
Gelombang baja murah asal Tiongkok tidak hanya menekan pasar ASEAN dan Eropa, tetapi juga menghantam Amerika Latin. Ketika sejumlah negara besar memperketat proteksi dan membatasi akses pasar, arus ekspor baja Tiongkok bergeser ke kawasan yang relatif lebih terbuka. Brasil menjadi contoh paling aktual bagaimana lonjakan impor dengan harga agresif menggerus pangsa pasar domestik, memicu penghentian operasi blast furnace, pembekuan investasi miliaran real, serta pengurangan ribuan tenaga kerja.
Pada 19 Februari 2026, pemerintah Brasil resmi menetapkan bea anti-dumping hingga US$670 per ton terhadap sejumlah produk baja asal Tiongkok untuk jangka waktu hingga lima tahun. Keputusan yang disahkan oleh otoritas perdagangan luar negeri tersebut menargetkan cold-rolled steel dan baja lapis, setelah investigasi menyimpulkan adanya praktik harga tidak wajar yang merugikan industri domestik. Langkah ini menyusul data Desember 2025 yang menunjukkan bahwa hingga November 2025 industri baja Brasil telah memangkas 5.100 pekerjaan, menghentikan empat blast furnace, satu pabrik baja terintegrasi, serta lima minimill, dan membekukan investasi senilai R$ 2,5 miliar akibat tekanan impor. Rangkaian waktu ini menegaskan bahwa kebijakan proteksi tersebut merupakan respons langsung terhadap kontraksi nyata di sektor riil.
Lonjakan Impor, Erosi Pasar Domestik, dan Indikasi Dumping
Tekanan terhadap industri baja Brasil terutama berasal dari lonjakan impor produk canai dalam dua tahun terakhir. Hingga November 2025, impor baja canai telah mencapai 5,4 juta ton, jauh melampaui rata-rata tahunan 2,2 juta ton pada periode 2000–2019. Secara tahunan, impor produk canai pada 2025 meningkat 20,5% menjadi 5,7 juta ton, dengan 63,7% di antaranya berasal dari Tiongkok. Untuk akhir 2025, impor crude steel diproyeksikan tumbuh 7,5% dan rolled steel naik 20,5% dibanding 2024.
Tekanan tersebut tidak hanya berasal dari impor langsung. Sekitar 6,2 juta ton baja juga masuk secara tidak langsung dalam bentuk produk jadi seperti peralatan rumah tangga, kendaraan, dan mesin industri. Artinya, pasar domestik tidak hanya menghadapi baja impor dalam bentuk bahan baku, tetapi juga baja tertanam (embedded steel) dalam produk manufaktur akhir.
Di saat yang sama, proyeksi produksi baja mentah Brasil untuk 2025 direvisi turun menjadi 33,1 juta ton, atau kontraksi 2,2% dibanding estimasi sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 21,1 juta ton ditujukan untuk pasar domestik dan 10,2 juta ton untuk ekspor. Kombinasi kenaikan impor dan revisi penurunan produksi ini menunjukkan bahwa sebagian konsumsi domestik secara efektif tergantikan oleh produk impor, sementara industri berupaya mengalihkan tekanan melalui peningkatan ekspor.
Tekanan volume tersebut diperparah oleh penurunan harga baja Tiongkok di pasar internasional. Harga hot-rolled coil turun dari US$560 per ton pada Januari 2024 menjadi US$454 per ton pada November 2025. Penurunan harga ini terjadi di tengah menyusutnya margin produsen Tiongkok, yang oleh asosiasi industri baja Brasil dipandang sebagai indikasi praktik penjualan pada harga yang tidak wajar.
Dampaknya terlihat pada kinerja industri domestik. Pada kuartal III 2025, EBITDA perusahaan baja yang beroperasi di Brasil tercatat 2,8 miliar real, hampir separuh dari periode yang sama tahun sebelumnya. Margin EBITDA turun dari 12,9% menjadi 7,7%, mencerminkan tekanan simultan dari harga domestik yang melemah dan kompetisi impor yang meningkat. Tekanan harga dan tekanan volume bekerja secara bersamaan, mempersempit ruang margin industri nasional.
Respons Kuat Pemerintah: Kuota, Tarif, dan Bea Spesifik
Menghadapi tekanan tersebut, pemerintah Brasil memperketat kebijakan impor secara bertahap sepanjang 2025 hingga awal 2026. Pada Mei 2025, sistem kuota impor diperbarui untuk 16 jenis baja, dengan tarif 9–16% untuk volume dalam kuota dan tambahan hingga 25% untuk volume di atas ambang kuota. Selain itu, sejumlah produk baja tertentu dikenakan tarif hingga 25%, sementara 19 produk baja lainnya berada dalam skema kuota yang memicu tarif antara 10,8% hingga 25% ketika volume impor melampaui batas yang ditetapkan.
Langkah paling signifikan terjadi pada 19 Februari 2026, ketika otoritas perdagangan Brasil menetapkan bea anti-dumping selama lima tahun terhadap cold-rolled coil (CRC) dan hot-dip galvanized (HDG) asal Tiongkok. Untuk CRC, bea berkisar antara US$322,93 hingga US$670,02 per ton, sedangkan untuk HDG antara US$284,98 hingga US$709,63 per ton, tergantung eksportir. Sebelumnya, pada 28 Januari 2026, Brasil juga memutuskan penerapan bea anti-dumping definitif terhadap baja pre-painted dari Tiongkok dan India, dengan indikasi rentang tarif dalam pola kasus serupa berada pada kisaran US$200–1.300 per ton.
Jika dibandingkan dengan harga referensi HRC Tiongkok sekitar US$454 per ton pada November 2025, bea anti-dumping hingga US$670 per ton menunjukkan skala proteksi yang secara nominal bahkan melampaui harga baja itu sendiri. Dalam praktiknya, bea spesifik semacam ini tidak sekadar menambah persentase tarif, tetapi secara langsung mengubah struktur harga dan menghilangkan daya saing produk impor di pasar domestik.
Ketika Distorsi Global Menuntut Tarif di Atas 100%
Kasus Brasil menunjukkan bahwa lonjakan impor dan penurunan harga yang tajam bukan sekadar dinamika pasar biasa, melainkan bagian dari tekanan global akibat kelebihan kapasitas dan praktik dumping. Sepanjang 2025, industri baja Brasil menghadapi penghentian operasi blast furnace, pengurangan tenaga kerja, pembekuan investasi, serta penurunan margin yang signifikan. Dalam konteks tersebut, respons kebijakan pada awal 2026 dirancang pada skala yang secara nominal sangat besar karena koreksi harga yang dibutuhkan juga tidak kecil.
Bea anti-dumping terhadap produk tertentu asal Tiongkok mencapai hingga US$670 per ton untuk cold-rolled coil dan bahkan lebih tinggi untuk beberapa produk lapis. Jika dibandingkan dengan harga referensi baja Tiongkok sekitar US$454 per ton pada November 2025, besaran bea tersebut secara nominal melampaui harga produk itu sendiri. Artinya, untuk menutup celah harga akibat praktik dumping, koreksi yang diterapkan memang berada pada tingkat yang efektif melampaui 100% dari nilai referensi impor.
Pendekatan ini bukan anomali. Amerika Serikat juga membangun lapisan proteksi melalui tarif Section 232 yang dinaikkan hingga 50%, ditambah bea anti-dumping (AD), countervailing duties (CVD), serta tambahan tarif Section 301 terhadap produk tertentu asal Tiongkok. Dalam sejumlah kasus, kombinasi instrumen tersebut menghasilkan tingkat proteksi kumulatif yang melampaui 100%, menunjukkan bahwa ketika distorsi harga dianggap sistemik dan merugikan industri domestik, koreksi tarif pada level tinggi dipandang sebagai instrumen yang sah dan diperlukan.
Dalam situasi kelebihan kapasitas global yang berkelanjutan, perlindungan industri baja tidak dapat dibatasi pada kenaikan tarif yang marginal. Ia harus dirancang pada tingkat yang benar-benar mampu memastikan produk dalam negeri tidak tersisih di pasar domestik dan kapasitas nasional tetap bertahan. Ketika distorsi global menciptakan celah harga yang ekstrem, tarif efektif di atas 100% menjadi bagian dari mekanisme korektif untuk memulihkan keseimbangan pasar dan menjaga keberlanjutan industri strategis.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.