Seri Paradoks Baja: Profitabilitas ArcelorMittal dan Penutupan Ispat Indo

Pada 5 Februari 2025, ArcelorMittal mengumumkan capaian EBITDA sekitar USD 6,5 miliar, menegaskan keberlanjutan kinerja profitabilitasnya dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, Ispat Indo—pabrik baja yang memiliki arti historis sebagai bagian awal perjalanan bisnis tersebut—tidak lagi beroperasi. Paradoks ini menarik untuk dikupas guna memahami apa yang sesungguhnya terjadi dan menarik pembelajaran yang relevan sebagai dasar perumusan kebijakan ke depan.

ArcelorMittal memiliki kehadiran bisnis di lebih dari 60 negara, namun aktivitas produksi bajanya terkonsentrasi di sekitar 15 negara lintas Amerika, Eropa, Asia, dan Afrika. Justru pada negara-negara inilah keputusan investasi padat modal diambil: fasilitas diperluas di satu wilayah, sementara kapasitas dirasionalisasi atau ditutup di wilayah lain. Pola ini menjadikan strategi ArcelorMittal relevan untuk dicermati sebagai cermin bagaimana kondisi pasar dan kerangka kebijakan di tiap negara membentuk kelayakan operasi serta arah investasi industri baja.

Dari Ispat Indo Menuju Global Player

Perjalanan industri baja Lakshmi Mittal berawal dari Indonesia ketika ia mendirikan Ispat Indo di Jawa Timur pada akhir 1970-an. Pada tahap ini, usaha Mittal masih bersifat tunggal dan berorientasi pada pasar domestik, dengan skala produksi yang relatif terbatas. Namun Ispat Indo memainkan peran krusial sebagai basis awal pembentukan kompetensi operasional, penguasaan teknologi electric arc furnace, serta akumulasi modal yang kemudian digunakan untuk ekspansi lintas negara. Dalam konteks industri baja global yang saat itu masih didominasi produsen mapan dari Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat, keberhasilan mengoperasikan pabrik baja di Indonesia memberi Mittal pijakan awal yang nyata, bukan sekadar simbolik.

Memasuki dekade 1980-an dan 1990-an, ekspansi Mittal bergerak ke luar Indonesia melalui akuisisi aset baja di berbagai negara yang sedang mengalami restrukturisasi atau privatisasi industri. Di kawasan Karibia, Mittal mengakuisisi Caribbean Ispat di Trinidad & Tobago. Di Meksiko, ia mengambil alih Sibalsa. Di Asia Tengah dan Eropa Timur, ekspansi dilakukan melalui penguasaan pabrik baja berskala besar di Kazakhstan yang kemudian dikenal sebagai Ispat Karmet. Pada fase ini, pola ekspansi Mittal relatif konsisten, yakni mengakuisisi aset baja yang ditinggalkan atau dilepas pemilik lama, melakukan efisiensi biaya, dan memanfaatkan pasar domestik yang masih mampu menyerap produksi.

Skala dan karakter bisnis Mittal berubah secara signifikan pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an ketika ekspansi mulai menyasar aset baja besar di negara maju. Akuisisi Inland Steel di Amerika Serikat, yang kemudian diikuti dengan pengambilalihan International Steel Group (ISG), menandai masuknya Mittal ke pasar baja Amerika Utara dengan kapasitas besar dan basis konsumen industri yang mapan. Pada titik ini, bisnis Mittal tidak lagi dapat dipahami sebagai kumpulan pabrik regional, melainkan sebagai jaringan produksi lintas negara dengan kapasitas puluhan juta ton per tahun. Konsolidasi aset-aset tersebut kemudian diformalkan melalui pembentukan Mittal Steel Company sebagai kendaraan utama ekspansi global.

Transformasi tersebut mencapai puncaknya pada 2006 ketika Mittal Steel mengakuisisi Arcelor, produsen baja terbesar di Eropa yang berbasis di Luksemburg, dan membentuk ArcelorMittal. Akuisisi ini mengubah secara fundamental arsitektur bisnis Mittal. ArcelorMittal mewarisi basis produksi besar di Prancis, Jerman, Spanyol, Belgia, dan Luksemburg, serta akses langsung ke pasar baja Eropa. Sejak titik ini, Mittal beroperasi sepenuhnya sebagai pemain baja global yang terdaftar di bursa dan tunduk pada disiplin korporasi publik. Keputusan investasinya tidak lagi dipengaruhi pertimbangan nasional atau historis, melainkan ditentukan oleh kelayakan ekonomi, profitabilitas, dan ekspektasi pemegang saham global.

Namun, beroperasi sebagai perusahaan publik global di tengah kondisi kelebihan kapasitas baja dunia yang kronis dan lonjakan ekspor baja Tiongkok berharga rendah membuat keputusan bisnis ArcelorMittal tidak dapat dilepaskan dari kerangka kebijakan di masing-masing wilayah. Perbedaan struktur harga baja antar kawasan—yang terlihat jelas antara Amerika Serikat, Eropa, India, dan negara-negara dengan pasar terbuka—mencerminkan perbedaan tingkat perlindungan dan intervensi kebijakan negara. Dalam realitas pasar global yang terdistorsi tersebut, profitabilitas tidak lagi semata ditentukan oleh efisiensi teknis, tetapi juga oleh kepastian kerangka kebijakan yang membentuk harga domestik.

Dalam konteks inilah ArcelorMittal menjadi rujukan penting. Meskipun keputusan bisnisnya secara formal bersifat murni korporasi, pola alokasi modal dan keberlanjutan operasinya secara tidak langsung merefleksikan disparitas kebijakan industri baja antar negara. Dengan kata lain, peta keuntungan dan kerugian ArcelorMittal di berbagai wilayah dunia bukan hanya cerminan strategi perusahaan, tetapi juga indikator objektif tentang di mana kebijakan industri baja mampu menopang keberlanjutan usaha, dan di mana tidak.

Menelisik Kinerja Global ArcelorMittal

Sebagai produsen baja global, ArcelorMittal beroperasi dalam lanskap industri yang sejak lama berada di bawah tekanan struktural. Kelebihan kapasitas global yang persisten, dikombinasikan dengan ekspor baja berharga sangat rendah—terutama dari Tiongkok—telah membentuk pasar baja internasional yang terdistorsi dan jauh dari kondisi persaingan normal. Dalam konteks ini, kinerja ArcelorMittal tidak dapat dibaca semata sebagai hasil efisiensi internal, melainkan sebagai refleksi dari bagaimana harga baja domestik di masing-masing wilayah dibentuk dan dipertahankan melalui kebijakan negara.

Di tengah kondisi tersebut, secara agregat ArcelorMittal masih mampu mencatat profitabilitas. Dalam penjelasan resminya atas kinerja tahun buku 2025, manajemen ArcelorMittal menekankan bahwa capaian tersebut ditopang oleh diversifikasi geografis, optimalisasi portofolio aset, serta kontribusi proyek-proyek strategis di berbagai wilayah operasi. Di balik diversifikasi geografis tersebut, terungkap fakta bahwa distribusi profitabilitas ArcelorMittal bervariasi antarwilayah. Ada wilayah yang menjadi penopang utama EBITDA, ada yang berada di batas kelayakan ekonomi, dan ada pula yang akhirnya ditinggalkan. Pola ini menunjukkan bahwa salah satu faktor penentu utama kinerja industri baja global saat ini bukan semata daya saing internal perusahaan, melainkan keberadaan serta efektivitas kebijakan negara dalam merespons dan meredam distorsi harga global.

Fakta pertama terlihat di Amerika Serikat yang menempati posisi tertinggi dalam urutan profitabilitas antar wilayah di ArcelorMittal. Pada tahun 2025, operasi Amerika Utara mencatat EBITDA sekitar USD 120 per ton. Tingkat profitabilitas ini berkorelasi langsung dengan struktur harga domestik yang sangat tinggi. Pada periode yang sama, harga hot-rolled coil (HRC) domestik Amerika Serikat berada di kisaran 900-1000 bahkan lebih per ton ex-works, dua kali lipat harga HRC ekspor Tiongkok basis FOB yang berada di kisaran USD 450–500 per ton. Selisih harga ini bukan hasil mekanisme pasar bebas, melainkan konsekuensi dari arsitektur perlindungan yang menyeluruh. Seluruh baja impor berada di bawah rezim Section 232 dengan tarif global 50 persen. Di luar itu, Amerika Serikat menerapkan ratusan instrumen anti dumping,  countervailing duties dan safeguards—terutama terhadap baja asal Tiongkok—yang dalam banyak kasus menghasilkan tarif kumulatif efektif di atas 100 persen. Perlindungan tersebut juga meluas ke produk industri hilir yang mengandung baja, sehingga menutup jalur substitusi tidak langsung melalui impor barang jadi. Dalam struktur harga seperti ini, EBITDA ArcelorMittal di Amerika Utara muncul sebagai konsekuensi langsung dari harga domestik yang secara kebijakan dijaga sangat tinggi.

Di bawah Amerika Serikat, Brasil menjadi wilayah dengan kinerja yang relatif solid. ArcelorMittal Brasil mencatat EBITDA di kisaran USD 100 per ton. Profitabilitas ini ditopang oleh struktur harga domestik yang secara konsisten berada di atas harga internasional. Pada periode tertentu 2025, harga HRC domestik Brasil berada di kisaran USD 650–750 per ton, lebih tinggi dibandingkan harga HRC ekspor Asia—terutama dari Tiongkok—yang berada di kisaran USD 450–500 per ton pada periode yang sama. Selisih harga ini cukup besar untuk menciptakan ruang margin, meskipun tidak setinggi Amerika Serikat. Perbedaan tersebut tidak dapat dijelaskan oleh efisiensi biaya semata, melainkan oleh kebijakan perdagangan yang relatif aktif. Brasil menerapkan tarif MFN baja yang protektif dan secara historis menggunakan instrumen anti dumping terhadap berbagai produk baja, terutama asal Tiongkok. Kebijakan ini cukup untuk meredam transmisi harga dumping global, sehingga harga domestik tetap menciptakan kelayakan ekonomi meskipun struktur biaya domestik tidak tergolong paling rendah secara global.

India berada pada kelompok profitabilitas menengah dalam portofolio ArcelorMittal. Operasi AMNS India mencatat EBITDA sekitar USD 85–90 per ton, berada di bawah Brasil namun di atas wilayah yang marginnya paling rapuh. Profitabilitas ini didukung oleh struktur harga domestik yang berada di atas harga internasional. Berdasarkan data harga pada periode tertentu 2025, harga HRC domestik India berada di kisaran USD 580–620 per ton, dibandingkan harga HRC ekspor Tiongkok basis FOB yang berada di kisaran USD 450–500 per ton. Kisaran harga ini tidak dimaksudkan sebagai rata-rata tahunan, melainkan sebagai indikator struktur harga pada fase ketika tekanan impor relatif tinggi. Selisih harga tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga dumping global tidak sepenuhnya ditransmisikan ke pasar domestik India. Kondisi ini dibentuk oleh kebijakan perlindungan perdagangan yang bersifat selektif—terutama safeguard dan instrumen anti dumping pada kategori produk tertentu—yang cukup menjaga harga domestik tanpa membentuk proteksi menyeluruh seperti di Amerika Serikat. Dengan demikian, margin AMNS India terutama dijelaskan oleh keberadaan price buffer domestik, bukan oleh keunggulan biaya produksi yang ekstrem.

Eropa Barat berada pada posisi yang lebih rapuh dalam struktur profitabilitas ArcelorMittal. EBITDA di wilayah ini berada di kisaran USD 70 per ton, mencerminkan kelayakan minimum. Pada periode tertentu 2025, harga HRC di Western Europe dan Italia berada di kisaran €605 per ton ex-works, jauh di atas harga internasional. ArcelorMittal memang beroperasi terutama di Eropa Barat—Prancis, Belgia, Jerman, Spanyol, dan Luksemburg—bukan Eropa Timur. Namun, meskipun harga nominal relatif tinggi, ruang margin tetap sempit. Instrumen perlindungan Uni Eropa berbasis safeguard kuota dan anti dumping memang menahan sebagian tekanan impor, tetapi sifatnya lebih berpori dibanding Amerika Serikat. Pada saat yang sama, biaya energi yang tinggi, beban karbon melalui EU ETS, kewajiban lingkungan, serta fragmentasi pasar menggerus harga jual secara cepat. Kombinasi harga yang terlindungi secara parsial dan biaya struktural yang sangat tinggi menjelaskan mengapa EBITDA ArcelorMittal Eropa jauh lebih tipis dibanding Amerika Serikat atau Brasil.

Sebaliknya, terdapat wilayah yang tidak berkontribusi pada profitabilitas ArcelorMittal karena mencatat kinerja merugi, meskipun penyebabnya tidak seragam. Di Afrika Selatan, kerugian terutama bersumber dari kegagalan pembentukan penyangga harga domestik akibat minimnya dukungan dan perlindungan pasar. Harga baja domestik berada pada level rendah dan relatif mengikuti harga internasional, khususnya Tiongkok, sementara biaya listrik, logistik, dan utilitas sangat tinggi. Dalam konfigurasi ini, tekanan harga global langsung ditransmisikan ke pasar domestik dan menggerus margin hingga negatif, sehingga penutupan operasi menjadi keputusan yang rasional secara ekonomi. Berbeda dengan Afrika Selatan, kasus Italia—khususnya eks-Ilva—tidak terutama disebabkan oleh kegagalan harga, melainkan oleh akumulasi beban biaya dan risiko non-komersial. Meskipun berada di bawah kerangka perlindungan Uni Eropa yang menjaga harga baja domestik relatif di atas harga internasional, beban lingkungan historis yang sangat besar, ketidakpastian tata kelola, serta kebutuhan investasi pemulihan yang mahal menghilangkan kelayakan ekonomi jangka panjang. Dalam konteks ini, perlindungan perdagangan tidak gagal membentuk harga, tetapi menjadi tidak cukup untuk menutup beban struktural dan risiko kebijakan yang melekat pada aset tersebut.

Keseluruhan data dan analisis di atas menunjukkan bahwa kinerja profitabilitas perusahaan baja—yang sangat ditentukan oleh pembentukan harga domestik—pada dasarnya bergantung pada tingkat perlindungan terhadap tekanan paling mendasar yang berasal dari harga baja Tiongkok. Harga baja Tiongkok berada pada level yang secara praktis tidak dapat dilawan oleh mekanisme pasar biasa tanpa intervensi kebijakan negara. Dengan demikian, kinerja perusahaan di masing-masing kawasan atau negara tidak dapat dipahami sebagai hasil efisiensi semata, melainkan sebagai refleksi dari efektivitas perlindungan yang diterapkan oleh negara tempat perusahaan tersebut beroperasi. Dalam konteks ini, pasar baja internasional tidak berfungsi sebagai arena persaingan daya saing antar-perusahaan, melainkan sebagai arena kompetisi kebijakan antarnegara dalam melindungi industri masing-masing dari tekanan harga global.

Konsekuensinya menjadi jelas. ArcelorMittal sesungguhnya tidak benar-benar “mengalahkan” harga baja Tiongkok di pasar global. Perusahaan ini mencetak laba di yurisdiksi yang secara sadar melindungi industrinya dari tekanan harga tersebut melalui kebijakan perdagangan, dan keluar dari wilayah yang tidak memiliki mekanisme penyangga yang memadai terhadap tekanan harga global. Perbedaan profitabilitas antarwilayah inilah yang menjadi kunci untuk memahami paradoks antara keberhasilan global ArcelorMittal dan penutupan Ispat Indo.

Menarik Benang Merah: Paradoks ArcelorMittal dan Ispat Indo

Dengan peta global tersebut, posisi Ispat Indo menjadi lebih jelas. Penutupan Ispat Indo bukanlah anomali lokal dan bukan semata kegagalan korporasi. Ia mencerminkan absennya prasyarat yang sama yang menopang profitabilitas ArcelorMittal di berbagai wilayah lain, yakni terbentuknya struktur pasar domestik yang mampu melindungi industri dari tekanan harga global dan menyediakan ruang margin yang berkelanjutan.

Di negara-negara tempat ArcelorMittal bertahan, mencatat profitabilitas, dan terus berinvestasi, terdapat kehadiran negara—baik secara eksplisit melalui instrumen perdagangan maupun secara implisit melalui kerangka kebijakan—yang berfungsi meredam distorsi pasar baja global. Sebaliknya, ArcelorMittal juga menghadapi kesulitan dan mencatat kinerja negatif hingga menghentikan operasi di yurisdiksi yang tingkat perlindungannya relatif tidak memadai. Dalam kondisi pasar global yang ditandai kelebihan kapasitas dan harga yang terdistorsi, pabrik baja yang beroperasi tanpa perisai kebijakan cenderung terus tertekan hingga pada akhirnya kehilangan kelayakan ekonomi.

Dengan demikian, Ispat Indo bukanlah sebuah pengecualian, melainkan sebagai bagian dari pola global yang sama. Industri baja hidup atau mati bukan melulu ditentukan oleh efisiensi internal semata, melainkan oleh bagaimana negara membingkai dan melindungi pasar tempat industri tersebut beroperasi.

Paradoks ArcelorMittal dan Ispat Indo memberikan pembelajaran yang melampaui kisah satu perusahaan. Industri baja pada hakikatnya adalah industri kebijakan; pasar yang dibiarkan berjalan “normal” dalam konteks global yang terdistorsi pada praktiknya berubah menjadi pasar “unfair”. Perlindungan pasar merupakan prasyarat dasar kelayakan industri, namun tidak selalu cukup jika tidak disertai kepastian institusional, pengelolaan biaya struktural, dan konsistensi kebijakan jangka panjang. Investasi baja global bersifat selektif dan komparatif: modal akan mengalir ke yurisdiksi yang secara sadar bersedia menanggung sebagian risiko industri melalui kebijakan publiknya.

Dalam kerangka ini, pertanyaan kebijakan yang relevan bukanlah mengapa satu pabrik tutup atau satu perusahaan mencetak laba, melainkan apakah negara telah membangun ekosistem yang membuat investasi industri baja rasional secara ekonomi. Paradoks ini, jika dibaca dengan jernih, menyediakan dasar pembelajaran yang jauh lebih bernilai bagi perumusan kebijakan industri ke depan.