SMInsights: Berita Baja Mingguan – Minggu III November 2025

Pasar baja global menunjukkan tantangan berat yang persisten pada minggu ketiga November 2025. Tekanan ekspor Tiongkok tetap tinggi karena permintaan domestik yang melemah. Di sisi lain, India, Brasil, dan Uni Eropa terus memperketat kebijakan proteksi yang sudah ada, sehingga kelebihan suplai global terdorong masuk secara masif ke pasar terbuka seperti Indonesia. Walaupun investasi global minggu ini lebih tenang, beberapa rencana investasi tetap terjadi di tengah isu kelebihan kapasitas dan tekanan dekarbonisasi.
Kombinasi dari tekanan suplai yang tinggi, penyempitan pasar ekspor, dan penambahan kapasitas global mewajibkan Indonesia memperkuat pertahanan industrinya. Langkah-langkah krusial meliputi pengawasan impor yang ketat, peningkatan efektivitas trade remedies, penciptaan instrumen perlindungan baru (seperti Section 232), serta penyiapan strategi transisi industri yang pruden dan terintegrasi. 

I. Perkembangan Harga Baja Minggu III November 2025

Pergerakan harga baja global pada minggu ketiga November menunjukkan dinamika yang semakin terdiferensiasi antar kawasan, di mana tekanan penurunan biaya input di sebagian wilayah berinteraksi dengan koreksi permintaan, sementara pasar yang sangat terdampak arus impor seperti ASEAN menghadapi tekanan kompetitif yang lebih besar.

Harga HRC domestik Tiongkok cenderung stabil karena produsen menahan penurunan harga di tengah utilisasi yang mulai turun, sedangkan harga rebar mengalami kenaikan moderat yang menggambarkan penguatan permintaan konstruksi jangka pendek dan strategi produsen menahan pasokan. Sebaliknya, beberapa produk turun karena pelemahan pesanan hilir, terutama pada segmen galvanis dan warna, yang tercermin dari koreksi pada GI, HDG, dan PPGI.

Harga ekspor baja Tiongkok pada minggu ketiga November 2025 bergerak relatif stabil, dengan penyesuaian naik tipis. Konsolidasi harga ini mencerminkan situasi pasar ekspor yang masih kelebihan suplai. Produsen Tiongkok mempertahankan penawaran pada kisaran yang hampir sama dengan minggu lalu untuk menjaga arus ekspor di tengah lemahnya permintaan di pasar lain.

Di ASEAN, kondisi pasar mengikuti pola yang sama. Indeks dan penawaran impor bergerak naik tipis karena harga FOB Tiongkok—sebagai acuan utama kawasan—tidak mengalami perubahan berarti. Tidak adanya pemulihan permintaan di Asia Tenggara membuat pembeli tetap berhati-hati dan transaksi berlangsung terbatas. Pergerakan harga ini menunjukkan bahwa pasar ASEAN masih berada dalam fase penantian, dengan posisi yang sangat dipengaruhi oleh suplai Tiongkok dan minimnya dukungan permintaan domestik.

Di India, harga HRC, CRC, dan GI menunjukkan kecenderungan stagnan hingga turun karena normalisasi permintaan manufaktur. Kestabilan HRC yang berada dalam rentang yang relatif sempit mengindikasikan bahwa pasar India berada pada fase rebalancing setelah periode kenaikan yang terlalu cepat, sementara penurunan GI dan CRC mencerminkan pelemahan permintaan dari sektor otomotif dan peralatan rumah tangga. Stabilitas rebar dan kenaikan kecil pada wire rod menunjukkan dinamika konstruksi dan industri kecil menengah yang relatif lebih tahan, meskipun tekanan biaya energi dan logistik tetap membatasi ruang bagi kenaikan harga lebih lanjut.

Di Timur Tengah, harga rebar Mesir kembali naik signifikan. Lonjakan ini bukan berasal dari fundamental permintaan, tetapi akibat depresiasi mata uang dan kenaikan biaya importasi billet dan scrap, sehingga struktur harga menjadi lebih tinggi dalam denominasi USD. Dampak kenaikan ini menunjukkan bahwa pasar di kawasan tersebut sedang menghadapi tekanan biaya eksternal dan bukannya pemulihan permintaan konstruksi yang kuat.

Harga Eropa naik pada sebagian besar produk karena pengetatan suplai setelah produsen melakukan pengurangan produksi selama musim dingin, sehingga pasar bergerak menuju pola penawaran yang lebih ketat meskipun permintaan tetap lemah. HRC EXW Eropa meningkat karena kebijakan pengurangan output dan strategi produsen mengamankan margin, sementara rebar Italia melemah karena stagnasi aktivitas konstruksi, sehingga pasar Eropa memperlihatkan divergensi antara flat products dan long products. Wire rod Polandia cenderung stabil karena permintaan industri tidak berubah signifikan, sementara harga Eropa secara keseluruhan dipengaruhi oleh kebijakan energi dan biaya karbon yang bertahan pada level tinggi.

Di Amerika Serikat, HRC mengalami kenaikan karena kombinasi seasonal restocking, pemangkasan produksi oleh beberapa pabrik utama, dan resistensi produsen terhadap diskon pada kontrak spot. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pasar AS memasuki fase penguatan yang biasa terjadi menjelang akhir tahun, di mana pembeli mengisi kembali inventori sambil merespons pengetatan suplai. Produk turunan seperti CRC dan plate bertahan stabil karena masih ada permintaan industri yang relatif kuat, sementara scrap mempertahankan pergerakan mendatar di sebagian besar grade karena keseimbangan antara penawaran dan permintaan tetap terjaga.

Ringkasan Harga Baja – Minggu III November 2025 (USD/ton)

KawasanHRCCRCGI / HDGColor CoatedPipa LasRebarWire RodScrap
Tiongkok (Dom)466–470 →560–570 →585–590 ↓705–905 ↓500 →446–473 ↑495 →n/a
Tiongkok (Ekspor)445 ↑515 ↓n/an/an/an/an/an/a
ASEAN465 ↑n/an/an/an/a475 →n/an/a
India557–624 →700–720 ↓770–780 ↓n/an/a455–505 →455–465 ↑315 →
Turkin/an/an/an/an/a545–555 ↑555–570 ↑355 ↓
Middle Eastn/an/an/an/an/a1,008–1,152 ↑n/an/a
Eropa694–707 ↑760 ↑775 ↑n/an/a575–585 ↓600–625 →n/a
Amerika Serikat970–1,000 ↑1125 →n/an/an/a880–915 →n/a315–380 →

Keterangan: ↑ naik w/w; ↓ turun w/w; → stabil (≤ ±0,5%); n/a tidak tersedia.

II. Perkembangan Perdagangan Baja Global – Minggu III November 2025

Perdagangan baja global pada minggu ketiga November menunjukkan pola arus suplai yang semakin bergeser akibat tekanan ekspor dari Tiongkok, kebijakan proteksi baru di beberapa negara besar, serta penyesuaian kapasitas produksi di kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Dampak dari kombinasi faktor tersebut membuat pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi tujuan utama bagi produsen global yang menghadapi hambatan masuk di wilayah lain.

Di Tiongkok, data perdagangan menunjukkan bahwa lonjakan ekspor terus terjadi karena konsumsi domestik melemah dan tingkat persediaan meningkat di sebagian besar pabrik. Kondisi ini membuat produsen lebih agresif mengalihkan volume ke pasar luar negeri, terutama ke ASEAN, ketika beberapa negara tujuan tradisional mulai memperkuat proteksi. Meskipun sebagian pabrik melakukan pengurangan produksi, penyesuaian tersebut belum cukup untuk menyeimbangkan pasar sehingga tekanan suplai eksternal tetap tinggi. Konsekuensinya bagi Indonesia adalah risiko masuknya baja bernilai rendah tetap besar dan dapat menekan posisi produsen domestik, khususnya pada produk hot rolled, cold rolled, dan galvanis.

Di India, otoritas perdagangan melanjutkan serangkaian investigasi anti-dumping dan safeguard terhadap beberapa produk flat dan long. Kebijakan ini mencerminkan upaya melindungi pasar domestik dari tekanan ekspor Tiongkok dan Korea Selatan. Pengetatan akses impor di India menciptakan arus diversifikasi suplai, karena volume yang tidak dapat lagi masuk ke India cenderung dialihkan ke kawasan yang hambatannya lebih rendah. Hal ini meningkatkan kerentanan Indonesia, terutama pada produk-produk yang saat ini menjadi sasaran koreksi harga global seperti cold rolled dan galvanized.

Di kawasan Turki dan sebagian negara Timur Tengah, penurunan akses mereka ke pasar Eropa akibat ketentuan CBAM dan risiko tindakan anti-dumping membuat eksportir Turki mencari rute baru untuk mempertahankan volume perdagangan. Pada saat yang sama, di Mesir terjadi kenaikan biaya produksi akibat depresiasi mata uang dan kenaikan biaya energi serta billet impor. Kombinasi faktor tersebut mendorong negara-negara produsen long product di kawasan ini untuk menyalurkan lebih banyak volume ke pasar Asia, termasuk ASEAN. Kondisi ini memperbesar tekanan suplai bagi Indonesia terutama pada segmen rebar dan wire rod.

Di Eropa, aktivitas blast furnace terus diturunkan karena lemahnya permintaan dan tingginya biaya energi, tetapi penurunan produksi tidak serta merta mengurangi tekanan global karena pasar Eropa tidak menyerap volume yang besar dari Asia. Regulasi CBAM yang mulai masuk ke tahap verifikasi data emisi semakin mempersempit akses baja beremisi tinggi, memaksa banyak produsen dari Tiongkok, India, Rusia, dan Turki untuk mengalihkan ekspor ke wilayah yang tidak memberlakukan pembatasan karbon. Arus perdagangan yang menghindari Eropa ini mempertegas kecenderungan redirect ke Asia Tenggara, sehingga Indonesia lagi-lagi berada dalam jalur arus suplai global yang berlebih.

Di Amerika Serikat, penyesuaian kapasitas oleh beberapa produsen akibat musim dingin dan lemahnya permintaan otomotif menciptakan kebutuhan restocking pada distributor dan pabrik EAF. Walaupun pasar AS tetap relatif tertutup oleh sistem tarif dan pengaturan perdagangan domestik, normalisasi suplai scrap dan kenaikan permintaan EAF membuat produsen Amerika lebih fokus pada pasar internal sehingga tidak berperan sebagai penyerap volume global. Dampak tidak langsungnya bagi Indonesia adalah berlanjutnya situasi di mana kelebihan suplai Asia tidak memiliki jalan masuk ke AS, sehingga semakin diarahkan ke kawasan terbuka seperti ASEAN.

.III. Kebijakan & Trade Remedies – Minggu III November 2025

Minggu ketiga November 2025 ditandai dengan menguatnya langkah proteksi perdagangan di beberapa negara besar, terutama India, Brasil, dan Uni Eropa, yang secara bersamaan memperketat instrumen pertahanan industri terhadap praktik dumping dan risiko pengalihan pasar. Dinamika ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan permintaan global yang melemah serta kelebihan kapasitas produksi baja di beberapa negara eksportir, pemerintah semakin aktif menggunakan trade remedies untuk menjaga stabilitas industri domestik dan mempertahankan keberlanjutan operasi produsen nasional.

Di India, pemerintah mengambil dua langkah besar dalam periode ini. Pertama, Direktorat Jenderal Trade Remedies menetapkan bea anti-dumping sebesar USD 121,55 per ton untuk impor hot-rolled flat steel dari Vietnam, yang berlaku selama lima tahun setelah penyelidikan membuktikan terjadinya dumping dan kerugian material pada industri domestik. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi India untuk memperkuat kemandirian industri dalam kerangka self-reliance dan mencegah masuknya baja berharga murah yang berpotensi menekan utilisasi kapasitas produsen nasional. Kedua, India juga mengeluarkan rekomendasi pengenaan bea anti-dumping terhadap impor metallurgical coke dari enam negara, yaitu Indonesia, China, Kolombia, Rusia, Australia, dan Jepang, dengan besaran bea yang mencerminkan tingkat margin dumping masing-masing negara. Rekomendasi DGTR ini melengkapi kebijakan kuota impor metallurgical coke yang telah diperpanjang pemerintah hingga akhir Desember, sehingga menunjukkan bahwa India tidak hanya memperkuat perlindungan di sisi hilir (produk baja) tetapi juga bahan baku strategis yang memengaruhi struktur biaya produsen domestik.

Brasil pada minggu yang sama juga memperketat pengawasan terhadap impor baja dengan memulai investigasi anti-dumping terhadap seamless carbon steel pipe dari India, Malaysia, dan Thailand. Investigasi ini dipicu oleh temuan bahwa margin dumping dari ketiga negara tersebut sangat tinggi, dengan nilai awal mencapai 23,3 persen dari Malaysia serta 37 hingga 66,5 persen dari India dan Thailand. Pemerintah Brasil melalui DECOM mengklaim bahwa praktik impor dengan margin dumping setinggi itu telah menekan daya saing produsen pipa domestik, sehingga investigasi difokuskan pada identifikasi kerugian material dan potensi penyimpangan rute perdagangan. Pelaksanaan sampling dan pengiriman kuesioner pada eksportir tiga negara menunjukkan keseriusan Brasil menangani kasus ini dalam kerangka melindungi industri energi dan infrastruktur yang sangat bergantung pada line pipe.

Uni Eropa pada 18 November 2025 juga menetapkan kebijakan baru berupa kuota impor dan pembatasan volume untuk berbagai jenis ferro-alloys, khususnya mangan dan silikon, yang sebagian besar diimpor dari Tiongkok dan Rusia. Kebijakan ini berlaku selama tiga tahun dan dikeluarkan setelah regulator perdagangan Uni Eropa menilai bahwa arus impor ferro-alloys berbiaya rendah telah meningkatkan risiko ketergantungan strategis sekaligus berpotensi menekan operasi produsen ferro-alloys dalam negeri. Walaupun bukan berupa bea anti-dumping, kebijakan kuota ini memiliki karakter safeguard karena membatasi jumlah impor dalam periode tertentu dan membatasi potensi banjir pasokan dari negara eksportir utama. Langkah ini menunjukkan bahwa Uni Eropa mulai memperluas spektrum perlindungan perdagangan dari produk baja jadi menuju bahan baku metalurgi yang memainkan peran penting dalam rantai pasok industri Eropa.

Tabel Ringkasan Kebijakan dan Trade Remedies – Minggu III November 2025

Negara / KawasanInstrumenProdukNegara TerdampakStatus
IndiaAnti-Dumping Duty (ADD)Hot-rolled flat steelVietnamADD final diberlakukan selama 5 tahun
IndiaRekomendasi Anti-DumpingMetallurgical coke (low ash)Indonesia, China, Kolombia, Rusia, Australia, JepangRekomendasi DGTR diterbitkan
BrasilInvestigasi Anti-DumpingSeamless carbon steel pipe (line pipe)India, Malaysia, ThailandInvestigasi resmi dimulai 14–17 Nov
Uni EropaKuota + Pembatasan ImporFerro-alloys (mangan & silikon)Tiongkok, RusiaKuota + pembatasan ditetapkan 3 tahun

IV. Investasi Peningkatan Kapasitas & Green Steel – Minggu III November 2025

Investasi peningkatan kapasitas dan proyek baja rendah emisi pada minggu ketiga November 2025 menunjukkan bahwa negara-negara di luar Asia sedang memperkuat industri bajanya melalui modernisasi fasilitas, ekspansi kapasitas produk bernilai tambah, dan pengembangan teknologi green steel. Dua perkembangan utama terjadi di Mesir dan Spanyol, yang mencerminkan arah investasi global menuju peningkatan daya saing struktural dan pengurangan emisi karbon.

Di Mesir, El Marakby Steel Group mengumumkan rencana investasi sekitar 23 juta dolar untuk pengembangan fasilitas dan perluasan kapasitas produk bernilai tambah tinggi. Pengumuman yang muncul dalam periode minggu ketiga November ini menegaskan ambisi perusahaan untuk memperkuat posisinya dalam industri baja Afrika Utara melalui peningkatan efisiensi fasilitas dan diversifikasi portofolio produk. Investasi ini mencerminkan upaya produsen Mesir untuk beradaptasi dengan tekanan regional yang semakin kompetitif, terutama dari produk impor yang masuk dari Turki dan negara-negara Asia. Dengan memperluas kapasitas dan meningkatkan kualitas produk, El Marakby berupaya mempertahankan keunggulan kompetitifnya di pasar domestik sekaligus meningkatkan kapasitas ekspornya.

Di Eropa, Hydnum Steel di Spanyol mengumumkan langkah strategis untuk membangun pabrik baja rendah emisi dengan kapasitas 2,6 juta ton per tahun. Pengumuman pada 20 November 2025 ini mencerminkan konsolidasi arah industri baja Eropa yang secara agresif bergerak menuju dekarbonisasi melalui teknologi produksi berbasis hidrogen dan listrik. Pabrik baru ini dirancang untuk menghasilkan produk flat steel bernilai tambah tinggi dan direncanakan menjadi salah satu fasilitas green steel terbesar di kawasan Eropa Selatan. Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana produsen Eropa secara langsung merespons tekanan regulasi iklim dan implementasi Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang semakin memperketat standar emisi untuk produk impor. Dengan proyek seperti Hydnum Steel, Eropa memperluas jarak teknologinya dibandingkan produsen baja di negara berkembang yang masih berbasis blast furnace tradisional.

Tabel Ringkasan Investasi dan Green Steel – Minggu III November 2025

KawasanProyekJenis InvestasiKapasitas/Nilai
Mesir / Afrika UtaraEl Marakby Steel GroupEkspansi fasilitas & peningkatan produk bernilai tambah~USD 23 juta
Eropa (Spanyol)Hydnum SteelPembangunan pabrik baja rendah emisi (green steel)2,6 juta ton/tahun

V. Isu Strategis yang Perlu Dicermati – Minggu III November 2025

Pergerakan pasar baja global pada minggu ketiga November menunjukkan tekanan yang semakin berat bagi industri baja Indonesia, terutama karena ketidakselarasan antara pemulihan permintaan dan besarnya arus suplai yang terus mencari pasar terbuka. Perubahan lanskap ini memperlihatkan bahwa tekanan yang dihadapi Indonesia bukan hanya berasal dari dinamika harga, tetapi dari kombinasi strategi industri negara lain serta perubahan struktural dalam arus perdagangan global.

Tekanan Impor Menguat Seiring Lonjakan Ekspor Tiongkok
Pelemahan permintaan domestik di Tiongkok tetap menjadi pemicu utama tekanan suplai global minggu ini. Meskipun sebagian pabrik mengurangi operasi, tingkat persediaan yang tidak terserap memaksa produsen Tiongkok meningkatkan penjualan ke luar negeri. ASEAN kembali menjadi target utama karena pasar di kawasan lain semakin tertutup oleh kebijakan proteksi. Situasi ini membuka potensi masuknya produk flat dan long dalam volume besar ke Indonesia, terutama ketika importir lokal merespons penawaran dengan tingkat harga yang sangat kompetitif.

Tekanan Suplai Global yang Meningkat akibat Pelemahan Permintaan di Tiongkok
Pelemahan permintaan domestik di Tiongkok tetap menjadi pemicu utama tekanan suplai global minggu ini. Meskipun sebagian pabrik mengurangi operasi, tingkat persediaan yang tidak terserap memaksa produsen meningkatkan penjualan ke luar negeri. ASEAN kembali menjadi target utama karena pasar di kawasan lain semakin tertutup oleh kebijakan proteksi. Situasi ini membuka potensi masuknya produk flat dan long dalam volume besar ke Indonesia, terutama ketika importir lokal merespons penawaran dengan basis harga yang sangat kompetitif.

Pengetatan Proteksi Global Mendorong Redirect ke Pasar Terbuka
Kebijakan anti-dumping dan kuota impor yang diberlakukan India, Brasil, serta pembatasan impor ferro-alloys oleh Uni Eropa mempersempit ruang masuk bagi produsen baja dari Asia. Ketika pasar besar seperti India dan Eropa kembali memperkuat mekanisme perlindungannya, tekanan suplai global secara otomatis bergerak ke kawasan dengan hambatan impor rendah. Indonesia berada pada posisi paling rawan karena negara tetangga telah lebih dahulu memperkuat instrumen perlindungan mereka, sehingga redirect volume ke pasar domestik berpotensi semakin intensif dalam beberapa minggu ke depan.

Ekspansi Kapasitas dan Proyek Green Steel Memperlebar Jurang Daya Saing
Investasi baru di Eropa dan Afrika Utara menunjukkan bahwa negara lain terus memperkuat kapasitas produksinya, termasuk proyek penting seperti Hydnum Steel di Spanyol dan ekspansi El Marakby di Mesir. Namun perkembangan ini perlu diamati dengan hati-hati. Meskipun proyek green steel di Eropa mendapatkan sorotan, banyak negara besar justru memperlambat agenda transisi emisi karena biaya produksi tinggi, ketidakpastian pasokan hidrogen, dan kebutuhan subsidi besar. Beberapa proyek baja hijau di Eropa, Jepang, dan Australia bahkan dihentikan atau ditunda. Kondisi ini menegaskan bahwa green steel bukan strategi jangka pendek dan tidak bisa diadopsi secara tergesa-gesa oleh negara berkembang tanpa kesiapan infrastruktur energi dan kemampuan biaya.

Implikasi Strategis bagi Indonesia: Perlindungan Pasar dan Kesiapan Transisi Industri
Interaksi antara suplai murah dari Tiongkok, gelombang proteksi global di pasar besar, serta modernisasi kapasitas dan teknologi di negara lain menempatkan Indonesia pada posisi yang membutuhkan respons kebijakan yang lebih cepat dan terukur. Penguatan pengawasan impor dan tindakan trade remedies menjadi prioritas untuk menjaga stabilitas industri nasional. Sementara itu, arah investasi global menuju teknologi rendah emisi harus dibaca secara realistis: Indonesia perlu memperbaiki fondasi efisiensi energi dan daya saing biaya sebelum mempertimbangkan adopsi teknologi green steel dalam skala besar. Tanpa langkah-langkah ini, industri baja nasional berpotensi menghadapi tekanan struktural dalam beberapa tahun mendatang.

Sumber Data: SunSirs, CUSteel, SteelMint, Fastmarkets, Eurometal, Steel Market Update (SMU), AISU, Argus/Platts, TradingEconomics, AustralianSteel.com, LME, SFM, Yieh, Mysteel Global, Reuters, GMK Centre, Steel Orbits, Yieh News.