
SMInsights: Berita Baja Mingguan – Minggu III Desember 2025
Perkembangan pasar baja global pada Minggu III Desember 2025 menegaskan bahwa dinamika industri tidak lagi didorong semata oleh fluktuasi harga jangka pendek, melainkan semakin dibentuk oleh kondisi permintaan domestik yang beragam, kebijakan perdagangan, serta intervensi struktural pemerintah. Fragmentasi pasar yang terlihat antar-kawasan mencerminkan perbedaan kondisi pasar domestik dan kerangka kebijakan yang berlaku, sekaligus menunjukkan bahwa arah pasar ke depan akan sangat ditentukan oleh kebijakan nasional dan regional dalam mengelola pasokan, arus impor, dan struktur industri baja masing-masing negara.
I. Perkembangan Harga Baja Minggu III Desember 2025
Perkembangan harga baja global pada Minggu ketiga Desember 2025 menunjukkan pelemahan yang masih dominan di sebagian besar kawasan utama, dengan India menjadi pengecualian yang mencatat penguatan harga relatif merata di hampir semua jenis komoditas baja. Pola ini menegaskan bahwa dinamika pasar baja global pada akhir tahun semakin terfragmentasi dan terutama ditentukan oleh kondisi permintaan domestik masing-masing kawasan, bukan oleh pergerakan harga global yang seragam.
Di Tiongkok, harga baja domestik bergerak melemah hingga stagnan. Harga CRC turun dibandingkan Minggu II, mencerminkan berlanjutnya lemahnya permintaan hilir dari sektor manufaktur, sementara harga HRC dan GI cenderung stabil, menandakan bahwa tekanan penurunan tidak merata di seluruh produk flat. Pada segmen long products, harga rebar dan wire rod bergerak relatif stabil, menunjukkan bahwa penyesuaian harga pada Minggu III lebih bersifat selektif dibandingkan koreksi luas pada minggu sebelumnya. Di pasar ekspor, harga CRC (FOB) Tiongkok tetap stabil, mencerminkan upaya produsen mempertahankan daya saing ekspor di tengah tekanan domestik tanpa mendorong kenaikan harga agresif.
Di ASEAN, harga HRC kembali stabil dibandingkan Minggu II. Stabilitas ini mencerminkan keseimbangan sementara antara pasokan impor regional dan permintaan downstream yang masih terbatas, sehingga tidak muncul dorongan kenaikan harga namun juga tidak terjadi koreksi lanjutan.
Berbeda dengan kawasan lain, India mencatat penguatan harga di hampir seluruh produk baja utama. Harga HRC, CRC, GI, rebar, dan wire rod semuanya meningkat dibandingkan Minggu II, mencerminkan kuatnya permintaan domestik dan kemampuan produsen meneruskan harga jual yang lebih tinggi. Sementara itu, harga scrap justru turun, mengindikasikan pelonggaran tekanan biaya bahan baku. Kombinasi kenaikan harga produk jadi dan penurunan scrap mempertegas posisi India sebagai pasar dengan kondisi domestik yang paling ketat pada periode ini.
Di Turki, harga rebar dan wire rod kembali melemah, mencerminkan lemahnya permintaan ekspor dan tekanan dari pasar regional, sementara harga billet dan scrap relatif stabil. Pola ini menunjukkan bahwa tekanan utama masih berada pada segmen long products, sementara biaya bahan baku tidak mengalami perubahan signifikan.
Di kawasan Timur Tengah/Egypt, harga rebar domestik turun dibandingkan minggu kedua. Penurunan ini mencerminkan melemahnya permintaan konstruksi serta penyesuaian harga oleh produsen di tengah kondisi pasar regional yang kurang mendukung.
Di Eropa, harga HRC, rebar, dan wire rod kembali terkoreksi. Pelemahan ini sejalan dengan rendahnya aktivitas pemesanan menjelang penutupan tahun, ketidakpastian ekonomi, serta tekanan dari harga impor yang tetap kompetitif meskipun ruang impor semakin terbatas oleh mekanisme safeguard.
Di Amerika Serikat, harga HRC domestik mengalami penurunan dibandingkan minggu sebelumnya. Koreksi ini menunjukkan meredanya momentum kenaikan sebelumnya, seiring dengan kehati-hatian pembeli dalam melakukan restocking menjelang akhir tahun meskipun struktur pasar domestik masih relatif terlindungi.
Secara keseluruhan, Minggu III Desember 2025 menegaskan kontras yang semakin jelas antara India yang menguat dan sebagian besar kawasan lain yang melemah atau stagnan. Bagi Indonesia, kondisi ini memperkuat risiko berlanjutnya tekanan harga global dari kawasan yang melemah, khususnya Tiongkok, serta meningkatkan potensi limpahan pasokan impor di tengah pelemahan permintaan global menjelang pergantian tahun.
Ringkasan Harga Baja – Minggu III Desember 2025 (USD/ton)
| Kawasan | HRC | CRC | GI | Rebar | Wire Rod | Scrap |
| China (Domestic) | 465–470 → | 555–570 ↓ | 580–590 → | 455–480 → | 505 → | — |
| China (FOB) | — | 520–535 → | — | — | — | — |
| ASEAN | 465 → | — | — | — | — | — |
| India | 565 ↑ | 700–720 ↑ | 770–780 ↑ | 480–540 ↑ | 480–495 ↑ | 320 ↓ |
| Turkey | — | — | — | 555–570 ↓ | 565–580 ↓ | 369 → |
| Middle East / Egypt | — | — | — | 635–695 ↓ | — | — |
| Europe | 600–630 ↓ | — | — | 560–615 ↓ | 570–600 ↓ | — |
| United States | 920–950 ↓ | — | — | — | — | — |
Keterangan: ↑ naik w/w; ↓ turun w/w; → stabil (≤ ±0,5%)
II. Perkembangan Perdagangan Baja Global – Minggu III Desember 2025
Menjelang akhir 2025, pasar baja global mulai menunjukkan pergeseran penting dari sekadar dinamika harga jangka pendek menuju pengetatan struktural berbasis kebijakan.
Di Tiongkok, pemerintah secara resmi memperkenalkan kembali mekanisme perizinan ekspor baja yang akan berlaku mulai Januari 2026, mencakup produk hulu hingga hilir. Kebijakan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengawasan ekspor, meredam friksi dagang, dan mengatasi paradoks kenaikan volume ekspor yang justru disertai penurunan harga. Pengetatan ini diperkuat oleh dorongan industri, melalui CISA, untuk meningkatkan disiplin produksi dan mengalihkan fokus dari ekspansi volume ke profitabilitas dan kualitas.
Di Eropa, tekanan kebijakan datang dari sisi perdagangan melalui pemanfaatan kuota impor yang hampir sepenuhnya terserap di banyak produk, baik flat maupun long steel. Kondisi ini menandakan semakin sempitnya ruang masuk baja impor menjelang akhir periode kuota 2025, sekaligus memperkuat posisi produsen domestik. Pengetatan kuota ini juga beririsan langsung dengan implementasi CBAM, yang mulai membentuk ulang preferensi pembeli dan struktur harga, terutama untuk produk impor berbasis karbon tinggi.
Sementara itu, Amerika Serikat dan India berada pada kondisi yang relatif berbeda. AS memasuki akhir tahun dengan pasar domestik yang ketat dan ekspektasi harga tinggi, didukung oleh pembatasan impor dan kuatnya posisi produsen lokal. India, di sisi lain, muncul sebagai motor permintaan, dengan dukungan belanja pemerintah dan kebijakan fiskal, meskipun tetap menghadapi risiko dari peningkatan impor dan dinamika tarif global.
Secara prospektif, Fitch Ratings memandang 2026 sebagai tahun pemulihan moderat bagi industri baja global. Penurunan konsumsi dan produksi di Tiongkok diperkirakan akan diimbangi oleh pemulihan permintaan di kawasan lain, terutama India, Eropa, dan AS. Namun, pemulihan ini bersifat tidak merata dan sangat bergantung pada kebijakan perdagangan, pembatasan impor, serta instrumen non-tarif yang semakin dominan.
Ringkasnya, akhir 2025 menandai pergeseran fase pasar baja global: dari kompetisi berbasis harga dan volume menuju kompetisi berbasis kebijakan, kuota, dan kontrol perdagangan, yang akan menjadi tema utama pembentukan pasar sepanjang 2026.
III. Kebijakan & Trade Remedies – Minggu III Desember 2025
Perkembangan kebijakan perdagangan pada Minggu III Desember 2025 menunjukkan penguatan tren proteksionisme di pasar baja global, dengan semakin banyak negara mengaktifkan instrumen anti-dumping, anti-subsidi, safeguard, serta pengawasan administratif atas arus perdagangan. Langkah-langkah ini mencerminkan respons langsung terhadap tekanan kelebihan pasokan global dan meningkatnya sensitivitas domestik terhadap impor baja berharga rendah.
Di Amerika Serikat, otoritas perdagangan membuka sejumlah investigasi baru yang mencakup produk baja hilir, termasuk steel wheels dan trailer berbasis baja. Fokus kebijakan yang meluas ke produk turunan ini menunjukkan upaya untuk menutup celah penghindaran bea masuk anti-dumping dan anti-subsidi yang telah berlaku pada baja primer. Pendekatan tersebut mempertegas bahwa rezim proteksi AS tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diperluas ke seluruh rantai nilai produk berbasis baja.
Kanada melanjutkan penegakan kebijakan perdagangannya melalui penetapan hasil dumping pada sejumlah produk baja, disertai dengan proses lanjutan untuk menilai dampak terhadap industri domestik. Pendekatan ini menegaskan konsistensi Kanada dalam menerapkan kerangka hukum perdagangan secara bertahap, dengan memisahkan penilaian praktik perdagangan tidak adil dan evaluasi kerugian industri sebelum kebijakan diberlakukan secara penuh.
Di India, kebijakan proteksi diarahkan secara lebih selektif pada segmen baja bernilai tambah tinggi. Pengenaan bea anti-dumping jangka panjang terhadap baja listrik canai dingin non-oriented asal Tiongkok mencerminkan prioritas India dalam melindungi industri strategis yang terkait langsung dengan sektor kendaraan listrik, peralatan energi, dan manufaktur lanjutan. Langkah ini juga mempersempit ruang masuk impor baja khusus dengan harga rendah ke pasar domestik India.
Sementara itu, Uni Eropa menghadapi pengetatan perdagangan melalui mekanisme yang bersifat struktural. Tingginya tingkat pemanfaatan kuota safeguard pada berbagai produk baja secara efektif membatasi volume impor menjelang akhir tahun, meskipun tanpa pengumuman kebijakan baru. Kondisi ini menandakan bahwa instrumen perlindungan yang telah ada tetap memainkan peran penting dalam membentuk dinamika pasar regional.
Dari sisi penawaran global, Tiongkok mengumumkan penerapan kembali sistem lisensi ekspor baja yang akan mulai berlaku pada awal 2026. Kebijakan ini mencerminkan perubahan pendekatan dari ekspansi volume ekspor menuju pengawasan arus ekspor yang lebih ketat, seiring meningkatnya friksi perdagangan internasional akibat lonjakan ekspor baja dengan tekanan harga yang berkelanjutan.
Di Afrika Selatan, otoritas perdagangan menginisiasi dan meninjau sejumlah kasus trade remedies terhadap berbagai produk baja. Langkah ini menunjukkan bahwa negara berkembang juga semakin aktif menggunakan instrumen perlindungan perdagangan untuk mengelola tekanan impor dan menjaga keberlangsungan industri domestik.
Secara keseluruhan, kebijakan dan trade remedies pada Minggu III Desember 2025 menegaskan bahwa arus perdagangan baja global semakin dipengaruhi oleh intervensi kebijakan lintas negara. Lingkungan perdagangan yang semakin terfragmentasi ini meningkatkan ketidakpastian pasar dan memperkuat peran kebijakan nasional sebagai faktor penentu utama dalam pembentukan pola perdagangan baja global ke depan.
Ringkasan Trade Remedies Baja Global – Minggu III Desember 2025
| Negara | Tindakan | Produk Terdampak | Status |
| Amerika Serikat (DOC) | Investigasi anti-circumvention (penghindaran AD/CVD) | Steel wheels 22.5–24.5 inch (HS 8708), menggunakan HRC asal Tiongkok | Dimulai; aktif per 9 Desember 2025 |
| Amerika Serikat (DOC) | Investigasi dumping dan subsidi | Steel trailer wheels berbasis baja | Aktif |
| Amerika Serikat (ITC) | Pemeriksaan injury industri domestik | Steel trailer wheels / truck trailers | Dalam proses |
| Kanada (CBSA) | Final determination anti-dumping | Carbon steel wire asal Vietnam | Dumping dikonfirmasi; margin 5,7% |
| Kanada (CBSA) | Penetapan anti-dumping (eksportir lain) | Carbon steel wire asal Vietnam | AD 25,3% untuk eksportir non-kooperatif |
| Kanada (CBSA) | Countervailing duty (subsidi) | Steel strapping asal Tiongkok | CVD CNY 0,44/kg |
| Kanada (CITT) | Pemeriksaan injury industri domestik | Carbon steel wire & steel strapping | Menunggu putusan injury |
| India (DGTR) | Pengenaan bea masuk anti-dumping | Cold-Rolled Non-Oriented Electrical Steel (CRNO) asal Tiongkok | AD USD 223,82/ton; berlaku 5 tahun |
| India (DGTR) | Pengecualian produk dari AD | Cold-Rolled Fully Hardened Electrical Steel (CRFH) | Dikecualikan |
| Uni Eropa (EC) | Pengelolaan safeguard TRQ | HRC | Kuota negara tertentu terpakai penuh |
| Uni Eropa (EC) | Pengelolaan safeguard TRQ | Coated steel sheets | Kuota terpakai penuh |
| Uni Eropa (EC) | Pengelolaan safeguard TRQ | Long products (rebar, wire rod) | Tekanan kuota meningkat |
| Tiongkok (MoC) | Penerapan lisensi ekspor baja | Pig iron, Semi-finished steel, flat & long products | Berlaku mulai 1 Januari 2026 |
| Afrika Selatan (ITAC) | Initiation anti-dumping investigation | Hot-rolled steel products | Investigasi dimulai |
| Afrika Selatan (ITAC) | Initiation anti-dumping investigation | Cold-rolled steel products | Investigasi dimulai |
| Afrika Selatan (ITAC) | Initiation anti-dumping investigation | Galvanised / coated steel products | Investigasi dimulai |
| Afrika Selatan (ITAC) | Review / tindakan lanjutan trade remedies | Produk baja tertentu lainnya | Dalam proses |
| Turkiye | Reformasi kerangka hukum trade remedies | Produk baja (umum) | Berlaku 2025–2026 |
IV. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel – Minggu III Desember 2025
Pada minggu ketiga Desember 2025, arah investasi industri baja global menunjukkan konsolidasi pada proyek berorientasi pasar dan mitigasi risiko perdagangan. Di Amerika Serikat, POSCO mengonfirmasi investasi USD 582 juta untuk mengambil 20% saham pada proyek pabrik baja berbasis tungku listrik milik Hyundai Steel di Louisiana. Proyek senilai total USD 5,8 miliar ini dirancang sebagai fasilitas EAF terintegrasi dengan kapasitas 2,7 juta ton per tahun, difokuskan pada produksi baja otomotif rendah emisi bagi pasar Amerika Utara.
Bagi Hyundai Steel, proyek Louisiana menjadi instrumen strategis untuk menghadapi tarif impor baja AS yang semakin ketat sekaligus memenuhi permintaan OEM otomotif terhadap pasokan baja lokal dengan intensitas karbon lebih rendah. Struktur produksi berbasis EAF dan pemanfaatan scrap domestik AS menegaskan bahwa orientasi utama proyek ini adalah keamanan pasar dan kepatuhan perdagangan, dengan aspek dekarbonisasi berjalan secara bertahap.
Di tingkat global, Nippon Steel mengumumkan rencana investasi hingga USD 39 miliar menuju 2030 untuk memperluas kapasitas produksi menjadi sekitar 100 juta ton per tahun, dengan fokus proyek di Amerika Serikat dan India. Berbeda dengan proyek POSCO–Hyundai Steel yang telah masuk tahap komitmen investasi, langkah Nippon Steel masih berada pada level strategi jangka menengah dan mencerminkan kehati-hatian dalam menyeimbangkan ekspansi kapasitas, profitabilitas, dan dinamika kebijakan perdagangan.
Secara keseluruhan, investasi yang muncul pada periode ini menegaskan bahwa peningkatan kapasitas dan adopsi teknologi rendah karbon tetap berlanjut, namun didorong terutama oleh tekanan tarif, lokalisasi produksi, dan fragmentasi pasar global, bukan oleh akselerasi transisi hijau yang agresif.
Ringkasan Investasi & Proyek Baja – Minggu III Desember 2025
| Negara | Perusahaan | Jenis Investasi | Lokasi | Nilai / Kapasitas | Fokus Utama | Status |
| Amerika Serikat | POSCO | Investasi ekuitas (20%) pada pabrik EAF | Donaldsonville, Louisiana | USD 582 juta (bagian dari proyek USD 5,8 miliar) | Baja otomotif rendah karbon | Dikonfirmasi, 18 Des 2025 |
| Amerika Serikat | Hyundai Steel | Pembangunan pabrik EAF terintegrasi | Donaldsonville, Louisiana | 2,7 juta ton/tahun | Baja otomotif low-emission | Dikonfirmasi; operasi target 2029 |
| Global (AS & India) | Nippon Steel | Rencana ekspansi kapasitas global | AS & India | Total capex ± USD 39 miliar hingga 2030 | Ekspansi kapasitas & efisiensi | Rencana strategis diumumkan, Des 2025 |
V. Isu Strategis yang Perlu Dicermati
Pertama, ketimpangan kondisi domestik antar-kawasan semakin melebar, dengan India muncul sebagai pengecualian di tengah pelemahan global. Kenaikan harga yang relatif merata di India, di saat Tiongkok, Eropa, dan Amerika Serikat melemah, menunjukkan bahwa permintaan domestik yang kuat dan dukungan kebijakan dapat mengisolasi pasar nasional dari tekanan global dalam jangka pendek. Namun, ketimpangan ini juga meningkatkan risiko arus perdagangan tidak seimbang, terutama ketika surplus dari kawasan yang melemah mencari pasar alternatif.
Kedua, Tiongkok memasuki fase penyesuaian struktural yang berimplikasi luas terhadap perdagangan global. Pelemahan harga domestik yang konsisten, dikombinasikan dengan stabilitas harga ekspor dan rencana penerapan lisensi ekspor mulai 2026, mengindikasikan pergeseran dari strategi ekspansi volume menuju pengendalian arus ekspor. Langkah ini berpotensi mengurangi volatilitas ekstrem harga ekspor, tetapi dalam jangka pendek tetap menyisakan risiko tekanan harga global apabila disiplin produksi dan ekspor tidak berjalan efektif.
Ketiga, eskalasi instrumen trade remedies menandai perubahan karakter kompetisi global. Perluasan investigasi ke produk baja hilir dan turunan, sebagaimana terlihat di Amerika Serikat dan Kanada, menunjukkan bahwa perlindungan tidak lagi terbatas pada baja primer. Negara-negara semakin aktif menutup celah penghindaran kebijakan melalui produk olahan, yang secara langsung meningkatkan kompleksitas rantai pasok dan biaya kepatuhan bagi pelaku industri baja internasional.
Keempat, peran kebijakan non-tarif semakin dominan dalam membentuk pasar, khususnya di Eropa. Tingginya pemanfaatan kuota safeguard dan interaksinya dengan implementasi CBAM mempersempit ruang impor tanpa harus mengumumkan kebijakan baru. Mekanisme ini menciptakan tekanan struktural yang cenderung bertahan, sekaligus menggeser persaingan dari harga menuju kepatuhan karbon dan regulasi perdagangan.
Kelima, meningkatnya aktivisme trade remedies di negara berkembang—seperti Afrika Selatan dan India—menunjukkan bahwa penggunaan instrumen perlindungan tidak lagi menjadi domain negara maju. Tren ini mencerminkan kesadaran yang semakin luas akan dampak kelebihan pasokan global terhadap keberlanjutan industri domestik, serta memperkuat fragmentasi pasar baja global ke dalam blok-blok kebijakan nasional.
Bagi Indonesia, rangkaian perkembangan ini menegaskan bahwa risiko utama ke depan bukan hanya berasal dari tekanan harga global, tetapi dari perubahan pola perdagangan akibat kebijakan. Pelemahan di Tiongkok dan Eropa meningkatkan potensi limpahan pasokan, sementara eskalasi trade remedies di berbagai negara dapat mengalihkan arus ekspor ke pasar yang relatif terbuka. Kondisi ini menuntut kewaspadaan berkelanjutan dalam pengelolaan impor, penguatan instrumen perlindungan perdagangan, serta konsistensi kebijakan industri agar pasar domestik tidak menjadi penampung surplus global di tengah siklus pelemahan.
Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.