SMInsights: Berita Baja Mingguan – Minggu V Oktober 2025

Pekan kelima Oktober 2025 mempertegas tekanan struktural dalam perdagangan dan industri baja global, ditandai oleh rekor ekspor Tiongkok, fragmentasi pasar akibat kebijakan tarif dan kuota baru, serta ketidakpastian arah transisi green steel. Reformasi safeguard Uni Eropa dan konsolidasi proteksi di berbagai kawasan memicu pergeseran arus ekspor ke Asia Tenggara, memperbesar risiko banjir impor ke Indonesia. Sementara itu, investasi kapasitas baru tercatat di Afrika dan Asia Tengah, sedangkan proyek-proyek dekarbonisasi tetap terkonsentrasi di negara maju dengan dukungan fiskal besar. Di tengah konstelasi global yang makin terpecah, Indonesia dihadapkan pada kebutuhan untuk memperkuat respons perdagangan, menyusun strategi industri hijau yang realistis, dan mengantisipasi disrupsi rantai pasok lintas kawasan.

I. Perkembangan Harga Baja Minggu V Oktober 2025

Harga baja global pada pekan terakhir Oktober 2025 menunjukkan arah yang beragam. Pasar Asia mencatat pemulihan harga domestik, sementara harga ekspor Tiongkok justru melemah, dan Eropa mulai tertekan oleh faktor kebijakan perdagangan baru. Aktivitas transaksi meningkat di India dan sebagian Asia Tenggara, sedangkan pasar Amerika Serikat tetap stabil di tengah pengetatan impor akibat tarif tinggi.

Di Tiongkok, perbedaan arah harga antara pasar domestik dan ekspor semakin jelas. Untuk pasar domestik, seluruh lini produk mengalami kenaikan tipis. Harga HRC domestik naik ke USD 470–475 per ton, CRC ke USD 555–570, dan GI ke USD 590–595 per ton. Produk color coated bertahan di sekitar USD 920 per ton. Harga rebar domestik juga meningkat ke USD 445–465, wire rod ke USD 490–495, dan pipa las ke USD 500–505 per ton. Penguatan ini dipicu oleh kenaikan aktivitas pembelian pasca libur panjang serta sinyal peningkatan konsumsi sektor konstruksi dan manufaktur.

Sebaliknya, harga ekspor HRC Tiongkok melemah setelah beberapa pekan stabil. Berdasarkan Mysteel Global (24 Oktober 2025), penawaran ekspor HRC turun menjadi USD 455–475 per ton FOB Tianjin, dengan transaksi umum di sekitar USD 460–470. Beberapa produsen besar menurunkan harga USD 15–20 per ton karena lemahnya minat beli luar negeri dan meningkatnya stok domestik. Harga ini selaras dengan data Investing.com yang mencatat kontrak futures STEEL HRC FOB CHINA (MHCc1) pada 29 Oktober 2025 di USD 461,5 per ton — tepat di tengah kisaran Mysteel — sehingga mengonfirmasi validitas pergerakan harga ekspor Tiongkok. Penurunan ini memperlihatkan tekanan dari pasar ekspor yang jenuh serta perlambatan permintaan di Asia Tenggara, khususnya Vietnam, akibat gangguan cuaca dan banjir yang menekan aktivitas konstruksi.

Di Asia Tenggara (ASEAN), harga HRC CFR turun tipis menjadi USD 475–505 per ton, mengikuti pelemahan HRC ekspor Tiongkok. Aktivitas transaksi tetap terbatas karena sebagian importir masih menunda pembelian untuk menunggu arah harga bulan November. Harga rebar di kawasan ini bertahan stabil di sekitar USD 475 per ton, mencerminkan kondisi pasar regional yang cenderung defensif dengan permintaan pembangunan infrastruktur yang belum pulih penuh.

Pasar India bergerak positif di seluruh segmen. Harga HRC domestik naik ke USD 570–645 per ton EXW, CRC ke USD 705–735, dan GI ke USD 780–795 per ton. Kenaikan ini didukung kenaikan biaya energi dan batubara kokas serta penyesuaian harga oleh produsen besar menjelang musim puncak permintaan konstruksi. Produk panjang juga menguat, dengan rebar di kisaran USD 450–510 dan wire rod di USD 455 per ton. Satu-satunya penurunan terjadi pada harga scrap impor yang turun ke USD 320 per ton, mengikuti tren koreksi pasar global.

Di Turki, harga rebar ekspor FOB menguat ke USD 540–550 per ton, didorong kenaikan harga scrap dan pemulihan permintaan dari Eropa Selatan serta Timur Tengah. Meskipun volume ekspor masih terbatas, pasar menunjukkan kestabilan harga baru setelah periode tekanan pada awal Oktober. Harga scrap CFR Turki bertahan di kisaran USD 455–460 per ton, menandakan keseimbangan antara permintaan pabrik baja panjang dan pasokan Eropa Barat.

Untuk kawasan Timur Tengah dan Mesir, harga rebar domestik turun tipis menjadi USD 675–780 per ton EXW setelah stabil selama dua pekan sebelumnya. Pelemahan ini terkait kenaikan biaya produksi akibat depresiasi mata uang dan masih tingginya tarif energi. Meski begitu, proyek infrastruktur pemerintah membantu menahan penurunan lebih lanjut.

Di Eropa, arah harga mulai terpecah antara produk lembaran panas dan dingin. Harga HRC domestik melemah ke USD 630–680 per ton EXW karena kekhawatiran CBAM dan perlambatan pesanan kuartal IV, sementara CRC justru naik ke USD 745–765 per ton akibat menipisnya pasokan dan pengetatan impor setelah penyelidikan anti-dumping baru. Rebar Italia relatif stabil di kisaran USD 700–710 per ton.

Sementara di Amerika Serikat, harga HRC tetap stabil pada USD 840–860 per ton EXW Midwest. Beberapa pabrikan seperti Nucor dan NLMK menaikkan harga penawaran sekitar USD 10 per ton, tetapi transaksi riil masih berlangsung dalam rentang yang sama karena impor terus menurun dan permintaan konstruksi berjalan moderat. Aktivitas pasar cenderung normal menjelang akhir tahun di tengah penerapan tarif Section 232 sebesar 50 persen yang masih berlaku penuh.

Secara keseluruhan, Minggu V Oktober 2025 menunjukkan kontras yang kuat antara pemulihan harga domestik di Asia dan tekanan di pasar ekspor global. Tiongkok menjadi ilustrasi paling jelas atas dualitas tersebut: pasar domestik menguat secara moderat sementara ekspor terkoreksi. Dengan permintaan Eropa yang lemah dan kebijakan perdagangan semakin ketat, Asia — terutama India dan Tiongkok — tetap menjadi motor utama penentu arah harga baja dunia menjelang tutup tahun 2025.

Ringkasan Harga Baja – Minggu V Oktober 2025 (USD/ton)

KawasanHRCCRCGI / HDGColor CoatedPipa LasRebarWire RodScrap
Tiongkok (Domestik)470–475 ↑555–570 ↑590–595 ↑920 →500–505 ↑445–465 ↑490–495 ↑n/a
Tiongkok (Ekspor)455–475 ↓520 ↓n/an/an/an/an/an/a
ASEAN475–505 ↓n/an/an/an/a≈475 →n/an/a
India570–645 ↑705–735 ↑780–795 ↑n/an/a450–510 ↑455 ↑320 ↓
Turkin/an/an/an/an/a540–550 ↑n/a455–460 n/a
Mesir / Middle Eastn/an/an/an/an/a675–780 ↓n/an/a
Eropa630–680 ↓745–765 ↑n/an/an/a700–710 n/an/an/a
Amerika Serikat840–860 →n/an/an/an/an/an/an/a

Keterangan: ↑ naik w/w; ↓ turun w/w; → stabil (≤ ±0,5%); n/a tidak tersedia. Kurs: RMB/USD = 7,09 (PBoC) INR/USD = 83,12 (RBI) EUR/USD = 1,08 (ECB) EGP/USD = 49,10 (CBE).

II. Perkembangan Perdagangan Baja Global – Minggu V Oktober 2025

Perdagangan baja global pada pekan terakhir Oktober 2025 menunjukkan arah yang relatif stabil dari sisi volume, namun terpantau terjadi konsolidasi aliran ekspor dari Tiongkok, ketatnya arus masuk ke Uni Eropa, serta tekanan berkelanjutan dari tarif dan gangguan logistik global. Kawasan Asia, khususnya India dan Timur Tengah, tetap menjadi magnet arus perdagangan, sementara Amerika Serikat mempertahankan proteksi dagangnya dengan dampak yang mulai terlihat di sisi kapasitas produksi.

Tiongkok, setelah mencatat ekspor tertinggi dalam delapan tahun terakhir pada bulan September, tetap berada di jalur untuk menembus rekor tahunan baru. Meskipun volume ekspor Oktober 2025 turun sekitar 3,4% dibanding bulan sebelumnya, total kumulatif Januari–Oktober telah melampaui capaian sepanjang 2024 dan diperkirakan menembus 100 juta ton pada akhir tahun—level tertinggi sepanjang sejarah ekspor baja Tiongkok. Penurunan volume ini menyebabkan peningkatan tekanan pasokan di pasar luar negeri, mendorong produsen besar menurunkan harga ekspor agar tetap kompetitif.

Ekspor Tiongkok tetap mendominasi pasar Asia dan Timur Tengah. Di Arab Saudi dan UEA, impor baja asal Tiongkok melonjak 10–25% dibanding tahun lalu, dengan produk utama berupa rebar, wire rod, dan plat untuk sektor konstruksi dan industri. Agresivitas ekspor ini memperbesar potensi reaksi proteksi dari negara tujuan karena kelebihan pasokan global terus menekan harga dan memperburuk ketidakseimbangan perdagangan di kawasan.

Amerika Serikat mempertahankan posisi protektif yang semakin mengunci arus impor. Tarif impor 50% yang berlaku tahun ini mendorong pabrik baja nirkarat domestik beroperasi mendekati kapasitas penuh, dengan utilisasi efektif mencapai lebih dari 95%. Meski demikian, AS masih bergantung pada impor untuk sekitar seperempat kebutuhan baja nirkaratnya.

Dalam konteks strategi dagang, AS menandatangani kesepakatan bilateral dengan Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Kamboja. Kesepakatan ini mempertahankan tarif 19–20% namun memberikan jalur insentif pengurangan bertahap, dengan imbal balik berupa peningkatan impor barang dari AS dan akses pasar yang lebih terbuka. Ini memperlihatkan arah baru pengalihan rantai pasok regional untuk mengurangi dominasi Tiongkok.

Di Uni Eropa, mekanisme kuota impor baja menunjukkan tingkat pemakaian sangat tinggi pada bulan pertama kuartal IV. Kuota untuk produk seperti kawat baja, rebar, dan pipa berlas dari negara seperti Turki, India, Korea Selatan, dan Mesir sudah terserap hampir penuh dalam waktu tiga minggu. Hal ini menandakan bahwa arus masuk baja ke Eropa tetap tinggi, meski dibatasi oleh kebijakan kuota, menjelang reformasi instrumen proteksi pada 2026.

India menghadapi tekanan besar dari masuknya baja murah, terutama dari Tiongkok dan negara-negara yang kehilangan akses ke pasar AS dan Eropa. Harga baja domestik menyentuh titik terendah lima tahun dan memicu reaksi dari pemerintah serta industri. Meskipun safeguard 12% masih berlaku, produsen dalam negeri mendesak peninjauan ulang karena dumping tetap terjadi. India tetap menjadi importir bersih baja selama enam bulan berturut-turut hingga September, meskipun volume impor resmi menurun 29% secara tahunan.

Negara-negara ASEAN menyambut kerangka baru kerja sama dagang dengan AS. Tarif ekspor ke AS sebesar 19% tetap diberlakukan, namun dibuka jalur penurunan bertahap untuk produk tertentu. Sebagai imbal balik, negara seperti Vietnam dan Thailand berkomitmen untuk meningkatkan impor barang dari AS. Kesepakatan ini menandai arah baru dalam konfigurasi perdagangan ASEAN, yang mulai mendiversifikasi ketergantungan ekspor sambil membuka peluang investasi baru di sektor baja bernilai tambah.

.

III. Kebijakan & Trade Remedies – Minggu V Oktober

Pekan terakhir Oktober 2025 ditandai oleh meningkatnya intensitas tindakan perdagangan baja di berbagai kawasan. Sejumlah negara memperluas cakupan investigasi penghindaran bea masuk (circumvention), memperketat pelacakan produk modifikasi, dan melanjutkan instrumen pengamanan dagang melalui kombinasi anti-dumping (AD) dan countervailing duties (CVD). Asia Tenggara dan Australia menjadi kawasan dengan eskalasi paling aktif, sementara Meksiko dan AS mulai mendekati penyelesaian dalam negosiasi tarif lintas batas.

Australia, Komisi Anti-Dumping Australia (ADC) mengumumkan beberapa langkah signifikan pekan ini. Pertama, hasil sementara dari peninjauan administratif terhadap bea AD besi beton (rebar) hot-rolled menunjukkan bahwa Malaysia, Thailand, Turki, dan Vietnam melakukan dumping yang merugikan industri domestik. Bea sementara dijatuhkan pada tingkat bervariasi, antara 3% hingga 36%, sementara Indonesia dikecualikan karena tidak ditemukan dumping.

Selain itu, Australia juga memulai investigasi ganda AD dan CVD terhadap produk baja lempeng datar dari China dan Korea Selatan, khususnya pada produk dengan ketebalan ≥4,75 mm dan lebar ≥600 mm. Di sisi lain, hasil penyelidikan circumvention atas baja rod dalam gulungan dari China menyimpulkan bahwa tidak terjadi penghindaran bea yang berlaku, sehingga tidak ada tindakan tambahan dikenakan.

Di Asia Tenggara, dua negara meluncurkan investigasi circumvention baru terhadap baja asal China. Pemerintah Thailand memulai penyelidikan atas produk baja galvanis berlapis seng-aluminium-magnesium (Zn-Al-Mg) yang diduga dimodifikasi secara kimiawi untuk menghindari bea AD yang telah berlaku atas produk galvanis standar. Tindakan ini menandai pengetatan pengawasan terhadap “rekayasa spesifikasi” oleh eksportir Tiongkok.

Vietnam pun mengambil langkah serupa dengan memulai investigasi circumvention terhadap baja lembaran hot-rolled (flat roll) asal China. Target produk memiliki lebar 1.880–2.300 mm dengan kadar karbon rendah, yang diduga sengaja dimodifikasi untuk menghindari cakupan bea yang sudah berlaku. Investigasi ini menunjukkan upaya Vietnam memperluas ruang perlindungan industri hilirnya di tengah tekanan masuknya baja murah dari Tiongkok.

Di kawasan Amerika Utara, Meksiko dan Amerika Serikat dilaporkan hampir mencapai kesepakatan akhir untuk mengakhiri tarif protektif AS sebesar 30% atas produk baja dan aluminium asal Meksiko. Menteri Ekonomi Meksiko menyebut negosiasi telah mencapai 90% penyelesaian, dengan isu utama yang tersisa berkisar pada ketentuan teknis dan jadwal penurunan tarif. Jika tercapai, kesepakatan ini akan mengakhiri ketegangan dagang bilateral yang berlangsung sejak revisi Perjanjian ASMCA.

Tabel Ringkasan Kebijakan dan Trade Remedies – Minggu V Oktober 2025

Negara/KawasanJenis KebijakanProduk TerdampakKeterangan Singkat
AustraliaPeninjauan AD – putusan sementaraRebar hot-rolledDumping ditemukan dari MY, TH, TR, VN; bea sementara dijatuhkan
AustraliaInvestigasi baru AD + CVDBaja lempeng datarChina & Korea diselidiki atas subsidi dan dumping
AustraliaPutusan akhir circumventionRod in coil (China)Tidak ditemukan circumvention; bea tetap berlaku
ThailandInvestigasi circumvention (AD)Galvanis Zn-Al-MgDisinyalir modifikasi lapisan untuk hindari bea AD
VietnamInvestigasi circumvention (AD)Hot-rolled flatDisinyalir modifikasi dimensi untuk hindari bea AD
Meksiko–ASNegosiasi tarif bilateralBaja & aluminium90% kesepakatan tercapai, tarif 30% hampir dicabut

 IV. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel – Minggu V Oktober

Pekan terakhir Oktober 2025 menandai peningkatan nyata aktivitas investasi di sektor baja global, meskipun dinamika kebijakan transisi hijau mulai bergejolak. Arah investasi dunia tetap bergeser dari ekspansi konvensional menuju modernisasi fasilitas berbasis efisiensi energi dan teknologi rendah emisi. Namun, perubahan politik di Amerika Serikat setelah kemenangan Donald Trump menimbulkan ketidakpastian terhadap arah dekarbonisasi global. Sejumlah program subsidi energi bersih di AS tengah ditinjau ulang, sementara di Eropa beberapa proyek baja hijau mengalami perlambatan penjadwalan dan penyesuaian pembiayaan akibat revisi kebijakan energi. Meski demikian, proyek utama seperti Hydrogen DRI thyssenkrupp Duisburg dan DRI ArcelorMittal Dunkirk tetap berjalan dengan dukungan publik yang besar. Di tengah situasi ini, Tiongkok, India, Timur Tengah, dan Asia Tenggara justru menunjukkan akselerasi investasi baru untuk memperkuat kapasitas baja rendah emisi dan pabrik terpadu berkarbon rendah. Berikut perkembangan pengembangan kapasitas dan green steel pada minggu kelima Oktober:

Tiongkok – Perluasan Kapasitas dan Transisi Rendah Karbon

Sejumlah produsen besar di Tiongkok melanjutkan proyek peningkatan kapasitas baja datar menggunakan teknologi tungku busur listrik (EAF). Rangkaian proyek ini akan menambah sekitar delapan juta ton per tahun mulai 2026, difokuskan pada HRC dan CRC bernilai tambah tinggi. Selain itu, fasilitas percontohan DRI berbasis hidrogen di Shanghai memasuki tahap komisioning dan menjadi bagian dari program nasional “Ultra Low Emission Steelmaking” yang menargetkan 15 persen produksi baja nasional berasal dari proses EAF pada 2030.

India – Ekspansi Kapasitas dan Penguatan Jalur Hijau

India meningkatkan investasi besar-besaran melalui perluasan fasilitas Dolvi dan Vijayanagar dengan kapasitas tambahan sekitar lima juta ton per tahun. Program senilai lebih dari lima miliar dolar ini mencakup penerapan sistem penghematan energi, pemanfaatan panas buang, dan pengurangan emisi. Pada saat yang sama, Tata Steel mengonversi blast furnace menjadi unit peleburan rendah karbon berbasis hidrogen sebagai bagian dari program nasional Green Transition Corridor.

Timur Tengah – Proyek Baja Hijau Skala Besar

Arab Saudi melanjutkan proyek pabrik baja hijau di Yanbu dengan kapasitas 2,5 juta ton per tahun yang dirancang menggunakan energi terbarukan dan beroperasi pada 2028. Proyek ini menjadi fondasi strategi NEOM Green Hydrogen dalam diversifikasi industri logam. UEA meluncurkan investasi baru sekitar satu miliar dolar untuk menambah unit EAF dan fasilitas daur ulang scrap lokal, meningkatkan kapasitas dan mengurangi ketergantungan impor.

Eropa – Dekarbonisasi dan Restrukturisasi Produksi

Produsen besar Eropa memasuki tahap implementasi penuh agenda net-zero 2040. ArcelorMittal memulai pembangunan DRI plant di Prancis dengan kapasitas 2,5 juta ton per tahun, sedangkan thyssenkrupp Steel mendapat dukungan pemerintah untuk mempercepat pembangunan fasilitas Hydrogen Direct Reduction di Jerman. Kedua proyek ini mewakili arah baru industri baja Eropa yang berorientasi pada reduksi emisi dan daya saing produksi hijau.

Asia Tenggara – Kolaborasi Investasi Lintas Kawasan

Vietnam menjadi pusat perhatian regional melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan mitra Jepang dan Korea Selatan untuk membangun pabrik baja terpadu berkapasitas tiga juta ton per tahun di Quang Ngai. Proyek senilai sekitar 3,8 miliar dolar ini mencakup produksi HRC, CRC, dan produk galvanis dengan teknologi efisiensi energi dan jejak karbon rendah. Kerja sama ini menunjukkan penguatan investasi regional ASEAN dalam rantai pasok baja berkelanjutan.

Tabel Ringkasan Investasi dan Green Steel – Minggu V Oktober 2025

Negara / KawasanProyekNilai InvestasiKapasitas / FokusKeterangan
TiongkokEAF & DRI Expansion (Baowu, Ansteel)8 juta ton / tahunTransisi ke hidrogen & baja datar ekspor
IndiaEkspansi JSW & Tata Steel Green FurnaceUSD 5,2 miliar5 juta ton / tahunEfisiensi energi & teknologi hidrogen
Arab SaudiHadeed–NEOM Green Steel ProjectUSD 4,5 miliar2,5 juta ton / tahunBaja hijau berbasis energi terbarukan
UEAEmirates Steel Arkan ExpansionUSD 1 miliar+1 juta ton / tahunEAF & fasilitas daur ulang scrap
Eropa (Prancis, Jerman)ArcelorMittal Dunkirk & thyssenkrupp DuisburgEUR 2 miliar2,5 juta ton / tahunDRI & Hydrogen Reduction Plant
VietnamVNSTEEL Integrated Green PlantUSD 3,8 miliar3 juta ton / tahunPabrik terpadu baja rendah karbon

V. Isu Strategis yang Perlu Dicermati

Pekan terakhir Oktober 2025 memperlihatkan paradoks baru dalam sistem perdagangan baja global. Ketika harga mulai menstabil di sebagian besar kawasan, tekanan ekspor Tiongkok justru kian besar, sementara proyek-proyek transisi hijau di Amerika Serikat dan Eropa mulai kehilangan arah akibat perubahan politik. Di sisi lain, Asia dan Timur Tengah bergerak cepat mengisi ruang investasi yang ditinggalkan Barat. Situasi ini menuntut pelaku industri baja nasional membaca ulang arah pasar dan menyiapkan langkah taktis yang lebih adaptif.

1. Ekspor Tiongkok Menuju Rekor Tertinggi dan Ancaman Banjir Impor

Ekspor baja Tiongkok hampir pasti menembus 100 juta ton pada 2025—level tertinggi sepanjang sejarah. Surplus besar, lemahnya konsumsi domestik, dan harga ekspor yang ditekan di kisaran USD 455–475 per ton FOB menjadikan Asia Tenggara sebagai sasaran utama pelimpahan pasokan.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi peringatan serius menjelang akhir tahun. Banjir impor flat steel berisiko menekan harga domestik dan utilisasi pabrikan nasional. Pengawasan SNI, percepatan peninjauan BMAD/BMTP, serta koordinasi antara asosiasi dan pemerintah menjadi langkah mendesak agar dampaknya tidak meluas ke rantai hilir.

2. Gelombang Proteksi Baru dan Fragmentasi Akses Pasar

Kebijakan proteksi terus meluas di hampir semua kawasan. Australia, Thailand, dan Vietnam meluncurkan investigasi AD dan CVD baru terhadap baja asal Tiongkok, Uni Eropa memperketat kuota hingga nyaris penuh, sedangkan India menegaskan komitmen memperpanjang safeguard.
Implikasinya bagi Indonesia adalah berkurangnya ruang ekspor dan meningkatnya kebutuhan diplomasi dagang aktif. Strategi rerouting ekspor dan perjanjian preferensial menjadi instrumen penting agar produk nasional tidak tersingkir di tengah pasar yang semakin terfragmentasi.

3. Stagnasi Transisi Hijau di Barat dan Akselerasi di Asia

Kemenangan politik Donald Trump membawa ketidakpastian baru bagi agenda dekarbonisasi. Sejumlah proyek green steel di AS dan Eropa mulai tertunda akibat peninjauan ulang subsidi dan revisi prioritas fiskal. Sebaliknya, India, Arab Saudi, dan Vietnam justru mempercepat proyek berbasis EAF dan DRI hidrogen dengan pendanaan jangka panjang.
Perubahan arah ini menandakan bahwa standar global belum seragam. Indonesia perlu menyesuaikan strategi: mengadopsi teknologi rendah emisi secara bertahap, berbasis kesiapan energi dan pendanaan domestik, sambil memanfaatkan ruang investasi baru yang berpindah ke Asia.

4. Gangguan Logistik dan Eskalasi Biaya Distribusi

Ketegangan di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab belum mereda. Penurunan kapasitas pelayaran hingga 20 persen dan kenaikan biaya freight dua digit menekan arus scrap, billet, serta baja jadi.
Bagi industri Indonesia, gangguan ini bisa menaikkan biaya bahan baku dan memperlambat ekspor ke Timur Tengah. Diversifikasi pelabuhan ekspor, integrasi logistik antarpulau, dan perencanaan stok bahan baku menjadi langkah mitigasi penting menghadapi ketidakpastian rute global.

5. Tantangan Kebijakan Domestik: Antara Proteksi dan Transformasi

Kombinasi ekspor agresif Tiongkok, proteksi Barat, dan ketidakpastian transisi hijau mengubah peta kompetisi industri baja dunia. Negara yang mampu menyeimbangkan perlindungan pasar dan investasi teknologi akan memimpin fase baru industrialisasi.
Indonesia perlu menegaskan arah kebijakan nasional: memperkuat sistem trade remedy dan pengawasan impor sambil menyiapkan peta jalan produksi baja rendah emisi yang realistis dan terukur. Sinergi antara Kemenperin, BKPM, dan pelaku industri menjadi kunci menjaga keseimbangan antara ketahanan pasar dan kesiapan transformasi.

Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM, Yieh, Mysteel Global, Reuters, GMK Centre, Steel Orbits, Yieh News.