
Pekan kedua November 2025 menunjukkan dinamika pasar baja global yang semakin tidak stabil, dengan harga yang bergerak tidak seragam di berbagai kawasan dan penawaran ekspor Tiongkok yang kian agresif akibat melemahnya permintaan domestik mereka. Di saat yang sama, gelombang kebijakan proteksi di India, Malaysia, Thailand, Inggris, dan Uni Eropa mempersempit akses pasar bagi produsen global dan meningkatkan risiko diversi ekspor ke kawasan dengan hambatan impor yang lebih rendah, termasuk Indonesia. Sejumlah negara juga terus melakukan investasi untuk modernisasi fasilitas, peningkatan kapasitas, dan penurunan emisi. Kombinasi dinamika harga, meluasnya proteksi, serta ekspansi kapasitas menuntut Indonesia untuk memperkuat perlindungan industri bajanya melalui pengawasan impor yang lebih ketat, peningkatan efektivitas instrumen trade remedies, dan penguatan dukungan kebijakan agar ketahanan industri baja nasional tetap terjaga di tengah pasar global yang semakin terfragmentasi.
I. Perkembangan Harga Baja Minggu II November 2025
Harga baja global pada minggu kedua November kembali menunjukkan dinamika yang sangat berbeda antar kawasan. Kondisi ini mencerminkan divergensi antara permintaan akhir tahun yang lesu, terutama di Tiongkok dan Eropa, dengan strategi penawaran dan penyesuaian biaya bahan baku regional yang terisolasi. Pergerakan harga di Tiongkok tetap menjadi faktor utama pembentuk tren, di mana agresivitas ekspornya yang meningkat memaksa kawasan lain bergerak menyesuaikan keseimbangan pasar yang berubah.
Di Tiongkok, harga baja domestik melemah di sebagian besar produk karena pasar fisik memasuki fase konsumsi rendah dan produsen terpaksa menurunkan harga demi menjaga arus kas menjelang akhir tahun. Harga HRC turun menjadi $465–$470 karena transaksi spot melambat, sementara CRC stabil pada $560–$570. Tekanan terbesar terlihat pada produk berlapis; GI melemah menjadi $585–$590 dan color coated turun signifikan ke $705–$905. Sementara itu untuk long products, harga rebar tercatat turun dan wire rods stabil. Lebih lanjut, harga ekspor Tiongkok turun lebih tajam (HRC $440 dan CRC $515). Penurunan ini adalah upaya produsen untuk mengimbangi lemahnya permintaan domestik dengan meningkatkan volume ekspor, mendorong kompetisi yang kuat di pasar regional dan global.
Dampak langsung tekanan Tiongkok terlihat jelas di ASEAN, di mana harga HRC impor turun ke $455 CFR. Pelemahan ini secara langsung terkait dengan koreksi harga ekspor Tiongkok, membuat importir di Asia Tenggara bereaksi dengan menahan pembelian dan menunggu titik harga yang lebih rendah. Tekanan turun juga dipengaruhi oleh penawaran kompetitif yang meningkat dari Tiongkok dan India di pasar HRC kawasan ini. Sebaliknya, India berada dalam kondisi relatif stabil meskipun tekanan turun tetap terlihat. Harga HRC melemah tipis menjadi $565–$625 seiring meningkatnya stok pabrik, dan CRC turun ke $700–$720. Di sisi long products, rebar stabil pada $455–$505 dan wire rods naik ke $455–465, karena permintaan proyek infrastruktur domestik menjaga pasar tetap hidup, didukung oleh stabilitas harga scrap lokal.
Pergerakan harga di Turki dan Timur Tengah sebagian besar bersifat cost-push, bukan didorong oleh permintaan. Di Turki, harga rebar dan wire rod naik (ke $545–$555 dan $555–$570), terutama untuk memperbaiki margin produsen setelah menyesuaikan harga dengan kenaikan biaya scrap di awal bulan. Namun, dengan harga scrap yang kemudian turun kembali ke $355 CFR, potensi tekanan harga pada finished products diperkirakan terjadi di minggu-minggu berikutnya. Di kawasan Middle East (khususnya Mesir), harga rebar naik ke $680–$795. Kenaikan ini terjadi karena produsen menaikkan harga jual untuk menutupi kenaikan biaya impor bahan baku yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar lokal, mengindikasikan pasar bergerak berdasarkan penyesuaian profitabilitas, bukan fundamental konstruksi yang membaik.
Sementara itu, pasar di Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan pola yang lebih terisolasi. Pasar Eropa untuk flat products bergerak naik: harga flat products mulai menunjukkan pemulihan. HRC di Eropa Utara naik ke $655–$675, mencerminkan keberhasilan pengurangan output oleh pabrik besar untuk menahan penurunan harga lebih lanjut. CRC ($760) dan HDG ($775) juga naik karena produsen mempertahankan premium produk bernilai tambah. Sebaliknya, rebar turun ke $575–$585 akibat lemahnya aktivitas konstruksi. Sedangkan long products mengalami penurunan untuk rebar dan wire rods stabil.
Terakhir, di Amerika Serikat, harga tetap jauh di atas level global. Harga HRC turun ke $840–$910 dari $920 minggu sebelumnya, mengikuti perlambatan pesanan manufaktur. Meskipun demikian, harga ini ditopang oleh volume produksi yang terkendali dan permintaan stabil dari sektor otomotif. Produk bernilai tambah seperti CRC ($1.125) dan plate ($1.150) menunjukkan rigiditas harga yang tinggi, sementara untuk long product harga tetap tinggi di $880–915. Harga AS mencerminkan struktur harga domestik yang terisolasi.
Ringkasan Harga Baja – Minggu II November 2025 (USD/ton)
| Kawasan | HRC | CRC | GI / HDG | Color Coated | Pipa Las | Rebar | Wire Rod | Scrap |
| Tiongkok (Domestik) | 465–470 ↓ | 560–570 → | 585–590 ↓ | 705–905 ↓ | 500 → | 440–465 ↓ | 495 → | n/a |
| Tiongkok (Ekspor) | 440 ↓ | 515 ↓ | n/a | n/a | n/a | n/a | n/a | n/a |
| ASEAN | 455 ↓ | n/a | n/a | n/a | n/a | 475 → | n/a | n/a |
| India | 565–625 ↓ | 700–720 ↓ | 770–780 ↓ | n/a | n/a | 455–505 → | 455–465 ↑ | 321 → |
| Turki | n/a | n/a | n/a | n/a | n/a | 545–555 ↑ | 555–570 ↑ | 355 ↓ |
| Middle East | n/a | n/a | n/a | n/a | n/a | 680–795 ↑ | n/a | n/a |
| Eropa | 655–675 ↑ | 760 ↑ | 775 ↑ | n/a | n/a | 575–585 ↓ | 600–625 → | n/a |
| Amerika Serikat | 840–910 ↓ | 1125 → | n/a | n/a | n/a | 880–915 → | n/a | 315–380 → |
Keterangan: ↑ naik w/w; ↓ turun w/w; → stabil (≤ ±0,5%); n/a tidak tersedia.
II. Perkembangan Perdagangan Baja Global – Minggu II November 2025
Perdagangan baja global pada minggu kedua November bergerak dalam suasana kehati-hatian, dengan produsen dan pembeli sama-sama berada dalam fase menunggu kejelasan arah harga. Dinamika baru yang sangat memengaruhi arus perdagangan minggu ini adalah penurunan produksi baja Tiongkok hingga mencapai level terendah empat tahun pada Oktober. Menariknya, penurunan produksi ini tidak lantas mengurangi tekanan suplai di pasar internasional. Karena permintaan domestik Tiongkok tetap lemah, produsen cenderung meningkatkan fokus pada pasar ekspor untuk menjaga utilisasi fasilitas, menciptakan tekanan kompetitif di seluruh kawasan.
Di dalam negeri Tiongkok sendiri, aktivitas pasar dilaporkan lebih lambat dibandingkan awal bulan karena pelaku pasar menahan pembelian, sementara volume penawaran tetap tinggi di tengah penurunan produksi. Kondisi ini seketika menular ke Asia. Banyak negara di Asia dan Timur Tengah menghadapi tekanan kompetitif yang lebih besar dari penawaran baja Tiongkok, terutama untuk produk dasar seperti HRC, CRC, billet, dan rebar. Penjual dari India, Jepang, Korea, dan Turki harus menyesuaikan harga ekspor mereka agar tetap kompetitif, yang pada akhirnya menekan volume transaksi baru di kawasan tersebut.
Di Asia Tenggara, pasar berada dalam posisi defensif. Importir di Vietnam, Indonesia, dan Thailand dilaporkan menunda pembelian dalam jumlah besar karena ekspektasi bahwa penawaran ekspor dari Tiongkok dan India masih berpotensi melemah. Hal ini membuat aktivitas pemesanan tetap rendah dan transaksi sebagian besar bersifat spot dengan volume kecil. Senada dengan itu, perdagangan India juga berada dalam tekanan yang sama. Analis mencatat bahwa produk-produk ekspor India menghadapi persaingan lebih ketat dari Tiongkok, sehingga volume pemesanan dari pasar tradisional India seperti Nepal, Bangladesh, Timur Tengah, dan Asia Tenggara tidak menunjukkan peningkatan. Keterbatasan fleksibilitas harga di pihak produsen India—karena biaya produksi domestik yang relatif tinggi—membuat posisi ekspor India semakin sulit bersaing.
Turki menghadapi dinamika yang sedikit berbeda. Produsen Turki mengalami tekanan dari dua sisi: pertama, penurunan harga scrap internasional menjelang akhir minggu yang membuat arah biaya bahan baku tidak stabil; dan kedua, meningkatnya penawaran dari Tiongkok dan CIS yang masuk ke pasar-pasar utama Turki, termasuk Timur Tengah dan Afrika Utara. Akibatnya, pembeli di kawasan tujuan ekspor tradisional Turki—seperti Israel, Balkan, dan beberapa negara Afrika Utara—tidak terburu-buru menutup transaksi karena menunggu harga yang lebih stabil, sehingga aktivitas pemesanan cenderung rendah.
Sementara itu, di Timur Tengah, pelaku pasar menghadapi kondisi yang beragam. Negara-negara Teluk masih mencatat permintaan impor yang stabil karena keberlanjutan proyek konstruksi besar, namun Mesir berada dalam tekanan akibat pelemahan nilai tukar dan kondisi ekonomi domestik. Beberapa analis mencatat bahwa produsen di Mesir mulai memperbesar orientasi jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas dan porsi ekspor. Namun, pada minggu kedua November, transaksi tetap terbatas dan lebih didorong oleh kebutuhan jangka pendek.
Di Eropa, isu utama yang membatasi perdagangan tetap terkait biaya energi yang tinggi, menekan daya saing produsen lokal di pasar internasional. Pabrik baja Eropa tidak berada dalam posisi yang cukup kuat untuk menurunkan harga ekspor secara agresif karena tekanan biaya yang tinggi, sehingga strategi utama tetap pada pengurangan produksi untuk menyeimbangkan pasokan domestik. Pasar ekspor Eropa karenanya masih terbatas, dan pembelian dari luar kawasan menunjukkan kecenderungan stagnan di tengah ketidakpastian kuota impor. Dinamika perdagangan di Amerika Serikat sebaliknya relatif stabil. Produsen di AS tetap fokus pada pasar domestik karena struktur harga lokal masih memungkinkan margin yang lebih baik dibandingkan ekspor. Tingginya proteksi tarif AS, membuat importir tidak terdorong untuk meningkatkan pembelian baja dari luar negeri.
Secara keseluruhan, perdagangan baja global pada minggu kedua November dicirikan oleh kehati-hatian yang meluas. Penawaran ekspor dari Tiongkok tetap mendominasi dan memberikan tekanan ke seluruh kawasan, sementara permintaan global belum memberikan sinyal pemulihan yang berarti. Kombinasi faktor seperti penurunan produksi Tiongkok, biaya energi tinggi di Eropa, ketidakpastian dalam pasar bahan baku, serta kebijakan defensif di beberapa negara besar membentuk dinamika perdagangan yang cenderung lemah.
.III. Kebijakan & Trade Remedies – Minggu II November 2025
Minggu kedua November menjadi salah satu periode paling intens dalam penggunaan instrumen trade remedies di sektor baja. Melemahnya harga global, agresivitas ekspor Tiongkok, dan tindakan proteksi secara global mendorong banyak negara terus mengambil tindakan proteksi yang tegas. Gelombang kebijakan ini memperlihatkan bahwa pemerintah di berbagai kawasan kini mengandalkan perlindungan perdagangan sebagai instrumen utama untuk menjaga industri baja domestik di tengah tekanan oversupply yang terus memburuk.
Langkah proteksi paling signifikan datang dari Asia. India kembali mengambil langkah keras melalui penetapan bea antidumping definitif terhadap impor hot-rolled flat steel products dari Vietnam. Tindakan yang diberlakukan pada pertengahan minggu ini menetapkan tarif tetap selama lima tahun, sekaligus menegaskan temuan adanya dumping dan dugaan transhipment baja Tiongkok melalui Vietnam. Dengan demikian, kebijakan ini tidak hanya menargetkan Vietnam sebagai eksportir langsung, tetapi juga menutup jalur pengalihan asal produk yang selama ini memanfaatkan celah tarif. Langkah ini memperpanjang daftar proteksi India terhadap baja canai panas, segmen yang dikenal paling rentan terhadap tekanan impor berbiaya rendah.
Mengikuti jejak India, Malaysia menetapkan bea masuk antidumping definitif atas lembaran baja galvanis asal Korea Selatan, Tiongkok, dan Vietnam. Tarif yang cukup tinggi dan bervariasi antarnegara tersebut mencerminkan upaya Malaysia menjaga kelangsungan industri galvanis domestiknya, sekaligus mengurangi tekanan dari produk bernilai tambah yang dijual pada harga tidak wajar. Thailand bergerak dalam arah yang sama melalui keputusan final antidumping atas baja profil H asal Tiongkok. Tarif antidumping yang diberlakukan mempertegas temuan bahwa produk long steel dari Tiongkok dijual di bawah nilai normal dan telah menimbulkan kerugian material bagi produsen lokal. Dengan proteksi ini, Thailand memperlihatkan orientasi jelas untuk menjaga stabilitas sektor baja strukturalnya.
Di kawasan Eropa, Inggris memulai peninjauan safeguard terhadap kuota impor rebar kategori 13, fokus utamanya adalah lonjakan signifikan produk asal Vietnam. Peninjauan ini membuka kemungkinan bahwa Vietnam kehilangan status negara berkembang yang bebas dari tarif out-of-quota, sehingga aksesnya ke pasar Inggris dapat berubah secara fundamental. Langkah ini menandai pergeseran sikap Inggris yang kini mengandalkan pengawasan kuota dan mekanisme pengecualian—bukan hanya tarif—untuk mengendalikan masuknya baja murah.
Sejalan dengan itu, diskusi intens di tingkat Uni Eropa mengenai langkah perlindungan baru terus berlangsung. Pembahasan mengenai safeguard untuk ferroalloys memasuki fase akhir sebelum keputusan formal yang dijadwalkan setelah minggu laporan, mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap tekanan utilisasi rendah di sektor bahan baku baja Eropa. Pada saat yang sama, rancangan rezim perlindungan pasca-safeguard, yang akan menggantikan mekanisme existing pada Juni 2026, kembali menjadi sorotan. Usulan pengurangan tajam kuota bebas tarif dan peningkatan tarif out-of-quota menunjukkan arah kebijakan Eropa yang semakin defensif di tengah tekanan struktur biaya dan persaingan global.
Di Brasil, muncul dinamika yang berbeda. Bukan dalam bentuk kebijakan formal, tetapi melalui meningkatnya laporan mengenai baja Tiongkok yang masuk dengan spesifikasi atau label yang tidak sesuai. Meskipun tidak termasuk tindakan antidumping atau safeguard, isu ini menegaskan bahwa kualitas dan kepatuhan kini menjadi elemen penting dalam strategi perlindungan perdagangan, terutama bagi negara-negara yang menghadapi arus masuk baja murah dalam jumlah besar.
Di Indonesia, pemerintah menegaskan kembali arah kebijakan untuk memperkuat perlindungan pasar baja nasional melalui penggunaan instrumen BMAD dan perluasan penerapan SNI wajib pada berbagai produk hilir. Meskipun tidak ada tindakan baru yang diumumkan, penegasan ini memperjelas posisi Indonesia yang sejalan dengan tren global proteksionisme yang meningkat pada minggu laporan. Konsolidasi kebijakan ini menunjukkan bahwa Indonesia melihat perlindungan perdagangan sebagai bagian integral dari stabilisasi industri baja nasional.
Secara keseluruhan, minggu kedua November menandai intensitas penggunaan instrumen perdagangan di berbagai kawasan sebagai respons terhadap tekanan berlapis dari oversupply Tiongkok, melemahnya permintaan global, meluasnya proteksi global dan kekhawatiran terhadap keberlanjutan industri domestik. Fragmentasi pasar baja global semakin nyata, dengan kebijakan pemerintah kini memainkan peran dominan dalam menentukan arah arus perdagangan. Dalam konteks ini, trade remedies bukan lagi tindakan sporadis, melainkan mekanisme pertahanan struktural yang semakin menjadi bagian permanen dari lanskap perdagangan baja dunia.
Tabel Ringkasan Kebijakan dan Trade Remedies – Minggu II November 2025
| Tindakan | Produk | Negara | Keputusan / Status |
| Bea Masuk Anti-Dumping (Final) | Hot-Rolled Flat Steel (HRC) | India | Penetapan BMAD definitif selama 5 tahun; tarif USD 121.55/ton untuk sebagian besar eksportir; termasuk temuan indikasi transhipment |
| Bea Masuk Anti-Dumping (Final) | Galvanized Steel Sheets | Malaysia | Penetapan BMAD definitif; tarif: Korea (hingga 31.47%), Tiongkok (26.8%), Vietnam (57.9%) |
| Bea Masuk Anti-Dumping (Final) | H-Beam | Thailand | Penetapan BMAD definitif; tarif 30.86% – 54.19% berlaku 5 tahun |
| Safeguard – TRQ Review | Rebar | Inggris (UK) | UK-TRA memulai peninjauan; mengevaluasi status pengecualian Vietnam terhadap tarif out-of-quota |
| Safeguard – Pembahasan Regulasi | Ferroalloys (Bahan baku baja) | Uni Eropa (EU) | Diskusi intens menuju keputusan safeguard; belum final pada minggu ini |
| Rezim Perlindungan Pasca-Safeguard | Berbagai produk baja | Uni Eropa (EU) | Pembahasan lanjutan mengenai pengurangan kuota bebas tarif & tarif out-of-quota |
| Isu Kualitas / Kepatuhan | Baja umum (mislabeled) | Brasil | Kekhawatiran impor dengan label tidak sesuai; bukan tindakan AD formal |
| Penguatan Kebijakan | BMAD + SNI Wajib | Indonesia | Penegasan kebijakan perlindungan |
IV. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel – Minggu II November 2025
Investasi dan kebijakan industri baja global pada minggu kedua November bergerak dalam pola yang menunjukkan dua kecenderungan besar: pertama, percepatan investasi strategis menuju produksi baja rendah karbon, terutama di kawasan Eropa dan Amerika Utara; dan kedua, penguatan kapasitas industri domestik dan modernisasi fasilitas di Asia serta Timur Tengah untuk meningkatkan kapasitas.
Perkembangan paling menonjol pada minggu ini datang dari Eropa, Korea Selatan dan Amerika Utara yang fokus pada green steel. Tata Steel Nederland menyelesaikan akuisisi aset pembangkit listrik milik Vattenfall di wilayah IJmond pada tanggal 14 November. Langkah ini memberikan Tata Steel kendali langsung atas infrastruktur energi yang dibutuhkan untuk mengalihkan proses produksi saat ini ke teknologi baja rendah karbon secara bertahap, memperkuat fondasi operasionalnya di tengah tekanan kebijakan lingkungan. Sejalan dengan itu, Liberty Steel Group menegaskan kembali rencana penggunaan Electric Arc Furnace (EAF) dan scrap lokal untuk dekarbonisasi operasionalnya di Inggris. Di Kanada, ArcelorMittal Dofasco melakukan modernisasi fasilitas Continuous Annealing Line (CAL) dan Coating Line yang didorong oleh permintaan kuat dari sektor otomotif dan kendaraan listrik (EV) untuk baja berkekuatan tinggi yang lebih efisien.
Di Amerika Utara, dinamika investasi ini juga didukung kebijakan. Canadian Steel Producers Association (CSPA) secara eksplisit mendukung paket investasi federal yang diumumkan pada 13 November. CSPA menegaskan bahwa investasi pemerintah dalam proyek infrastruktur nasional berskala besar menjadi fondasi penting bagi prospek industri baja, seraya menyerukan prioritas penggunaan baja domestik dalam proyek-proyek tersebut untuk menghindari tekanan impor murah. Dukungan CSPA ini menandai pentingnya intervensi kebijakan dalam menciptakan ruang bagi produsen lokal untuk berkembang.
Beralih ke Asia dan Timur Tengah, investasi berfokus pada penguatan kapasitas dan modernisasi untuk keamanan pasokan. Egypt Steel mengumumkan program investasi senilai EGP 2 miliar pada minggu laporan, yang berfokus pada modernisasi fasilitas produksi, pembangunan pabrik limestone baru, serta peningkatan kapasitas yang ditargetkan mampu mendorong output perusahaan menjadi 1,7 juta ton pada tahun mendatang. Melalui investasi tersebut, Mesir berupaya memperkuat daya saing industri hulunya sekaligus mengurangi ketergantungan impor. Senada dengan itu, Pemerintah India melanjutkan Skema Insentif Terkait Produksi (PLI 1.2) untuk specialty steel, mendorong investasi baru yang diperlukan untuk memperkuat daya saing global dan mendukung tujuan Net Zero. Sementara itu, POSCO di Korea Selatan melaporkan kemajuan substansial pada pengembangan teknologi Hydrogen Reduction Steelmaking (HyREX) mereka.
Dinamika tambahan muncul dari ranah kebijakan publik, memperlihatkan integrasi kebijakan industri dan lingkungan. Pemerintah Australia (Western Australia) memperbarui pedoman pengadaan untuk secara eksplisit mendukung dan membeli green steel yang diproduksi di negara bagian tersebut, menciptakan permintaan domestik yang terjamin. Selain itu, Indonesia terus menegaskan kembali arah kebijakan perlindungan pasar baja nasional, menekankan penguatan penggunaan instrumen Trade Remedies dan pengetatan penerapan SNI wajib pada produk hilir, menunjukkan komitmen untuk menjaga struktur industrinya di tengah tekanan global..
Tabel Ringkasan Investasi dan Green Steel – Minggu II November 2025
| Perusahaan | Jenis Investasi | Detail Kapasitas / Proyek | Keterangan |
| Tata Steel Nederland | Akuisisi aset energi | Akuisisi fasilitas pembangkit listrik Vattenfall di IJmond untuk mendukung transisi EAF & H2-ready | Mendukung transisi low-carbon steel, pengendalian sumber energi |
| Egyptian Steel (Mesir) | Modernisasi & ekspansi | Pembangunan pabrik limestone, modernisasi fasilitas, peningkatan produksi menuju 1,7 juta ton | Efisiensi energi & stabilisasi pasokan domestik |
| Pemerintah Kanada / CSPA | Dukungan investasi federal | Paket investasi infrastruktur nasional memprioritaskan penggunaan baja domestik | Mendorong produksi domestik yang lebih efisien & rendah emisi |
| Oman | Pusat green iron & green steel | Pengembangan hub DRI berbasis hidrogen, hydrogen-ready | Green iron berbasis H₂ untuk ekspor global |
| Pemerintah Australia (WA) | Kebijakan publik | Aturan pengadaan baru untuk membeli green steel produksi lokal | Mempercepat permintaan baja rendah karbon |
| ArcelorMittal Dofasco (Kanada) | Modernisasi otomotif | Upgrade Continuous Annealing Line untuk baja otomotif EV | Efisiensi energi & HSLA untuk kendaraan listrik |
| POSCO (Korea) | Teknologi baja hijau | Kemajuan pengembangan Hydrogen Reduction Steelmaking (HyREX) | Produksi baja berbasis hidrogen |
| EVRAZ | Efisiensi energi | Modernisasi coking & sintering | Penurunan energi spesifik |
| Voestalpine | Smart steel plant | Integrasi AI & sensor untuk efisiensi batch | Efisiensi energi & kualitas |
V. Isu Strategis yang Perlu Dicermati – Minggu I November 2025
Dinamika pasar baja global pada minggu kedua November menggambarkan kondisi yang semakin sangat menantang dan perlu menjadi perhatian utama pelaku industri baja Indonesia.
Tekanan Impor Meningkat Akibat Agresivitas Ekspor Tiongkok
Ekspor Tiongkok kembali menjadi faktor yang paling menentukan pergerakan pasar minggu ini. Penurunan produksi tidak diikuti pemulihan permintaan domestik, sehingga produsen meningkatkan orientasi ekspor dengan harga yang sangat rendah. Situasi ini menciptakan risiko masuknya suplai dalam volume besar ke ASEAN, termasuk Indonesia.
Gelombang Proteksi Baru Mengubah Peta Perdagangan dan Mendorong Diversi ke ASEAN
Langkah antidumping dan safeguard yang diumumkan India, Malaysia, Thailand, Inggris, dan Uni Eropa—sebagai kelanjutan dari gelombang proteksi dari berbagai negara lain sebelumnya—semakin mempersempit akses pasar bagi produsen baja global. Produk yang tertahan akibat kebijakan ini cenderung dialihkan ke kawasan dengan hambatan impor yang lebih rendah. Bagi Indonesia, risiko diversi harus terus diwaspadai mengingat realisasi impor sepanjang 2025 telah memberikan tekanan signifikan terhadap industri baja nasional.
Investasi Global Peningkatan Kapasitas dan Green Steel
Berbagai investasi terkait modernisasi fasilitas, peningkatan kapasitas, serta proyek penurunan emisi terus dilakukan. Namun perkembangan ini berlangsung di tengah kondisi kelebihan kapasitas global yang sangat besar dan belum menunjukkan tanda perbaikan struktural. Tren tersebut perlu dicermati karena ekspansi kapasitas dan proyek dekarbonisasi di negara lain berpotensi memperpanjang tekanan terhadap pasar global dan terhadap industri baja nasional dalam jangka pendek, bahkan untuk waktu bertahun-tahun ke depan.
Implikasi Strategis bagi Indonesia: Perlindungan, Efisiensi, dan Stabilitas Industri
Kombinasi agresivitas ekspor Tiongkok, penguatan proteksi global, dan ekspansi kapasitas luar negeri menempatkan Indonesia pada situasi yang menuntut pengawasan impor, respons trade remedies, dan instrumen perlindungan lainnya diperkuat secara lebih sistematis. Langkah-langkah ini perlu dipercepat dan dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang, mengingat permasalahan struktural industri baja global diperkirakan tidak akan terselesaikan dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM, Yieh, Mysteel Global, Reuters, GMK Centre, Steel Orbits, Yieh News.
Widodo Setiadharmaji adalah pendiri SMInsights dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun dalam bidang teknologi, strategi bisnis, dan pengembangan industri. Penulis artikel dinamika dan kebijakan industri yang dipublikasikan di Kompas, KataData, dan media nasional lainnya.