masih stagnan dengan permintaan lemah. Harga HRC impor bertahan di USD 500–505 per ton CFR, sedangkan rebar tetap di kisaran USD 475–480 per ton, tanpa perubahan berarti dari minggu sebelumnya. Minimnya aktivitas transaksi baru serta pasokan yang tetap tinggi dari Tiongkok membuat harga di kawasan ini cenderung stabil.
Di India, harga baja cenderung melemah di hampir seluruh segmen. HRC domestik turun ke kisaran USD 585–590, seiring koreksi harga pabrik besar seperti JSW dan Tata. CRC melemah ke sekitar USD 730 per ton, dan galvanis serta color coated turun menjadi USD 695–700 dan USD 800 per ton. Produk pipa juga terkoreksi ke USD 505, sementara rebar turun ke USD 475–520 per ton. Hanya wire rod yang mencatat kenaikan tipis ke USD 480–490, menunjukkan permintaan yang masih bertahan di sektor otomotif dan manufaktur ringan. Harga scrap ikut melemah ke USD 365–370 per ton CFR, menekan margin produsen baja sekunder.
Di Turki, pasar masih lemah dengan arah harga yang menurun. Harga rebar ekspor turun ke USD 540–545 per ton FOB, sedangkan wire rod stabil di USD 545–550 per ton. Harga scrap impor melemah ke USD 330–335 per ton CFR, menekan margin pabrik yang masih berjuang menghadapi lemahnya permintaan dari Eropa dan Timur Tengah.
Untuk kawasan Timur Tengah dan Mesir, tidak terdapat pembaruan harga pada minggu ini. Aktivitas pasar relatif stagnan, sementara sejumlah pabrikan besar di Mesir masih mempertahankan harga jual pekan sebelumnya tanpa revisi.
Di Eropa, harga baja mengalami koreksi moderat di seluruh lini produk. Harga HRC domestik di Eropa Utara turun ke kisaran €570–580 per ton (sekitar USD 615–625), sedangkan Eropa Selatan berada di €540–560 per ton (sekitar USD 585–605). CRC dan galvanis masing-masing berada di €670–685 dan €670–690 per ton, sedikit lebih rendah dibanding pekan sebelumnya. Tekanan harga ini sejalan dengan pelemahan permintaan di sektor otomotif dan konstruksi serta meningkatnya kekhawatiran atas kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang akan mulai berlaku awal 2026.
Di Amerika Serikat, pasar masih menunjukkan pola konsolidasi. Harga HRC domestik melemah ke USD 875–900 per ton, setelah lima minggu bertahan di atas USD 900. Namun, harga CRC justru naik ke USD 1.050 per ton, memperlebar spread antara flat product primer. Kenaikan CRC ini mencerminkan biaya produksi yang lebih tinggi serta upaya produsen mempertahankan margin di tengah permintaan yang belum sepenuhnya pulih.
Secara keseluruhan, pekan keempat September menandai fase konsolidasi global menjelang kuartal IV 2025. Harga di Tiongkok mulai pulih setelah penurunan panjang, sementara Eropa dan India justru mengalami tekanan lanjutan akibat lemahnya permintaan domestik. Pasar ASEAN tetap datar, Turki melemah, dan Amerika Serikat mulai menyesuaikan harga dari level puncak. Kondisi ini menggambarkan pergeseran keseimbangan pasar baja global menuju fase stabilisasi harga, namun dengan tekanan biaya produksi yang tetap tinggi.
Ringkasan Harga Baja – Minggu IV September 2025 (USD/ton)
| Kawasan | HRC | CRC | Galvanis | Color Coated | Pipa Las | Rebar | Wire Rod | Scrap |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tiongkok | 470–475 ↑ | 535–540 → | 565–570 → | 685–690 → | 485–490 → | 410–415 ↑ | 465–470 → | 335–340 → |
| ASEAN | 500–505 → | n/a | n/a | n/a | n/a | 475–480 → | n/a | n/a |
| India | 585–590 ↓ | 730 ↓ | 695–700 ↓ | 800 ↓ | 505 ↓ | 475–520 ↓ | 480–490 ↑ | 365–370 ↓ |
| Turki | n/a | n/a | n/a | n/a | n/a | 540–545 ↓ | 545–550 → | 330–335 ↓ |
| Middle East / Mesir | n/a ↓ | n/a | n/a | n/a | n/a | n/a ↓ | n/a ↓ | n/a ↓ |
| Eropa (NE/SE/IT) | 615–625 ↓ | 725–740 ↓ | 725–745 ↓ | 700–740 ↓ | n/a ↓ | 575–625 ↓ | n/a ↓ | n/a ↓ |
| Amerika Serikat | 875–900 ↓ | 1.050 ↑ | n/a | n/a | n/a | n/a ↓ | n/a ↓ | n/a ↓ |
Keterangan: ↑ naik w/w; ↓ turun w/w; → stabil (≤±0,5%); n/a tidak tersedia pekan ini. Kurs: RMB / USD = 7,40 (≈ 0,135 USD) • INR / USD = 83,10 (≈ 0,0120 USD) • EUR / USD = 1,08 • AED / USD = 3,67
II. Perkembangan Perdagangan Baja Global
Perdagangan baja global sepanjang pekan keempat September 2025 kembali ditentukan oleh ekspor Tiongkok yang menanjak di tengah pasar domestik yang stagnan. Data Januari–Agustus menunjukkan pengapalan produk baja naik lebih dari 25 persen year-on-year, sehingga porsi Tiongkok dalam ekspor global mencapai hampir sepertiga. Lonjakan ini didukung pelepasan surplus dari pasar dalam negeri, di mana stok baja jadi tercatat naik 2,3 persen pertengahan September dibanding dua minggu sebelumnya. Kondisi tersebut menandakan konsumsi domestik yang tertahan dan mendorong perusahaan memaksimalkan jalur ekspor untuk menjaga utilisasi pabrik.
Pergeseran pola produk yang diperdagangkan juga semakin jelas. Ekspor semi-finished dari Tiongkok melonjak tajam, mencapai pertumbuhan hampir tiga kali lipat dibanding tahun lalu. Strategi ini memperlihatkan kecenderungan untuk menggenjot volume meskipun dengan nilai tambah yang lebih rendah, sekaligus mengurangi tekanan dari stok domestik yang membesar. Implikasi langsungnya adalah membanjirnya pasar global dengan billet dan slab yang lebih murah, sehingga menekan produsen di negara lain yang sebelumnya mengandalkan pasar regional.
Di kawasan ASEAN, paradoks perdagangan semakin menonjol. Di satu sisi, kapasitas produksi regional terus bertambah dan menciptakan pasokan melimpah untuk baja karbon biasa. Di sisi lain, impor tetap meningkat, terutama untuk produk bernilai tinggi yang belum bisa diproduksi secara lokal. Vietnam menjadi contoh nyata: impor baja Agustus tercatat naik 17 persen dibanding Juli, menunjukkan ketergantungan pada pasokan luar negeri tetap besar meski kapasitas dalam negeri terus berkembang. Dalam waktu bersamaan, proyeksi laba produsen baja Vietnam untuk kuartal ketiga melonjak, didorong oleh perbaikan harga domestik dan peningkatan output, yang memperlihatkan bahwa pasar lokal mulai memberi bantalan terhadap ketidakpastian ekspor.
Secara global, keseimbangan antara ekspor dan impor baja bergerak ke arah Asia. Produksi baja kasar Tiongkok memang turun tipis pada Agustus, tetapi ekspor justru melonjak, mempertegas peran Asia sebagai pemasok utama dunia. Tren ini diperkuat oleh proyeksi OECD bahwa hingga 2027 akan ada tambahan kapasitas global sekitar 165 juta ton, sebagian besar berlokasi di Asia. Dengan kondisi demikian, perdagangan baja memasuki fase di mana jalur intra-Asia—baik sebagai pemasok baja karbon biasa dengan harga murah maupun sebagai importir produk bernilai tinggi—menjadi semakin dominan.
Fragmentasi pasar pun semakin dalam. Ketika Tiongkok memperbesar ekspor, ASEAN memperluas kapasitas sekaligus mengimpor produk spesial, dan Vietnam menyeimbangkan antara dorongan ekspor dan konsumsi domestik, peta perdagangan global kian kompleks. Kuartal terakhir tahun ini tampaknya akan ditandai oleh dua hal: banjir ekspor baja karbon biasa yang berasal dari Tiongkok dan ASEAN, serta arus impor produk bernilai tinggi yang tetap masuk ke kawasan Asia. Keduanya memperkuat posisi Asia sebagai pusat gravitasi baru perdagangan baja global, sekaligus menggarisbawahi risiko overcapacity yang membayangi keseimbangan industri baja dunia.
III. Kebijakan & Trade Remedies
Pekan ini, Uni Eropa menetapkan langkah tegas dengan memberlakukan anti-dumping duties definitif terhadap HRC asal Mesir, Jepang, dan Vietnam selama lima tahun. Regulasi pelaksanaan yang terbit pada 25–26 September menutup celah impor di segmen ini. Perkembangan ini menegaskan arah proteksi Eropa yang berlapis: selain mengunci HRC, Uni Eropa juga sejak 18 September membuka investigasi anti-dumping terhadap CRC dari India, Jepang, Taiwan, Turki, dan Vietnam. Dengan begitu, dua segmen flat products utama kini berada dalam radar perlindungan Brussels.
Di Asia Timur, Korea Selatan mulai menerapkan provisional anti-dumping duties untuk impor HRC dari Tiongkok dan Jepang. Tarif yang dikenakan berkisar 28,16–33,10 persen untuk pemasok Tiongkok dan 31,58–33,57 persen untuk Jepang, berlaku empat bulan sambil menunggu putusan final. Langkah ini memperketat akses dua eksportir terbesar Asia ke salah satu hub manufaktur utama di kawasan.
Di Afrika Utara, kebijakan safeguard Mesir yang diumumkan pertengahan September mulai memengaruhi arus perdagangan pekan ini. Tarif sementara berlaku lintas produk: HRC 13,6% CIF (atau minimum 3.673 EGP/t), billet 16,2% (minimum 4.613 EGP/t), serta cakupan untuk CRC, GI, dan PPGI. Masa berlaku sementara ini ditetapkan hingga sekitar awal April 2026, menandakan Mesir menutup ruang masuk bagi suplai datar maupun semi-finished.
Di benua Amerika, Meksiko melanjutkan restrukturisasi tarif impor baja sebagai bagian dari paket kebijakan yang lebih luas. Meski rincian HS code belum seluruhnya dipublikasikan, sinyal jelas bahwa biaya masuk bagi pemasok non-FTA, termasuk Tiongkok, akan meningkat. Dalam waktu bersamaan, Tiongkok membuka investigasi terhadap rencana tarif Meksiko untuk sejumlah komoditas, yang meski tidak spesifik baja, memperlihatkan tensi kebijakan yang dapat berdampak pada iklim perdagangan baja.
Secara keseluruhan, lanskap trade remedies pekan ini mempertegas tiga tren besar. Pertama, Uni Eropa mengunci flat products melalui kebijakan definitif HRC dan investigasi CRC, mempersempit jalur ekspor Asia ke pasar Barat. Kedua, Korea Selatan melengkapi tembok proteksi di Asia Timur, mendorong eksportir merelokasi volume ke ASEAN atau Timur Tengah. Ketiga, Mesir dan Meksiko menutup celah di pasar gateway dengan safeguard dan tarif baru, mengurangi ruang arbitrase bagi pedagang global. Kombinasi ini menandakan kuartal IV akan diwarnai rotasi rute perdagangan, kenaikan bea masuk, dan semakin volatilnya spread harga antar-kawasan.
Ringkasan Trade Remedies – Minggu IV September 2025
| Yurisdiksi | Instrumen | Produk | Asal | Tarif/Status | Tanggal/Status |
| Uni Eropa | Anti-dumping definitif | HRC | Mesir, Jepang, Vietnam | Duties definitif 5 tahun | 25–26 Sep 2025 |
| Uni Eropa | Investigasi anti-dumping | CRC | India, Jepang, Taiwan, Turki, Vietnam | Investigasi dibuka; provisional duties ≤7 bulan | 18–19 Sep 2025 |
| Korea Selatan | Provisional anti-dumping | HRC | Tiongkok, Jepang | CN: 28,16–33,10%; JP: 31,58–33,57%; berlaku ±4 bulan | Efektif 23 Sep 2025 |
| Mesir | Safeguard sementara | HRC, CRC, GI, PPGI, billet | Semua negara | HRC 13,6% CIF (≥3.673 EGP/t); billet 16,2% (≥4.613 EGP/t); tarif lain sesuai produk | 14 Sep 2025 – Apr 2026 |
| Meksiko | Tarif impor baru (paket) | Beragam produk baja | Non-FTA, terutama Tiongkok | Rincian belum lengkap; biaya masuk dipastikan naik | 21–26 Sep 2025 |
IV. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel
Dinamika investasi global pekan ini masih menunjukkan tarik-menarik antara ekspansi kapasitas konvensional dan akselerasi proyek green steel. Di Eropa, tekanan biaya energi dan lambatnya pembangunan ekosistem hidrogen membuat beberapa proyek besar harus menunda ekspansi, namun di saat yang sama sejumlah kontrak offtake baja rendah emisi justru menguat. Salzgitter melalui proyek SALCOS tetap melanjutkan fase pertama dengan dukungan 100 MW elektroliser hidrogen, tetapi ekspansi fase kedua resmi ditunda sekitar tiga tahun. Sebaliknya, SSAB memperluas kontrak pasok HYBRIT ke sektor energi terbarukan dengan menggandeng GE Vernova, menandai diversifikasi penggunaan baja hijau di luar otomotif. Sementara itu, Microsoft juga masuk sebagai offtaker green steel dari Stegra di Eropa, mencerminkan semakin luasnya basis permintaan dari sektor digital.
Di Asia Tenggara, proyek Green Esteel HBI di Sabah, Malaysia telah resmi on-stream pada akhir September, dengan Hanwa memegang hak pemasaran global. Komisioning fase pertama ini menjadi tonggak penting, karena selain memperkuat rantai pasok HBI regional, proyek tersebut juga diposisikan sebagai salah satu basis produksi low-carbon iron terbesar di Asia. Namun di sisi lain, perlombaan kapasitas di ASEAN terus memunculkan kekhawatiran, dengan rencana tambahan kapasitas lebih dari 100 juta ton per tahun di Vietnam, Indonesia, dan Malaysia, meski realisasi jangka menengah diperkirakan hanya sekitar 40–50 juta ton dalam lima tahun. Situasi ini berpotensi menciptakan duopoli Vietnam–Indonesia sekaligus menambah risiko overcapacity dan tantangan transisi hijau di kawasan.
Di Amerika Serikat, ketidakpastian masih menyelimuti akuisisi US Steel oleh Nippon Steel. Setelah sebelumnya sempat mendapat lampu hijau dengan penerbitan National Security Agreement dan skema golden share bagi pemerintah AS, kini proses tersebut kembali ditinjau ulang oleh CFIUS dengan tenggat yang diperpanjang pada 24–26 September. Presiden Trump bahkan kembali menegaskan di Sidang Umum PBB bahwa kebijakan energi terbarukan dan regulasi emisi dianggap sebagai penghalang pembangunan industri, termasuk baja. Pernyataan ini menegaskan bahwa Amerika Serikat berpotensi semakin menunda adopsi green steel, sekaligus menciptakan dilema baru bagi negara lain, karena kecepatan adopsi yang terlalu cepat bisa mengorbankan daya saing biaya, sementara terlalu lambat berisiko kehilangan akses ke pasar premium.
Di Inggris, Peel Ports mengumumkan investasi sebesar £10 juta untuk mengembangkan terminal baja hijau di Liverpool. Meskipun skalanya relatif kecil dibandingkan proyek Eropa lainnya, langkah ini menjadi sinyal dukungan logistik bagi rantai pasok baja hijau di pasar domestik Inggris.
Secara keseluruhan, peta investasi pekan ini menegaskan adanya fragmentasi arah kebijakan. Di Eropa, fokus diarahkan pada akselerasi kontrak green steel yang membutuhkan biaya besar dan dukungan kebijakan jangka panjang. Sebaliknya, Amerika Serikat justru mengambil jalur berlawanan setelah Presiden Trump di PBB menolak agenda emisi dan energi terbarukan, mempertegas keberpihakan pada industri konvensional berbasis fosil. Sementara itu, Asia Tenggara masih didominasi ekspansi kapasitas konvensional berskala besar yang berisiko menambah tekanan overcapacity global. Paradoks ini menajamkan dilema bagi Indonesia: bagaimana menyusun roadmap transisi hijau dengan tepat waktu agar tidak kehilangan daya saing, baik jika terlalu cepat maupun jika terlalu lambat, mengingat investasi green steel membutuhkan dana besar dan berdampak pada kenaikan biaya produksi signifikan..
Ringkasan Investasi & Green Steel – Minggu IV September 2025
| Proyek | Teknologi & Kapasitas | Nilai | Status | Catatan |
| Jindal → Thyssenkrupp (DE) | Transformasi low-emission; integrasi H₂/DRI dari Oman | €2 miliar (capex) | Penawaran non-binding tetap; proses due diligence berlanjut | Strategi ubah TKSE jadi produsen hijau terbesar Eropa |
| Salzgitter SALCOS (DE) | 100 MW H₂ elektroliser + DRI + EAF | n/a | Fase-1 jalan; ekspansi fase-2 resmi ditunda ±3 tahun | Hambatan: ekosistem hidrogen & kondisi pasar; target fase-1 tetap 2026 |
| SSAB (SE) | HYBRIT (H₂-DRI) untuk sektor energi | n/a | Kontrak pasok green steel dengan GE Vernova (25 Sep) | Memperluas offtake dari otomotif ke energi terbarukan |
| Green Esteel HBI (Sabah, MY) | HBI 2,5 Mtpa (gas → H₂ bertahap) | US$7,3 miliar (bertahap) | Fase-1 on-stream Sep; komisioning & persiapan ekspor perdana Q4 2025 | Hanwa pegang marketing rights global |
| U.S. Steel – Nippon (US/JP) | Modernisasi pabrik + integrasi EAF | US$14,9 miliar (akuisisi) | Akuisisi masih tertahan; CFIUS review diperpanjang (24–26 Sep) | Trump kaitkan akuisisi dengan national security; menambah ketidakpastian |
| Stegra – Microsoft (EU) | Baja rendah emisi untuk cloud infra | n/a | Microsoft tandatangani offtake (23 Sep) | Offtake teknologi hijau melebar ke sektor digital |
| Peel Ports (UK) | Terminal baja hijau Liverpool | £10 juta | Investasi diumumkan 25 Sep | Dukung rantai pasok baja hijau UK; sinyal dukungan logistik |
| ASEAN capacity race | >100 Mtpa planned add’l capacity (VN +34,5 Mt; ID +15,2 Mt; MY +17,1 Mt) | n/a | Tidak ada komitmen baru pekan ini; realisasi masih ±40–50 Mtpa dalam 5 tahun | Risiko overcapacity & transisi hijau; duopoli Vietnam–Indonesia |
V. Isu Strategis yang Perlu Dicermati
Bagi Indonesia, perkembangan perdagangan dan kebijakan global pekan ini yang sejalan dengan pekan-pekan sebelumnya semakin menegaskan dua tantangan besar: ancaman langsung dari ekspor murah Tiongkok dan proteksi negara lain. Perkembangan ini perlu segera disikapi Pemerintah dan stakeholder industri baja nasional, karena tanpa langkah cepat, risiko deindustrialisasi sektor baja akan semakin nyata.
Arus ekspor Tiongkok yang diproyeksikan menembus lebih dari 115 juta ton pada 2025 memperbesar potensi banjir impor ke Asia Tenggara. Dengan harga HRC tetap rendah dan ekspor billet serta slab meningkat hampir tiga kali lipat, pasar regional semakin tertekan. Penutupan pasar Eropa, Mesir, dan Korea Selatan melalui instrumen anti-dumping, safeguard, dan provisional duties hanya akan membuat kelebihan pasokan Tiongkok beralih ke kawasan ASEAN. Indonesia yang utilisasi pabriknya masih rendah, khususnya di baja karbon biasa, akan menjadi target empuk jika tidak ada proteksi efektif.
Di sisi kebijakan global, pola fragmentasi semakin menajam. Uni Eropa memagari HRC dan CRC, Mesir menutup akses lintas produk baja, sementara Korea Selatan menambah hambatan untuk HRC dari Tiongkok dan Jepang. Ini menegaskan bahwa proteksi menyeluruh lintas produk dan yurisdiksi adalah strategi utama negara-negara besar. Indonesia, yang selama ini lebih banyak bertindak reaktif, harus segera bertransformasi dengan memperluas cakupan trade remedies agar tidak sekadar menjadi penampung limpahan ekspor negara lain.
Dari sisi investasi dan transisi energi, peluang dan tantangan berjalan beriringan. Offtake green steel di Eropa dan AS semakin kuat, menunjukkan adanya pasar premium yang tumbuh. Namun pidato Presiden Trump di PBB yang menolak agenda emisi sebagai hambatan pembangunan menambah ketidakpastian global. Bila resistensi politik terhadap transisi hijau semakin keras, dukungan fiskal dan pasar untuk hydrogen-DRI bisa melemah, sementara tekanan regulasi seperti CBAM tetap berlaku. Indonesia berisiko terjebak di tengah: menanggung biaya tinggi transisi energi tanpa kepastian pasar hijau, dan dalam waktu bersamaan menghadapi serbuan produk murah berbasis energi fosil.
Karena itu, urgensi bagi Indonesia semakin besar. Pemerintah dan pelaku industri harus segera merespons dengan tiga langkah: memperluas instrumen perlindungan dagang untuk menjaga pasar domestik, menyusun roadmap green steel yang selaras dengan kebijakan nasional maupun tren global, serta memperkuat kebijakan dan ekosistem industri hijau secara menyeluruh. Transisi menuju green steel menuntut investasi yang sangat besar dan pasti meningkatkan biaya produksi, sehingga berisiko menekan daya saing baja nasional. Proses ini tidak bisa ditanggung industri sendirian, tetapi harus mendapat dukungan penuh dari pemerintah, baik melalui kebijakan energi, insentif fiskal, maupun perlindungan pasar. Yang lebih penting, perlindungan dari serbuan produk murah berbasis energi fosil harus menjadi prioritas utama, agar industri domestik dapat menjalankan transisi hijau tanpa kehilangan pijakan di pasar dalam negeri.
Waktu adopsi teknologi juga harus ditentukan secara tepat. Jika terlalu cepat, biaya produksi nasional akan melonjak sementara banyak pesaing global masih berproduksi dengan energi fosil murah, sehingga industri domestik kehilangan daya saing. Namun jika terlalu lambat, risiko kehilangan akses pasar premium menjadi sangat besar. Di tengah ketidakpastian global, terlebih dengan pernyataan Presiden Trump di PBB yang menolak agenda emisi, pemerintah dituntut cermat dalam menyusun roadmap dan kebijakan. Salah langkah dalam penentuan waktu adopsi bisa membuat Indonesia terjepit antara ongkos tinggi transisi dan tertutupnya peluang pasar.
Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.