
Konflik di Timur Tengah yang sebelumnya menekan jalur logistik global melalui penutupan Selat Hormuz kini memasuki fase yang lebih dalam, ketika pada 27 Maret 2026 serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel menyasar langsung fasilitas industri baja Iran. Dua produsen utama, Khouzestan Steel di Ahvaz dan Mobarakeh Steel di Isfahan, dilaporkan mengalami kerusakan pada infrastruktur penyimpanan dan pasokan listrik yang menjadi elemen krusial dalam proses produksi baja. Perkembangan ini menandai pergeseran karakter konflik dari sekadar disrupsi distribusi menjadi gangguan langsung terhadap kapasitas produksi. Jika sebelumnya tekanan muncul melalui biaya logistik dan ketidakpastian energi, serangan ini menunjukkan bahwa sumber pasokan itu sendiri mulai menjadi target, dengan implikasi yang lebih luas terhadap struktur pasokan dan arah perdagangan baja global, terutama seiring meningkatnya risiko retaliasi Iran yang berpotensi menyasar fasilitas industri baja di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi Konflik dan Dampaknya terhadap Produksi serta Pasokan Baja Global
Serangan terhadap fasilitas baja Iran secara langsung menghantam dua titik krusial dalam sistem produksi. Di Khouzestan Steel, kerusakan terjadi pada fasilitas penyimpanan bahan baku, termasuk silo yang berperan dalam menjaga kelancaran alur material. Sementara itu, di Mobarakeh Steel, serangan mengenai infrastruktur kelistrikan, termasuk substation, sebagian lini produksi baja paduan, serta unit pembangkit listrik internal berkapasitas sekitar 914 MW dan 250 MW. Karena proses produksi baja sangat bergantung pada kontinuitas energi dan aliran material, gangguan pada dua komponen ini segera menekan kemampuan operasi pabrik. Dalam konteks konflik yang terus berlanjut, risiko serangan lanjutan terhadap fasilitas industri tetap terbuka, sehingga kerusakan yang terjadi berpotensi meluas dan memperdalam gangguan terhadap kapasitas produksi.
Dampak tersebut menjadi signifikan karena kedua fasilitas ini merupakan pilar utama industri baja Iran. Khouzestan Steel memiliki kapasitas produksi sekitar 4,2 juta ton per tahun, sementara Mobarakeh Steel mencatat produksi sekitar 7,1 juta ton pada 2025. Dengan skala tersebut, gangguan yang terjadi tidak lagi bersifat lokal, tetapi langsung memengaruhi kapasitas produksi nasional, terutama pada produk semi-finished seperti billet dan slab yang menjadi bagian utama ekspor Iran. Risiko berlanjutnya serangan juga mengubah karakter gangguan dari yang semula bersifat sementara menjadi berpotensi berkepanjangan, seiring kemungkinan terhambatnya proses pemulihan fasilitas yang terdampak.
Di tahap awal, kerusakan yang terjadi memang tidak menghentikan seluruh operasi secara total, namun memaksa penghentian sementara pada unit-unit kunci untuk keperluan inspeksi dan pemulihan. Gangguan pada sistem kelistrikan di Mobarakeh Steel serta terganggunya alur material di Khouzestan Steel menyebabkan proses produksi tidak dapat berjalan pada tingkat normal. Dalam industri baja yang sangat sensitif terhadap kesinambungan proses, gangguan parsial seperti ini tetap berujung pada penurunan output yang signifikan, terlebih dalam situasi di mana ketidakpastian keamanan masih membatasi kecepatan pemulihan operasional.
Penurunan output tersebut kemudian menjalar langsung ke sisi perdagangan. Iran selama ini merupakan salah satu pemasok penting produk semi-finished ke pasar Asia, khususnya untuk billet dan slab. Dengan terganggunya dua produsen utama tersebut, kemampuan ekspor Iran menjadi terbatas, baik dari sisi volume maupun kontinuitas pengiriman, sehingga mengganggu aliran pasokan ke pasar tujuan.
Dampak ini secara langsung tercermin pada negara tujuan utama. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Indonesia dan Malaysia termasuk negara yang berpotensi terdampak akibat ketergantungan pada pasokan billet dan slab dari Iran. Ketika output dari Khouzestan Steel dan Mobarakeh Steel terganggu, aliran material ke kedua negara tersebut ikut tertekan, sehingga memengaruhi ketersediaan bahan baku bagi industri baja hilir. Secara lebih luas, gangguan ini juga menjalar ke kawasan Asia Tenggara dan pasar Asia yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor semi-finished Iran.
Dengan demikian, eskalasi konflik ini telah bergerak dari gangguan distribusi menuju gangguan pada kapasitas produksi dan rantai pasok. Kerusakan pada dua produsen dengan kapasitas gabungan lebih dari 11 juta ton per tahun menunjukkan bahwa sumber pasokan kini menjadi titik tekanan utama, dengan dampak yang sudah mulai dirasakan secara langsung di Indonesia, Malaysia, serta kawasan Asia secara lebih luas.
Risiko Perluasan Eskalasi
Gangguan terhadap fasilitas baja Iran tidak hanya berhenti pada penurunan kapasitas produksi, tetapi membuka fase baru dalam dinamika konflik, yaitu meningkatnya risiko retaliasi yang berpotensi menyasar infrastruktur industri di kawasan. Dalam konteks ini, industri baja menjadi target yang relevan secara strategis karena posisinya sebagai tulang punggung pembangunan, manufaktur, dan ketahanan ekonomi.
Beberapa sinyal dalam perkembangan konflik menunjukkan bahwa risiko tersebut bukan sekadar spekulatif. Iran secara terbuka memperingatkan kemungkinan respons terhadap kepentingan ekonomi dan industri pihak lawan, yang dalam konteks kawasan dapat mencakup fasilitas energi, logistik, maupun industri berat. Dalam struktur industri Timur Tengah, fasilitas baja memiliki keterkaitan erat dengan energi dan ekspor, sehingga menjadi target yang secara strategis dapat memberikan dampak ekonomi langsung.
Serangan terhadap Khouzestan Steel dan Mobarakeh Steel telah membentuk preseden bahwa fasilitas industri baja menjadi target dalam konflik, sementara Iran sendiri telah secara terbuka menyatakan kemungkinan melakukan retaliasi terhadap kepentingan ekonomi dan industri pihak lawan. Dalam konteks ini, risiko perluasan serangan ke fasilitas industri baja di negara lain di kawasan Timur Tengah menjadi semakin nyata. Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Oman memiliki kapasitas produksi baja yang signifikan dan terintegrasi dengan pasar ekspor regional maupun global, sehingga menjadi target yang secara strategis relevan dalam skenario retaliasi. Serangan terhadap fasilitas di negara-negara tersebut akan menciptakan gangguan yang jauh lebih luas dibandingkan dampak yang saat ini terjadi di Iran.
Dalam kondisi tersebut, tekanan terhadap pasar tidak lagi hanya berasal dari satu sumber gangguan, tetapi dari kombinasi antara penurunan produksi di Iran dan potensi gangguan tambahan di kawasan. Hal ini dapat mempersempit pasokan semi-finished maupun finished steel di pasar internasional, sekaligus mempercepat pergeseran arus perdagangan (rerouting) ke wilayah lain.
Bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, implikasi dari skenario ini menjadi semakin kompleks. Jika pada tahap awal gangguan hanya berasal dari berkurangnya pasokan Iran, maka dalam skenario eskalasi, pasar harus menghadapi potensi disrupsi multi-sumber yang memengaruhi ketersediaan bahan baku, harga, dan stabilitas pasokan secara bersamaan. Dalam situasi seperti ini, ketergantungan pada impor menjadi faktor risiko yang semakin besar.
Dengan demikian, konflik ini tidak lagi dapat dilihat hanya sebagai gangguan sementara terhadap pasokan, tetapi sebagai potensi perubahan struktur risiko dalam perdagangan baja global. Dari rerouting arus perdagangan akibat penutupan Selat Hormuz, eskalasi kini bergerak menuju kemungkinan yang lebih ekstrem, yaitu penghancuran kapasitas industri di kawasan, yang akan membawa implikasi jauh lebih dalam terhadap stabilitas pasar baja regional dan global.
Implikasi terhadap Indonesia: Urgensi Relokasi Pasokan dan Antisipasi Banjir Produk Jadi
Gangguan di Selat Hormuz pada tahap awal menciptakan tekanan terhadap rantai pasok global melalui hambatan logistik dan distribusi. Namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa tekanan tersebut telah memasuki fase yang lebih serius. Kerusakan terhadap fasilitas produksi baja di Iran menandai pergeseran dari gangguan jalur perdagangan menjadi gangguan langsung terhadap kapasitas produksi, dengan risiko eskalasi yang berpotensi meluas ke kawasan.
Perubahan ini secara langsung meningkatkan urgensi bagi Indonesia dalam merespons. Jika sebelumnya gangguan masih dapat dipandang sebagai disrupsi logistik yang bersifat sementara, maka terganggunya kapasitas produksi serta potensi perluasan konflik menciptakan risiko pasokan yang lebih dalam dan berkelanjutan. Dalam kondisi ini, relokasi sumber pasokan bahan baku semi-finished tidak lagi sekadar langkah penyesuaian, tetapi menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga kesinambungan produksi industri baja nasional.
Pada saat yang sama, tekanan dari sisi pasar berkembang secara paralel. Tertutupnya akses ke pasar Timur Tengah akibat konflik tidak hanya menghambat distribusi, tetapi juga menahan volume ekspor dari produsen besar dunia. Kelebihan pasokan tersebut pada akhirnya akan mencari pasar alternatif, dan Indonesia menjadi salah satu tujuan yang paling rentan karena karakter pasarnya yang relatif terbuka. Kondisi ini meningkatkan risiko masuknya produk baja jadi dalam jumlah besar ke pasar domestik.
Kombinasi gangguan pada sisi pasokan dan tekanan pada sisi pasar tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap Indonesia tidak lagi berlangsung secara bertahap, melainkan terjadi secara simultan dan saling memperkuat. Keterbatasan pasokan bahan baku mendorong kebutuhan relokasi sourcing dalam waktu cepat, sementara pada saat yang sama pasar domestik menghadapi potensi banjir impor produk jadi. Situasi ini menandai pergeseran dari disrupsi logistik menuju tekanan struktural terhadap industri baja nasional.
Dalam konteks tersebut, respons yang diperlukan tidak hanya bersifat adaptif, tetapi juga harus dilakukan secara segera dan terukur, mengingat perubahan dari gangguan distribusi menuju gangguan produksi serta potensi eskalasi kawasan menjadikan waktu sebagai faktor kritis dalam menjaga stabilitas pasokan dan keberlangsungan industri dalam negeri. Oleh karena itu, respons perlu dilakukan secara paralel oleh pelaku industri dan pemerintah. Pada sisi pasokan, pelaku industri perlu mempercepat diversifikasi sumber bahan baku semi-finished sekaligus memaksimalkan pemanfaatan pasokan dalam negeri yang tersedia untuk menjaga kesinambungan produksi di tengah terganggunya aliran dari Timur Tengah. Pada saat yang sama, pada sisi pasar, pemerintah perlu memperkuat pengawasan arus impor untuk mengantisipasi potensi lonjakan produk baja jadi akibat pergeseran arus perdagangan global. Instrumen trade remedies dan pengendalian impor menjadi kunci untuk memastikan bahwa tekanan dari produk impor tidak langsung menekan harga dan utilisasi industri domestik. Keterpaduan antara optimalisasi pasokan domestik, adaptasi pelaku industri, dan respons kebijakan pemerintah menjadi faktor penentu dalam mencegah tekanan eksternal berkembang menjadi gangguan struktural terhadap industri baja nasional.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.