
Ekspor baja Tiongkok pada 2025 mencapai 119,02 juta ton, meningkat 7,5 persen secara tahunan dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah. Dari satu sisi, capaian ini mencerminkan kemampuan struktural industri baja Tiongkok untuk terus menyalurkan surplus produksi ke pasar ekspor di tengah tekanan permintaan domestik. Namun di sisi lain, lonjakan ekspor tersebut memperbesar distorsi di pasar baja global karena terjadi di tengah kelebihan kapasitas produksi baja global yang diperkirakan telah melampaui 600 juta ton, sehingga menciptakan tekanan serius terhadap industri baja di berbagai negara yang harus menurunkan produksi, menghentikan operasi, bahkan mengalami kebangkrutan.
Analisis destinasi ekspor oleh Shanghai Metal Market (SMM) untuk periode ekspor Januari-November 2025 menunjukkan bahwa kenaikan ekspor tersebut tidak tersebar merata, melainkan terkonsentrasi pada sejumlah negara tertentu, sementara banyak pasar lain justru mengalami penurunan, sehingga tekanan yang ditimbulkan bersifat asimetris antar-pasar. Dalam konteks ini, industri baja nasional menghadapi salah satu tekanan terbesar, seiring dengan posisi Indonesia yang muncul sebagai salah satu tujuan utama penyaluran ekspor baja Tiongkok, di mana tambahan hampir satu juta ton dalam satu tahun mendorong total impor baja asal Tiongkok mencapai sekitar 6,4 juta ton, sebuah skala yang jelas bukan angka marginal bagi pasar domestik yang masih didominasi impor dengan pangsa sekitar 40–50 persen.
Dalam konteks tersebut, penting bagi pelaku industri dan pengambil kebijakan untuk menelaah secara lebih mendalam apa yang sebenarnya terjadi pada ekspor baja Tiongkok pada 2025, mengapa Indonesia menjadi salah satu tujuan utama penyaluran volume tersebut, serta apa konsekuensi pasar dan opsi kebijakan yang relevan untuk menjaga keberlanjutan industri baja nasional.
Driver Perubahan Orientasi Pasar Ekspor Baja Tiongkok
Data Shanghai Metal Market (SMM) untuk periode ekspor Januari–November 2025 menunjukkan bahwa kenaikan ekspor baja Tiongkok terkonsentrasi pada sejumlah negara tertentu, terutama Filipina (+1,55 juta ton yoy), Thailand (+1,34 juta ton yoy), dan Arab Saudi (+1,13 juta ton yoy), serta Indonesia yang menempati posisi keempat dengan tambahan sekitar +0,92 juta ton yoy. Pola konsentrasi ini mencerminkan karakter pasar negara-negara tersebut yang memiliki kebutuhan impor struktural, keterbatasan kapasitas atau fleksibilitas produksi baja domestik, serta hambatan perdagangan terhadap baja Tiongkok yang relatif lebih rendah dibandingkan pasar lain. Dalam konteks ini, kenaikan ekspor ke Filipina dan Arab Saudi sejalan dengan kuatnya permintaan dari sektor infrastruktur dan konstruksi skala besar, sementara di Thailand peningkatan impor berkaitan dengan perannya sebagai hub manufaktur regional yang membutuhkan pasokan baja kompetitif sebagai input bagi rantai produksi berorientasi ekspor.
Sebaliknya, penurunan ekspor baja Tiongkok ke Vietnam, India, Korea Selatan, Taiwan, serta sejumlah negara maju pada 2025 berkaitan erat dengan meningkatnya intensitas instrumen trade remedies dan pengendalian impor di negara-negara tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar-pasar ini secara aktif menggunakan kombinasi bea masuk anti-dumping (AD), countervailing duties (CVD), safeguard measures, serta pengetatan standar teknis dan kepabeanan untuk membatasi masuknya baja murah asal Tiongkok, sehingga secara efektif mengurangi daya saing ekspor Tiongkok di pasar mereka.
Di Vietnam, yang sebelumnya merupakan salah satu tujuan ekspor terbesar baja Tiongkok, pemerintah memperketat perlindungan industri dalam negeri melalui penyelidikan dan penerapan bea anti-dumping pada produk HRC, CRC, dan sejumlah produk hilir. Di India, penurunan ekspor dipengaruhi oleh penggunaan trade remedies yang lebih agresif dan sistematis, diperkuat oleh kebijakan non-tarif seperti quality control orders (QCOs) dan persyaratan sertifikasi domestik yang meningkatkan hambatan masuk bagi baja impor. Sementara itu, di Korea Selatan dan Taiwan, tekanan berasal dari kombinasi kebijakan perdagangan dan kepentingan industri domestik yang kuat, melalui perluasan cakupan bea anti-dumping serta pengawasan asal barang. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, penurunan ekspor baja Tiongkok bersifat lebih struktural dan telah berlangsung lebih lama, didorong oleh rezim proteksi berlapis seperti Section 232, CBAM, serta berbagai instrumen tarif dan non-tarif lain yang diterapkan secara konsisten.
Refleksi Kebijakan dan Strategi Industri Baja 2026
Bagi Indonesia, kenaikan impor baja dari Tiongkok pada 2025 semakin memperberat kondisi industri baja nasional yang selama bertahun-tahun beroperasi dengan tingkat utilisasi kapasitas yang rendah, umumnya di bawah 60 persen. Laju kenaikan impor baja asal Tiongkok ke Indonesia yang mencapai sekitar 17 persen secara tahunan jauh melampaui pertumbuhan permintaan baja domestik yang diperkirakan hanya berada pada kisaran 5–6 persen. Ketimpangan laju pertumbuhan ini menunjukkan bahwa tambahan impor tidak sepenuhnya diserap oleh ekspansi kebutuhan pasar, melainkan memperdalam kompetisi di pasar domestik yang sudah relatif jenuh dan berisiko menekan kapasitas produksi dalam negeri secara berkelanjutan.
Sinyal keberlanjutan tantangan struktural ekspor baja Tiongkok masih terlihat pada awal 2026, tercermin dari volume ekspor yang kembali tinggi pada bulan Januari. Pola ini menunjukkan bahwa dorongan ekspor tidak berhenti pada capaian rekor tahun sebelumnya, melainkan berpotensi berlanjut sebagai respons terhadap lemahnya permintaan domestik dan tekanan margin yang persisten di pasar dalam negeri Tiongkok. Dalam konteks tersebut, ketergantungan produsen baja Tiongkok terhadap pasar ekspor muncul bukan sebagai fenomena sementara, melainkan sebagai kecenderungan struktural yang semakin menguat.
Bagi industri baja nasional, dampak dari arus impor tersebut terutama tercermin pada dinamika harga dan kinerja keuangan. Impor baja Tiongkok tidak hanya hadir dalam volume besar, tetapi juga dengan harga yang sangat agresif, sehingga menciptakan efek ganda negatif berupa penurunan harga pasar dan penyempitan margin produsen domestik secara simultan. Dalam kondisi pasar yang sudah rapuh, kombinasi ini memperlemah kinerja finansial, meningkatkan risiko kerugian operasional, dan pada titik tertentu berujung pada kegagalan usaha serta kebangkrutan, sebagaimana tercermin pada kasus PT Ispat Indo sebagai ilustrasi konkret kerentanan industri baja nasional terhadap banjir impor berharga rendah.
Dalam konteks perdagangan global, dinamika tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar alternatif utama bagi penyaluran ekspor baja Tiongkok. Ketika akses ke pasar-pasar yang lebih protektif semakin tertutup akibat penerapan instrumen trade remedies dan kebijakan non-tarif, volume ekspor Tiongkok secara rasional dialihkan ke negara-negara dengan hambatan perdagangan yang relatif lebih rendah, basis impor yang besar, serta permintaan domestik yang masih tumbuh. Pola ini menjelaskan mengapa Indonesia tidak hanya menjadi importir baja Tiongkok yang besar secara level, tetapi juga muncul sebagai penyerap signifikan dari pertumbuhan ekspor baja Tiongkok pada 2025.
Mempertimbangkan analisa di atas, menjadi krusial bagi pelaku industri dan pengambil kebijakan di Indonesia untuk menelaah secara lebih mendalam apa yang sebenarnya terjadi pada ekspor baja Tiongkok pada 2025, mengapa Indonesia menjadi salah satu tujuan utama penyaluran volume tersebut, serta apa konsekuensi pasar dan opsi kebijakan yang relevan untuk menjaga keberlanjutan industri baja nasional. Tanpa pemahaman struktural yang tepat dan respons kebijakan yang proporsional, Indonesia berisiko terus menjadi pasar tujuan penyaluran kelebihan kapasitas baja global, bukan hanya dari Tiongkok, tetapi juga dari negara-negara eksportir baja lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, Vietnam, Taiwan, dan India. Dalam kondisi tersebut, Indonesia berpotensi gagal berkembang sebagai pasar yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan untuk mendukung penguatan dan kemandirian industri baja nasional.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.