
Pemerintah Inggris baru-baru ini mengeluarkan kebijakan strategis melalui penerbitan UK Steel Strategy yang disampaikan kepada Parlemen sebagai kerangka utama untuk melindungi dan mempertahankan industri baja nasional. Kebijakan ini menandai langkah fundamental karena secara eksplisit menempatkan baja sebagai sektor strategis yang harus dijaga keberlangsungannya, di tengah tekanan global yang semakin besar terhadap produsen domestik. Arah kebijakan ini tidak hanya berhenti pada perumusan strategi, tetapi langsung tercermin dalam langkah konkret penyelamatan British Steel yang berada di ambang penghentian operasi.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Inggris menghadapi eskalasi dilema kebijakan dalam menangani krisis tersebut. Negara tidak hanya dihadapkan pada kebutuhan menjaga operasi jangka pendek melalui dukungan pendanaan, tetapi juga pada risiko hilangnya kapasitas produksi domestik yang memiliki implikasi strategis, khususnya pada fasilitas blast furnace di Scunthorpe yang menjadi tulang punggung produksi baja primer Inggris.
Kondisi ini mendorong pemerintah Inggris untuk melampaui pendekatan bailout konvensional. Dukungan finansial yang sebelumnya difokuskan untuk menjaga operasi kini berkembang menjadi pertimbangan intervensi yang lebih mendasar terhadap struktur kepemilikan dan pengelolaan industri. Dalam konteks ini, opsi pengambilalihan oleh negara mulai muncul sebagai instrumen kebijakan yang dipertimbangkan secara serius.
Perkembangan ini menunjukkan perubahan arah kebijakan yang signifikan. Peran negara tidak lagi terbatas sebagai regulator, tetapi bergerak menuju keterlibatan langsung untuk memastikan keberlangsungan kapasitas industri strategis, dengan kemungkinan nasionalisasi sebagai bagian dari instrumen kebijakan yang semakin realistis.
Dari Dukungan Transisi ke Intervensi Darurat Negara
Intervensi pemerintah Inggris terhadap British Steel merupakan puncak dari tekanan struktural industri baja yang telah berlangsung lama. Industri baja Inggris menghadapi kombinasi tekanan biaya energi yang tinggi, tingginya impor akibat kelebihan pasokan global, serta tuntutan dekarbonisasi yang semakin ketat. Dalam merespons tekanan tersebut, pemerintah Inggris telah menempuh berbagai bentuk dukungan sektoral, mulai dari pengurangan biaya energi bagi industri, dorongan pengadaan domestik melalui belanja publik, hingga penyediaan pendanaan hibah untuk inisiatif dekarbonisasi. Namun ketika tekanan tersebut semakin berat, khususnya pada British Steel, isu yang dihadapi tidak lagi sekadar dukungan sektoral umum, melainkan risiko hilangnya kapasitas produksi baja primer terakhir yang masih beroperasi di Inggris.
Posisi British Steel dalam struktur industri nasional memang sangat strategis. Perusahaan ini memiliki kapasitas produksi sekitar 3 juta ton per tahun, mempekerjakan 4.052 pekerja tetap per 31 Januari 2026, serta memasok kebutuhan sektor rail, konstruksi, dan rekayasa. Secara khusus, British Steel memasok sekitar 80% kebutuhan baja Network Rail melalui kontrak senilai £500 juta. Yang paling krusial, fasilitas di Scunthorpe menampung dua blast furnace operasional terakhir di Inggris, sehingga menjadi simpul terakhir produksi baja primer nasional. Dengan struktur tersebut, ancaman berhentinya operasi di Scunthorpe tidak hanya berdampak pada satu entitas perusahaan, tetapi berpotensi mengganggu rantai pasok infrastruktur nasional sekaligus menghilangkan kemampuan domestik untuk memproduksi baja primer.
Akar persoalan ini dapat ditelusuri sejak perubahan kepemilikan perusahaan. British Steel yang sebelumnya dinasionalisasi pada 1967 dan diprivatisasi pada 1988 sempat kembali berada di bawah kendali sektor publik pada 2019 setelah pemiliknya saat itu, Greybull Capital, gagal memperoleh tambahan pendanaan sebesar £30 juta dan perusahaan masuk ke dalam proses insolvency. Pada Maret 2020, Jingye Group mengambil alih perusahaan tersebut dari Official Receiver dengan komitmen investasi sebesar £1,2 miliar untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan operasi. Namun, menurut National Audit Office, kinerja keuangan British Steel terus memburuk sejak saat itu dan secara aktif dipantau oleh Department for Business and Trade.
Babak berikutnya dimulai pada Desember 2022 ketika Jingye secara resmi meminta dukungan finansial dari pemerintah untuk mentransisikan produksi menuju baja rendah emisi. Sejak Januari 2023 hingga Maret 2025, pemerintah Inggris dan Jingye melakukan serangkaian negosiasi terkait rencana konversi blast furnace di Scunthorpe menjadi electric arc furnace. Dalam praktiknya, pembicaraan ini tidak hanya menyangkut pembiayaan transformasi jangka panjang, tetapi juga mencerminkan upaya pemerintah untuk menyediakan dukungan finansial yang dapat menjaga keberlangsungan operasi perusahaan dalam jangka pendek. Dengan kata lain, fase ini pada dasarnya merupakan bentuk bailout negotiation, di mana negara berupaya menahan tekanan finansial perusahaan sambil mendorong restrukturisasi industri. Namun berbagai proposal yang dibahas selama periode tersebut tidak pernah mencapai kesepakatan, sehingga solusi yang diharapkan tidak pernah terealisasi.
Ketegangan meningkat tajam pada periode 2024 hingga awal 2025. Pada Juli 2024, Jingye menyampaikan kepada pemerintah bahwa kondisi keuangan perusahaan sudah tidak berkelanjutan dan penutupan blast furnace menjadi opsi yang tidak terhindarkan. Situasi ini memuncak pada Maret 2025 ketika perusahaan melaporkan kerugian sekitar £700.000 per hari akibat kondisi pasar, tekanan tarif, dan tingginya biaya lingkungan. Pada 24 Maret 2025, pemerintah Inggris mengajukan tawaran dukungan sebesar £500 juta untuk membantu konversi fasilitas Scunthorpe menjadi electric arc furnace. Namun pada 25 Maret 2025, Jingye menolak tawaran tersebut karena nilai bantuan yang dianggap tidak mencukupi dan syarat yang dinilai memberatkan. Penolakan ini diikuti oleh rencana perusahaan untuk memulai konsultasi penutupan blast furnace paling cepat pada Juni 2025, yang diumumkan secara publik pada 27 Maret 2025.
Menariknya, bahkan pada tahap ini pemerintah Inggris masih belum memutuskan untuk melakukan intervensi langsung. Pada 28 Maret 2025, Department for Business and Trade menyatakan bahwa tidak terdapat solusi yang terjangkau untuk mempertahankan operasi steelmaking di Scunthorpe. Pemerintah juga menilai tidak memiliki anggaran maupun dasar hukum yang memadai untuk melakukan intervensi, serta tidak melihat adanya justifikasi value for money yang cukup kuat. Opsi kebijakan yang saat itu dipertimbangkan justru berfokus pada mitigasi dampak sosial, seperti penanganan kehilangan pekerjaan dan dukungan terhadap produksi di lokasi lain. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi yang kemudian dilakukan bukan merupakan rencana yang telah disiapkan sebelumnya, melainkan respons yang berubah cepat akibat eskalasi kondisi di lapangan.
Perubahan tersebut terjadi ketika risiko bergeser dari isu investasi jangka panjang menjadi ancaman penghentian operasi secara mendadak. Pada 31 Maret 2025, pemerintah mulai menerima informasi bahwa pesanan bahan baku sedang dibatalkan atau dialihkan, sehingga meningkatkan risiko berhentinya operasi blast furnace. Situasi menjadi sangat kritis ketika stok iron ore untuk keperluan operasi menjadi sangat terbatas. Dalam kondisi ini, jika blast furnace dibiarkan berhenti dan mendingin, biaya untuk menghidupkannya kembali akan sangat besar dan kompleks. Pemerintah sempat menawarkan untuk membeli bahan baku guna menjaga operasi tetap berjalan, namun tidak tercapai kesepakatan. Pada titik inilah fokus kebijakan bergeser secara fundamental, dari negosiasi transformasi menjadi keputusan apakah negara akan membiarkan kapasitas produksi baja primer berhenti dalam hitungan hari.
Pemerintah Inggris akhirnya mengambil langkah darurat pada 12 April 2025. Pada hari tersebut, Secretary of State for Business and Trade mengeluarkan ministerial direction untuk mendukung intervensi pemerintah dengan dasar kepentingan publik. Pada hari yang sama, Parlemen dipanggil kembali dan meloloskan Steel Industry (Special Measures) Act 2025 dalam satu hari. Undang-undang darurat ini memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk menginstruksikan perusahaan baja agar tidak menghentikan operasinya. Untuk memastikan implementasi kebijakan berjalan efektif, akses perwakilan Jingye ke lokasi dibatasi dan akses terhadap rekening perusahaan diblokir. Department for Business and Trade melakukan pengawasan operasi langsung di lokasi. Pada 14 April, perusahaan menunjuk manajemen sementara, dan pada 22 April diumumkan bahwa operasi kedua blast furnace berhasil diamankan. Dengan demikian, intervensi pemerintah tidak hanya berbentuk dukungan finansial, tetapi berkembang menjadi pengambilalihan kendali operasional secara de facto melalui instrumen hukum darurat.
Sejak intervensi dimulai, dukungan fiskal pemerintah meningkat secara signifikan. Hingga 31 Januari 2026, pemerintah telah mengeluarkan sekitar £377 juta, di mana £359 juta digunakan untuk membiayai operasi berjalan seperti pembelian bahan baku, pembayaran gaji, dan biaya energi, sementara sekitar £1 juta digunakan untuk investasi. Selain itu, sekitar £15 juta dialokasikan untuk biaya konsultan. National Audit Office memperkirakan bahwa biaya intervensi ini dapat meningkat menjadi £615 juta pada Juni 2026, atau sekitar £642 juta jika memperhitungkan biaya konsultan. Bahkan, dalam skenario belanja yang berlanjut dengan pola serupa, total biaya dapat melampaui £1,5 miliar pada 2028, belum termasuk potensi biaya transformasi, kompensasi kepada pemilik, atau biaya keluar lainnya.
Pemerintah Inggris mendasarkan langkah ini pada pertimbangan biaya jika tidak melakukan intervensi. Penutupan British Steel diperkirakan dapat menyebabkan kehilangan output ekonomi lokal hingga £802 juta dalam lima tahun serta mengancam hingga 10.000 pekerjaan di perusahaan dan rantai pasoknya. Namun di luar perhitungan tersebut, pertimbangan yang lebih mendasar adalah posisi Scunthorpe sebagai lokasi dua blast furnace terakhir di Inggris. Setelah penutupan blast furnace di Port Talbot pada 2024 dalam rangka transisi menuju electric arc furnace, British Steel menjadi penopang terakhir kemampuan produksi baja primer domestik. Dalam konteks ini, intervensi pemerintah tidak lagi dipahami sebagai penyelamatan perusahaan, melainkan sebagai upaya menjaga keberlangsungan kapasitas industri strategis yang memiliki fungsi sistemik dalam perekonomian nasional.
Nasionalisasi sebagai Opsi: Kembalinya Negara ke Industri Baja Inggris
Intervensi pemerintah Inggris terhadap krisis British Steel tidak lagi berhenti pada dukungan operasional untuk menjaga keberlangsungan produksi, karena nasionalisasi kini telah masuk sebagai salah satu opsi kebijakan yang secara nyata dipertimbangkan. Dalam penjelasan resmi kepada parlemen, pemerintah tetap menegaskan preferensinya untuk mencari investor swasta sebagai solusi jangka panjang, khususnya untuk mendukung modernisasi fasilitas. Namun pada saat yang sama, dokumen kebijakan dan kajian parlemen menunjukkan bahwa pengambilalihan oleh negara tidak dikesampingkan apabila skenario pasar tidak mampu menjamin kelangsungan operasi. Dengan demikian, nasionalisasi bukan lagi wacana di luar kebijakan, melainkan telah menjadi bagian dari spektrum opsi yang tersedia.
Perkembangan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam jika dilihat dari sejarah industri baja Inggris itu sendiri. British Steel pernah menjadi simbol nasionalisasi industri pada akhir 1960-an sebelum akhirnya diprivatisasi pada akhir 1980-an sebagai bagian dari gelombang liberalisasi ekonomi. Selama beberapa dekade setelahnya, industri baja Inggris beroperasi dalam kerangka kepemilikan swasta dengan asumsi bahwa mekanisme pasar akan menjadi penentu utama keberlanjutan industri. Namun krisis yang berulang, tekanan biaya energi, serta kompetisi global yang semakin ketat menunjukkan bahwa pendekatan tersebut memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan industri yang memiliki karakter strategis tinggi. Dalam konteks ini, munculnya kembali opsi nasionalisasi menandakan bahwa pemerintah Inggris mulai menimbang kembali posisi negara dalam industri baja yang sebelumnya telah dilepas ke pasar.
Yang penting dicatat, pertimbangan ini tidak didorong oleh perubahan ideologi ekonomi, melainkan oleh penilaian praktis terhadap nilai strategis industri baja. Pemerintah secara eksplisit mengaitkan keberlangsungan kapasitas produksi baja domestik dengan kepentingan yang lebih luas, termasuk ketahanan industri, pembangunan infrastruktur, serta kebutuhan sektor pertahanan dan energi. Dalam kerangka tersebut, risiko kehilangan kapasitas blast furnace domestik tidak lagi dipandang sebagai konsekuensi bisnis semata, tetapi sebagai kerugian strategis yang dapat berdampak jangka panjang terhadap perekonomian nasional. Karena itu, ketika solusi berbasis pasar tidak cukup kuat untuk menjamin keberlangsungan industri, negara mulai membuka ruang untuk intervensi yang lebih dalam, termasuk kemungkinan kepemilikan langsung.
Fakta bahwa nasionalisasi telah dipertimbangkan juga menunjukkan perubahan batas intervensi negara. Jika pada tahap awal pemerintah hanya berperan sebagai penyedia dukungan finansial untuk mencegah penghentian operasi, maka pada tahap berikutnya negara mulai memposisikan diri sebagai aktor yang siap mengambil alih apabila diperlukan. Ini mencerminkan pergeseran dari peran regulator dan fasilitator menuju peran yang lebih aktif dalam memastikan keberlangsungan industri strategis. Dengan kata lain, privatisasi tidak lagi menjadi batas absolut bagi keterlibatan negara, terutama ketika kepentingan strategis nasional berada dalam risiko.
Kasus British Steel pada akhirnya memperlihatkan bahwa dalam industri yang memiliki nilai strategis tinggi, negara tetap harus mempertahankan fleksibilitas untuk masuk kembali, bahkan setelah proses privatisasi berlangsung lama. Nasionalisasi mungkin belum menjadi keputusan final, tetapi fakta bahwa opsi tersebut telah masuk dalam pertimbangan kebijakan menunjukkan bahwa Inggris sedang menegaskan kembali peran negara sebagai penjaga kapasitas industri strategis. Di sinilah letak titik baliknya: negara tidak hanya mendukung dari luar, tetapi juga siap kembali menjadi bagian langsung dari industri ketika kondisi menuntut.
Dukungan Terintegrasi: Pendanaan, Proteksi, dan Transformasi Industri
Langkah Pemerintah Inggris dalam menyelamatkan industri baja tidak semata didorong oleh pertimbangan ekonomi jangka pendek, tetapi berangkat dari penetapan baja sebagai sektor strategis bagi kepentingan nasional. Pemerintah secara eksplisit mengakui bahwa industri baja memiliki peran krusial bagi keamanan nasional, termasuk dalam mendukung infrastruktur kritis, pertahanan, serta kemandirian rantai pasok industri . Penetapan ini menjadi titik balik penting, karena meskipun kontribusi ekonomi sektor ini relatif kecil—sekitar 0,1% dari output nasional—pemerintah tetap memilih untuk mempertahankan dan melindunginya.
Pengakuan terhadap nilai strategis tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam desain kebijakan yang terintegrasi. Dari sisi pendanaan, intervensi negara tidak hanya bertujuan mencegah penghentian operasi, tetapi juga memastikan proses transformasi industri tetap berjalan. Dukungan terhadap restrukturisasi fasilitas produksi, termasuk pergeseran menuju teknologi electric arc furnace, menunjukkan bahwa pendanaan digunakan sebagai instrumen untuk membangun daya saing jangka panjang, bukan sekadar penyelamatan sementara.
Namun pemerintah menyadari bahwa pendanaan saja tidak cukup jika industri tetap terpapar tekanan harga dari pasar global. Oleh karena itu, kebijakan ini dilengkapi dengan penguatan proteksi pasar melalui rencana pengetatan kuota impor dan kenaikan tarif hingga 50% untuk volume di luar kuota. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan dari baja impor berharga rendah yang terus membebani produsen domestik. Dalam konteks ini, proteksi bukan dimaksudkan untuk menutup pasar, tetapi untuk mengoreksi distorsi persaingan yang tidak seimbang.
Pada saat yang sama, pendekatan proteksi tersebut tetap dirancang secara selektif. Pemerintah membuka ruang pengecualian bagi produk yang tidak tersedia di dalam negeri, sehingga kebutuhan industri hilir tetap dapat terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan perdagangan tetap dijaga agar tidak menghambat aktivitas ekonomi yang lebih luas, sekaligus tetap melindungi inti industri domestik.
Dimensi ketiga adalah transformasi industri, yang menjadi kunci keberlanjutan jangka panjang. Pemerintah Inggris mendorong modernisasi teknologi produksi serta transisi menuju baja rendah karbon sebagai bagian dari strategi industri nasional. Transformasi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan efisiensi, tetapi juga memastikan bahwa industri baja Inggris tetap relevan dalam lanskap global yang semakin menuntut standar keberlanjutan.
Dengan demikian, keseluruhan pendekatan ini menunjukkan bahwa intervensi negara tidak didasarkan pada besarnya kontribusi ekonomi semata, melainkan pada fungsi strategis sektor tersebut dalam struktur ekonomi dan keamanan nasional. Pendanaan memberikan ruang bertahan, proteksi menciptakan ruang kompetisi yang lebih adil, sementara transformasi memastikan keberlanjutan. Kombinasi inilah yang menjelaskan mengapa negara tetap hadir secara aktif dalam industri baja, bahkan ketika secara statistik kontribusinya terlihat kecil.
Titik Balik: Arti Penting Ketika Inggris Kembali Menjadi Aktor Utama Industri Baja
Langkah yang diambil pemerintah Inggris dalam industri baja menunjukkan perubahan arah kebijakan yang tegas. Negara yang sebelumnya menempatkan industri baja dalam kerangka pasar dan privatisasi kini kembali mengambil peran aktif untuk memastikan keberlangsungan kapasitas produksi domestik. Dukungan pendanaan untuk menjaga operasi fasilitas, intervensi langsung ketika keberlanjutan industri terancam, hingga munculnya opsi nasionalisasi mencerminkan bahwa pemerintah tidak lagi bersikap pasif terhadap dinamika industri ini.
Perubahan sikap tersebut berangkat dari pengakuan bahwa industri baja memiliki nilai strategis yang melampaui kontribusi ekonominya terhadap PDB. Pemerintah Inggris secara eksplisit menempatkan baja sebagai sektor yang krusial bagi keamanan nasional, ketahanan rantai pasok, dan pembangunan infrastruktur. Dalam konteks ini, hilangnya kapasitas produksi domestik tidak dipandang sebagai konsekuensi normal dari mekanisme pasar, tetapi sebagai risiko strategis yang harus dicegah melalui intervensi kebijakan.
Atas dasar tersebut, pendekatan kebijakan yang ditempuh tidak bersifat tunggal. Dukungan pendanaan digunakan untuk memastikan operasi industri tetap berjalan dan mencegah terhentinya kapasitas produksi yang sulit untuk dibangun kembali dalam jangka pendek. Pada saat yang sama, kebijakan proteksi pasar tetap menjadi instrumen penting untuk mengurangi tekanan dari impor berbiaya rendah yang dapat menggerus utilisasi domestik. Di sisi lain, agenda transformasi industri juga dijalankan melalui dorongan investasi menuju teknologi produksi yang lebih efisien dan rendah karbon, sebagai bagian dari upaya menjaga daya saing jangka panjang.
Dalam konteks ini, opsi nasionalisasi yang mulai muncul tidak dapat dipahami sebagai penyimpangan kebijakan, melainkan sebagai bagian dari spektrum intervensi negara dalam menjaga industri strategis. Ketika instrumen pasar dan dukungan kebijakan lainnya tidak lagi cukup untuk memastikan keberlangsungan industri, negara mengambil peran yang lebih langsung untuk menjaga kapasitas produksi tetap ada di dalam negeri.
Bagi Indonesia, pembelajaran dari langkah Inggris perlu ditarik secara eksplisit. Campur tangan negara dalam industri baja merupakan pilihan kebijakan yang sah dan diperlukan, bahkan di negara yang memiliki sejarah panjang industrialisasi dan telah melalui fase privatisasi. Fakta bahwa Inggris tetap kembali melakukan intervensi menunjukkan bahwa keberlangsungan industri strategis tidak dapat sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar. Dalam konteks ini, dukungan pendanaan menjadi instrumen yang wajar untuk mencegah berhentinya operasi industri, karena hilangnya kapasitas produksi domestik dalam sektor strategis akan menimbulkan risiko yang jauh lebih besar dibandingkan biaya yang diperlukan untuk mempertahankannya.
Di sisi lain, pendanaan juga harus diarahkan untuk mendorong transformasi industri. Investasi dalam teknologi yang lebih efisien dan rendah karbon menjadi prasyarat agar industri baja tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki daya saing dalam jangka panjang. Pemisahan fungsi ini penting agar kebijakan tidak berhenti pada upaya menjaga operasi, tetapi juga memastikan arah perkembangan industri ke depan.
Lebih lanjut, pengalaman Inggris menegaskan bahwa intervensi tidak dapat dilakukan secara parsial. Pendanaan tanpa perlindungan pasar akan tetap menempatkan industri domestik dalam tekanan persaingan global yang tidak seimbang, sementara proteksi tanpa transformasi hanya akan menunda penurunan daya saing. Oleh karena itu, kebijakan harus dirancang secara komprehensif dan terintegrasi, di mana pendanaan untuk menjaga operasi, perlindungan pasar, dan pembiayaan transformasi menjadi satu kesatuan kebijakan industri.
Seluruh pendekatan tersebut pada akhirnya mensyaratkan penetapan industri baja sebagai industri strategis secara tegas. Tanpa penetapan ini, intervensi akan cenderung bersifat ad hoc dan tidak memiliki dasar kebijakan yang kuat. Sebaliknya, dengan pengakuan yang jelas terhadap nilai strategis industri baja, negara dapat merancang kebijakan yang konsisten untuk memastikan bahwa industri ini tidak hanya bertahan dari tekanan global, tetapi juga berkembang sebagai fondasi penting bagi pembangunan industri nasional.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.