
Mandat Presiden Prabowo Subianto untuk membangun tiga ratus ribu jembatan di seluruh Indonesia menandai fase baru pembangunan nasional. Mandat tersebut bukan sekadar respons terhadap kebutuhan infrastruktur, tetapi pernyataan tegas bahwa negara harus hadir sampai ke titik terakhir kehidupan rakyat: desa-desa terjauh, lembah terdalam, dan wilayah yang aksesnya selama ini ditentukan oleh cuaca dan keberanian warga menyeberangi sungai.
Dalam konteks inilah Krakatau Steel (KS) tampil sebagai BUMN strategis yang bukan hanya memproduksi baja, tetapi telah membuktikan kemampuan membangun jembatan cepat, kuat, dan tahan lama dari waktu ke waktu. Rekam jejak KS tidak dimulai hari ini; sejarahnya telah dimulai sejak hampir dua dekade lalu.
Jembatan Te-KS-as: Bukti Historis Kemampuan KS dalam Membangun Jembatan Baja
Kemampuan Krakatau Steel membangun jembatan baja modern telah teruji sejak berdirinya Jembatan Te-KS-as di Universitas Indonesia, Depok. Nama “Te-KS-as” sendiri lahir dari gabungan dua fakultas yang dihubungkannya—Teknik dan Sastra—sebuah permainan kata yang membuat jembatan ini tidak hanya ikonik secara fisik, tetapi juga melekat secara emosional dalam kehidupan kampus.
Jembatan sepanjang 80 meter ini dibangun hanya dalam empat bulan sebagai hibah penuh dari Krakatau Steel. Dengan menggunakan baja tahan karat cuaca (BTKC), strukturnya dirancang untuk bertahan hingga seratus tahun, membuktikan bahwa industri baja nasional mampu menghasilkan material jembatan yang kuat, modern, dan tahan korosi. Tujuh box segmen baja yang menyusunnya dipasang secara presisi hingga seluruh segmen itu tersambung pada momen simbolis 7/7/2007 pukul 07.00.
Desain Te-KS-as menyimpan makna filosofis. Dua pilon—Lingga setinggi 25 meter di sisi Fakultas Teknik dan Yoni setinggi 15 meter di sisi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya—menggambarkan pertemuan antara hard science dan soft science. Sunroof bergelombang berwarna biru melambangkan luasnya lautan ilmu pengetahuan, sementara perpaduan warna merah–hitam khas KS dengan kuning UI mempertegas identitas dan kolaborasi dalam karya tersebut.
Di malam hari, puluhan lampu otomatis yang memantul di permukaan Danau Mahoni menjadikan Te-KS-as bukan hanya sarana penghubung antarfakultas, tetapi juga ruang rekreasi yang hidup di lingkungan kampus. Hampir dua dekade setelah dibangun, jembatan baja tahan karat ini tetap kokoh dan estetis, menunjukkan ketangguhan material KS dan ketepatan engineering yang telah teruji waktu.
Te-KS-as menjadi pijakan historis yang menegaskan bahwa KS tidak sekadar memproduksi baja, tetapi mampu menghadirkan jembatan baja modern, cepat dibangun, dan berumur panjang. Kemampuan inilah yang kini menjadi modal kuat KS untuk menerima dan menjalankan Mandat Presiden dalam pembangunan jembatan rakyat di seluruh Indonesia.
Jembatan Cimandiri: Membuka Kembali Akses yang Terputus Total
Jembatan Cimandiri menghadirkan situasi yang sangat kritis. Di desa yang berjarak sekitar 178 kilometer dari Cilegon ini, jembatan penghubung utama terputus akibat kerusakan struktural yang sudah tidak memungkinkan untuk dipakai lagi. Kondisi tersebut memutus akses warga menuju sekolah, ladang, pasar, dan fasilitas kesehatan. Banyak keluarga harus memutar lebih dari lima kilometer, sementara saat hujan deras, aktivitas terpaksa berhenti karena sungai tidak dapat dilintasi dengan aman.
Dalam kondisi ini, KS bersama masyarakat membangun jembatan baru dengan bentang 35 meter dan lebar 1,2 meter. Progres konstruksi telah mencapai sekitar 70 persen, termasuk fondasi dan tiang utama yang kini telah berdiri di salah satu sisi jembatan. Penyelesaian ditargetkan pada pekan ketiga Desember 2025. Karena pekerjaan dilakukan dari nol, pembangunan Cimandiri menunjukkan bagaimana kemampuan manufaktur dan fabrikasi dalam negeri dapat dioperasikan secara cepat untuk memulihkan kembali akses vital masyarakat.
Pekerjaan rekonstruksi di Cimandiri memiliki tingkat kompleksitas teknis yang tinggi, mulai dari karakter tanah, perencanaan fondasi, hingga pemasangan pipa penyangga berdiameter besar. Namun dengan penanganan yang terukur, akses warga diharapkan kembali pulih sebelum akhir tahun.
Jembatan Citorek: Mengubah Akses Berbahaya Menjadi Jalur Aman
Berbeda dengan Cimandiri yang membutuhkan pembangunan total, Citorek menunjukkan bagaimana perbaikan jembatan yang sudah sangat rusak dapat mengubah risiko harian menjadi akses aman bagi masyarakat. Di Desa Citorek Kidul dan Citorek Tengah, jembatan kayu yang telah digunakan selama bertahun-tahun berada pada kondisi yang tidak layak, namun tetap dipakai setiap hari oleh masyarakat—termasuk anak-anak sekolah dan petani yang harus melintas di atas struktur yang nyaris runtuh.
KS bersama warga melakukan perbaikan menyeluruh terhadap jembatan ini. Dengan bentang 32 meter dan lebar 1,5 meter, pekerjaan kini telah mencapai sekitar 94,5 persen dan ditargetkan selesai pada pekan kedua Desember 2025. Pekerjaan perbaikan mencakup penguatan fondasi, pemasangan tiang utama, penggantian sling, serta penambahan bordes dan elemen keselamatan. Meski awalnya merupakan program perbaikan, tingkat kerusakan yang ditemukan di lapangan membuat pekerjaan tersebut mendekati pembangunan ulang jembatan.
Hasilnya membawa perubahan langsung bagi warga: perjalanan kembali aman, kegiatan ekonomi bergerak lebih lancar, dan anak-anak tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk berangkat sekolah.
KS untuk Kemandirian Baja Nasional
Krakatau Steel telah menjadi tulang punggung kemandirian industri baja Indonesia selama lebih dari lima dekade. Dari jaringan jalan tol Trans-Jawa hingga jembatan sungai di berbagai provinsi, produk-produk baja KS telah digunakan secara luas dalam pembangunan infrastruktur strategis nasional. Berbagai jenis proyek—jembatan bentang pendek, jembatan rangka baja, jembatan pelengkung, hingga struktur baja tahan karat—mengandalkan pasokan material dari KS dan anak perusahaannya. Peran ini menjadikan KS bukan sekadar pemasok, melainkan fondasi penting pembangunan jembatan modern di seluruh negeri.
Pengalaman KS dalam berbagai proyek jembatan menunjukkan kapasitas yang jauh melampaui fungsi produsen material. Dalam berbagai pembangunan jembatan, komponen struktural—mulai dari pelat lantai, profil baja, pipa ASTM, , komponen galvanis SNI, hingga elemen sambungan—diproduksi melalui rantai pasok KS Group. Seluruh komponen tersebut diolah, diuji, dan dirakit berdasarkan standar mutu yang sama dengan jembatan-jembatan besar yang menggunakan material KS di berbagai wilayah Indonesia. Dengan demikian, struktur jembatan yang dibangun menggunakan komponen KS merupakan wujud dari kemandirian industri nasional.
Kemandirian ini menjadi semakin penting ketika pemerintah menetapkan mandat nasional untuk membangun tiga ratus ribu jembatan rakyat. Skala sebesar itu menuntut pasokan baja yang stabil, berkualitas, dan dapat diproduksi secara massal. KS memiliki kemampuan tersebut melalui kapasitas produksi baja struktural, baja tahan karat cuaca (BTKC), komponen jembatan modular, serta fasilitas fabrikasi yang memungkinkan produksi dalam jumlah besar dan distribusi ke berbagai daerah secara efisien. Dalam konteks pembangunan jembatan dalam skala puluhan hingga ratusan ribu unit per tahun, keberadaan industri baja nasional seperti KS bukan hanya keunggulan, tetapi syarat mutlak keberhasilan program.
Dengan pengalaman panjang, kualitas produk yang terbukti, jaringan manufaktur yang terintegrasi, serta kemampuan menyuplai seluruh komponen utama jembatan, KS berada di pusat ekosistem pembangunan jembatan nasional. KS menjadi simbol bahwa Indonesia tidak hanya mampu membangun jembatan, tetapi mampu melakukannya dengan material hasil karya bangsanya sendiri. Ini adalah inti dari kemandirian baja nasional yang sesungguhnya.
KS dalam Mandat Presiden: Mendorong Pemerataan Akses dan Penguatan Martabat Rakyat
Mandat Presiden Prabowo untuk membangun ratusan ribu jembatan rakyat merupakan langkah strategis untuk mengatasi kesenjangan antarwilayah, memastikan anak-anak dapat menempuh pendidikan dengan aman, membuka jalur yang lebih mudah bagi petani untuk membawa hasil panen, dan memutus keterisolasian yang selama ini membatasi perkembangan banyak desa di Indonesia. Pembangunan jembatan bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi instrumen negara untuk menghadirkan keadilan dasar hingga tingkat tapak.
Dalam kerangka itulah kemampuan industri nasional memainkan peran penting. Rekam jejak pembangunan jembatan baja—mulai dari Jembatan Te-KS-as di Universitas Indonesia hingga berbagai jembatan yang dibangun di banyak daerah—menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas manufaktur dan rekayasa yang memadai untuk mendukung agenda sebesar ini. Kemampuan memproduksi komponen struktural, rangka baja, modularisasi, serta rantai pasok material yang terintegrasi menjadi fondasi penting bagi keberhasilan program jembatan rakyat dalam skala yang luas.
Pembangunan hingga 300.000 jembatan rakyat diperkirakan akan membawa dampak sosial yang sangat besar. Jika satu jembatan saja dapat menghubungkan ratusan hingga ribuan warga dengan sekolah, layanan kesehatan, pasar, atau pusat kegiatan ekonomi, maka pembangunan ratusan ribu jembatan berpotensi meningkatkan akses layanan dasar bagi puluhan juta penduduk Indonesia. Ini adalah transformasi aksesibilitas skala nasional yang akan memengaruhi pola mobilitas, kesempatan ekonomi, dan kualitas hidup di desa serta pinggiran kota di seluruh provinsi.
Analisis terhadap kebutuhan jembatan rakyat dalam jumlah masif tersebut menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh konstruksi di lapangan, tetapi juga oleh kesiapan ekosistem industri dalam negeri untuk menyediakan material yang berkualitas, terstandar, dan berkesinambungan. Dalam konteks itulah industri baja nasional, khususnya Krakatau Steel Grup, memiliki posisi strategis, karena kapasitas manufakturnya memungkinkan percepatan pembangunan sekaligus menjamin kemandirian material yang dibutuhkan negara.
Pembangunan jembatan rakyat pada akhirnya bukan hanya tentang menghubungkan dua sisi sungai, tetapi tentang menghubungkan masyarakat dengan peluang hidup yang lebih adil dan sejahtera. Dalam upaya sebesar ini, industri nasional memiliki peran vital sebagai penggerak ekosistem yang memungkinkan negara mewujudkan mandat tersebut, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat luas di seluruh Indonesia.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.